Posts filed under ‘Artikel Guru Madrasah Aliyah (MA)’

Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi

Oleh Tri Sumarni MPd
Guru MAN 1 Oku Timur, Sumatra Selatan

 

 

 

 

PENDAHULUAN

Where have all the leaders gone? (ke mana gerangan para pemimpin yang memiliki kaliber tentunya), demikian ada orang bertanya. Dunia ini memerlukan banyak pemimpin yang dapat membawa keadaan ke arah yanng lebih baik. Negara memerlukan pemimpin, organisasi politik memerlukan pemimpin, kelompok agama memerlukan pemimpin, para pemuda memerlukan figur pemimpin yang dapat memberikan keteladanan dan inspirasi, perusahaan memerlukan pemimpin yang tangguh dan berkualitas, anak-anak di rumah memerlukan orangtua yang dapat memimpin anaknya, dan banyak lagi kelompok-kelompok manusia yang memerlukan pemimpin yang hebat.

Kebayakan negara menginginkan para pemimpinnya untuk maju ke depan serta mengatasi krisis ekonomi, sosial, guna memberi motivasi pada para prja dan memberi garis arahan yang paling baik bagi masa mendatang. Mereka memiliki peranan nyata dalam membentuk pola pikir. Mereka berfungsi sebagai simbol dari kesatuan moral masyarakat. Pemimpin mengekspresikan etika kerja dan nilai-nilai yang merangku masyarakat.

Organisasi kerja tanpa pemimpin tidaklah lebih daripada propaganda “ kue di langit”. Kenyataan dalam manajemen menunjukkan bahwa kelompok pekerja yang dibiarkan sendiri tanpa pemimpin, melepaskan mereka berjalan sendir, kurang pengarahan, dan disiplin; mereka hanya mencapai beberapa tujuan. Setiap kelompok atau organisasi membutuhkan pemimpin, baik pemimpin yang timbul sendiri dari kelompok tau yang ditugaskan. Bahkan kelompok/organisasi yang menggunakan pendekatan partisipasif terhadap pemecahan masalah juga membutuhkan adanya konseling, bimbingan, dan masukan yang hanya dapat diberikan oleh pemimpin yang dihargai. Tidak ada satu faktor pun yang memberikan lebih banyak manfaat terhadap sebuah organisasi dari pada pemimpin yang efektif. Pemimpin diperlukan untuk menentukan tujuan, mengalokasikan sumberdaya yang langka, memfokuskan perhatian pada tujuan-tujuan perusahaan, mengkoordinasikan perubahan, membina kontak antar pribadi dengan pengikutnya, menetapkan arah yang benar atau yang paling baik bila kegagalan terjadi. Semata-mata merupakan kenyataan hiduplah bahwa kelompok-kelompok dengan pemimpin dapat melakukan hal-hal tersebut secara lebih efisien dan lebih benar daripada kelompok tanpa pemimpin.

Prestasi total sebuah organisasi terutama ditentukan oleh sikap dan tindakan dari sang pemimpin. Efektivitas pemimpin ditentukan oleh hasil-hasil yang dicapai pemimpin. Pemimpin yang berhasil, baik yang memimpin beberapa atau beratus-ratus karyawan adalah pemimpin, karena mereka harus mencari peluang-peluang; memulai proyek-proyek mengumpulkan sumber daya manusia dan finansial yang diperlukan untuk melaksanakan proyek, menentukan tujuan-tujuan untuk mereka sendiri dan orang lain; dan memimpin serta membimbing orang lain untuk mencapai tujuan.

Seorang pemimpin yang efektif akan selalu mencari cara-cara yang lebih baik. Seseorang dapat menjadi pemimpin yang berhasil, jika percaya pada pertumbuhan yang berkesinambungan, efesiensi yang meningkat dan keberhasilan yang berkesinambungan dari perusahaan yang dipimpin. Pimpinan organisasi perusahaan merupakan unsur pokok dan sumber yang langka di dalam setiap perusahaan. Statistik perkembangan perusahaan menunjukkan bahwa setiap 100 perusahaan yang baru berdiri, kira-kira 50% gagal dalam tempo 2 tahun dan pada akhir tahun kelima hanya tinggal 30% yang masih jalan. Pada umumnya kegagalan itu disebabkan oleh kepemimpinan yang tidak efektif, mereka tidak mampu memimpin karyawan, tidak bisa bekerja sama dengan oarng lain atau mereka tidak bisa menguasai, mengendalikan diri sendiri. Berbagai kekeliruan terjadi di bawah kepemimpinannya. Misalnya karyawan tidak bisa dimotivasi untuk bekerja lebih baik, kurang disiplin, demikian pula dengan relasi perusahaan tidak terjalin kerjasama yang baik, dan juga perilaku pemimpin sendiri yang tidak bisa menjadi contoh. Seorang wirausaha yang baik adalah seorang pemimpin dalam bisnis, haruslah yang dapat menguasai dan mengembangkan diri sendiri, dan juga mampu menguasai serta mengarahkan dan mengembangkan para karyawannya.

Pengertian Kepemimpinan

Banyak definisi diberikan tentang kepemimpinan, antara lain:

George R.Terry, Leadership is the activit of influencing people to strive willingly for group objectives. Stoner, kepemimpinan adalah suatu proses pengarahan dan pemberian penngaruh pada kegiata-kegiatan dari sekelompok anggota yang saling berhubungan tugasnya.

Harold Koontz and Cyril O’Donnell, state that leadership is influencing people to follow in the achivement of a common goal. Handbook of Leadership, memberikan definisi kepemimpinan sebagai “suatu interaksi antar anggota suatau kelompok. Pemimpin merupakan agen perubahan, orang yang perilakunya akan lebih memengaruhi orang lain daripada perilaku orang lain yang memengaruhi mereka. Kepemimpinan timbul ketika satu anggota kelompok mengubah motivasi atau kompetensi anggota lainnya di dalam kelompok”.

Banyak lagi definisi tentang kepemimpinan, sama seprti banyaknya orang yang membuat definisi itu. Ada tiga implikasi penting yang tercakup dalam kepemimpinan dari beberapa definisi di atas yaitu: Pertama, kepemimpinan melibatkan orang lain, seperti bawahan atau para pengikut. Seorang wirausaha akan berhasil apabila dia berhasil memimpin karyawannya atau pembantu-pembantu yang mau bekerjasama dengan dia untuk memajukan perusahaan. Jadi wirausaha harus pandai merangkul dan melibatkan para karyawan dalam segala aktivitas perusahaan. Untuk melibatkan para karyawan, kemungkinan pemimpin harus menggunakan berbagai cara misalnya memberi hadiah, memberi nasehat, memberi imbalan yang cukup kepada karyawan, dan sebagainya. Kedua, kepemimpinan menyangkut pembagian kekuasaan. Para wirausaha mempunyai otoritas untuk memberikan sebagian kekuasaan kepada karyawan atau seorang karyawan yang diangkat menjadi pemimpin pada bagianbagian tertentu. Dalam hal ini seorang wirausaha telah membagikan kekuasaannya kepada karyawan lain untuk bertindak atas nama dia. Selanjutnya segala macam informasi sebagai hasil dari pengawasan dan pelaksanaan pekerjaan dapat dimonitor oleh pimpinan. Ketiga, kepemimpinan menyangkut penanaman pengaruh dalam rangka mengarahkan para bawahan. Seorang wirausaha tidak hanya mengingatkan apa yang harus dikerjakan oleh karyawan tetapi juga harus mampu memajukan perusahaan. Seorang wirausaha juga harus dapat memberi contoh yang baik, bagaimana melaksanakan pekerjaan sesuai dengan yanng diperintahkan. Pendekatan-pendekatan Studi Kepemimpinan Penelitian-penelitian dan teori-teori kepemimpinan dapat diklasifikasikan sebagai pendekatan-pendekatan kesifatan, perilaku, dan situasional (“contingency”) dalam studi tentang kepemimpinan. Pendekatan pertama memandang kepemimpinan sebagai suatu kombinasi sifat-sifat (traits) yang tampak. Pendekatan kedua bermaksud mengidentifikasi perilaku-perilaku (behaviors) pribadi yang berhubungan dengan kepemimpinan efektif. Kedua pendekatan ini mempunyai anggapan bahwa seorang individu yang memiliki sifatsifat tertentu atau memperagakan perilaku-perilaku tertentu akan muncul sebagai pemimpin dalam situasi kelompok apapun di mana dia berada. Pemikiran dan penelitian sekarang mendasarkan pada pendekatan ketiga, yaitu pandangan situasional tentang kepemimpinan. Pandangan ini menganggap bahwa kondisi yang menentukan efektivitas kepemimpinan bervariasi dengan situasi/tugas-tugas yang dilakukan, ketrampilan dan pengharaan bawahan, dan sebagainya. Pandangan ini telah menimbulkn pendekatan “contingency” pada kepemimpinan, yang bermaksud untuk menetapkan faktor-faktor situasional yang menentukan seberapa besar efektivitas situasi gaya kepemimpinan tertentu. Ketiga pendekatan tersebut akan dibahas secara kronologis, sebagai berikut:

1) Pendekatan Sifat-sifat (Traits Approach)

Sifat-sifat  perilaku situasional – contingency Para teoritisi kesifatan adalah kelompok pertama yang bermaksud menjelaskan tentang aspek kepemimpinan. Mereka percaya bahwa para pemimpin memiliki ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang menyebabkan mereka dapat memimpin para pengikutnya. Daftar sifat-sifat ini dapat menjadi sangat panjang tetapi cenderung mencakup energi, pandangan, pengetahuan dan kecerdasan, imajinasi, kepercayaan diri, integritas, kepandaian berbicara, pengendalian dan keseimbangan mental maupun emosional, bentuk fisik, pergaulan sosial dan persahabatan, dorongan, antusiasme, berani, dan sebagainya.

Antara pemimpin dan bukan pemimpin dapat dilihat dengan mengidentifikasi sifat-sifat kepribadiannya. Pendekatan psikologis ini untuk sebagian besar didasarkan atas pengakuan umum bahwa perilaku individu untuk sebagian ditentukan oleh struktur kepribadian. Usaha sistemik pertama yang dialkukan oelh para psikolog dan para peneliti untuk memahami kepemimpinan adalah mengidentifikasikan sifatsifat pemimpin. Sebagian besar penelitian-penelitian awal tentang kepemimpinan ini bermaksud untuk:

  1. a) membandingkan sifat-sifat orang yang menjadi pemimpin dengan sifatsifat yang menajdi pengikut (tidak menjadi pemimpin), dan
  2. b) mengidentifikasi ciri-ciri dan sifat-sifat yang dimiliki oleh para pemimpin efektif. Berbagai studi pembandingan sifat-sifat pemimpin dn bukan pemimpin, sering menemukan bahwa pemimpin cenderung mempunyai tinngkat kecerdasan lebih tinggi, lebih ramah, dan lebih percaya diri daripada yang lain dan mempunyai kebuthan akan kekuasaan lebih besar. Tetapi kombinasi sifat-sifat tertentu yanng akan membedakan antara pemimpin atau calon pemimpin dari pengikut, belum pernah ditemukan.

Penelitian lain mencoba untuk membandingkan sifat-sifat pemimpin yang efektif dan tidak efektif. Berbagai sifat dipelajari untuk menentukan apakah hal-hal tersebut berhubungan dengan kepemimpinan efektif. Seorang peneliti, Edwin Ghiselli, dalam penelitian ilmiahnya telah menunjukkan 7 sifat tertentu yang tampaknya penting untuk kepemimpinan efektif. Sifat-sifat tersebut adalah sebagai berikut:

  1. a) Kemampuan dalam kedudukannya sebagai pengawas (supervisory ability) atau pelaksanan fungsi-fungsi dasar manajemen, terutama pengarahan dan pengawasan pekerjaan orang lain.
  2. b) Kebutuhan akan prestasi dalam pekerjaan, mencakup pencarian tanggungjawab dan keinginan sukses.
  3. c) Kecerdasan, mencakup kebijakan, pemikiran kraetif dan daya pikir.
  4. d) Ketegasan, atau kemampuan untuk membuat keputusan-keputusan dan memecahkan masalah-masalah dengan cakap dan tepat.
  5. e) Kepercayaan diri, atau pandangan terhadap dirinya sebagai kemampuan untuk menghadapi masalah.
  6. f) Inisiatif, atau kemampuan untuk bertindak tidak tergantung, mengembangkan serangkaian kegiatan dan menemukan cara-cara baru atau inovasi.

Sedangkan Keith Davis mengikhtisarkan empat ciri/sifat utama yang mempunyai pengaruh terhadap kesuksesan kepemimpinan organisasi:

(1) Kecerdasan,

(2) Kedewasaan dan keluasan hubungan sosial,

(3) Motivasi diri dan dorongan berprestasi, dan

(4) sikap-sikap hubungan manusiawi.

Ada banyak keterbatasan dalam pendekatan yang melihat sifat-sifat kepemimpinan. Sebagai contoh, telah banyak orang tahu tentang tokoh-tokoh seperti Napoleon, Alexander the Great, Abraham Lincoln, Soekarno, Mahatma Gandhi, Mao Tse-Tung, Adolf Hitler, Winston Churchill, Suharto, Abdurahman Wahid, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono dan sebagainya, yang dalam berbagai hal berbeda satu dengan yang lain. Namun, tidak tampak sifat-sifat kepemimpinan yang ditemukan secara umum pada semua tokoh tersebut. Dalam kenyataannya, banyak dari mereka mempunyai sifat yang berbeda. Ada juga berbagai kasus di mana seorang pemimpin sukses dalam suatu situasi tetapi tidak dalam situasi lain. Akhirnya, walaupun semua sifat yang dikemukakan para peneliti dapat menjadi yang diinginkan ada dalam diri pemimpin, tetapi tidak satupun sifat yang secara absolut esensial. Namun demikian sifat-sifat kepemimpinan perlu dikembangkan sebagi upaya untuk melahirkan pemimpin. Mengembangkan Sifat Kepemimpinan Sifat-sifat kepemimpinan harus dikembangkan sendiri karena sifat-sifat ini berbeda-beda pada setiap orang. Kesadaran bahwa Anda sendiri yang menentukan kadar kemampuan kepemimpinan Anda, akan membantu Anda dalam upaya melakukan perbaikan-perbaikan. Tidak ada cara terbaik untuk menjadi pemimpin. Para wirausaha adalah individu-individu yang telah mengembangkan gaya kepemimpinan mereka sendiri. Jika Anda meniru secara buta seorang pemimpin lain, atau seperangkat ciri-ciri ideal pemimpin, maka bakat dan keterampilan kepemimpinan Anda tidak akan pernah berkembang sepenuhnya. Keperibadian Anda akan ikut memengaruhi perilaku kepemimpinan Anda. Pekerjaan Anda sekarang harus dapat memberikan sejumlah peluang untuk mempraktekan kepemimpinan. Situasi untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan Anda dapat ditemui dalam kegiatan-kegiatan sehari-hari Anda dan dalam pergaulan Anda dengan karyawan Anda. Cara yang baik untuk mempraktekkan ketrampilan Anda adalah dengan menyadari adanya peluang peluang untuk menunjukkan kemampuan Anda memimpin dalam kegiatan sehari-hari. Uji coba kemampuan Anda dalam memimpin ini akan menyiapkan Anda untuk peranan kepemimpinan yang lebih penting. Sebagai seorang pemimpin Anda bertanggung jawab untuk mengembangkan karyawan dengan cara yang paling efektif. Karena karyawan merupakan harta yang paling penting dalam organisasi Anda, harus Anda putuskan bagaimana meningkatkan prestasi setiap orang. Setelah melakukan hal itu, Anda dapat merancangkan peluang-peluang bagi mereka untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan individual mereka. Anda pun harus menilai pengalaman-pengalaman mereka untuk mengukur keberhasilan mereka dan kegiatan serta tanggungjawab tambahan yang dapat mereka pikul di masa depan.

Semakin Anda berkualitas sebagai seorang pemimpin, semakin besarlah ketergantungan Anda pada karyawan untuk mendukung dan memikul tanggungjawab Anda. Mendelegasikan tanggung jawab akan mengembangkan rasa percaya dan keyakinan yang diperlukan karyawan Anda untuk mencapai potensi mereka sepenuhnya. Kalau potensi karyawan Anda terwujud, maka potensi Anda sebagai pemimpin pun juga tercapai. Untuk sebagian besar, kepemimpinan adalah suatu sikap yang terlihat dalam ancangan para wirausaha terhadap pencapaian tugas-tugasnya. Pemimpin biasanya bersedia menerima tantangan yang mengandung baik risiko maupun peluang yang besar. Seorang pemimpin mengerti tugas keseluruhan yang harus dicapai dan seringkali memutuskan cara-cara baru dan inovatif untuk mencapainya. Suatu pedoman bagi kepemimpinan yang baik ialah “perlakukanlah orangorang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan“. Berusaha memandang suatu keadaan dari sudut pandang orang lain, akan ikut mengembangkan sebuah sikap tepo sliro.

2) Pendekatan Perilaku (Behavioral Approach)

Di akhir tahun 40-an, peneliti mulai mengeksplorasi pemikiran bahwa bagaimana seseorang berperilaku menentukan keefketifan kepemimpinan seseorang, dari pada berusaha menemukan sifat-sifat, maka selanjutnya para peneliti meneliti perilaku dan pengaruhnya pada prsetasi dan kepuasan dari pengikut-pengikutnya. Pada tahun 1947, Rensis Likert mulai mempelajari bagaimana cara yang paling baik unuk mengelola usaha dari individu-individu untuk mencapai kinerja dan kepuasan sebagaimana yang diinginkan. Tujuan dari kebanyakan penelitian kepemimpinan yang diilhami oleh Tim Likert di University of Michigan (UM) adalah untuk menemukan prinsip dan metode kepemimpinan yang efektif. Kriteria keefektifan yang digunakan dalam banyak studi tersebut adalah:

  1. Produktivitas per jam kerja, atau pengukuran lainnya yang mirip dari keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan-tujuan produksinya.
  2. Kepuasan kerja dari anggota organisasi.
  3. Tingkat turnover, absensi, dan sakit hati.
  4. Biaya
  5. Bahan terbuang
  6. Motivasi karyawan dan manajerial.

Studi dilakukan pada berbagai jenis organisasi: kimiawi, elektronik, makanan, peralatan berat, asuransi, petroleum, sarana umum, rumah sakit, bank, dan agen pemerintahan. Data didapat dari ribuan karyawan yang melakukanberbagai macam tugas, mulai dari pekerjaan yang tidak terampil sampai dengan pekerjaan penelitian dan pengembangan yang berketerampilan tinggi. Melalui wawancara dengan pemimpin dan pengikutnya, peneliti mengidentifikasikan dua gaya kepemimipinan yang berbeda, disebut sebagai job-centered/ berpusat pada pekerjaan dan employee-centered/ berpusat pada karyawan. Pemimpin yang job-centered/berpusat pada pekerjaan (tugas) menerapkan pengawasan ketat sehingga bawahan melaksanakan tugas dengan menggunakan prosedur yang telah ditentukan. Pemimpin ini mengandalkan kekuatan paksaan, imbalan, dan hukuman untuk memengaruhi sifat-sifat dan prestasi penngikutnya. Perhatian pada orang dilihat sebagai suatu hal mewah yang tidak dapat selalu dipenuhi pemimpin. Seorang pemimpin dengan orientasi pekerjaan/tugas cenderung menunjukkan pola-pola perilaku berikut :

  1. a) Merumuskan secara jelas peranannya sendiri maupun peranan staffnya.
  2. b) Menetapkan tujuan-tujuan yang sukar tetapi dapat dicapai, dan memberitahukan orang-orang apa yang diharapkan dari mereka.
  3. c) Menentukan prosedur-prosedur untuk mengukur kemajuan dan untuk mengukur pencapaian tujuan itu, yakni tujuan-tujuan yang dirumuskan secara jelas dan khas.
  4. d) Melaksanakan peranan kepemimpinan secara aktif dalam merencanakan, mengarahkan dan membimbing, dan mengendalikan kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada tujuan.
  5. e) Berminat mencapai peningkatan produktivitas.

Pemimpin yang kadar orientasi-pekerjaannya rendah cenderung menjadi tidak aktif dalam mengarahkan perilaku yang beorientasi tujuan, seperti perencanaan dan penjadwalan. Mereka cenderung bekerja seperti para karyawan lain dan tidak membedakan peranan mereka sebagai pemimpin organisasi secara jelas.

Pemimpin yang berpusat orang/karyawan, percaya dalam mendelegasikan pengambilan keputusan dan membantu penngikutnya dalam memuaskan kebutuhannya dengan cara membentuk suatu lingkungan kerja yang suportif. Pemimpin yang berpusat pada karyawan memiliki perhatian dan memotivasi terhadap kemajuan, pertumbuhan, dan prestasi pribadi pengikutnya dan membina hubungan manusiawi. Tindakan-tindakan ini diasumsikan dapat memajukan pembentukan dan perkembangan kelompok. Orang-orang yang kuat dalam orientasi-orang cenderung menunjukkan pola-pola perilaku berikut :

  1. a) Menunjukkan perhatian atas terpeliharanya keharmonisan dalam organisasi dan menghilangkan ketegangan, jika timbul.
  2. b) Menunjukkan perhatian pada orang sebagai manusia dan bukan sebagai alat produksi saja.
  3. c) Menunjukkan pengertian dan rasahormat pada kebutuhan-kebutuhan, tujuan-tujuan, keinginan-keinginan, perasaan dan ide-ide karyawan.
  4. d) Mendirikan komunikasi timbal balik yang baik dengan staff.
  5. e) Menerapakan prinsip penekanan ulang untuk meningkatkan prestasi karyawan. Prinsip ini menyatakan bahwa perilaku yang diberi imbalan akan bertambah dalam frekuensinya, dan bahwa perilaku yang tidak diberi imbalan (dihukum) akan berkurang dalam frekuensinya.
  6. f) Mendelegasikan kekuasaan dan tanggungjawab, serta mendorong inisiatif.
  7. g) Menciptakan suatu suasana kerjasama dan gugus kerja dalam organisasi.

Pemimpin yang orientasi-orangnya rendah cenderung bersikap dingin dalam hubungan dengan karyawan mereka, memusatkan perhatian pada prestasi individu dan persaingan ketimbang kerjasama, serta tidak mendelegasikan kekuasan dan tanggungjawab. Orang-orang yang orientasi-orangnya tinggi belum tentu merupakan orang-orang yang ramah dan sosial; melainkan mereka dapat menangani pelbagai macam orang dengan efektif. Mereka menunjukkan ketrampilan yang tinggi dalam bidang hubungan antar manusia. Dalam hubungan mereka dengan karyawan, mereka cenderung memberikan nasehat, mengkoordinasi, mengarahkan dan mengambil inisiatif daripada mengkritik, melarang dan menghakimi. Mereka bersifat membujuk ketimbang menghukum. Mereka memberikan pengaruh kuat dan pengarahan yang kuat namun dengan cara yang tidak menimbulkan dendam.

Ciri-ciri umum yang terdapat pada pemimpin yang orientasi-karyawannya tinggi meliputi hal-hal sebagai berikut :

  1. a) Mereka mengerti kebutuhan, tujuan-tujuan, nilai-nilai, batas-batas

dan kemampuan mereka sendiri. Pengertian dan pengetahuan tentang diri sendiri ini merupakan suatu prasyarat yang diperlukan untuk hubungan yang baik dengan orang lain.

  1. b) Mereka peka terhadap kebutuhan orang lain; mereka membantu orang untuk memenuhi kebutuhan ini. Melalui berkomunikasi dengan para karyawan mereka, para pemimpin dapat mengarahkan usaha-usahanya secara lebih efektif sehingga tujuan perusahaan dan kebutuhan karyawan, kedua-duanya berjalan seiring.
  2. c) Mereka dapat menerima dan menghargai nilai-nilai dan gaya hidup yang berlainan. Mereka menunjukkan kemampuan dan kesediaan untuk berhubungan dengan orang-orang yang sama sekali berbeda dengan mereka.
  3. d) Mereka melibatkan para karyawan mereka dalam tujuan perusahaan dengan memahami kebutuhan-kebutuhan mereka dan mendelegasikan kekuasaan serta membagi tanggungjawab.
  4. e) Mereka memiliki ketrampilan berkomunikasi yang baik, mereka mendengarkan, mengajukan pertanyaan, berdiskusi dan berdebat, dan menggunakan informasi yang mereka terima untuk mengarahkan dan melibatkan karyawan mereka dalam tindakan yang efektif.

3) Pendekatan Situasional – Contingency

Pendekatan kesifatan dan perilaku belum sepenuhnya dapat menjelaskan kepemimpinan. Di samping itu, sebagian besar penelitian menyimpulkan bahwa tidak ada satupun gaya kepemimpinan yang tepat bagi setiap manajer di bawah seluruh kondisi. Maka teori kepemimpinan situasional mengusulkan bahwa keefektifan kepemimpinan tergantung pada kesesuaian antara kepribadian, tugas, kekuatan, sikap, persepsi dan situasi. Teori situasional yang terkenal adalah: (1) rangkaian kesatuan kepemimpinan dari Tannembaum dan Schmidt, (2) toeri “contingency” dari Fiedler, dan (3) teori siklus-kehidupan dari Harsey dan Blanchard.

Faktor-faktor yang Memengaruhi Perilaku Kepemimpinan

Mary Parker Follet, yang mengembangkan Hukum Situasi, mengatakan bahwa ada tiga variabel kritis yang memengaruhi gaya kepemimpinan, yaitu (1) pemimpin, (2) pengikut atau bawahan, dan (3) situasi.  Follett juga menyatakan bahwa para pemimpin seharusnya berorientasi pada kelompok dan bukan berorientasi pada kekuasaan.

Teori “Contingency” dari Fiedler Suatu teori kepemimpinan yang komplek dan menarik adalah contingency model of leadership effectiveness dari Fred Fiedler. Pada dasarnya, teori ini menyatakan bahwa efekivitas suatu kelompok atau organisasi tergantung pada interaksi antara kepribadian pemimpin dan sitasi. Situasi dirumuskan dengan karakteristik: (1) Derajat situasi di mana pemimpin menguasai, mengendalikan dan memengaruhi situasi, dan (2) derajat situasi yang mengahadapkan manajer dengan ketidak pastian. Fiedler mengidentifikasikan ketiga unsur dalam situasi kerja ini untuk membantu menentukan gaya kepemimpinan mana yang akan efektif yaitu hubungan pimpinan anggota, struktur tugas, dan posisi kekuasaan pemimpin yang didapatkan dari wewenang formal. Studi Fiedler ini tidak melibatkan variabel-variabel situasional lainnya, seperti motivasi dan nilai-nilai bawahan, pengalaman pemimpin dan anggota kelompok. Sitasi dinilai dalam istilah situasi yang menguntungkan atau tidak menguntungkan.

SIMPULAN

Seorang pemimpin yang efektif akan selalu mencari cara-cara yang lebih baik. Seseorang dapat menjadi pemimpin yang berhasil, jika percaya pada pertumbuhan yang berkesinambungan, efesiensi yang meningkat dan keberhasilan yang berkesinambungan dari perusahaan yang dipimpin. Pimpinan organisasi perusahaan merupakan unsur pokok dan sumber yang langka di dalam setiap perusahaan

Ada tiga implikasi penting yang tercakup dalam kepemimpinan dari beberapa definisi  yaitu: Pertama, kepemimpinan melibatkan orang lain, Kedua kepemimpinan menyangkut pembagian kekuasaan, Ketiga kepemimpinan menyangkut penanaman pengaruh.

Ciri-ciri umum yang terdapat pada pemimpin yang orientasi-karyawannya tinggi meliputi hal-hal sebagai berikut :

  1. a) Mereka mengerti kebutuhan, tujuan-tujuan, nilai-nilai, batas-batas

dan kemampuan mereka sendiri. Pengertian dan pengetahuan tentang diri sendiri ini merupakan suatu prasyarat yang diperlukan untuk hubungan yang baik dengan orang lain.

  1. b) Mereka peka terhadap kebutuhan orang lain; mereka membantu orang untuk memenuhi kebutuhan ini. Melalui berkomunikasi dengan para karyawan mereka, para pemimpin dapat mengarahkan usaha-usahanya secara lebih efektif sehingga tujuan perusahaan dan kebutuhan karyawan, kedua-duanya berjalan seiring.
  2. c) Mereka dapat menerima dan menghargai nilai-nilai dan gaya hidup yang berlainan. Mereka menunjukkan kemampuan dan kesediaan untuk berhubungan dengan orang-orang yang sama sekali berbeda dengan mereka.
  3. d) Mereka melibatkan para karyawan mereka dalam tujuan perusahaan dengan memahami kebutuhan-kebutuhan mereka dan mendelegasikan kekuasaan serta membagi tanggungjawab.
  4. e) Mereka memiliki ketrampilan berkomunikasi yang baik, mereka mendengarkan, mengajukan pertanyaan, berdiskusi dan berdebat, dan menggunakan informasi yang mereka terima untuk mengarahkan dan melibatkan karyawan mereka dalam tindakan yang efektif.

 

Iklan

7 Desember, 2017 at 6:21 am

”Metode Klos” Meningkatkan Kecepatan Efektif Membaca Siswa

Oleh   Pujiati SPd

Guru MAN Gumawang,Belitang OKU Timur Sumatera Selatan

Kecepatan efektif membaca siswa mempunyai peranan yang sangat penting karena dengan membaca cepat dan kemampuan membaca yang berkualitas seseorang bisa menguasai  ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kebiasaan membaca yang kurang baik berdampak negatif  pada tingkat  kemampuan siswa . Aktivitas dan tugas membaca merupakan hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan  karena kegiatan ini akan menentukan kualitas dan keberhasilan seorang siswa sebagai peserta didik  dalam studinya.

Agar dapat tercapai tujuan pembelajaran tersebut guru harus dapat menentukan metode yang dianggap lebih tepat dan mudah pelaksanaan dan dapat meningkatkan keefektivan kecepatan membaca siswa. Salah satu metode yang tepat dan dapat diterapkan guna meningkatkan keefektivan membaca siswa adalah dengan menggunakan metode klos.

Klos berasal dari kata “CLOZURE” yaitu suatu istilah dari ilmu jiwa Gestalt, bahwa teknik klos ini menjelaskan tentang kecenderungan orang untuk menyempurnakan suatu pola yang tidak lengkap menjadi suatu kesatuan yang utuh.  Dalam teknik klos pembaca diminta untuk memahami wacana yang tidak lengkap  karena bagian tertentu sudah dihilangkan  akan tetapi pemahaman membaca siswa tetep sempurna.

Manfaat teknik klos ini bukan sekedar untuk mengukur tingkat keterbacaan wacana, melainkan juga untuk mengukur tingkat keterpahaman pembacanya. Melalui teknik ini pembaca akan mengetahui perkembangan konsep,pemahaman,dan pengetahuan linguistik siswa. Hal ini sangat bermanfaat untuk menentukan tingkat instruksional yang tepat  untuk pembaca. Melaui metode klos kita dapat mengetahui tingkat keterbacaan sebuah wacana,tingkat keterbacaan siswa, dan latar belakang pengalaman yang berupa minat dan kemapuan bahasa siswa.

Kecepatan Efektif Membaca (KEM) merupakan perpaduan antara kecepatan membaca dengan kemampuan memahami bacaan. KEM juga dipengaruhi oleh faktor tingkat pengetahuan bahasa, pengetahuan kognitif, dan pengalaman membaca siswa. Kendala pada tingkat pengetahuan bahasa pemecahannya dengan jalan sering membaca kamus bahasa Indonesia dan teori kebahasaan. Sedangkan kendala dalam pengetahuan kognitif pemecahannya dengan jalan meningkatkan daya nalar dan kepekaan untuk mengerti dan memahami isi/pesan yang terkandung dalam suatu bacaan yang seefesien mungkin. Pada kendala pengalaman membaca pemecahannya siswa harus sering membaca karena orang yang sering membaca KEMnya akan jauh berbeda dengan orang yang jarang membaca.

Penerapan metode klos dapat dilakukan dengan cara kelompok atau perorangan. Kelompok atau siswa yang bernomor ganjil membaca teks non sastra dengan panjang wacana kurang lebih 250 kata dalam waktu satu menit. Setelah satu menit bacaan diambil  kemudian siswa tersebut diberi teks lagi dengan teks yang sama tetapi dalam bentuk yang tidak lengkap (rumpang). Siswa ditugaskan untuk melengkapi kalimat yang rumpang dalam waktu yang ditentukan oleh guru. Siswa yang bernomor genap ditugas untuk mengukur tingkat keterbacaan respoden. Selanjutnya kelompok atau siswa yang semula sebagai responden berganti sebagai pengamat dan siswa atau kelompok pengamat berganti lagi penjadi responden begitu seterusnya.

Berdasarkan hasil analisis dalam pelaksanaan  atau penerapan metode klos dalam mengukur tingkat Kecepatan Efektif membaca (KEM) menunjukkan bahwa aktivitas pembelajaran membaca cepat dengan menggunakan metode klos dapat meningkatkan Kecepatan Efektif membaca siswa.

Semoga tulisan ini dapat dijadikan referensi dalam pembelajaran membaca bagi guru bahasa Indonesia Khususnya dan seluruh guru umumnya karena masih banyak kita temukan masih rendahnya tingkat Kecepatan efektif membaca siswa karena teknik pembelajaran membaca yang selama ini tidak diarahkan untuk melatih keterampilan membaca dan model pembelajaran selalu mengacu pada buku yang ada sehingga siswa beranggapan bahwa pengajaran membaca tujuannya semata-mata menjawab pertanyaan, mencari kata atau istilah yang sulit dan lain-lain. Untuk mengatasi ini salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan menerapkan metode KLOS.

8 Maret, 2017 at 12:00 am

Pro dan Kontra Konsep Full Day School di Indonesia

suryantoOleh Suryanto SPd
Guru MAN Gumawang, Belitang Oku Timur, Sumatera Selatan

(lebih…)

23 November, 2016 at 12:00 am

Peran Orang Tua Terhadap Motivasi Belajar Siswa

dewi-sartikaOleh Dra Dewi Sartika
Guru MAN Gumawang Kab. OKU Timur Sumatera Selatan

(lebih…)

23 November, 2016 at 12:00 am

Pengaruh Pendidikan Dalam perubahan Tingkat Sosial Ekonomi

yenny-hafsahOleh Dra Yenni Hafsah
Guru MAN Gumawang Kab. OKU Timur, Sumatera Selatan

(lebih…)

23 November, 2016 at 12:00 am

Gerakan Mengantar Anak Sekolah

Oleh Safrudin MPd
Guru MAN 2 Pati, alumnus Pascasarjana UPI Bandung

(lebih…)

18 Juli, 2016 at 7:59 am

Gerakan Literasi Sekolah

Hari PrasetioOleh Drs Hari Prasetio MM
Guru MAN 2 Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah

(lebih…)

8 Juni, 2016 at 6:00 am

Pos-pos Lebih Lama


ISSN 2085-059X

Klik tertinggi

  • Tidak ada

  • 893.801

Komentar Terbaru

Roos Asih di Surat Pembaca
rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca