Penyatuan Langit dalam Ilmu dan Agama

4 Juni, 2017 at 3:16 pm

Oleh Catur Sugianto SPd
Guru Sejarah Indonesia SMK Negeri 2 Probolinggo, Jatim

 

 

Jleguueerrrr …rrr…. !!!

Mungkin begitu bunyi The Bigbang, sebuah ledakan purba, pada fase yang mengawali adanya seluruh keberadaan ( eksisten ) di alam semesta yang kita tinggali saat ini. Mungkin sekeras itu pula bunyi ditelinga Fred Hoyle cs, saat Big bang dinobatkan selaku teori kosmologi paling mutahir. Seraya mengalahkan teori tandingan dari Hoyle, yaitu The Steady State Theory. Tapi Erno Penzias dan Wilkinson, pemenang Nobel, karena temuannya tentang radiasi latar belakang, membuat Big Bang dari George Gamow, ini sah menjadi satu satunya teori yang bisa menjelaskan, bahwa alam semesta ini haruslah punya awalan.

 

Sayangnya perayaan kemenangan ini tak berlangsung lama …

Disisi ilmuwan ….

Ada cacat dalam teori Big Bang, yang biar udah dijungkir balik oleh para kosmolog, tetep enggak ketemu jawabannya. Intinya adalah, kalau alam semesta ini berbentuk gelembung bola, dengan diamater 13,7 milyar tahun cahaya ( 1 th cahaya = 9,5 triliun km ), sesuai dengan pengamatan teleskop huble. Yang saat ini setidaknya berisi ratusan milyar galaksi bintang. Maka artinya kita dikelilingi oleh bulatan kubah raksasa.

Persis kaya kita masuk ke planetarium, dimana langit langitnya melengkung kaya permukaan bola dari bagian dalam. Lalu jika kita buat segitiga sama-sisi pada permukaan bola, maka pastilah sudut-sudutnya menjadi kincup, akibat dari efek lengkungan tadi. Sangat logiskan ? …

Hasilnya …. ternyata sudutnya sama sekali tak kincup, persis 60 derajat. Artinya permukaan bola tadi tak melengkung, namun rata alias bidang datar !. …. nah lho ?. Kepala yang tak gatal digaruk, bukan solusi yang muncul, malahan rambut yang jebol. Alhasil pak profesor kepalanya semakin botak dah, gara gara the flatness problem ini . Sebab aneh bin ajaib, bagaimana sebuah bentuk kubah, namun langit-langitnya tak melengkung ? …

Disisi agamawan ….

Dalam kitab suci sudah disebutkan tentang adanya lapisan-lapisan langit. Beberapa kalangan mencoba berimprovisasi, bahwa langit itu mungkin lapisan bumi sampai ke atmosfir. Bahkan sempat disampaikan bulan pada langit ke sekian, matahari dilangit yang lebih tinggi lagi, dst. Namun saat ditanya darimana referensinya, ternyata angkat bahu, semua hanya dugaan semata. Karena langsung dimentahkan oleh ayat yang lain, bahwa langit yang terdekat ( ke 1 ) dihiasi oleh bintang-bintang. Artinya seluruh alam semesta materi yang kita tinggali ini, termasuk bumi, bulan, matahari, bintang, galaksi dsb., masih berada di langit pertama. Lalu dimana langit kedua, ketiga, dst. ?

Dari sisi ini, teori Big Bang juga tak mampu memberikan jawaban tuntas bagi kalangan agamawan.

 

Sampai suatu ketidak sengajaan terjadi.

Seorang matematikawan, Allan Guth melongok ke sebuah ruangan seminar, dimana pakar kosmologi Robert Dicke tengah berceramah tentang teori Big Bang, dengan kelemahan yang tak mampu dijawabnya. Selain the flatness diatas, juga masalah penyebaran galaksi yang ternyata merata secara homogen. Karena jika sebuah ledakan ( Bang ) seharusnya sebarannya random-heterogen. Hal ketiga, yaitu ketiadaan magnetik-monopolar, alias satu kutub di alam semesta ini. Semua magnet bersifat bipolar, ada kutub utara dan selatannya.

 

Guth, tadinya hanya ingin memecahkan masalah terakhir, yaitu magnetik monopolar. Gagasannya memang “wah”. Bahwa Big Bang harus ada proses yang mengawalinya dahulu, enggak mungkin ujug ujug. Bahwa alam semesta awal yang super panas , sekitar 10^27 C, harus didinginkan dahulu, dengan cara di ”tarik” keluar. Dalam tempo yang super cepat ( 10^-30 detik ) di bentangkan sebesar 10^50 kalinya. Dikenal dengan perioda super-cooling. Setelah itu dikembalikan lagi atau proses re-heating.

Biar gampang, bayangin saja ada karet gelang yang panas. Supaya dingin, maka sang karet ditarik sepanjang mungkin, sehingga melar dan dingin. Lalu tarikan karet dilepaskan, sehingga kembali mungkret, sambil bunyi “pret” karena adanya pembalikan energi. Nah , yang ini karena ukurannya gede jadi super-pret, alias The Big Bang yang sudah di tulis diawal. Energi yang kasar , atau lebih besar dari konstanta Planck, kembali ke tengah, seraya membentuk alam semesta materi yang kita tinggali ini.

Sisa energi yang lebih halus, atau lebih kecil dari Planck Constant ( PC ), akan masuk pelan-pelan belakangan. Namun satu hal, dalam hal ini terjadi pemisahan. Yang tadinya satu buah, lalu ditarik, dan saat dikembalikan, menjadi dua dimensi. Yang satu berupa dimensi materi ( > PC ), berada ditengah, layaknya gelembung air yang berada di “lautan” dimensi non materi ( < PC ). Atau juga kaya gelembung udara, dalam air mendidih dipanci, seperti penuturan ala De Sitter hyper-space). Teori ini dikenal sebagai teori inflasi, alias the inflationary theory.

 

Okay, di copy …

Langit materi dan non materi tergambar kini. Bagi para ilmuwan, persoalan teori Big Bang sebagian terjawab sudah. Demikian pula bagi kalangan agamawan, dengan adanya ayat yang menyebutkan, bahwa dulu bumi dan langit asalnya satu, kemudian dipisahkan diantara keduanya. Bumi adalah alam semesta materi (fil ardh), selaku langit yang terdekat ( lapis ke 1 ).Langit-langit yang lebih “tinggi”, adalah alam semesta non-materi yang melingkupinya . Pendekatan dari Allan Guth, bisa menjawab pertanyaan tentang kedua keberadaannya tadi.

 

Tapi kan …

Tetep saja alam semesta seperti sebuah “gelembung”. Alias kaya kubah planetarium, sehingga sudut segitiga samasisi, seharusnya kincup dan lebih kecil dari 60 derajat ….. Deeuuuh !!!.

Untung Allan Guth dapat bantuan dari para sohibnya, Paul Steindhart dari Amrik, Andreas Albrecht dari England, dan AJ Linde yang peranakan Rusia. Bahwa apa yang dipaparkan olah Guth sangat masuk akal, kecuali pendekatan gelembung, harus diganti dengan DOMAIN …!. Sehingga memunculkan teori inflasi baru, The New Inflationary Theory yang sah menjadi pandangan kosmologi terbaru paska Big Bang.

 

Jika gelembung, selain masalah sudut diatas, ada masalah krusial lainnya. Energi ikatan permukaan akan terkumpul dikulit gelembung . Sehingga proses pembalikan energi dari alam non materi ( langit ke 2 dst ), pasti akan terhambat alirannya karena sulit ditembus. Jikapun bisa ditembus maka pembesaran / pemuaian gelembung akan terjadi dibagian terluar saja. Yang didalam akan tetap atau stagnan. Padahal menurut teory Big Bang, pemuaian itu terjadi disemua titik di alam semesta, baik dibagian luar maupun ditengah. Daya muainya sesuai dengan konstanta Hubble, yaitu 72 km/ detik untuk setiap 1 megaparsecs. ( parsecs = 3,2 tahun cahaya ).

 

Perbedaan antara domain dan gelembung adalah dalam hal batas. Gelembung punya batas yang jelas, sementara domain tak mengenal batas. Akibatnya jarak menjadi variable tak signifikan. Seperti contoh, berapa jarak dari jakarta ke Bandung ?, 160 km, karena cara pandang berupa gelembung (buble).

Tapi berapa jarak dari Bandung ke tanah pasundan ? …. tak berjarak karena pendekatannya domain. Bahwa bandung adalah sub-domain dari domain pasundan. Tak ada jarak antara domain pasundan dengan super-domain indonesia, yang sekaligus menjadi sub-domain dari hyper-domain masyarakat dunia , dst.

Langit ke 1 adalah sub-domain dari langit ke 2, yang juga sub-domain dari langit ke 3,4,5 …dst

Benar apa yang dikatakan Pasteur, bahwa ilmu berkembang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dialektik yang semakin tajam …

 

Dengan pendekatan domain, maka tak ada permukaan gelembung yang melengkung itu, jadi wajar saat sudut segitiga sama sisi yang dibuat di alam semesta ini persis 60 derajat.

Dengan pendekatan domain pula, maka JARAK menjadi tak ada.

 

Tak ada jarak antara saya dengan masyarakat Probolinggo Jawa Timur, dengan masyarakat Indonesia , dengan alam semesta ini ….

dan tentu saja dengan DIA ….

Yang berucap, bahwa ….

AKU bahkan lebih dekat dari urat lehermu sendiri ….

Tak berjarak !

Wallahualambishawab.

Iklan

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tags: , .

Membentuk Keberagaman Melalui Apresiasi Seni Surat Untuk Pak Joko Widodo


ISSN 2085-059X

  • 879,867

Komentar Terbaru

Roos Asih di Surat Pembaca
rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: