Penerapan Model Dakar di SMA Negeri 1 Gubug

24 Januari, 2018 at 7:14 am

Oleh Muzamil SPd
Guru SMA Negeri 1 Gubug Kab. Grobogan Jawa Tengah

PENDAHULUAN 

Undang-undang No. 20 Thaun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan tegas menggariskan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa ….” Dan sejak dahulu Ki Hajar Dewantoro menekankan bahwa pendiddikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh peserta didik. Sejalan dengan rumusan dan harapan pendidikan diatas, sekolah kini lebih disebutkan dan terfokus dengan pencapaian sisi prestasi akademik agar peserta didik mendapat nilai tinggi pada khususnya mata pelajaran yang diujikan secara nasional, sementara keberadaan pembelajaran nilai-nilai moral dan karakter mulai dipertanyakan kembali. Pada level makro, juga muncul keinginan yang kuat agar pendidikan nasional mampu melahirkan generasi Indonesia yang jujur dan berdaya saing tinggi.

Tingginya harapan masyarakat terhadap dunia pendidikan tersebut agaknya dipicu oleh kenyataan masih senjangnya antara harapan dengan kenyataan di lapangan. Harus diakui dalam berbagai aspek, pendidikan di negara ini mengalami kemajuan, bahkan pesat. Peningkatan anggaran pendidikan jelas terwujud secara nyata dari tekad pemerintah memajukan dunia pendidikan. Prestasi pelajar Indonesia di berbagai ajang kompetisi regional, nasional, Asia dan internasional juga membanggakan, bahkan hampir setiap tahun pelajar Indonesia mampu berkiprah dan berprestasi di forum internasional. Mereka memberi bukti nyata bahwa sebenarnya sumber daya manusia Indonesia mampu berjaya apabila pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan dukungan masyarakat secara penuh bersungguh-sungguh mengupayakannya.

Di sela-sela prestasi pelajar Indonesia dalam forum internasional tersebut, memang harus diakui masih terpampang sisi buram di sekitar kita. Jumlah kaum muda pengguna narkoba masih mencemaskan. Informasi dari Balai Diklat Badan Narkotika Nasional, menyebutkan terdapat sekitar 3,6 juta pecandu narkoba di Indonesia (Tempo Interaktif, 7/8/2009). Kejelasan juga masih belum sepenuhnya teratasi. Kekerasan pada saat masa orientasi peserta didik (MOS) masih saja terjadi. Oknum kepala sekolah dan guru yang memukul peserta didik, peserta didik mengeroyok guru, hingga guru Bimbingan Konseling mengadu dua peserta didiknya untuk berkelahi di halaman sekolah, tawuran antar pelajar di jalanan yang merepotkan petugas keamanan, geng perempuan yang ramai-ramai menghajar lawan gengnya di lorong sekolah, pencurian makanan/minuman dan ketidak jujuran peserta didik ketika harus membayar makanan/minuman di kantin kejujuran, pelanggaran tata tertib sekolah yang hampir setiap hari terjadi di sekolah, angka aborsi di kalangan remaja yang masih tinggi. Kondisi sosial yang semakin permisif, minimnya saksi sosial, membuat mereka gampang melanggar susila, penggunaan internet yang tanpa batas sehingga muncul pornografi yang mudah untuk diakses, angka korupsi yang semakin tinggi, dan peserta didik mulai meniru dengan jual beli jawaban soal ujian nasional, dan perilaku negatif yang lain.

Dengan potret buram seperti di atas, wajar apabila membuat banyak orang yang gundah dan risau. Sebagai solusi atas keprihatinan yang serius tersebut adalah perlunya pembangunan watak (character building) yang jelas dengan tujuan membangun manusia Indonesia yang berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, dan berperilaku baik. Saatnya dibangun kembali kesadaran akan pentingnya pendidikan yang memiliki prestasi gemilang diiringi pembinaan karakter bagi insan Indonesia dan salah satu mata pelajaran yang memiliki peran strategis / prestasi yang diharapkan adalah pendidikan kewarganegaraan. Pendidikan kewarganegaraan dapat dipahami sebagai usaha sadar untuk mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan peserta didik  agar dapat menjadi warga negara yang baik, yaitu warga negara yang memahami, menyadari dan mampu menggunakan dan menjalankan kewajiban kenegarannya secara bertanggung jawab.

Untuk maksud tersebut pendidikan kewarganegaraan minimal harus mencakup (a) penanaman ide-ide dan prinsip-prinsip etik dan moral, yang memberi arah, makna dan tujuan bagi seluruh bangsa, (b) penanaman dan pengembangan pengetahuan yang diperlukan untuk berpikir dan bertindak cerdas dalam menghadapi isu-isu kenegaraan mutakhir, serta (c) pengembangan keterampilan, dan teknik-teknik yang diperlukan warga negara dalam menunaikan tanggung jawab kenegaraannya.

Pendidikan kewarganegaraan memiliki peran strategis dalam sebuah negara demokrasi sebab melalui pendidikan tersebut, para warga negara dipersiapkan untuk mampu menjalankan sistem demokrasi itu sendiri. International Commission of jurist (Budiardjo, 1980) bahkan menjadikan pendidikan kewarganegaraan sebagai salah satu dari enam ciri negara demokrasi. Oleh karena itu pendidikan kewarganegaraan merupakan program yang lazim dilakukan oleh semua bangsa/negara di dunia ini. Program semacam itu tidak saja dijalankan melalui jalur pendidikan formal, melainkan juga melalui berbagai sarana sosialisasi politik di masyarakat.

Sejalan dengan perkembangan mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan tersebut, sebagai guru mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan perlu memberikan sajian pembelajaran yang optimal kepada peserta didik guna mencapai harapan dan tujuan dalam pembelajaran yang menyenangkan, mengasyikkan dan mencerdaskan. Sajian dalam pembelajaran yang dimaksud adalah pembelajaran dengan penggunaan model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan kondisi peserta didik. Model pembelajaran tersebut adalah model DAKAR yaitu pembelajaran aDaptif, Kooperatif, Aktif, Reflektif.

Pembelajaran aDaptif adalah pembelajaran (sejalan dengan teori tentang kecerdasan majemuk, keragaman modalitas belajar peserta didik, quantum learning, dan sebagainya) di mana baik guru maupun peserta didik saling mengapresiasi eksistensi sesamanya dengan segala keragaman, kelemahan dan keunggulannya. Oleh karena itu proses pembelajaran selalu dicoba diadaptasi dengan keragaman peserta didik tersebut. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang mengembangkan dimensi-dimensi sosialitas peserta didik sebagai penyeimbang kecenderungan pembelajaran yang amat kompetitif dan individualities. Pembelajaran kooperatif mengandung kegiatan-kegiatan kolaboratif antara peserta didik sehingga mampu mengembangkan kecerdasan antara pribadi peserta didik. Pembelajar aktif adalah pembelajaran yang (sejalan dengan paham konstruktivitasme dalam belajar) mengaktifkan peserta didik sejak dini sehingga peserta didik aktif memperoleh atau membangun pengetahuannya sendiri bukan sekedar dituangi oleh guru. Sedang pembelajaran reflektif adalah pembelajaran yang selalu mengandung unsur refleksi sebagai wahana peserta didik untuk menata dan mengendapkan (mengambil hikmah) dari pengetahuan, nilai, sikap dan apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Krakter terdiri dari tiga unjuk perilaku yang saling berkaitan yaitu arti kebaikan, mau berbuat baik, dan nyata berperilaku baik (Lickona, 1991 : 51).

Secara kejiwaan dan sosial budaya pembentukan karakter dalam diri seseorang merupakan fungsi dari seluruh potensi individu peserta didik (kognitif, afektif, dan psikomotorik) dalam konteks interaktif susiokultural (dalam keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dapat dikelompokkan dalam oleh hati (spiritual and emotional development), oleh pikir (intellectual development), olah raga dan kinestetik (physical and kinesthetic development), serta olah rasa dan karsa (affective, attitude and social development). Ke empat proses psikolosial tersebut secara terpadu saling berkait dan saling melengkapi, yang bermuara pada pembentukan karakter yang menjadi perwujudan dari nilai-nilai luhur. Pengelompokan nilai tersebut sangat berguna untuk kepentingan perencanaan. Dalam proses pembelajaran dan pembiasaan keempat kelompok nilai luhur tersebut akan terintegrasi melalui proses internaliasai melalui proses diri peserta didik.

Model DAKAR diupayakan dapat meningkatkan hasil belajar dan karakter peserta didik kea rah yang lebih baik sesuai dengan norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat dan sesuai dengan Pancasila. Sehingga peserta didik sebagai generasi penerus bangsa dan tumpuan masa depan bangsa menjadi sumber daya manusia yang berkualitas serta menjadikan kehidupan bangsa menjadikan kehidupan bansga semakin maju dalam era globalisasi ini.

Hasil belajar dan karakter bangsa bagi peserta didik kelas XII IPS-2 yang rendah menunjukkan adanya masalah kesulitan belajar dan lemahnya penerapan karakter bangsa, dimana kemampuan peserta didik kelas XII IPS-2 SMA Negeri 1 Gubug pada Standar Kompetensi : 1.  Menampilkan sikap positif terhadap Pancasila sebagai ideologi terbuka  hasilnya masih rendah, maka perlu upaya yang tepat yaitu dengan menggunakan model DAKAR dalam pembelajaran.

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar dan karakter bangsa bagi peserta didik kelas XII IPS-2 SMA Negeri 1 Gubug Kabupaten Grobogan pada Standar Kompetensi : 1.  Menampilkan sikap positif terhadap Pancasila sebagai ideologi terbuka dengan menggunakan model DAKAR.

KAJIAN TEORI

Pendidikan Kewarganegaraan

Pendidikan Kewarganegaraan adalah usaha sadar untuk mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan peserta didik agar dapat menjadi warga negara yang baik, yaitu warga negara yang memahami, menyadari dan mampu menggunakan hak serta menjalankan kewajiban kenagaraannya secara bertanggung jawab. Untuk maksud tersebut pendidikan kewarganegaraan minimal harus mencakup (a) penanaman ide-ide dan prinsip-prinsip etik dan moral, yang memberi arah, makna dan tujuan bagi seluruh bangsa, (b) penamaman dan pengembangan pengetahuan yang diperlukan untuk dipikir dan bertindak cerdas dalam menghadapi isu-isu kenagaraan mutakhir, serta (c) pengembangan keterampilan, dan teknik-teknik yang diperlukan warga negara dalam menunaikan tanggung jawab kenegarannya.

Dalam negara demokrasi pendidikan kewarganegaraan dimaksudkan untuk mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan anak-anak dan generasi muda agar mereka mampu dan bersemangat untuk menjalankan, meningkatkan, dan mempeluas kehidupan demokratis. Mereka harus mempunyai pengetahuan dan pemahaman tentang demokrasi, kenyakinan-kenyakinan, kesetiaan pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip demokrasi, keterampilan berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah, serta kemampuan untuk menerapkan teknik-teknik yang diperlukan dalam mewujudkan partisipasi dalam kehidupan demokratis secara cerdas, efektif dan menyenangkan.

Pendidikan kewarganegaraan itu menurut Thomas Ehrrlich (1999 : 246) sebaiknya dijalankan dengan memadukan (a) pembelajaran berbasis masalah, (b) pembelajaran kolaboratif, dan (c) pembelajaran layanan masyarakat. Pembelajaran berbasis masalah melatih peserta didik agar mampu menjalani kehidupan demokratis yang selalu diliputi persoalan bersama. Pembelajaran kolaboratif melatih peserta didik memasuki masyarakat demokratis di mana warga negara saling berinteraksi, saling belajar, tumbuh serta bekerja sama membangun kehidupan bersama. Pembelajaran layanan masyarakat memberi kesempatan bagi peserta didik untuk mempraktikkan teori yang dipelajari di kelas dan sebaliknya juga memperoleh tilikan untuk memperjelas analisas akademiknya.

Muatan pendidikan kewarganegaraan menurut Patrick (2000:16) mencakup empat komponen dasar yaitu (1) pengetahuan tentang pemerintah dan kewenanganegaraan dalam begara demokrasi, (2) keterampilan-keterampilan kognitif dari kewarganegaraan demokratis, (3) keterampilan-keterampilan partisipasi dari kewarganegaraan demokratis, dan (4) kebajikan atau disposisi-disposisi kewarganegaraan demokratif.

Sementara itu Quigley (2000 : 3) mencatat bahwa salah satu kecenderungan dalam pendidikan kewarganegaraan demokratis saat ini adalah bahwa banyak pendidik di sleuruh dunia memusatkan programnya pada pengembangan pengetahuan kewarganegaraan / civic knowledge ketrampilan-ketrampilan kewarganegaraan / civic skills, dan nilai-nilai keutamaan warganegara / civic virtues. Pengetahuan kewarganegaraan mencakup gagasan-gagasan dan infomasi-informasi dasar yang harus diketahui dan dipergunakan peserta didik agar menjadi warga negara di negara demokrasi yang efektif dan bertanggung jawab. Gagasan-gagasan dasar atau konsep-konsep pokok itu mencakup antara lain kedaulatan rakyat, hak-hak perorangan, kebaikan bersama, otoritas keadilan, kebersamaan, konstitusionalisme dan rule of law, dan demokrasi perwakilan.

Kebajikan kewarganegaraan (civic virtues) mencakup watak, karakter, disposisi dan komitmen yang diperlukan untuk memperhatikan dan meningkatkan pemerintahan dan kewarganegaraan demokratis. Contoh dari kebajikan kewarganegaraan adalah penghormatan pada nilai dan martabat setiap orang, keberadaban, integritas, disiplin diri, toleransi, kasih sayang, dan patriotis. Komitmen mencakup antara lain dedikasi kepada hak-hak asasi manusia, kebaikan bersama, kesamaan derajat dan fule of law.

Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, dalam sistem pendidikan di Indonesia, merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan bekarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD NRI tahun 1945. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :

  1. Berpikir secara kritis, rasional dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan.
  2. Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta anti korupsi
  3. Berkembang secara pasif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya.
  4. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Tujuan tersebut hendak diwujudkan melalui proses pembelajaran menggumuli materi mata pelajaran pendidiikan kewarganegaraan yang ruang lingkupnya meliputi aspek-aspek sebagai berikut :

  1. Persatuan dan Kesatuan bangsa perbedaan, cinta lingkungan,, kebanggaan sebagai pemuda, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, partisipasi dalam pembelan negara, sikap Kesatuan Republik Indonesia, keterbukaan dan jaminan keadilan
  2. Norma, hukum dan peraturan, meliputi : Tertib dalam kehidupan keluarga, tata tertib di sekolah, norma yang berlaku di masyarakat,, norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sistem hukum dan peradilan nasional, hukum dan peradilan internasional.
  3. Hak asasi manusia meliputi : hak dan kewajiban anak, hak dan kewajiban anggota masyarakat, instrument national dan internasional HAM, pengajuan, penghormatan dan perlindungan HAM
  4. Kebutuhan warga negara meliputi : hidup gotong royong, harga diri sebagai warga masyarakat, kebebasan berorganisasi, kemerdekaan mengeluarkan pendapat, menghargai keputusan bersama, prestasi diri, persamaan kedudukan warga negara
  5. Konstitusi Negara meliputi : Proklamasi kemerdekaan dan konstitusi yang pertama, konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di Indonesia, hubungan dasar negara dengan konstitusi
  6. Kekuasaan dan politik meliputi : pemerintahan desa dan kecamatan, pemerintahan daerah dan otonomi, pemerintahan pusat, demokrasi politik, budaya politik, budaya demokrasi menuju masyarakiat madani, sistem pemerintahan, pers dalam masyarakat demokrasi
  7. Pancasila meliputi : kedudukan pancasila sebagai dasar negara dan ideology negara, proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara, pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, Pancasila sebagai ideology terbuka
  8. Globalisasi meliputi : Globalisasi di lingkungannya, politik luar negari Indonesia di era globalisasi, dampak globalisasi, hubungan internasional dan organisasi internasional, dan mengevaluasi globalisasi.

Pembelajaran aDaptif, Kooperatif, Aktif, Reflektif (DAKAR)

Pembelajaran aDaptif

Pembelajaran aDaptif adalah proses pembelajaran dengan menyesuaikan kondisi peserta didik (yang belajar) dan lingkungan, sehingga terjadi penguasaan pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang diperoleh melalui pengamalan. Melalui pembelajaran aktif terdapat proses belajar yang berbeda untuk tiap peserta didik dan terjadi suatu pengalaman belajar satu guru (yang mengajar) dengan satu peserta didik (yang belajar) dan terjadi suatu pengalaman belajar yang meningkatkan kualitas hubungan antara satu guru (yang mengajar) dengan satu peserta didik (yang belajar).

Pembelajaran adaptif bukan berarti pembelajaran yang dilaksanakan secara privat/individual, akan tetapi sekalipun penmdekatan klasikal dan atau kelompok, pengajaran adaptif tetap memperhatikan perbedaan individual peserta didik. Perbedaan individual menyangkut kecakapan, pengalaman dan latar belakang sosial ekonomi, yang mutlak perlu diperhatikan adalah modalitas peserta didik yang menentukan belajar, kebutuhan, kecerdasan dan atau gaya belajarnya yang terbaik seerta latar belakang keluarga.

Di dalam program pembelajaran adaptif yang efektif seharusnya ada kecocokan antara pengalaman pembelajaran dan kebutuhan murid yang didasarkan pada pengetahuan tentang karakteristik pembelajaran setiap murid, performance masa lalunya, level kompetensinya yang sekarang, hakekat dan jenis dari tugas-tugas pembelajaran yang dilaksanakan.

Tujuan dari pembelajaran adaptif adalah menjamin/memastikan keberhasilan sekolah bagi setiap murid melalui penetapan pengalaman pembelajaran yang secara efektif mengkomodasi kebutuhan pembelajaran murid yang bermacam-macam.

Karakteristik pembelajaran adaptif adalah :

  1. Tersedia beberapa alternatif tujuan, strategi dan prosedur pembelajaran dengan berbagai sumber yang dimanfaatkan, yang dikemas secara luwes sehingga setiap peserta didik dapat memilih rute/jalan/cara yang akan ditempuhnya, waktu dan belajarnya.
  2. Memberi kesempatan pada peserta didik untuk memanfaatkan dan mengembangkan taletanya masing-masing pilihan yang sesuai modalitas, kekuatan dan keterbatasannya masing-masing
  3. Memungkinkan pengembangan kecakapan peserta didik memanfaatkan kesempatan belajar, memahami ketrampilan untuk berhasil dalam menghadapi kehidupannya kelak di dunia yang semakin kompleks.

Dengan demikian dalam pembelajaran adaptif guru selalu menyesuaikan pengajarannya dengan kebutuhan masing-masing peserta didik, demikian juga gaya mengajarnya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik serta lingkungan keluarga sehingga menjadi kemitraan antara guru dengan orang tua peserta didik. Tingkat adaptasi pembelajaran ditentukan oleh seberapa peka prosedur dterhadap kebutuhan (belajar yang spesifik) setiap peserta didik dan beberapa banyak ketentuan/aturan kegiatan sesuai kebutuhan setiap peserta didik yang bersangkutan. (Sulasmono, 2011).

Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah filosofi (seni hidup) sekaligus pedagogi. Pertama-tama pembelajaran kooperatif hakikatnya adalah sebuah filosofi, bukan sekedar metode dan teknik pembelajaran (Green, tt). Pembelajaran kooperatif diinspirasi oleh seni hidup yang terdapat dalam kelompok / komunitas yang baik, dimana setiap anggotanya memiliki sikap tanggap serta kesediaan untuk menubangkan kemampuan terbaik yang mereka miliki untuk mencapai tujuan-tujuan mereka maupun tujuan-tujuan kelompok. Karena tiu hal yang sangat diutamakan dalam pembelajaran kooperatif adalah proses membangun kesepakatan melalui kerja sama positif di antara anggota kelompok (consensus building through cooperation by group members). Lebih lanjut, para praktisi pembelajaran kooperatif berupaya menerapkan filosofi itu dalam setting kelas dan sekolah (Jhonson, et al. 2010) serta di masyarakat pada umumnya (Panitz, 1997) sebagai cara hidup bersama (a way of living together) dan cara memperlakukan orang lain (a way of dealing with other).

Pembelajaran kooperatif muncul terutama sebagai alternative terhadap model pembelajaran yang dinilai terlalu diwarnai oleh suasana kompetisi dalam sistem pembelajaran tradisional. Pembelajaran kooperatif, sebagaimana tampak dari namanya, berupaya mendorong peserta didik untuk bekerjasama dalam mengerjakan tugas bersama, berbagi pemahaman dan saling menyemangati satu sama lain. Dalam pembelajaran kooperatif, guru masih tetap mempertahankan dua peran tradisionalnya dalam pembelajaran yaitu sebagai ahli dalam mata pelajaran yang diajarkannya (subject matter expert) dan pemegang otoritas di kelas (aouthority in the classroom). Gurulah yang merencanakan dan memberikan tugas kepada tiap-tiap kelompok belajar, mengelola waktu dan sumber-sumber belajar, mengawasi kegiatan belajar peserta didik, memastikan bahwa masing-masing peserta didik benar-benar mengerjakan tugas dan bahwa proses belajar dalam kelompok berjalan dengan baik (Jhonson et al. 2010; Slavin, 1995).

Pembelajaran Aktif

Active Learning atau pembelajara aktif, adalah sebuah pendekatan dalam proses belajar mengajar yang bermutu pada upaya mengaktifkan peserta didik dalam belajar. Pendekatan semacam ini tidak terbatas oleh model pembelajaran (klasikal atau kelompok), hakikatnya materi (fakta, aturan dan urutan kegiatan di satu pihgak, atau konsep, pola dan abstrak di pihak lain) maupun model pembelajaran (pembelajaran langsung atau pembelajaran tak langsung). Pada prinsipnya pendekatan pembelajaran aktif dapat diterapkan ke dalam berbagai variasi di atas.

Dalam www.wikipedia.org dipaparkan bahwa active learning is an “umbrella” term that refers to several models of instruction that focus the responsibility of learning on learners. Dari pernyataan tersebut dimaskdukan bahwa pembelajaran aktif adalah sebuah istilah “payung” yang menunjuk pada beberapa model pembelajaran yang menekankan pada tanggung jawab pembelajaran pada pembelajar. Secara pedagogi pembelajaran aktif adalah proses pembelajaran yang tidak hanya didasarkan pada proses mendengarkan dan mencatat.

Menurut Bonwell & Eison (1991) peran peserta didik dalam pembelajaran aktif adalah lebih dari sekedar mendengarkan. Mereka harus membaca, menulis, mendiskusi, atau terlibat dalam pemecahan masalah. Lebih dari itu, agar peserta didik terlibat dalam tugas-tugas berpikir tingkat tinggi seperti menganalisa, mensitesa dan mengevaluasi. Strategi-strategi yang meningkat pembelajaran aktif dapat dipahami sebagai kegiatan pembelajaran yang melibatkan peserta didik dalam kegiatan melakukan sesuatu dan memikirkan apa yang mereka perbuat.

Siberman (1996), menyatakan bahwa pembelajaran aktif adalah pembelajaran yang menyebabkan murid-murid menggunakan otak mereka, mempelajari ide-ide/gagasan-gagasan, memecahkan masalah, dan menerapkan apa yang mereka pelajari.

Loorenzen (2002) menyebut pembelajaran aktif sebagai metode mendidik peserta didik yang mengijinkan mereka berpartisipasi dalam kelas. Metode ini mengeluarkan peserta didik dari peran sebagai pendengar dan pembuat catatan yang pasif, dan membolehkan peserta didik menentukan arah dan inisiatif selama pembelajaran. Peran guru bukan lagi sebagai penceramah dan hanya mengarahkan peserta didik ke jalan yang memungkinkan peserta didik “menemukan” bahan pelajaran manakala mereka belajar bersama peserta didik lain memahami kurikulum.

  1. Dee Fink menguraikan konsep pembelajaran aktif terdiri dari dua komponen utama yaitu : unsur pengalaman (experience), meliputi kegiatan melakukan (doing) dan pengamatan (observing) dan dialogue, meliputi dialog dengan diri sendiri (self) dan dialog dengan orang lain (others).

Pembelajaran Refleksi

Pembelajaran refleksi dipahami berkaitan dengan kegiatan belajar tingkat tinggi. Istilah belajar tingkat tinggi mencakup kegiatan pembelajaran yang lebih insentif, yang disebut pula dengan istilah seperti pembelajaran lingkaran ganda (double loop learning), pembelajaran tranformasional (transformational learning), dan pembelajaran mendalan (deep learning) (Argyris 2002; Cope 2003).

Dalam hal ini, Biggs (1987) memberi gambaran tentang kapan dan dalam kondisi apa peserta didik akan menerapkan pendekatan mendalam (deep approach) ataukah pendekatan permukaan (surface approach) dalam pembelajaran. Menurutnya, peserta didik akan menerapkan pendekatan permukaan dalam pembelajaran ketika mereka memahami tugas-tugas sebagai : (a) permintaan untuk dipenuhji atau sebagai pembebanan dalam mewujudkan sasaran, (b) memahami berbagai aspek dari tugas sebagai hal yang terpisah-pisah dan satu sama lain berdiri sendiri-sendiri, (c) cenderung menyelesaikan tugas secepatnya, (d) tidak perhatian terhadap sentuhan personal (atau makna personal lainnya) terhadap tugas, (e) menyadari diri pada hafalan, dan (f) cenderung lebih menaruh perhatian terhadap aspek-aspek tingkat dasar.

Sebaliknya, peserta didik akan menerapkan pendekatan mendalam ketika : (a) tertarik pada tugas dan suka menyelesaikan tugas itu, (b) mencari makna yang meletak pada tugas, (c) menjadikan tugas bersifat personal (memaknainya dari sudut pandang subjektif dan objektif), (d) melihat tugas secara holistic dan mencoba mengintegrasikan unsur-unsur individual dalam rencana keputusannya, (e) berusaha menerapkan berbagai teori dalam mengerjakan tugas dan sebaliknya membuat hipotesis yang bisa diuji.

Terkait dengan itu dengan mengadaptasi pandangan dan pembelajaran reflektif dan pembelajaran non-reflektif Mezirow (1991), Kember et al. (2000) menggagas empat tingkat “herarki” mengenai refleksi, yaitu : (a) tindakan/pembelajaran rutin (habitual action/learning), (b) pengertian (understanding), (c) refleksi (reflection), dan (d) refleksi kritis (critical reflection). Mereka menyatakan bahwa peserta didik memiliki hirarki belajar yang berbeda-beda di sepanjang empat dimensi itu.

Melalui DAKAR diupayakan karakter bangsa dapat diaplikasikan dalam pembelajaran bagi peserta didik terutama pada mata pelajaran pendidikian kewarganegaraan, sehingga fungsi pencegahan terhadap perilaku negative dan tindakan yang tidak terpuji peserta didik sebagai bagian dari bangsa ini diharapkan berkurang bahkan dihentikan dengan pembelajaran yang terencana dengan baik dan optimal berkarakter. Sehingga DAKAR menjadi salah satu alternative model pembelajaran yang dapat memacu peserta didik menjadi entitas yang baik dalam pembelajaran dan dapat menerapkan hasil belajar dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

HIPOTESIS

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berfikir tersebut di atas diajukan hipotesis tindakan sebagai berikut : melalui model DAKAR dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dapat meningkatkan hasil belajar dan karakter bangsa pada peserta didik kelas XII IPS-2 di SMA Negeri 1 Gubug Kabupaten Grobogan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal / Pra Siklus

Penelitian ini dilakukan di kelas XII IPS-2 Semester gasal tahun pelajaran 2017/2018 SMA Negeri 1 Gubug Kabupaten Grobogan. Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di kelas ini dilakukan 1 kali pertemuan dalam 1 minggu dan setiap pertemuan terdiri atas 2 jam pelajaran (2 x 45 menit). Pada kondisi awal/prasiklus pembelajaran dilaksanakan dengan menggunaan metode ceramah. Materi bahasan pada pra siklus ini adalah Menampilkan sikap positif terhadap Pancasila sebagai ideologi terbuka. Hasil penelitian yang diperoleh dari observasi dan uji kompetensi sebelum tindakan dilaksanakan diperoleh nilai sebagai berikut :

Tabel 1. Nilai Ujian Kompetensi sebelum Tindakan (Kondisi awal)

No Nilai Jumlah Peserta didik Persentase Nilai KKM

Mata Pelajaran PKn SMA Negeri 1 Gubug Kabupaten Grobogan

1 Kurang dari 78 15 53,57% 78
2 78 – 100 13 46,43%
Jumlah 28 100%

 

Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa peserta didik kelas XII IPS-2 semester gasal tahun pelajaran 2017/2018 SMA Negeri 1 Gubug Kabupaten Grobogan pada saat mengikuti uji kompetensi sebelum tindakan dilaksanakan, yang sudah mencapai ketuntasan hanya sebanyak 13 peserta didik (46,43%). Sedang peserta didik yang belum mencapai batas ketuntasan sebanyak 26 peserta didik (53,57%).

Deskripsi Hasil Siklus 1

Nilai hasil uji kompetensi pertama pada siklus I semester gasal tahun pelajaran 2017/2018 diperoleh nilai sebagai berikut :

Tabel 2. Nilai Uji Kompetensi Pertama pada siklus Pertama

No Nilai Jumlah Peserta didik Persentase Nilai KKM

Mata Pelajaran PKn SMA Negeri 1 Gubug Kabupaten Grobogan

1 Kurang dari 78 6 21,43% 78
2 78 – 100 22 78,57%
Jumlah 28 100%

 

Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa peserta didik kelas XII IPS-2 semester gasal tahun pelajaran 2017/2018 SMA Negeri 1 Gubug Kabupaten Grobogan, yang sudah mencapai batas ketuntasan (KKM mata pelajaran PKn = 78) sebanyak 22 peserta didik (78,57%), sedangkan peserta didik yang belum mencapai nilai ketuntasan sebanyak 6 peserta didik (21,43%).

Berdasarkan data nilai hasil uji kompetensi 1 pada siklus I di atas, sebanyak 22 peserta didik (78,57%) sudah tuntas, adapun yang belum tuntas 6 peserta didik (21,43%). Apabila dibandingkan dengan sebelum menggunakan model DAKAR, hanya sebanyak 13 peserta didik (46,43%) yang sudah tuntas, sedangkan yang belum mencapai batas ketuntasan sebanyak 6 peserta didik (21,43). Artinya, terdapat kenaikan jumlah peserta didik yang menmgalami ketuntasan maupun jumlah persentasenya, yaitu 7 orang (25%) tuntas.

Berdasarkan data nilai hasil uji kompetensi I (refleksi) pada siklus I diatas, peserta didik memperoleh nilai = 78 adalah 78,57%. Adapun target ketuntasan belajar klasikal yang memperoleh nilai = 78 adalah = 85%, artinya target ketuntasan belum tercapai dan dari hasil beberapa kelemahan pada siklus I, diantaranya : masih terdapat beberapa peserta didik yang belum menggunakan waktu secara efisien karena merasa sangat asyik dengan adu argumentasi dalam diskusi bahkan diskusi yang terjadi tidak fokus dalam konteks permasalahan, bekal pemahaman dasar peserta didik tentang materi dan cara melaporkan melalui presentasi masih perlu ditingkatkan, masih terdapat beberapa kelemahan dalam penyampaian laporan, seperti tidak runtutnya pelaporan, pelaporan yang terjadi masih banyak jendanya, peserta didik masih belum focus terhadap apa yang dilaporkannya, peserta didik masih belum percaya diri karena sebagai pusat perhatian di kelas ketika ia menjadi presenter. Berdasarkan beberapa kenyataan tersebut, perlu dilanjutkan dengan pelaksanaan kegiatan siklus II.

Deskripsi Hasil Siklus II

Nilai hasil uji kompetensi kedua pada siklus II semester gasal tahun pelajaran 2017/2018 diperoleh nilai sebagai berikut :

 

Tabel 3. Nilai Uji Kompetensi Pertama pada siklus Kedua

No Nilai Jumlah Peserta didik Persentase Nilai KKM

Mata Pelajaran PKn SMA Negeri 1 Gubug Kabupaten Grobogan

1 Kurang dari 78 2 7,14% 78
2 78 – 100 26 92,86
Jumlah 28 100%

Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa peserta didik kelas XII IPS-2 Semester gasal tahun pelajaran 2017/2018, SMA Negeri 1 Gubug Kabupaten Grobogan, yang sudah mencapai batas ketuntasan (KKM Mata pelajaran PKn = 78) sebanyak 26 peserta didik (92,86%), sedangkan peserta didik yang belum mencapai nilai ketuntasan sebanyak 2 peserta didik (7,14%).

Berdasarkan data nilai hasil uji kompetensi II pada siklus II di atas, sebanyak 26 peserta didik (92,86%) sudah tuntas, adapun yang belum tuntas 2 peserta didik (7,14%). Apabila dibandingkan dengan siklus I peserta didik yang sudah tuntas sebanyak 22 peserta didik (78,58%) sedangkan yang belum mencapai batas ketuntasan sebanyak 6 peserta didik (21,42%). Artinya, terdapat kenaikan jumlah peserta didik yang mengalami ketuntasan maupun jumlah persentasnya, yaitu 4 orang (14,29%) tuntas.

Analisis Hasil Pembelajaran

Setelah dilakukan penelitian sebanyak 2 (dua) siklus dengan menggunakan waktu kurang lebih 3 bulan, diperoleh nilai hasil belajar peserta didik sejak kondisi awal/pra siklus (sebelum tindakan dilaksanakan) hingga kondisi akhir dari siklus kedua.

Dari hasil analisis nilai uji kompetensi yang dilakukan oleh rekan sesama guru mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan , diperoleh data seperti tabel dan diagram berikut :

 

Tabel 4. Persentase Ketuntasan Belajar Uji Kompetensi Siklus I dan Siklus II

No Kelas Persentase Ketuntasan Belajar Rata-rata
Kondisi Awal (Sebelum tindakan dilaksanakan Siklus I Siklus II Siklus I dan II
1 XII IPS-2 46,71% 78,57% 92,86% 72,71%

 

Gambar 1.

Diagram Hasil Uji Kompetensi Kondisi Awal, Siklus I, Siklus II, dan Rata-rata Siklus

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan perhitungan dari data diatas, dapat diperoleh hasil belajar mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan peserta didik kelas XII IPS-2 SMA Negeri 1 Gubug Kabupaten Grobogan, pada semester gasal tahun pelajaran 2017/2018, secara bertahap mengalami peningkatan. Hal ini terbukti dari kondisi awal/pra siklus pada waktu proses pembelajaran masih menggunakan pembelajaran konvensional seperti ceramah, tanya jawab dan diskusi. Diperoleh nilai uji kompetensi dengan persentase peserta didik yang mencapai nilai ketuntasan hanya 46,43%, tetapi setelah menggunakan model DAKAR, perolehan nilai peserta didik semakin meningkat, yaitu 78,57% peserta didik yang sudah mencapai nilai ketuntasan pada siklus I menjadi ketuntasan pada siklus II. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan hasil pembelajaran pendidikan kewarganegaraan sebesar 46,43% dari kondisi awal 46,43% menjadi 92,86% pada akhir siklus II.

 

PENUTUP

Kesimpulan

Dari hasil pelaksanaan penelitian yang dilakukan pada peserta didik kelas XII IPS-2 Semester gasal tahun pelajaran 2017/2018 SMA Negeri 1 Gubug Kabupaten Grobogan, hasilnya dapat disimpulkan bahwa : terbukti, terjadi peningkatan hasil pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dan karakter bangsa melalui penggunaan model DAKAR. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji kompetensi sebelum menggunakan model DAKAR pada pembelajaran pendidikan kewarganegaraan, peserta didik yang mengalami ketuntasan belajar hanya 46,43% (13 peserta didik tuntas)., sedangkan setelah menggunakan model DAKAR hasilnya semakin menigkat. Berdasarkan hasil uji kompetensi 1 pada siklus I peserta didik yang sudah mengalami ketuntasan mencapai 78,57% (22 peserta didik tuntas) dan hasil uji kompetensi II pada siklus II, peserta didik yang sudah mengalami ketuntasan mencapai 92,86% (26 peserta didik tuntas).

Berdasarkan data-data tersebut, hipotesis tindakan yang telah dirumuskan terbukti, hasil pengamatan yang dilakukan bahwa peningkatan hasil belajar peserta didik tidak hanya terjadi pada aspek kognitif, melainkan juga aspek efektif dan psikomotorik serta karakter bangsa dapat meningkatkan proses pembelajaran karena perhatian peserta didik dapat terfokus pada pembelajaran. Penggunaan model DAKAR dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan sangat tepat untuk proses penyampaian materi-materi yang asbtrak sehingga dapat menjadi lebih konkrit, memudahkan guru di dalam menyampaikan materi yang secara verbal atau dengan metode pembelajaran yang konvensional sangat sulit dipahami oleh peserta didik, dapat membuat suasana pembalajaran menjadi adaptif, kooperatif, aktif, reflektif, kreatif, menatik, mendidik, mencerdaskan, mangasyikkan dan menyenangkan. Sehingga minat, motivasi dan hasil be;lajar peserta didik meningkat dan memudahkan peserta didik dalam mempelajari serta menguasai materi-materi yang bersifat abstrak menjadi lebih konkrit, sejalan dengan peningkatan hasil belajar yang dicapai peserta didik tersebut, penanaman dan peningkatan nilai budaya dan karakter bangsa seperti : religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab, juga terjadi seiring dengan pemahaman materi pembelajaran.

 

Saran

Dari uraian dan hasil penelitian diatas, ada beberapa saran yang dapat diberikan. Guru perlu mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan baik agar pelaksanaan pembelajaran dapat terlaksana secara efektif dan efisien. Agar dalam menyajikan materi-materi atau konsep-konsep mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan yang abstrak dan verbal sebaiknya menggunakan model yang variatif dan inovatif salah satunya adalah dengan menggunakan model DAKAR.

Agar kemampuan guru dalam merencanakan, membuat dan mengaplikasikan model DAKAR dapat lebih baik, dibutuhkan adanya pelatihan dan simulasi tentang model pembelajaran yang variatif, dan inovatif, karena sangat membantu guru dalam pembelajaran, terutama untuk materi yang abstrak dan verbal. Sehingga model DAKAR dapat digunakan sebagai model alternative dalam pembelajaran pada semua mata pelajaran.

Perlunya komitmen bersama antara semua pihak yang terkait dengan implementasi model DAKAR dalam layanan pembelajaran khususnya guru pendidikan kewarganegaraan maupun guru mata pelajaran lain yang dapat menggunakan model DAKAR. Karena model DAKAR merupakan model pembelajaran yang fleksibel dan dapat diterima sebagai model pembelajaran yang inovatif.

Sebagai penghargaan atas hasil kerja keras para peserta didik sampai pada tingkat akhir penyajian dari pembelajaran dalam bentuk presentasi, seyogyanya guru memberikan reward kepada peserta didik/kelompok dalam bentuk yang ditentukan dan sesuai dengan lingkup pendidikan, disini penulis memberikan buku atau alat tulis yang mendukung pembelajaran bagi peserta didik.

 

DAFTAR PUSTAKA

Amin Moh. 2011. Panduan Praktis Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta : CV. Solusi Distribusi Buku.

Amstrong, T. 2000. Multiple Intelligence in The Classroom. Alexandria, Virginia US: ASCD.

Anderson, Lorin, W., Time and School Learning : Time and The Provision of Adaptive Instruction, http://books. google.com/ books?hl=en&ir=id= mpc9 AAAAIAAJ&oi=fnd&pg=PA167&dg-Time+use+and+the+provision+of+ adaptive+instruction+by+wang.M.C&ots=je0rfclxWZ&sing=O2wVRsTBF0h2jeUgkXrIHDuagRs#vonepage&q&f=false, diakses 12 Oktober 2010.

Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.

Bambang, Sudarsono. 2010. Implementasi Strategi Pembelajaran Aktif pada Materi Sistem Bahan Bakar Bensin di SMK Muhammadiyah I Salam 2009/2010. Thesis : tidak diterbitkan. Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Yogyakarta.

Bagus, Lorens. 1996. Kamus Filsafat. Jakarta : Grmedia.

Bawn, Susan. 2007. The Effects of Cooperative Learning on Learning and Engngangemen. Theses. The Evergreen State College.

Bonwell. C.C. 1995. Active Excitement In the Classroom. Center for Teaching and Learning, St. Louis College of Pharmacy.

Bailey, J.R.P. Saparito, K. Kressel, E. Cristensen, and R. Hooijberg, “A model for reflective pedagogy”. Journal of management Education Vol 21, No 2, 1997 : 155-67.

Boud, David Boud; Keogh Rosemary Keogh dan Walker, David. 1989. Reflection: Turning Experience into Learning. London: Kogan Page.

Bruffee, Kenneth A. 1995. Collaborative Learning: Higher Education and the Authority of Knowledge, Baltimore: Johns Hopkins U P.

Burden, Paul R., Byrd, David M. 1999. Methods for effective Teaching. Boston : Allyn and Bacon.

Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Keempat). Jakarta : Depdiknas.

Dewey, J. 1933. How we think : A restatement of the relation of reflective thinking to the education process. Bostom : D.C. Health.

Fakih, Mansour; Tomatipasang, Roem dan Rahardjo, Toto. 2001. Pendidikan Popular: Membangun Kesadaran Kritis. Yogyakarta : Insist Press.

Freire, Paolo. 1985. PEndidikan Kaum Tertindas. Jakarta : LP3ES.

Gardner, H. 2003. Kecerdasan Majemuk. Alih bahasa : Arvin Saputra. Batam : Interaksara.

Hariyadi, Sugeng. 1993. Perkembangan Peserta Didik. Semarang : IKIP Semarang Press.

Hay, A., J.W. Peltier. And W.A. Drago. “Reflective learning and on-line management education : A comparison of traditional and on-line MBA students”. Strategic Change col 13, No. 4, 2004 : 169-82.

Ian, McGill & Brockbank, Anne. 2007 Facilitating Reflective Learning in Higher Education, USA, New York : Open University Press.

Jervis, P. “Reflective Practice and nursing” Nurse Education Today 12, 1992 : 174-181.

Johynson, David W., Johnson, Roger T., Edithe Johnson. 2010. Colaborative Learning : Strategi Pembelajaran untuk sukses Bersama (Terjemahan dari The New Circles of Learning : Cooperation in Classroom and School, 2004) Bandung : Nusa Media.

Jones, Karrie A. & jones, Jennifer L. “marking Cooperative Learning Work in the College Classroom : An Application of the ‘Five Pillars’ of Cooperative Learning to Post-Secondary Instruction” The Journal of Effective Teaching, vol. 8, No. 2, 2008, p. 61-78.

Keber, D., A. Jones, A. Loke, J. McKay, and E. Wong, M. Wong, and E. Yeung. 1999. Determining the level of reflective thingking from students’ written journals using a coding scheme based on thework ofMezirow. International Journal of Lifelong Education 18 (1) : 18:30.

Kember, D., D. Y. P. Leung, A. Jones, A. Y. Loke, J. McKay, K. Sinclair, H. Tse, et al. 2000. Development of a questionnaire to measure the level of reflection thingking. Assessment and Evaluation in Higher Education, 25 (4) : 382-95.

Kristiadi. 2007. Pengaruh Penggunaan Strategi Pembelajaran Problem Solving Terhadap Prestasi Belajar Peserta didik Pada Mata Pelajaran IPS Ditinjau dari Minta Belajar Peserta didik (Studi Eksperimen Pada SMP Sub Rayon Wuryantoro). Tesis. Rayon diterbitkan. Surakarta : Program Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret.

Lisa Keys Mathews, Strategies and Ideas For Active Learning, (USA : Departement of Geogra[hy Universitas of North Alabama, Last revision 6/27/99), (http://www.una.edu/geography/Active/strategi.htm). Diakses 25 Februari 2010.

Mathews, lisa Key6s, Strategies and Ideas For Active Learning, (USA: Departement).

Mezirow. 1981. Acritical theory of adult learning and education. Adult education 32:3-24.

Morgan, Bobbette M. “Cooperative Learning in Higher Education : Comparison of Hispanic and Non-hispanic Graduate student Reflections on Group Examps for Group Grades”, journal of College Teaching and learning Vol 2, August 2005.

Mukherjee, A. 2004. Promoting higher order thingking in MIS/CSI student using class exercises. Journal of information Systems Education 15 (2) : 171-79.

Narzet, Yuliani, 2002. Jurnal Pendidikan & Pembelajaran : Perbedaan Individual dalam Proses PEmbelajaran di Sekolah Dasar.

Nuntrakune, Tippawan. 2008. Cooperative learning in Development to Enhance Primary Education. Dissertation. Center for Learning Innovation, Faculty of Education wueensland Universitty of Technology.

Others & Wang, Margaret, C. 1984 The Adaptive Learning Environments Model: Design, Impolementation, Effects, Pittsburgh Univ., Pa. Learning Research and Development Center: National Inst. Of Education, Washingtion, Dc.

Reynolds, Michael. “Reflection and Management Learning”, Managemeny Learning, Vol 29, No. 2, 1998:183-200.

Rohani, Ahmad, 1992. Interaksi Belajar dan Mangajer. Badnung : Pustaka Pelajar.

Schon, D. A. 1983. The Reflective Practitioner. London : Temple Smith.

Setiadi, Riana. 2009. Efektivitas Metode Kerja Proyek untuk Hasil BElajar Pokok Bahasan Statistika pada Peserta didik SMO di Surakarta yang dikelompokkan Berdasarkan Majemuk. Tesis. Surakarta : Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret.

Shearer, C.B. 2004. Multiple Intelligances After 20 Yeart. Teachers College Record, 106 (1), 2-16.

Silberman, Mei. 1996. Active Learning : 101 Strategi to Teach Any Subject, Massachusettes : Allyn & Bacon.

Slavin, Robert E. “Synthesis of Research on Cooperative Learning”, Research Information Sevice, May, 1981.

Salvin, Robert E. 1995. Cooperative Learning : theory, research and practice. Boston : Allyn & Bacon.

Sudjana, Nana. 1998. Dasar-dasar Proses Belajar Mangajar. Bandung : Sinar Baru Algensindo.

Sugono. Dendy. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Sulistyawati Endah. 2007. Implementasi KTSP di Sekolah. Jakarta, Balitbang Depdiknas.

Sulasmono, Bandung S. 2011. Pengembangan Model PAKAR. Salatiga : Universitas Kristen Satya Wacana.

Sumiati. 2008. Metode Pembelajaran. Bambang CV. Wacana Prima.

Surjono, dkk. 2008. Pengembangan Metode E-learning Adaptif Terhadap Kerangaman Gaya Belajar Mahapeserta didik untuk Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran. Jogyakarta : Universitas Negeri Jogyakarta.

Undang-undang Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Tentang penulis:
Muzamil SPd, guru SMA Negeri 1 Gubug Kab. Grobogan Kontak person:085641755451. Email: mail:muzamilguru1999@gmail.com

Iklan

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Atas (SMA). Tags: , .

Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi Peranan Al Izzah Dalam Membentuk Karakter Anak Bangsa


ISSN 2085-059X

  • 879,876

Komentar Terbaru

Roos Asih di Surat Pembaca
rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: