Peranan Al Izzah Dalam Membentuk Karakter Anak Bangsa

31 Januari, 2018 at 5:23 pm

Oleh: Wiyono MPd.
Guru LPMI Al Izzah Batu Jawa Timur, dan pengamat pendidikan

Berbagai langkah dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki karakter anak bangsa. Perbaikan pendidikan karakter yang tepat yaitu melalui jalur pendidikan.  Untuk menguatkan hal tersebut, terkait pendidikan karakter dituangkan di dalam Undang-Undang No. 20, Tahun 2003 Pasal 3. Di sana disebutkan bahwa, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Mengacu pada hal di atas paling tidak ada sebelas karakter yang harus diterapkan dan dikembangkan. Kesebelas karakter tersebut adalah; menjadi manusia yang beradab, berakhlak mulia, cerdas, beriman, bertakwa, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab.

Selanjutnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui lembaga UNESCO (United Nations, Educational, Scientific and Cultural Organization) mencanangkan empat pilar pendidikan karakter yang baik, yakni: (1) learning to Know, (2) learning to do (3) learning to be, dan (4) learning to live together. Di mana keempat pilar pendidikan tersebut menggabungkan tujuan-tujuan IQ, EQ, dan SQ.

Kemudian apa peranan lembaga pendidikan untuk menyukseskan cita-cita bangsa tersebut khususnya Al Izzah dalam membentuk karakter anak bangsa yang lebih baik? Peranan Al Izzah untuk menyukseskan program tersebut yaitu dengan cara menegakkan budaya islami yang dikemas menjadi School Culture. Di lingkungan Al Izzah ditanamkan pendidikan karakter atau budaya sekolah yang disebut school culture yang terdiri atas tujuh pilar. Hal tersebut dilakukan untuk mencetak generasi yang lebih baik akhlaq dan adabnya untuk menghadapi tantagan zaman ke depan yang lebih kompleks. Penerapan karakter tersebut diharapkan bisa dimulai dari diri sendiri dan hal yang kecil atau sederhana.

Pendidikan karakter tersebut terdiri atas tujuh pilar. Pilar pertama berkepribadian Islami. Di dalam hal ini diharapkan semua civitas academica Al Izzah menjadi pribadi yang islami baik untuk pribadi secara individu, maupun bermasyarakat. Lebih penting lagi di dalam berkomunikasi maupun dalan bertingkah laku antar individu dengan individu yang lain. Hal tersebut berusaha dilakukan tidak hanya selama di lingkungan Al Izzah, melainkan juga diterapkan ketika terjun di masyarakat. Acuan pribadi islami seperti teladan yang sudah dicontohkan Rosululloh SAW yang tertera dalam firman Allah berikut:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (Q.S. Al Ahzab ayat 21).

Diantara teladan yang sudah dicontohkan oleh Rosululloh yaitu empat karakter. Keempat karakter tersebut adalah: sidiq, fathonah, amanah, dan tabliq , atau disingkat SiFAT yang berarti karakter.

Pertama Si- Sidiq/ benar, di dalam hal ini yang berkaitan dengan perkataan.

Seseorang yang berkepribadian islami sebaiknya apa yang dilakukan dan dibicarakan benar sesuai ajaran Al Quran dan sunah Rosululloh SAW. Hal tersebut sesuai dengan Q.S Al Ahzab ayat 70 yang artinya Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.

Selanjutnya yang berkaitan dengan perbuatan

Di dalam hal ini tertera di dalam Q.S Al Baqoroh ayat 62 ditegaskan bahwa Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar – benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Karakter yang sebaiknya dimiliki oleh seorang yang berkepribadian islami, berikutnya adalah   F- Fathonah/ pandai atau cerdas. Cerdas di sini dalam artian mampu membedakan mana yang benar dan salah, serta diberi kekuatan untuk mengikuti kebenaran dan menjauhi kesalahan.  Dasar yang berkaitan dengan hal ini adalah Q. S Yusuf ayat 55. Yang artinya; Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan”. Begitu juga yang tertera di dalam Q.S Ar Rohman ayat 4 yang artinya: Mengajarnya pandai berbicara.

Karakter yang seharusnya dimiliki oleh seorang yang berkepribadian islami selanjutnya adalah A-yaitu Amanah/ dapat dipercaya

Di dalam hal ini seorang yang berkepribadian islami sebaiknya bisa mengemban amanah dari apa yang diamanahkan kepadanya. Hal tersebut tertuang di dalam Q.S An Naml ayat 39. Yang artinya: Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”.

Di dalam Q.S Al Qoshosh ayat 26 juga disebutkan bahwa: Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya “.

Begitu juga di dalam Q.S Yusuf ayat 46 juga ditegaskan bahwa: (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.”

Ketiga dasar di atas yang menjadikan dasar seorang guru atau pemimpin sebaiknya amanah sesuai kadar kemampuan dan kapasitas kita masing-masing.

Karakter yang sebaiknya dimiliki seorang yang berkepribadian islami yang terakhir adalah T- Tablig/ penyampai/ menyampaikan.

Di dalam hal ini, kita sebagai sosok berkepribadian islami sebaiknya bisa menyampaikan informasi yang baik, benar, dan santun, baik di sini harus mengikuti kaidah yang berlaku, sedangkan benar berdasarkan ajaran agama Islam dan sunah yang dicontohkan oleh Rosululloh SAW. Kemudian santun berdasarkan adab, pemilihan kata, kalimat, serta kita harus memperhatikan kepada siapa kita berkomunikasi. Hal ini berkaitan dengan bagaimana kita berkomunikasi dengan lawan tutur serta tidak menyinggung, atau menyakiti orang lain.

Yang berhubungan dengan hal ini tercantum di dalam Q.S Al Maidah ayat 67. Yang artinya: Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

Begitu juga yang terdapat di dalam An Najm ayat 10 yang artinya Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan.

Kemudian juga tertuang di dalam Q.S Yasin ayat 17 yang memiliki maksud: Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas”.

Pilar kedua berjiwa juang tinggi dan pantang menyerah. Di pilar kedua ini diharapkan semua keluarga di Al Izzah memiliki semangat yang tinggi, tidak mudah menyerah, dan tidak ada kata putus asa untuk meraih tujuan, cita-cita, dan hasil yang maksimal dan terbaik. Hal tersebut bisa digambarkan seperti orang yang sedang berjihad. Seorang yang berjihad sebaiknya memiliki jiwa juang tinggi dan pantang menyerah untuk meraih ridlo Allah SWT. Hal tersebut tertera di dalam Q.S Al Isra ayat 19. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.

Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia),( Q.S Toha ayat 75).

Selanjutnya ditegaskan dalam Q.S Az Zumar ayat 53. Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kemudian diteaskan dalam Q.S Yusuf ayat 87. Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.

Pilar ketiga, mandiri. Di pilar ini diharapkan setiap individu mampu mengembangkan pribadinya masing-masing secara mandiri, serta mampu menyelesaikan masalah secara pribadi tanpa uluran tangan pihak lain. Dasar dari hal tersebut adalah: Q.S Ar Rum ayat 44. Barangsiapa yang kafir maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan barangsiapa yang beramal saleh maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan).

Q.S Maryam Ayat 95. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. Mengacu pada hal di atas diharapkan setiap individu mampu menyelesaikan permasalahannya secara mandiri.

Pilar keempat, peduli pada sesama, di pilar ini diharapkan setiap individu yang ada di Al Izzah mempunyai kepedulian yang tinggi kepada saudaranya yang sedang membutuhkan. Kepedulian ini diaplikasikan tidak hanya melalui tenaga, doa, melainkan juga harta yang dimilikinya. Di dalam hal ini diharapkan juga mereka memiliki kepedulian mulai dari hal kecil, kepada teman, guru, dan yang lain. Kepedulian ini dibuktikan dengan memberikan yang terbaik kepada saudaranya yang membutuhkan. Selain itu diharapkan mereka mempunyai prinsip peduli atau membantu juga merupakan ibadah. Hal tersebut tertera dalam Q.S Al Maidah ayat 2 yang artinya …. Dan tolong -menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong – menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

 Q.S As Shaffat ayat 25. “Kenapa kamu tidak tolong -menolong?”

Q.S An Nahl ayat 128. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.

Pilar kelima, disiplin dan bertanggung jawab, Di dalam penerapan pilar ini diharapkan setiap individu yang ada di Al Izzah memiliki jiwa disiplin atau tepat waktu di dalam segala hal dan bertanggungjawab atas apa yang sudah dilakukannya. Dasar dari penanaman karakter ini adalah:

Q.S Saba ayat 25. Katakanlah: “Kamu tidak akan ditanya (bertanggung jawab) tentang dosa yang kami perbuat dan kami tidak akan ditanya (pula) tentang apa yang kamu perbuat”.

Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : “Kalian adalah pemimpin yang dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinan kalian. Seorang penguasa adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang isteri adalah pemimpin terhadap rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua akan dimintai pertanggungjawaban akan kepemimpinanmu.” (HR. Bu khari dan Muslim)

Pilar keenam, sopan dan santun, Di lingkungan Al Izzah diharapkan setiap person memiliki jiwa atau karakter sopan dan santun. Jika sopan berkaitan dengan tingkah laku siswa kepada sesama siswa, siswa kepada guru, guru kepada sesama guru, guru kepada siswa, serta semua pegawai kepada sesamanya. Sedangkan santun berkaitan dengan komunikasi atara lawan tutur dengan baik, dan benar.

Terkait kesopanan mari kita renungkan kisah sahabat berikut: Dalam etika menghormati orang tua ketika dalam perjalanan, bahwa orang yang muda tidak boleh mendahului orang tua meskipun bukan orang muslim. Hal ini sesui dengan kisah Ali bin Abi Tholib, “Suatu pagi Ali bin Abi Tholib terburu-buru pergi ke masjid, khawatir tidak mendapatkan jamaah bersama Rasulullah. Ia berjalan agak cepat. Di tengah jalan bertemu dengan orang lanjut usia yang berjalan sangat pelan di depannya. Ali enggan mendahului lantaran rasa hormatnya kepada orang yang lebih tua. Ketika masuk masjid Ali mendapati Rasulullah sedang ruku’ rakaat pertama berarti Ali tidak tertinggal jamaah. Saat itu Rasulullah ruku’ agak panjang tidak seperti biasanaya.

Al quran Surah Al Israa ayat 37: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung“.

Dalam surah Lukman ayat 18, Allah SWT berfirman: “… Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Allah Allah Ta’ala berfirman : “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong), dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman : 18)

Al Isro’ 23. Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia

Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw., beliau bersabda : “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung tali persaudaraan. Dan siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam!”(HR. Bukhari dan Muslim)

Pada dasarnya kesantunan berbahasa di dalam Al-Quran terdiri atas enam. Keenam kesantunan tersebut adalah: qaulan sadidan, qaulan ma’rufa,  qaulan baligha, qaulan maysura, qaulan karima, qaulan layyina.

Qaulan Sadidan yaitu pembicaraan, ucapan, atau perkataan yang benar, baik dari segi substansi (materi, isi, pesan) maupun redaksi (tata bahasa).

Q.S An-Nisa ayat  9

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (۹)

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Q.S. Al-Ahzab ayat 70

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (۷۰)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.

2.4.2 Qaulan Ma’rufa

Qaulan Ma’rufa artinya perkataan yang baik, ungkapan yang pantas, santun, menggunakan sindiran (tidak kasar), dan tidak menyakitkan atau menyinggung perasaan.

Q.S. An-Nisa: 5

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا (٥)

Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.

Q.S. An-Nisa: 8

وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا (٨)

Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.

Q.S. Al-Baqarah: 235

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَكِنْ لَا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّا أَنْ تَقُولُوا قَوْلًا مَعْرُوفًا وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ (۲٣٥)

Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf. Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

2.4.3 Qaulan Balighan

Qaulan Balighan artinya menggunakan kata-kata yang efektif, tepat sasaran, komunikatif, mudah dimengerti, langsung ke pokok masalah, dan tidak berbelit-belit atau bertele-tele.

Hal ini terdapat di dalam Q.S. An-Nisa ayat 63

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا (٦٣)

Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.

2.4.4 Qaulan Maisuran

Qaulan Maisuran artinya berkata dengan mudah atau gampang dengan menggunakan kata-kata yang mudah dicerna, dimengerti, dan dipahami. Makna lainnya adalah kata-kata yang menyenangkan atau berisi hal-hal yang menggembirakan.

Kata qaulan maisuran disebutkan dalam Q.S. Al-Isra ayat 28;

وَإِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاءَ رَحْمَةٍ مِنْ رَبِّكَ تَرْجُوهَا فَقُلْ لَهُمْ قَوْلًا مَيْسُورًا (۲٨)

Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas.

2.4.5 Qaulan Karima

Qaulan Karima adalah perkataan yang mulia, dibarengi dengan rasa hormat dan mengagungkan, enak didengar, lemah lembut, dan bertata krama.

Qaulan Kariman terdapat di dalam Q.S. Al-Isra: 23;

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (۲٣)

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

2.4.6 Qaulan Layyina

Qaulan Layyina adalah pembicaraan yang lemah lembut, dengan suara yang enak didengar, dan penuh keramahan, sehingga dapat menyentuh hati. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, yang dimaksud layyinan ialah kata-kata sindiran, bukan dengan kata-kata terus terang atau lugas, apalagi kasar.

Q.S. Thaha: 44

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (٤٤)

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan (Q.S Al Furqon 63)

Beberapa dasar di atas menjadi acuan betapa pentingnya bersikap sopan dan santun ketika berkomunikasi. Mengapa begitu karena pada dasarnya setiap apa yang dilakukan dan diucapkan pada intinya adalah ibadah.

Pilar ketujuh, sederhana, bersih, dan rapi.

Sikap sederhana bersih, dan rapi bisa ditunjukan melalui pakaian, ucapan, sesuatu yang dimiliki, dan perbuatan. Hal ini menjadi cerminan karakter, sifat, pribadi orang tersebut. mengacu hal di atas, di bawah ini ada beberapa dasar dalam Al Quran dan hadist yang menguatkannya.

Berikut ini dasar terkait pentingnya kesederhanaan.

Mu’adz bin Anas Radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Siapa yang menanggalkan pakaian yang mewah karena tawadlu’ kepada Allah padahal ia dapat membelinya, Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di muka sekalian manusia untuk disuruh memilih sendiri pakaian iman yang mana yang ia kehendaki untuk dipakainya.” (HR. Tirmidzi)

Al Quran surat Al A’raf ayat 31:

“Hai anak Adam, kenakan pakaianmu yang indah disetiap memasuki masjid, makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya allah tidak menyukai orang-orang yang belebih-lebihan.”

Dasar terkait kebersihan.

“Sesungguhnya Allah itu indah, menyukai keindahan” [H.R. Muslim, dari sahabat Abdullah bin Mas’ud ada enam … dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah. [Q.S. Al Muddatstsir: 4-5]

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak bertaubat dan membersihkan diri” [Q.S. Al Baqarah : 222] “Kebersihan adalah sebagian dari iman….. “ [H.R. Muslim].

Wajib bagi setiap muslim sekali dalam seminggu (tujuh hari) dengan mencuci kepala dan seluruh tubuhnya” [H.R. al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ]. 

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa semua karakter tersebut sudah dicontohkan oleh Rosululloh dan Nabi Ibrahim. Hal tersebut yang menjadi dasar peran Al Izzah dalam mencetak karakter bangsa dalam memperbaiki generasi ke depan yang lebih baik .

Mengacu pad hal tersebut Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (Al-Qalam : 4) selanjutnya dalam Q.S. An Nahl ayat 120 ditegaskan.

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),

 Intinya, Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. (Q.S. Fussilat ayat 35).

Dari uraian di atas diharapkan setiap insan memiliki karakter yang lebih baik.

Iklan

Entry filed under: Artikel Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI). Tags: , .

Penerapan Model Dakar di SMA Negeri 1 Gubug Penelitian Tindakan Kelas Peningkatan Kreativitas Membatik Teknik TAPRAM


ISSN 2085-059X

  • 914.231

Komentar Terbaru

Roos Asih pada Surat Pembaca
rumanti pada Surat Pembaca
ira pada Surat Pembaca
Alfian HSB pada Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati pada Surat Pembaca
Ida pada Surat Pembaca
Waluyo pada Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: