Membentuk Keberagaman Melalui Apresiasi Seni

4 Juni, 2017 at 3:12 pm

RosmilarsihOleh Roosmilarsih SIPust
Pengelola Perpustakaan SD Negeri 01 Wringin Agung, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, Jateng.

 

Sekolah dasar sebagai sekolah yang meletakan pendidikan cinta budaya, cinta tanah air, dan bangga sebagai warga negara dengan usia peserta didik 6-7 tahun untuk dapat tercatat sebagai peserta didik baru. Mengemban tugas yang sangat berat dimana harus menggunakan pendekatan yang semudah dan sedetail mungkin menyentuh bahasa dan kejiwaan anak, mengingat mereka dalam usia yang paling dini untuk mengenal segala sesuatunya. Mungkin dari sekolah sebelumnya yaitu pendidikan anak usia dini, anak pernah mempunyai pengalaman terhadap baju adat, atau keberagaman lain yang dimiliki bangsa Indonesia, tetapi hanya dalam taraf memperkenalkan, belum pada taraf memberikan identitas terhadap salah satu budaya yang dimiliki daerah tertentu.

Demikian juga untuk mengenalkan berbagai kebudayaan, adat istiadat, suku, dan berbagai kemajemukan lainnya yang dimiliki bangsa Indonesia harus melalui pendekatan semudah mungkin sehingga anak dapat memperoleh pemahaman yang mudah di ingat, namun meninggalkan kesan dan pengalamn yang mendalam sehingga tidak akan pernah terhapus dari memori ingatan mereka, karena semakin lama seseorang anak belajar tentu akan semakin banyak hal-hal baru yang dipelajari di sekolah. Pengalaman hidup dalam keluarga, lingkungan juga akan turut memberi warna dalam masa-masa belia mereka, oleh karena itu segala hal yang kita ingin perkenalkan kepada anak didik harus mempunyai identitas dan karakter yang kuat agar si anak takan pernah lupa, walaupun berbaur dengan 1001 pengalaman baru yang akan didapatnya.

Banyak hal yang harus diperkenalkan sejak dini, agar anak sedikit demi sedikit berlatih merekam apa saja yang dilihat, didengar, disentuh, sesuai tingkat usia dan kemampuan mereka dan melalui cara-cara yang mudah. Kelak mereka akan terbiasa mengingat apapun bukan hanya sekilas tahu lalu berlalu begitu saja seusai apa yang dilihatnya menghilang. Salah satu sekolah dasar di wilayah Kabupaten Pekalongan yang mencoba melakukan langkah-langkah pendekatan tersebut adalah Sekolah Dasar Negeri 01 Wringinagung Kecamatan Doro. Kegiatan tersebut dilakukan melalui sebuah kegiatan mengapresiasikan berbagai kebudayaan di Indonesia melalui apresiasi seni yang telah dilakukan pada tanggal 23 Mei 2017 seusai ujian sekolah. Dalam kegiatan tersebut anak-anak diperkenalkan dengan berbagai budaya bangsa Indonesia yang di penuh keragaman dan kemajemukan namun tetap satu, dalam berbagai kegiatan tarian, nyanyi tunggal, drama, pantomime dan bahkan sebuah MMT untuk setting panggung diwujudkan dalam bentuk pengenalan budaya dari daerah Jawa Tengah.

Pada kesempatan itu ditampilkan siswa-siswi dengan berbagai kostum dan penampilan dari salah satu daerah. Kostum yang dipakai anak-anak akan sangat mendukung meninggalkan kesan dalam ingatan peserta didik kerena sesuai dengan asal daerah tarian tersebut, sehingga nantinya peserta didik mampu mengingat meskipun kelak berbagai budaya daerah lain akan diperkenalkan selanjutnya. Anak-anak akan lebih banyak mengingat suatu hal yang pernah dilihat, disentuh, dan nyata dengan identitas yang jelas meskipun jumlahnya cukup banyak. Karena usia mereka maish belia belum waktunya mengingat suatu hal dalam skala besar melalui metode hafalan. Selama masa latihan yang memakan waktu selama kurang lebih satu bulan, anak-anak diperkenalkan mengenai berbagai seni yang akan ditampilkan, ada tari sajojo dan tari yamco rambe yamco dari Papua, tari indang dari Sumatera, tari padang bulan, ilir-ilir dan buto galak dari Jawa Tengah dan lain sebagainya. Melalui kegiatan apresiasi seni yang dilaksanakan di sekolah diharapkan anak-anak akan mempunyai pengalaman dan kesan yang kuat mengenai berbagai daerah dan budayanya.

Kepala sekolah SDN 01 Wringinagung, Bapak Romadi, S.Pd.M.Si menegaskan dalam sambutannya dihadapan wali murid kelas 1 sampai kelas 6, bahwa apa yang diharapkan dari kegiatan apresiasi seni ini adalah memberikan kesempatan dan mendorong anak untuk berani tampil di hadapan orang banyak, karena hal tersebut sangat sulit untuk dilakukan oleh siapapun, oleh karena itu kebiasaan tersebut harus dilatih sejak dini. Harapan lain yang disampaikan oleh kepala sekolah yang juga merangkap sebagai Ka. Kwaran Doro tersebut adalah anak-anak mulai mengenal berbagai budaya bangsa, dan selanjutanya memunculkan sikap cinta budaya untuk kemudian mempelajari dan melestarikan budaya daerah sebgai kekayanan bangsa yang harus di jaga dan dipertahankan samapi titik darah pengahabisan, jangan sampai diklaim oleh bangsa lain.

Lebih jauh kepala sekolah menegaskan, anak-anak kita bukanlah artis, bukanlah jebolan sebuah audisi, maka seperti apapun penampilan dari anak-anak kita adalah sebuah karya yang luar biasa mengingat waktu latihan yang sebentar dan tidak rutin sebelumnya. Para penampil bukan merupakan seleksi sekolah untuk suatu ajang lomba, sekolah mempersilahkan bagi siapa saja yang berminat mengisi acara, tidak ada pengecualian, oleh karena itu apapun hasil kerja keras anak-anak adalah suatu hal yang luar biasa, berani naik dan mengisi panggung  saja merupakan suatu hal yang harus kita acungi jempol karena banyak dari peserta didik tidak berani, meskipun mereka sudah kelas enam. Mari kita beri apresiasi kepada seluruh peserta didik yang akan dan telah mengisi panggung kita yang megah ini dengan sebuah tepukan yang meriah. Ajak kepala sekolah mengakhiri pidatonya.

Iklan

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Dasar (SD). Tags: , .

Tersulit dalam Mendaki Gunung adalah Saat Menuruninya Penyatuan Langit dalam Ilmu dan Agama


ISSN 2085-059X

  • 839,764

Komentar Terbaru

Roos Asih di Surat Pembaca
rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: