Kartini Yang Terbelenggu

28 Juni, 2017 at 8:05 am

RosmilarsihOleh Roosmilarsih SIPust
Pengelola Perpustakaan SD Negeri 01 Wringin Agung, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, Jateng.

 

Gema hari Kartini masih tercium semerbak, bagai bunga yang baru mekar dan tertiup angin yang semilir, menghantarkannya dari lembah berbunga. Aroma yang tercium sewangi jasa dan perjuangannya yang telah menghantarkan ke pintu perubahan kemajuan khususnya terhadap kaum wanita. Kartini adalah sosok pemimpin bangsa yang memikirkan bagaimana masyarakat yang menjadi rakyatnya, bagaimana kondisinya, langkah apa yang harus dilakukannya serta mengapa mereka seperti itu. Pemikiran yang akhir-akhir ini sudah menipis dalam diri pemimpin kita, dimana rakyat banyak yang tertatih-tatih sendirian mengikuti alur perjalanan hidup yang penu kelokan tajam. Bahkan sebagian dari para pemimpin saling sibuk sikut-sikutan entah apa yang diributkan. Maka kemudian muncul kerinduan akan sosok-sosok pahlawan yang telah berpulang, karena perjuangan mereka tulus tiada pamrih memerangi kebodohan, penindasan, penjajahan, bukan perang terhadap diri sendiri untuk melakukan penyimpangan dan pembodohan.

Tak terbayangkan waktu itu dengan segala keterbatasan, minimnya sarana apapun dalam segala bidang, media informasi yang ada waktu itu hanya surat kabar atau radio tetapi dalam  kondisi yang demikian sulit bisa terlintas dalam angan R.A Kartini untuk memajukan kaumnya yang kala itu bagai tak mempunyai peran dalam segala bidang kehidupan. Wanita hanya dianggap konco wingking yang perannya tak lebih untuk menjadi teman tidur suami, menyediakan kebutuhan makan minum dan momong anak. Wanita dianggap tak pantas muncul dimuka umum untuk berbagai kepentingan perubahan ke arah yang lebih baik, wanita tak harus diajak berbicara dalam keluarga apalagi suatu forum, bahkan dalam menentukan masa depan anak-anak dan keluarga wanita tak pernah dimintai pendapat atau saran untuk kepentingan apapun. Pokoknya wanita hanya menjadi pelengkap keluarga yang tak pantas dibanggakan.

Lalu apa penyebab dari semua anggapan jelek dan buruk terhadap wanita tersebut, tak lain adalah karena wanita pada waktu itu terlahir hanya untuk menjadi seseorang yang cukup besar/remaja,  (remaja waktu itu tidak seumuran 17 tahun tetapi masih kecil, sekitar 12 tahun bahkan ada yang kurang) Setelah cukup  besar dan pantas untuk dinikahkan tanpa pernah diberi kesempatan untuk belajar ataupun sekolah, dengan kata lain perempuan pada waktu itu selalu dalam kondisi dan situasi bodoh. Jadi tak salah jika kemudian hanya dijadikan teman hidup saja bukan pasangan hidup, karena memang dari wanita tersebut tak ada hal yang bisa diakui kelebihannya dikarenakan situasi yang menyebabkan mereka bodoh. Hati Kartini muda menjerit setiap kali menyaksikan kaumnya dalam pasungan kebodohan, ditambah kemiskinan yang mengungkung kehidupan mereka bagai tragedi berantai selama ratusan tahun membuat masyarakat pasrah walau dalam hati meronta.

Situasi yang demikian menggugah naluri sesama wanita R.A Kartini, alangkah sakitnya, alangkah sedihnya, alangkah nista anggapan mereka terhadap rekan-rekan sesama wanita. Wanita tidak mempunyai porsi apapun dalam segala bidang kehidupan dikarenakan wanita terpasung dalam kebodohan meski itu bukan kehendak mereka tetapi dikarenakan situasi dan kondisi. Kenyataan tersebut terus berputar-putar dalam angan dan pikiran Kartini muda,  apa yang harus dilakukannya agar dapat merubah kondisi tersebut, ia mulai mengamati situasi di lingkungannya, kadang-kadang sebagai teman berbagi cerita ia selalu berkirim surat kepada teman-temannya agar mendapat berbagai pengalaman. Kemudian muncul keinginannya untuk terus bersekolah bahkan sampai ke luar negeri sekalipun agar diperoleh pendidikan untuk merubah kaumnya. Seperti diceritakan dalam buku habis gelap terbitlah terang.

Seiring berjalannya waktu Kartini muda sesekali mengajar teman-teman kecilnya atau mereka yang ada di lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Kartini setiap kali menyampaikan mengenai cita-cita, pendidikan, pengalaman yang maha luas agar suatu hari mereka dapat merubah nasib mereka lepas dari kungkungan belenggu dijajah haknya dalam kehidupan yang berarti akan tercapainya hak azazi manusia untuk diakui sejajar derajatnya baik dalam rumah tangga maupun dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dengan tingkat kemampuan dan keahlian yang dimiliki masing-masing. Memang tak harus sejajar persis dengan kaum pria dalam segala hal tetapi setidaknya mempunyai porsi sesuai dengan kemampuan  dan keahlian yang diperoleh dari pendidikan. Perempuan adalah samudra kasih sayang yang mempunyai kelembutan dan kasih sayang dalam keluarga, tanpa sentuhan wanita dalam keluarga sangat sulit mewujudkan keluarga cerdas yang sesungguhnya.

Kini Kartini-kartini memang sudah sejajar menduduki berbagai posisi penting di segala bidang. Langkah mereka seakan senyum R.A Kartini yang menyaksikan mereka bermekaran sambil melambaikan tangan ramah. Namun tanpa kita sadari sengaja atau tidak sengaja masih banyak disekitar kita para Kartini yang hingga saat ini masih terpasung dalam kungkungan penjara. Para guru honorer, tenaga kontrak, terutama di bidang pendidikan yang telah mendharmabhaktikan ilmunya puluhan tahun namun belum pernah tersentuh berbagai tunjangan apapun, padahal disamping mereka para guru yang sudah PNS menerima berbagai tunjangan yang super heboh. Mereka adalah Kartini masa kini yang masih harus berjuang mencerdaskan anak bangsa, meski situasi tak pernah memahami mereka. Mereka adalah kaum intelek yang seharusnya ada di posisi yang lebih baik dari masyarakat di sekitarnya, agar para orangtua tidak gentar untuk menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi. Jika pemerintah akhir-akhir ini telah banyak memperhatikan masyarakat miskin dengan berbagai tunjangan kesehatan, tunjangan kesejahteraan, tunjangan keluarga harapan tunjangan pendidikan dan lain-lain, mengapa tak terlintas untuk mengangkat derajat mereka agar sedikit lebih sejahtera. Pemerintah lupa sekelompok kaum intelek yang terpinggirkan yang terus berjuang sendirian dengan hati yang pilu menyiapkan masa depan anak-anaknya. Seharusnya anak-anak mereka bisa sekolah tanpa pungutan apapun karena sang orangtua adalah salah satu guru, pegawai, karyawan pendidikan yang benar-benar berjuang tiada tanda jasa apalagi hadiah atas jasanya. Bukan tidak mungkin ketika mereka mengajar dalam keadaan perut kosong dan kantong melompong.

Ibu-ibu yang berjuang membesarkan anak-anaknya,  padahal harus bekerja di luar sana dengan gaji yang tak seberapa untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Mereka juga harus menyiapkan bekal makan sehari sejak pagi buta disaat orang lain masih berpeluk selimut, para pekerja lepas,  wanita yang terpanggang matahari setiap harinya untuk dapat membeli sesuap nasi. Masyarakat miskin yang setiap harinya harus menekuk perut kencang-kencang agar masih ada esok untuk anak-anaknya, para perwakilan perempuan dalam forum apapun yang berani menyuarakan suaranya, para pejabat yang memikirkan rakyat yang dilindunginya.  Mereka adalah para Kartini yang bermekaran bagai harumnya bunga melati, mereka terus berjuang untuk menyediakan sarana prasarana sebagai tangga yang mereka siapkan untuk masa depan keluarga agar tidak terseok-seok. Jiwa Kartini mengalir dalam setiap tetes dan aliran darah serta setiap hembus nafas adalah jiwa hidup sang pahlawan. Kartini adalah putri sejati yang selalu memberi semangat juang disetiap hati yang bersih dan tulus berjuang untuk keluarga dan bangsa.

Semangat Kartini ada di sanubari terdalam, semoga pada momentum bersejarah tanggal 21 April  akan muncul Kartini yang mempunyai kepedulian tinggi kepada masyarakat yang di pimpinya, sehingga memperhatikan benar-benar orang-orang yang telah benar-benar berjuang, bukan orang yang pura-pura berjuang namun menyimpan kepentingan pribadi. Kartini tak ada lagi disamping kita, namun kita tak sedikitpun meninggalkan semangatnya dalam diri. Untuk rekan-rekan honorer, tenaga kontrak, dan apapun segudang sebutan lain untuk mereka yang belum mendapat perhatian dari pemerintah, khususnya di bidang pendidikan yang bertebaran dari Sabang sampai Merauke. Perjuangan mereka menghiasi keindahan negeri, mari jaga semangat Kartini agar penyakit malas tak berani datang, agar segala cobaan terasa ringan kita lewatkan, agar hati kita tak menganggap ini sebagai beban dan Tuhan membuka jalan yang seluas-luasnya untuk kita dapat terus berjuang serta semoga juang tiada yang tak terbalaskan. Amiiin.

Iklan

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Dasar (SD). Tags: , .

Surat Untuk Pak Joko Widodo Guru Adalah Aku Yang Mempesona


ISSN 2085-059X

  • 914.231

Komentar Terbaru

Roos Asih pada Surat Pembaca
rumanti pada Surat Pembaca
ira pada Surat Pembaca
Alfian HSB pada Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati pada Surat Pembaca
Ida pada Surat Pembaca
Waluyo pada Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: