Penerapan kolaborasi Model Pembelajaran Peta Konsep Pada Siswa SMK Negeri 1 Slawi

7 Oktober, 2017 at 7:18 am

Oleh : Dwi Handoko S.Si
Guru SMK Negeri 1 Slawi Kabupaten Tegal , Jateng

 

PENDAHULUAN

Ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat dan segala informasi menjadi berlipat ganda setiap detiknya. Hal ini erat kaitannya dengant eknologi yang memberikan peluang berkembangnya sains. Berbagai macam penemuan dalam bidang teknologi banyak bermunculan selaras dengan perkembangan sains. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia merupakan syarat mutlak yang harus dilakukan untuk menyesuaikan dengan perkembangan sains. Solusi untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah melalui pendidikan.

Penggunaan model pembelajaran yang bervariasi dirasa mampu untuk meningkatkan semangat peserta didik dalam mengikuti proses belajar mengajar, karena dengan pembelajaran secara kooperatif semaksimal mungkin partisipasi siswa dalam memperoleh pengetahuan sangat diperlukan.

Metoda pengajaran yang akan diterapkan harus memperhatikan sasaran atau subyek pelaku tindakan. Subyek penelitian ini adalah siswa SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) dimana mereka termasuk dalam kategori remaja. Menurut Arikunto (2008:38) siswa pada kategori remaja cenderung bersifat mandiri, ingin segala sesuatunya serba bebas, menuntut kreativitas,  ingin dihargai sebagai anak gede yang tidak mau dikungkung tetapi ingin bebas. Oleh karena itu, metoda pembelajaran yang menjadi alternative pilihan dan dapat diterapkan pada siswa SMK adalah pembelajaran kooperatif.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran TKJ di SMK Negeri 1 Slawi, dapat diketahui bahwa kegiatan pembelajaran mata pelajaran TKJ masih menggunakan metode ceramah & demontrasi, pembelajaran masih didominasi oleh guru dan kurang terpusat pada siswa. Siswa hanya diberi tugas dan berdiskusi pada bagian materi tertentu saja. Hal ini menyebabkan siswa kurang merespon selama kegiatan pembelajaran berlangsung karena siswa merasa bosan, jenuh,  mengantuk dan kurang dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran. Siswa menganggap bahwa apa yang disampaikan guru sudah banyak tanpa mereka berinisiatif untuk mencoba memecahkan masalah, mereka hanya bergantung pada penyampaian materi guru yang berlanjutsampaimereka lulus. Hal ini berpengaruh pada hasil belajar siswa yang kurang optimal dalam mencapai ketuntasan belajar.

Oleh karena itu,  dengan penerapan kolaborasi model pembelajaran diharapkan siswa akan merasa lebih dihargai di dalam proses pembelajaran karena guru berusaha memberikan suatu tanggung jawab kepada masing-masing siswa atas tugas atau pertanyaan yang telahdiberikanoleh guru. Kolaborasi model pembelajaran Peta Konsep & Number Head Together merupakan suatu kegiatan berkesinambungan, setelah siswa memahami materi dengan peta konsep yang ada kemudian pengetahuan siswa akan diperkuat dengan diskusi kelompok dimana masing-masing siswa memiliki tanggung jawab menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru sebelum mereka melakukan praktikum. Kegiatan ini merupakan suatu bentuk penguatan bagi siswa dalam memahami materi pelajaran yang telah dipelajari. Dengan penerapan kolaborasi model pembelajaran siswa tidak akan pasif karena pembelajaran yang berorientasi pada siswa, guru merupakan fasilitator bagi siswa dalam proses pemahaman terhadap materi pelajaran yang akan diperoleh siswa, serta kemampuan mereka dalam melakukan praktikum.

Diharapkan dengan penerapan kolaborasi kedua model pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa, oleh karena itu peneliti berkeinginan untuk melakukan penelitian pada proses belajar mengajar yang terjadi di SMK Negeri 1 Slawi. Penelitian ini mengambil judul “Penerapan Kolaborasi Model Pembelajaran Peta Konsep & Numbered Head Together Sebagai Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Merancang Web Database untuk Konten Server di SMK Negeri 1 Slawi”.

METODE

  1. Metode Pembelajaran Peta Konsep
  2. Pengertian Model Pembelajaran Teknik Peta Konsep (Mind Mapping)

Dalam proses belajar siswa mendapatkan materi berupa informasi mengenai teori, gejala, fakta maupun kejadian-kejadian. Informasi yang diperoleh akan diolah siswa. Proses pengolahan informasi melibatkan kerja sistem otak, sehingga informasi yang diproleh dan diolah akan menjadi suatu ingatan.

Berdasarkan tahapan evolusi, otak pada makhluk hidup berbai menjadi tiga bagian yaitu, batang atau otak reptilia (Primitif), sistem limbic atau otak mamalia, dan neokorteks. Masing-masing berkembang dalam waktu yang berbeda dalam sejarah evolusi makhluk hidup. Sebagian besar orang hanya menggunakan otak kirinya sebagai saran berkomunikasi dan perolehan informasi dalam bentuk verbal ataupun tertulis. Bidang pendidikan, bisnis, dan sins cenderung yang digunakan adalah otak belahan kiri. Dalam proses belajar siswa selalu dituntut untuk mempergunakan belahan otak kiri ketika menerima materi pelajaran. Materi pelajaran akan diolah dalam bentuk ingatan. Terkadang siswa tidak dapat mempertahankan ingatan tersebut dalam jangka waktu yang lama. Hal itu disebabkan karena tidak adanya keseimbangan antara kedua belahan otak yang akhirnya dapat menimbulkan terganggunya kesehatan fisik dan mental seseorang.

Untuk menyeimbangkan antara kedua belahan otak maka diperlukan adanya masukan musik dan estetika dalam proses belajar. Masukan musik dan estetika dapat memberikan umpan balik positif sehingga dapat menimbulkan emosi positif yang membuat kerja otak lebih efektif (Bobbi de Porter dan Hernacki, 1999:38).

Mencatat merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan daya ingat. Otak manusia dapat menyimpan segala sesuatu yang dilihat, didengar dan dirasakan. Tujuan pencatatan adalah membantu mengingat informasi yang tersimpan dalam memori tanpa mencatat dan mengulangi informasi, siswa hanya mampu mengingat sebagian kecil materi yang diajarkan.

Umumnya siswa membuat catatan tradisional dalam tulisan linier panjang yang mencakup seluruh isi materi pelajaran, sehingga catatan terlihat sangat monoton dan membosankan. Umumnya catatan monoton akan menghilangkan topik-topik utama yang penting dari materi pelajaran.

Otak tidak dapat langsung mengolah informasi menjadi bentuk rapi dan teratur melainkan harus mencari, memilih, memutuskan dan merangkainya dalam gambar-gambar, simbol-simbol, suara, citra, bunyi dan perasaan sehingga informasi yang keluar satu persatu dihubungkan oleh logika, diatur oleh bahasa dan menghasilkan arti yang dipahami. Teknik mencatat dapat terbagi menjadi dua bagian. Pertama catat, tulis, susun (CTS), yaitu teknik mencatat yang mampu mensinergikan kerja otak kiri dengan otak kanan, sehingga konsentrasi belajar dapat meningkat sepuluh kali lipat. CTS menghubungkan apa yang didengar menjadi poin-poin utama dan menuliskan pemikiran dan kesan dari materi pelajaran yang telah dipelajari (Bobbi de Porte dan Hernacki, 1999: 152).

  1. Model Pembelajaran Coperative Learning tipe Numbered Head Together

Metode pembelajaran model NHT adalah salah satu bagian dari metode pembelajaran struktural. Model NHT dikembangkan oleh Spencer Kagan dan teman-temannya. Meskipun memiliki banyak persamaan dengan metode lainnya, namun metode pembelajaran struktural yang menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Berbagai struktur tersebut dikembangkan oleh Kagan dengan maksud agar menjadi alternatif dari berbagai struktur kelas yang lebih tradisional, yang ditandai dengan pengajuan pertanyaan oleh guru kepada seluruh siswa dalam kelas dan para siswa memberikan jawaban setelah lebih dahulu mengangkat tangan dan ditunjukkan oleh guru. Struktur Kagan menghendaki agar para siswa bekerja sama saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara kooperatif. Ada struktur yang memiliki tujuan umum (goal) untuk meningkatkan penguasaan isi akademik dan ada pula struktur yang tujuannya untuk mengerjakan keterampilan sosial.

Model NHT dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) siswa dibagi dalam beberapa kelompok dan masing-masing siswa dalam setiap kelompoknya mendapatkan nomor urut, (2) guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakan permasalahan, (3) kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawaban ini. (4) guru menyebutkan salah satu nomor dan siswa yang bernomor tersebut melaporkan hasil kerja kelompok, dan (5) jika memungkinkan, guru dapat mengubah komposisi kelompok sehingga siswa yang memiliki nomor sama membentuk kelompok baru.

Dalam metode NHT setiap tim, anggota terdiri dari 3-5 siswa dengan kemampuan yang bervariasi. Ada siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah. Di sini ketergantungan positif juga dikembangkan, sehingga siswa yang berkemampuan rendah terbantu oleh siswa yang berkemampuan tinggi. Selain itu setiap siswa dalam kelompok diberi nomor yang berbeda-beda, misalnya jika dalam satu kelompok terdiri dari 5 siswa maka akan terdapat 5 nomor yang berbeda, sehingga dapat memudahkan guru dalam menilai tingkat kemampuaan siswa. Kemudian guru memberikan soal untuk didikusikan. Adapun tahap pelaksanaan NHT digambarkan seperti berikut:

Tahap I

 

 

 

Tahap II

 

 

 

 

Tahap III

        

 

 

 

                          

Tahap IV

 

 

 

 

 

Gambar 1 Tahapan Pelaksanaan Metode Pembelajaran NHT

Kelebihan metode struktural NHT adalah melibatkan lebih banyak siswa dalam kegiatan pembelajaran. Pada saat pertanyaan diajukan keseluruh kelas, masing-masing anggota kelompok memiliki kesempatan yang sama untuk mewakili kelompok memberikan jawaban melalui pemanggilan nomor anggota secara acak. Wakil kelompok yang menjawab pertanyaan guru, tidak hanya terfokus pada siswa yang lebih mampu atau didasarkan pada kesepakatan kelompok, tetapi semua siswa mempunyai kesempatan untuk mewakili kelompok tanpa dibeda-bedakan. Selain itu kelebihannya adalah dapat mengubah struktur kelas traditional, seperti mengacungkan tangan terlebih dahulu sebelum ditunjuk guru untuk menjawab pertanyaan. Susana seperti ini dapat menimbulkan persaingan antar siswa, bahkan dapat menimbulkan kegaduhan di kelas karena para siswa saling berebut untuk mendapatkan kesempatan menjawab pertanyaan dari guru. Namun dengan menggunakan metode ini suasana kegaduhan akibat memperebutkan kesempatan menjawab pertanyaan dari guru tidak akan dijumpai karena siswa yang menjawab pertanyaan ditunjuk langsung oleh guru berdasarkan pemanggilan nomor secara acak.

Kelemahan dari metode NHT adalah membutuhkan waktu yang cukup lama bagi siswa dan guru sehingga sulit mencapai target kurikulum. Selain itu membutuhkan kemampuan khusus bagi guru dalam melakukan atau menerapkan model belajar kooperatif serta menuntut sifat tertentu dari siswa, misalnya sifat suka bekerja sama. Meskipun demikian, kelemahan tersebut dapat datasi bila guru senantiasa berusaha mempelajari dan menerapkan pembelajaran kooperatif metode NHT secara sungguh-sungguh, serta dimbangi dengan penggunaan fasilitas pembelajaran secara optimal.

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil Tes

Tujuan tes dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan dan ketuntasan materi merancang web database untuk konten server khusus nya kelas XII TKJ 1.

  1. Hasil Tes Pra Siklus

Setelah di lakukan tes awal pada Pra Siklus, kemampuan siswa dalam merancang web database masih rendah.

Hal ini dapat dilihat dari hasil tes awal Pra Siklus seperti terlihat pada tabel 4.1  dan gambar 4.1 di bawah ini.

Rata – Rata kelas (%) 69,03
Jumlah Siswa yang Tuntas (KKM 75) 14
Jumlah Siswa yang belum Tuntas 16
Prosentase Ketuntasan (%) 46,6
Prosentase Ketidak tuntasan (%) 53,4

Tabel 4.1 Hasil Tes Observasi Pra Siklus

Gambar 4.1 Hasil Tes Observasi Pra Siklus

Berdasarkan tabel 4.1 dan gambar 4.1 di atas diketahui bahwa dari 30 siswa di kelas XII TKJ 1 hanya 14 siswa (46,6%) yang mencapai nilai 75 ke atas (tuntas belajar sesuai dengan KKM yang telah ditetapkan). Siswa yang belum tuntas atau mendapatkan nilai di bawah 75 sebanyak 16 siswa (53,4%). Sedangkan secara klasikal belum mencapai tuntas karena hanya ada 14 siswa (46,6%) yang tuntas, padahal batas minimal tuntas belajar klasikal adalah 70 %.

  1. Hasil Tes Siklus I

Setelah di lakukan tes pada Siklus I, kemampuan siswa dalam merancang web database ada peningkatan.

Hal ini dapat dilihat dari hasil tes Siklus I seperti terlihat pada tabel 4.2  dan gambar 4.2 di bawah ini.

Rata – Rata kelas (%) 71,7
Jumlah Siswa yang Tuntas (KKM 75) 18
Jumlah Siswa yang belum Tuntas 12
Prosentase Ketuntasan (%) 60
Prosentase Ketidak tuntasan (%) 40

Tabel 4.2 Hasil Tes Observasi Siklus I

Gambar 4.2 Hasil Tes Observasi Pra Siklus dan Siklus I

Berdasarkan tabel 4.2 dan gambar 4.2 di atas diketahui bahwa dari 30 siswa di kelas XII TKJ 1 ada 18 siswa (60%) yang mencapai nilai 75 ke atas (tuntas belajar sesuai dengan KKM yang telah ditetapkan). Siswa yang belum tuntas atau mendapatkan nilai di bawah 75 sebanyak 12 siswa (40%). Sedangkan secara klasikal belum mencapai tuntas karena hanya ada 18 siswa (60%) yang tuntas, padahal batas minimal tuntas belajar klasikal adalah 70 %.

  1. Hasil Tes Siklus II

Setelah di lakukan tes pada Siklus II, kemampuan siswa dalam merancang web database ada peningkatan.

Hal ini dapat dilihat dari hasil tes Siklus II seperti terlihat pada tabel 4.3  dan gambar 4.3 di bawah ini.

Rata – Rata kelas (%) 73,60
Jumlah Siswa yang Tuntas (KKM 75) 22
Jumlah Siswa yang belum Tuntas 8
Prosentase Ketuntasan (%) 73,33
Prosentase Ketidak tuntasan (%) 26,67

Tabel 4.3 Hasil tes observasi Siklus II

 

Gambar 4.3 Hasil Tes observasi Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II

Berdasarkan tabel 4.3 dan gambar 4.3 di atas diketahui bahwa dari 30 siswa di kelas XII TKJ 1 ada 22 siswa (73,33%) yang mencapai nilai 75 ke atas (tuntas belajar sesuai dengan KKM yang telah ditetapkan). Siswa yang belum tuntas atau mendapatkan nilai di bawah 75 sebanyak 8 siswa (26,67%). Sedangkan secara klasikal sudah mencapai tuntas karena total ada 22 siswa (73,33%) yang tuntas, batas minimal tuntas belajar klasikal adalah 70 %.

  1. Pengujian Persyaratan Analisis

Berhasil atau tidaknya penelitian ini dapat dilihat melalui analisis data baik data yang bersifat kuantitatif maupun data yang bersifat kualitatif, agar penelitian ini lebih valid, peneliti menggunakan triangulasi sumber data, yaitu data dari siswa, peneliti dan satu guru Teknik Komputer dan Jaringan.

Pedoman analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah perbandingan persentase daya serap siswa pada saat pretes pada pra siklus, post tes siklus I dan postes siklus II dan ketuntasan belajar secara klasikal untuk mengetahui kemampuan siswa merancang web database untuk konten server. Adapan pedoman analisis daya serap sebagai berikut :

Tabel 4.4 : Pedoman Analisis Daya Serap

No. Kategori Interval
1.

2.

3.

4.

Amat Baik

Baik

Cukup

Kurang

91 – 100 %

71 – 90 %

61 – 70 %

≤ 60 %

 

  1. Pengujian Hipotesis

Penelitian ini dikatakan berhasil bila daya serap siswa pada akhir siklus II dapat mencapai nilai berkisar 71 – 90 % dengan kategori baik dan ketuntasan belajar secara klasikal mencapai 70 %. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian ini pada akhir siklus II mengalami peningkatan daya serap siswa maupun ketuntasan belajar klasikal. Disamping itu juga terdapat perubahan tingkah laku yang berkaitan dengan sikap, perhatian dan minat, motivasi serta keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Semangat dan ketertarikan siswa dalam merancang web database untuk konten server terlihat lebih besar.

 

 

  1. Pembahasan Hasil Penelitian

                 Batas tuntas belajat individual dalam pembelajaran merancang web database untuk konten server adalah 75 sesuai dengan KKM yang telah di tentukan. Sedangkan ketuntasan belajar secara klasikal tercapai bila dari 30 siswa dapat mencapai 70%.

Hasil tes awal (Pretes) pada Pra siklus menunjukan bahwa sebanyak 16 siswa (53,4%) belum tuntas belajar dan hanya 14 siswa (46,6%) yang telah dinyatakan tuntas belajar. Ternyata pemahaman siswa tentang merancang web database masih rendah. Hal ini terlihat dari hasil Pretes (tes awal) pada Pra siklus. Oleh karena itu, ketuntasan belajar secara klasikal pun belum tercapai.

Setelah guru memberikan pembelajaran merancang web database dengan menggunakan model pembelajaran peta konsep, guru membagi siswa dalam 8 kelompok urut absen sesuai dengan objek yang ditentukan. Siswa melakukan pengamatan terhadap gambar yang di berikan oleh guru kemudian masing-masing kelompok mendeskripsikan gambar tersebut. Hasil penilaian akhir siklus I diperoleh data sebanyak 12 siswa (40%) belum tuntas belajar. Data ini menunjukkan adanya peningkatan sebanyak 4 siswa (13,4%) yang tuntas belajar dibandingkan dengan penilaian pada pretes. Meskipun daya serap siswa pada akhir siklus I mengalami kenaikan sebesar 13,4% dari 46,6% menjadi 60%, ketuntasan belajar klasikal belum tercapai karena baru mencapai 60%. Dari hasil penilaian pada siklus I, peneliti berusaha untuk mencari sebab 12 siswa yang belum tuntas. Ternyata mereka mengalami kebingungann untuk memulai merancang sebuah halaman web database karena terlalu asyik mengamati obyek serta belum pernah mendapatkan gambaran yang jelas bagaimana cara merancang web database secara benar dan structural.

Penilaian akhir siklus II menggunakan kolaborasi Peta Konsep dan NHT (Numbered Head Together) menunjukan hasil bahwa dari 30 siswa hanya 8 siswa (26,67%) yang belum tuntas sehingga peningkatan sebanyak 4 siswa (13,33%) yang tuntas dibandingkan dengan siklus I.

Agar lebih jelas peningkatan kemampuan menulis deskripsi siswa dari perbandingan pretes prasiklus, postes siklus I, postes siklus II dapat dilihat pada table 4.5 berikut :

Tabel 4.5 :  Perbandingan Ketuntasan Belajar Klasikal pada Pretes Prasiklus,

Postes Siklus I, Postes Siklus II,

No Peningkatan Pra Siklus Siklus I Siklus II
1 Ketuntasan Belajar 14 siswa 18 siswa 22 siswa
2 Prosentase Ketuntasan

Belajar

46,6% 60% 73,33%

 

Berdasarkan hasil pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa  Penerapan kolaboarasi pembelajaran menggunakan Peta Konsep dan NHT dapat meningkatkan hasil belajar merancang web database untuk konten server siswa kelas XII TKJ 1 pada SMK Negeri 1 Slawi Kabupaten Tegal. Peningkatan ketuntasan belajar meningkat dari Pretes Prasiklus ke Postes Siklus I ada peningkatan 13,4% sedangkan sedangkan dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 13,33%.

Dengan penerapan metode Peta Konsep dan NHT (Numbered Head Together) ternyata dapat meningkatakan hasil belajar we database untuk konten server.

 

 

SIMPULAN

Berdasarkan  hasil  penelitian,  peneliti  mengambil simpulan  bahwa  melalui  kolaborasi model pembelajaran Peta Konsep & Numbered Head Together maka hasil belajar siswa pada materi Merancang Web Database untuk Konten Server dapat meningkatkan hasil belajar  siswa di kelas XII TKJ SMK N 1 Slawi. Dapat dilihat  dari  hasil  observasi    Hasil  belajar  siswa meningkat  dari  46,6%  pada  pra  siklus  menjadi  60% pada siklus  I  dan  meningkat  lagi  menjadi  73,33%  pada siklus  II.  atau dapat dikatakan  bahwa  peningkatan  Hasil  belajar  siswa minimal  menjadi  70%  telah  tercapai,  dan  secara  umum peningkatan Hasil  belajar  siswa  naik menjadi  26,73%  dari kondisi awal.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikuntro, Suharsini, Donald Ary, danAriefFurchan, PengantarPenelitianDalamPendidikan, Surabaya: Usaha Nasional, 1982

Nana Sudjana. (2005) Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Rosda Karya.

Suharsimi Arikunto dkk (2007) Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Bambang Dharmaputra, “Penyusunan Silabus dalam KTSP SMK,” Jurnal 8

Pendidikan, vol.3, No.4, 1-10 (Jakarta, April 2008).

Abdurrahman dan Bintoro (dalam Nurhadi 2004:61)

(Moleong, 2066:9)

Arikunto, S. 2001. Dasar-dasar evaluasi pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Arikunto, Suharsimi. 2009. PenelitianTindakanKelas. Jakarta :BumiAksara.

 

(Kontak person: 083839343699. Email: dwi.koko212@gmail.com)

Iklan

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tags: , .

Pameran Buku, Arsip dan Jambore Perpustakaan Membedah Arogansi Paradoks Antara Teori dan Praktek


ISSN 2085-059X

  • 914.231

Komentar Terbaru

Roos Asih pada Surat Pembaca
rumanti pada Surat Pembaca
ira pada Surat Pembaca
Alfian HSB pada Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati pada Surat Pembaca
Ida pada Surat Pembaca
Waluyo pada Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: