Membedah Arogansi Paradoks Antara Teori dan Praktek

2 November, 2017 at 6:43 am

Membedah Arogansi Paradoks Anatara Teori dan Praktek

Oleh Fr. Yudel Fon Neno
Pendidikan SMK Katolik ST. Pius X INSANA, Kefamenanu, NTT Timor Indonesia

A. Pendahuluan
Mencari hingga menyimpulkan apa yang paling mendasar atau apa yang paling benar merupakan tujuan dasar dari setiap ilmu. Ilmu mengandaikan teori dan praktek. Teori dan praktek ibarat jiwa dan badan. Teori tanpa praktek ibarat jiwa tanpa badan. Praktek tanpa teori ibarat badan jiwa. Teori membutuhkan praktek demi nilai praktisnya. Praktek membutuhkan teori demi landasan ilmiahnya. Kurangnya sikap bijak menyikapi keduanya ini, akan menempatkan tiap orang dalam tiap bidang pada sikap arogansi yang berlebihan. Si Ilmuwan teoretis akan mengklaim dirinya sebagai yang paling benar sementara si praktisi akan menyoroti si Ilmuwan hanya sebatas pada diskursus teori dan bersifat melayang-layang.
Lantas, bagaimana kita menyikapi situasi seperti ini?

B. Arogansi
Arogan berarti pertama-pertama, menonjolkan kelebihan. Kelebihan ini mengantar menuju sikap meremehkan yang lain. Sikap meremehkan ini biasanya tanpa alasan yang rational dan tertutup terhadap kemungkinan untuk dikritik.

C. Teoretis
Secara teoretis, ide adalah sumber kebenaran.

D. Praktek
Secara praktis, praktek adalah obyek utama ilmu. Ilmu mati tanpa praktek.
Dua bidang ini benar-benar paradoks.

E.Berpaling Pada Jalan Tengah
Jalan tengah adalah jalan pertimbangan. Pertimbangan adalah media untuk menghubungkan. Bukan teori atau praktek melainkan teori dan praktek.

F. Kerangka Analog
Analog berarti antara dua kata yang berbeda ada perbedaan pula dalam artinya dan ada kesamaan pula dalam artinya. Teori dan praktek itu analog. Dua kata itu berbeda, berbeda pula artinya tetapi memiliki kesamaan yakni dua-duanya sebagai kekuatan utuh untuk membedah dan menyikapi makro dan mikro kosmologi.
Dengan demikian arogansi tiap keduanya secara otomatis gugur karena karena kekuatan dalam yang terkandung dalam keduanya pada prinsipnya bersifat dialogal.

G. Keduanya Paradoks Untuk Diterima
Kedua bidang itu paradoks bukan kontradiksi. Paradoks berarti antara dua kebenaran saling dilawankan dan analogi sebagai media untuk menjembatani. Kontradiksi berarti antara dua bidang, yang satunya benar secara otomatis lainnya salah. Teori dan praktek mesti ditempatkan dalam kerangka paradoks bukan kontradiksi.

H. Penutup
Mari kita berilmu dan mari kita berpraktek. Ilmu dengan kandungan dalamnya tidak untuk menyudutkan praktek tetapi justeru memberi landasan ilmiah pada praktek. Praktek dengan kandungan dalamnya tidak untuk meremehkan teori karena praktek adalah bentuk bahasa yang hidup dan meraja dalam dunia nyata.

Iklan

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tags: , .

Penerapan kolaborasi Model Pembelajaran Peta Konsep Pada Siswa SMK Negeri 1 Slawi Pembelajaran Geografi dari media tunggal menuju multimedia


ISSN 2085-059X

  • 914.232

Komentar Terbaru

Roos Asih pada Surat Pembaca
rumanti pada Surat Pembaca
ira pada Surat Pembaca
Alfian HSB pada Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati pada Surat Pembaca
Ida pada Surat Pembaca
Waluyo pada Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: