Tersulit dalam Mendaki Gunung adalah Saat Menuruninya

27 Mei, 2017 at 12:59 am

Oleh Catur Sugianto SPd
Guru Sejarah Indonesia SMK Negeri 2 Proobolinggo.

 

Pendaki gunung …

manapun, siapapun, dimanapun, tak sulit untuk mengangguk, karena demikianlah faktanya. Musibah di Everest th 1996, kejadian memilukan di K2 th 2008, yang memakan korban belasan orang hanya dalam tempo 48 jam saja. Semua kejadian mengenaskan itu, bukan saat naik namun ketika mulai menuruni puncak. Juga pada banyak peristiwa di tanah air. Korban sehabis dari puncak, lalu turun gunung, tersesat, masuk kelembah, kehabisan perbekalan, hipotermia, dan …. ada ledakan tangisan, dari mereka yang ditinggalkan.

Siapapun yang pernah mengikuti pendidikan dasar Pecinta Alam , Pendaki gunung dan penempuh rimba, amatir maupun profesional, tahu persis tentang ketentuan ini. Namun sebesar itu ancaman bahaya, seringkali sebesar itu pula pengabaian yang terjadi.

Di gunung-hutan tropis, pasokan air adalah yang paling mutlak. Panasnya cuaca siang, keringat yang tak henti keluar, dehidrasi dan overheat menjadi ancaman nyata. Bunyi keciplak air dalam velples sungguh menggoda. Sehingga jalan pintas untuk mengatasi kehausan, adalah dengan menenggaknya. Kadang bukan hanya seteguk, namun beberapa sekaligus.

Seringkali tak ada keinginan untuk sekedar mencoba metoda survival. Hemat air yang dibawa, sedang untuk diperjalan, gunakan air yang ada di alam. Mulai dari pohon paku kentang, dalaman gedebok pisang, lumut, oyot pohon, dll., yang semuanya sumber air tawar. Tapi yaaah, hal itu dirasa cuma buang-buang tenaga dan waktu saja. Jauh lebih mudah buka velples, dan tenggak, persoalan kehausan selesai sudah.

Disana, dalam pikiran bawah sadar, ada semacam pola pikir. Bahwa puncak gunung adalah sang pencapaian. Sebuah prestasi yang bisa dibanggakan. Sebuah sukses story yang bisa didongengkan, seraya mengangkat citra diri dimata komunitas khalayaknya.

Rata-rata cerita pendakian adalah saat fase-fase tengah berjalan naik. Betapa belukar yang rapat, sehingga perlu menebas. Betapa ada tebing terjal, sehingga harus memakai metoda artifisial climbing. Betapa tebing itu overhang, sehingga harus melakukan traversing. Betapa longgarnya kerapatan oksigen, sehingga beberapa kali kepala terasa pening. Betapa suhu semakin dingin , betapa hujan badai, betapa keras petir menyambar, betapa, betapa, betapa ….

Intinya, betapa sulit untuk menggapai puncak yang tersembunyi dibalik awan …

Jadi wajar, jika seluruh persiapan yang dilakukan adalah hanya demi menggapai puncak. Puncak bak gadis idaman, puncak bak idola, puncak bak simbol kemenangan. Sedang Wining is everythings . Kadang harus melanggar aturan, bahkan menabrak sang logika.

Ada aturan, diketinggian ekstrim, alat survival satu-satunya adalah … kecepatan dan ketepatan !. Kejadian di Everest 1996, karena frame waktu dilanggar. Mereka pulang kesorean, sehingga berjalan dalam badai dan kegelapan, dan itu artinya …. bencana !. Demikian halnya di K2 th 2008, rombongan pendaki memaksa terus berjalan, dan jam 7 malam baru sampai puncak. Anggapannya toh ada bentangan tali yang bisa dijadikan panduan, ditambah dengan penerangan dari head lamp. Namun longsoran salju menyebabkan satu-satunya tali penambat putus dan hilang. Terjebak diwilayah dead-zone, dengan suhu dibawah -25C, hanya menyisakan aroma kematian. Dalam 2 hari, 12 orang diusung dalam keranda mayat.

Ketika puncak digapai, seolah sisanya tinggal kemudahan … demikian sang anggapan. Padahal terbalik, disana ada paradoks. Saat puncak digapai, yang tertinggal dalam tubuh hanya tinggal sisa-sisa. Sisa makanan, sisa air, sisa energi, sisa semangat , sisa motivasi. Dan yang berbahaya adalah sisa logika !. Saat akal sehat berkata, dibutuhkan ekstra siaga dan waspada, lalu batin menjawab … turun kan mudah, tinggal ngegelundung juga entar sampai.

Padahal, musuh utama dari ketinggian adalah, sang gravitasi !, yang akan habis-habisan menarik tubuh ke bawah. Tak peduli ke punggungan, ke lembah, ke jurang, ke air terjun, ke tebing batu … tak penting, pokoknya kebawah, titik.

Agar tak terbanting, tubuh butuh penyangga, dan itu berupa kedua kaki. Padahal kaki yang sama sudah dipacu untuk menyerbu puncak, sehingga yang ada hanya tinggal sisa-sisa kekuatan otot kaki yang sudah jauh lebih lemah. Menuruni punggungan terjal, dengan tubuh yang limbung, dengan dengkul bergetar karena letih. Engkel yang ngilu saat menginjak batuan, dan jari-jari kaki tertekan ke ujung sepatu, karena melorot kebawah, menyisakan lecet yang menyakitkan.

Berhenti sejenak, memulihkan tenaga rasanya percuma. Hanya sedikit makanan tersisa. Apalagi sang air yang nyaris habis karena diminum saat berjalan naik. Tambah lagi bayangan nasi bungkus di warung bi eha, jauh lebih nikmat ketimbang makanan sisa. Bayangan dipan dengan kasur yang hangat. Bayangan sambutan teman di posko seraya memberi selamat atas pencapaian, membuat perjalanan menuruni gunung, hanya sekedar cerita tambahan. Tak lagi penting. Toh tak pernah ada cerita seru tentang turun gunung. Yang selalu jadi topik hangat dan best seller, adalah tentang naik gunung ….

Turun gunung menjadi tak penting !

Padahal statistik berkata, korban pendakian adalah saat mereka tengah menuruninya . Dalam konteks kesiagaan semestinya adalah, seberapa besar persiapan anda mendaki gunung, sebesar itu pula persiapan anda untuk turun gunung.

Jika saat naik kita menggunakan alat, sarana, logistik , makanan, air sebesar 50%. Maka sisa yang 50% adalah untuk perjalan pulang menuruni gunung. Bahkan saya pribadi lebih suka 40 – 60%. Dengan catatan, setidaknya 30% berat ransel, isinya adalah AIR. Sisakan lebih banyak untuk pulang. Alasannya simpel, untuk naik, tujuannya jelas hanya satu, yaitu puncak. Selama anda naik , maka puncak akan dicapai. Tapi untuk turun, tujuannya juga cuma satu, yaitu posko base-camp. Tapi … pencapaiannya belum tentu, dan bisa beragam. Hukum ketidak-pastian jauh lebih besar saat turun, ketimbang naik mendaki.

Dibanyak kejadian fatal, hal ini yang tak terjadi. Habis-habisan digunakan untuk naik, sementara sisa-sisa, remah-remah, digunakan untuk turun. Tak jarang 80 – 90 % untuk naik, sedang untuk turun tinggal 10-20% saja. Akibatnya sudah kita duga. Saat makanan habis, yang terbayang adalah warung nasi bang Somad, dan kaki melangkah dipercepat. Ketergesaan menghilangkan kewaspadaan, belokan keliru diambil, tahu tahu sudah terjebak didalam jurang buntu. Saat air minum habis, suara kericik air dilembah amat sangat menggiurkan. Lembahan dilabrak, sedang kembali kepunggungan amat sulit. Lembah yang basah, licin, gelap, is the good place to start dying in hypotermia….

Padahal memang benar

mendaki ke puncak adalah sebuah prestasi pencapaian

Namun, menuruni puncak juga tak kurang sebuah pencapaian

Sebuah prestasi

Yang akan membedakan anda tetap jadi manusia sehat

Atau sudah berubah menjadi jenasah kaku karena wafat …. (e-mail  :           catur_27@yahoo.com)

Iklan

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tags: , .

Sejarah Lokal Kota Probolinggo, Pendekatan Antropologis Membentuk Keberagaman Melalui Apresiasi Seni


ISSN 2085-059X

  • 914.231

Komentar Terbaru

Roos Asih pada Surat Pembaca
rumanti pada Surat Pembaca
ira pada Surat Pembaca
Alfian HSB pada Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati pada Surat Pembaca
Ida pada Surat Pembaca
Waluyo pada Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: