Surat Untuk Pak Joko Widodo

9 Juni, 2017 at 6:56 pm

RosmilarsihOleh Roosmilarsih SIPust
Pengelola Perpustakaan SD Negeri 01 Wringin Agung, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, Jateng.

Setiap tenaga honorer, PTT, GTY, dimanapun berada pasti berharap suatu saat akan tiba saatnya bisa ikut menikmati manisnya sebuah tunjangan dari pemerintah, karena seperti juga PNS, para relawan ini juga telah bekerja sebagaimana mestinya. Bahkan seorang honorer sering memegang peranan yang sangat penting karena memegang beberapa tugas yang harus diterima dengan sabar meskipun dalam hati ingin memprotes, tetapi tanpa daya terpaksa harus besar hati melaksanakan perintah bos atau senior/atasannya agar tetap bisa mempertahankan diri dalam pengabdiannnya.

Ketika membaca sebuah postingan dariĀ  http://www.budilaksono.com/serasa sebuah harap yang hampir terjawab. Bahwa UU ASN yang sedang dibahas oleh tiga menteri, sedang memperjuangkan nasib kami para honorer khususnya tenaga pendidik dan kependidikan. Jika penilaian kinerja yang dijadikan tolak ukur dari bisa atau tidaknya kami diangkat menjadi PNS, pantas kiranya kami berbangga karena kami mempunyai jam kerja yang cukup sesuai jumlah jam yang diinginkan. Jika kualifikasi pendidikan yang menjadi dasar kompetensi kami, maka kami mempunyai kompetensi keahlian sebagaimana tugas dan kerja kami sesuai bidangnya. Ditambah jumlah waktu pengabdian kami yang sudah tak terhitung waktu, bulan dan tahun dan bukan pula satu atau dua tahun tetapi bertahun-tahun, bahkan banyak dari kami yang sudah puluhan tahun.

Jika kita nilai secara logika mana mungkin instansi/lembaga tempat kami bekerja masih mempertahankan kami jika keberadaan kami tidak memiliki andil terhadap segala kegiatan yang berlangsung di dalamnya. Tentunya mereka sudah memperhentikan kami agar mengurangi pengeluaran setiap bulannya, walaupun hanya sekitar 200.000-300.000 yang kami terima. Dari UU ASN nampaknya belum mau berkompromi karena salah satu pasalnya memberi penilaian alot terhadap usia honorer yang notabene berusia diatas 35 tahun, padahal dari sekian ribu honorer bisa dipastikan sudah berusia lebih dari itu, karena sudah mengabdi sejak puluhan tahun silam, bahkan banyak yang mendekati masa pensiun.

Di tangan tiga menteri yang akan bersidang pada tanggal 5 Juni 2017 kami titipkan nasib kami dan generasi calon pegawai negeri lainnya, jangan sampai para pelajar enggan meneruskan belajar menjadi mahasiswa, karena melihat perjuangan kami yang sangat berat untuk dapat memperoleh profesi yang sesuai kompetensi dan keahliannya. Untuk Ibu Sri Mulyani selaku menteri keuangan, Bapak Asman Abnur selaku MenPAN-RB dan Menteri Hukum dan Ham Bapak Yasonna Laoly, kami bergantung banyak akan keberhasilan rapat bersama DPR-RI, semoga mandat yang diberikan Bapak Presiden Jokowi Widodo akan dapat mengentaskan permasalahan kami, setidaknya tidak membiarkan kami menjadi penonton pasif setiap bulan secara umum dan khususnya pada saat jelang lebaran sperti ini kami adalah insan yang merasakan batas kesabaran dan keikhlasan kami sampai di titik yang paling rentang setiap kali menyaksikan para PNS membicarakan gaji ke 13, THR, bahkan ada wacana gaji ke 14, alangkah tipisnya batas keikhlasan dan rasa iri yang kami miliki. Bapak persiden telah berhasil dalam program mengentaskan kartu sehat, kartu pintar, kartu sejahtera dan lain-lain, bukankah seharusnya kami sebagai insan cendekia dan penyebar ilmu mendapat perhatian yang pantasnya.

 

Kami sangat keberatan jika yang menjadi alasan lain dari pengangkatan kami adalah bahwa kami merupakan calon pegawai dengan kompetensi rendah. Kami mempunyai kompetensi sesuai bidangnya karena telah memperoleh tanda bukti belajar berupa ijasah dari universitas yang telah diakui oleh DIRJEN DIKTI sesuai bidangnya. Pengalaman selama puluhan tahun mengabdikan diri adalah salah satu guru dan kebanggaan dalam menghadapi dan menangani berbagai permasalahan dalam pembelajaran dengan berbagai karakteristik anak yang mempunyai 1001 emosi, spikologi, tingkat intelektual, kemauan yang setiap saat membutuhkan kesabaran, keihklasan yang luar biasa. Tak ada manusia yang dapat menahan, menangani, menyelesaikan setiap kelancaran dan kesuksesan serta menangani kendala dalam pembelajaran dan menjadikan suasana nyaman dalam pembelajaran jika bukan manusia terpilih yang telah terdidik, intelektual yang mempunyai kesabaran dan pengabdian yang luar biasa untuk dapat memberikan ilmu yang dimilikinya dengan cuma-cuma selama puluhan tahun, selain mereka para insan cendekia yang pantas mendapat julukan sang tauladan kesabaran.

Mereka adalah para honorer yang tersebar di berbagai pelosok negeri tercinta, hati kami sangat sakit jika ada pihak yang mengklaim kami adalah pegawai dengan kompetensi rendah. Jika seseorang yang baru lulus dari perguruan tinggi bisa dinyatakan lolos dalam CPNS umum, padahal mereka belum memiliki jam terbang dalam mengajar, hanya pada saat praktek mengajar yang tidak lama pada saat kuliah, mengapa kami yang mempunyai jam terbang bertahun tahun bahkan puluhan tahun masih dianggap belum layak kompetensinya. Kata orang pengalaman di dunia nyata dengan segudang permasalahan dan penyelesaiannya adalah guru yang paling berharga karena kita berhadapan langsung dengan ratusan anak-anak yang setiap tahun selalu berganti-ganti anak-anak baru dengan keragaman dalam sifat, karakter dan spikologinya. Tentunya berbagai keunikan dalam karakter mereka tentu membutuhkan penanganan yang berbeda dengan tingkat kesulitan yang tak semudah dalam bicara untuk menyelesaikannya..

Nampaknya selembar surat keterangan lolos ujian umum lebih sakti daripada sepuluh tahun pengalaman tanpa surat tersebut. Ijasah yang diperoleh dari sebuah perguruan tinggi adalah simbol bahwa telah selesai menempuh tahapan belajar, namun pengalaman kami dalam dunia pendidikan selama bertahun-tahun juga sebuah bukti kredibilitas dan loyalitas yang keautentikannya bisa dibuktikan oleh masyarakat luas, anak-anak didik kami, dinas terkait, dihatiĀ  merekalah semua perjuangan kami terukir. Namun nampaknya harapan kami belum mendapatkan lampu hijau, menurut JNN.com, rapat yang sudah dijadwalkan tanggal 5 Juni 2017 tersebut dibatalkan tanpa alasan yang jelas. Pembatalan yang membuat kecewa dan terluka insan penyabar yang sedang melasanakan ibadah puasa di seluruh tanah air, suara kami seakan tercekik menyambut datangnya esok tanpa arah yang pasti dalam pengabdian.

Nampaknya lebaran kali ini akan kembali kami lalui sebagai penonton pasif mendengar dan menyaksikan senior-senior saling membicarakan berbagai tunjangan yang beruntun, dan biasanya akan ditambah dengan cairnya tunjangan sertifikasi. Bagai bunyi tembakan anak-anak yang berpeluru kertas basah, memekakkan telinga namun kami tak ingin menutup telinga kami, karena berharap suatu saat kami juga ingin merasakannya. Setidaknya biarkan kami bisa bangga berkata kepada anak-anak kami, bahwa pekerjaan orangtuanya dapat membuat anak-anaknya bangga karena dari sanalah orangtuanya bisa menyekolahkan dan menyiapkannya menjadi generasi penerus bangsa.

JANGAN MENDIDIK GENERASI KITA UNTUK TIDAK MENCINTAI PROFESI SEBAGAI PEGAWAI PEMERINTAH KARENA DALAM INGATAN MEREKA ORNGTUANYA TIDAK MENDAPATKAN GAJI DARI PROFESINYA SELAMA BERTAHUN-TAHUN.

Iklan

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Dasar (SD). Tags: , .

Penyatuan Langit dalam Ilmu dan Agama Kartini Yang Terbelenggu


ISSN 2085-059X

  • 879,893

Komentar Terbaru

Roos Asih di Surat Pembaca
rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: