Buah Iman Itu Bernama Kemenangan Cinta

8 Maret, 2017 at 12:00 am

Oleh Ali Sahbana SPd

Guru Sukwan SDN 1 Papayan Kab. Tasikmalaya Dan Alumni Pendidikan Bahasa Inggris UIN Bandung

Bagaimanakah perasaan kita disaat menghadapi musim panen? Tentunya akan timbul rasa cinta yang tak diungkapkan dengan kata-kata.  Kebahagiaan pun begitu melekat dalam diri.  Begitu pula dengan insan yang beriman disaat meraih dari buah imannya tersebut.

Bagi insan yang beriman, iman merupakan bagian yang paling mendasar dari kesadaran keagamaannya. Dalam berbagai makna dan tafsirannya, perkataan iman menjadi bahan pembicaraan di setiap pertemuan keagamaan, yang selalu disebutkan dalam rangka peringatan agar dijaga dan diperkuat.  Begitu pula setiap insan tidak bisa menjalani kehidupan yang baik atau mencapai sesuatu yang bermanfaat bagi kemanusiaan dan peradaban manusia, tanpa memiliki keimanan atau keyakinan. Sebab, insan yang tidak memiliki keimanan akan menjadi manusia yang sepenuhnya hanya mementingkan diri sendiri, ragu-ragu, goyah, dan tidak mengetahui tugas serta kewajibannya sebagai hamba dalam kehidupan ini.  Itulah sebabnya, keimanan menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi seorang Muslim. Karenanya, ia menjadi modal utama agar dapat menjalani kehidupan yang lurus, seperti yang telah ditunjukkan oleh Allah SWT. Sabda Rasulullah SAW tentang iman yaitu:

 

Seseorang bertanya kepada Rasulullah, “Kabarkan kepadaku tentang iman” Rasulullah menjawab “Iman itu ialah engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari akhir, dan engkau beriman kepada qadha dan qadar, yang baik dan yang buruk.”

 (HR Bukhari dan Muslim)

 

Iman bukanlah sekadar percaya dan membenarkan saja. Kepercayaan dan pembenaran memerlukan pembuktian yang menunjukkan sah atau tidaknya iman tersebut. Karena itu, iman yang sekedar melekat di hati bukanlah iman yang sempurna. Sebab, iman berarti juga pengungkapan dengan lisan dan pembuktian dengan amal perbuatan.   Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa tiang pokok dari iman itu adalah membenarkan keberadaan Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan ketentuan baik atau buruk yang ditetapkan Allah SWT bagi manusia. Seorang Mukmin adalah yang meyakini semua informasi, petunjuk, dan bimbingan Allah dan Rasul-Nya, kemudian ia melaksanakannya dengan berdasar atas iman dan penghambaan kepada Allah SWT.  Keimanan itu apabila telah menjadi suatu kenyataan yang sehebat-hebatnya, maka ia dapat berubah dan beralih sehingga merupakan suatu tenaga atau kekuatan yang tanpa dicari-cari akan datang dengan sendirinya dalam kehidupan ini, sebab keimanan tadi akan mengubah manusia yang asalnya lemah menjadi kuat, baik dalam sikap dan kemauan, mengubah kekalahan menjadi kemenangan, keputus-asaan menjadi penuh harapan dan harapan ini akan dicetuskan dalam perbuatan yang nyata.  Setiap tanaman atau pohon yang ditanam, terus disirami dan dipupuk secara teratur tentunya nanti akan berbuah.  Biasanya memanennya itu yang selalu didambakan oleh setiap insan.

Hasan dan Nata (1995) mengartikan iman secara etimologis sebagai percaya atau mempercayai sesuatu.  Sedangkan menurut istilah berarti meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan tindakan sehari-hari.  Shihab (2011) mendefinisikan iman, secara etimologis, sebaga pembenaran.  Sedangkan secara terminologi dimaknai sebagai pembenaran apa yang disampaikan nabi Muhammad saw yang pokok-pokoknya termaktub dalam rukun iman yang enam.  Iman seseorang bersifat fluktuatif, kadang bertambah kadang pula berkurang.  Iman sangat sulit untuk dilukiskan.  Ia hanya bisa dirasakan.  Ia memenuhi seluruh isi hati nurani bagaikan cahaya yang disorotkan oleh matahari dan juga sebagaimana semerbaknya bau harum yang disemarakkan oleh setangkai bunga mawar.

Iman mendatangkan kebaikan yang banyak, baik buahnya yang segera di dunia maupun yang tertunda di akhirat. Iman mendatangkan kebaikan yang melimpah, buah nikmat yang abadi dan keindahan yang terus-menerus. Dan lebih dari itu Imanlah yang menjadi sebab terhindarnya seseorang dari segala keburukan dunia dan akhirat.  Hasan dan Nata (1995) mengelaborasi bahwa sedikitnya ada empat buah iman.  Supaya mudah mengingatnya kita singkat menjdi kemenangan cintaPertama adalah kemerdekaan jiwa dari kekuasaan orang lain.  Seperti dimafhumi bahwa keimanan akan memberikan kemantapan dalam jiwa seseorang yaitu hanya Allahlah sajalah yang Maha Kuasa untuk memberikan kehidupan, mendatangkan kematian, memberikan ketinggian kedudukan, menurunkan pangkat yang tinggi, juga hanya Dia sajalah yang dapat memberikan kemelaratan atau kemanfaatan kepada seseorang.  Perasaan yang demikian itu menyebabkan dirinya merasa merdeka dari kekuasaan orang lain.  Dengan demikian, keimanan pada akhirnya dapat menuntut suatu kehidupan yang merdeka dari perbudakan manusia oleh manusia.  Kedua adalah melepaskan diri dari pengaruh keduniaan.  Keimanan akan mendorong seseorang agar senantiasa mampu melepaskan diri dari pengaruh keduniaan, karena dengan keimanan itu ia akan mampu mengarahkan segala apa yang dimilikinya hanya untuk mengabdi kepada Allah SWT semata.  Orang yang demikian tersebut, bukan harus hidup melarat atau miskin, karena hidup miskin secara sengaja tidak dibenarkan oleh agama.  Iman mendorong seseorang berusaha keras dibidang keduniaan, tetapi setelah dunia atau harta ada ditangannya ia mampu mengarahkannya untuk berbakti kepada Allah SWT bukan untuk di dunia itu sendiri, seperti yang dianut oleh orang yang berpandangan hidup keduniaan atau sekulerKetiga adalah ketenangan atau thuma’ninah.  Keimanan juga akan dapat menimbulkan ketenangan dalam diri seseorang.  Yaitu ketenangan hati dan ketenteraman jiwa.  Hal ini disebabkan ia merasa memiliki tempat mengadu, pembela, penolong, pemberi rizki dan lain sebagainya, yaitu Alllah SWT.  Sikap yang demikian tumbuh dari keimanan yang telah mantap.  Sikap seperti ini; diperlukan bagi kesuksesan segala urusan dan pekerjaan yang dilakukan manusia, terutama ketika menghadapi problema dalam kehidupan.  Keempat adalah cinta kepada kebenaran dan benci kepada kebatilan.  Keimanan juga akan mendorong seseorang untuk selalu cinta kepada kebenaran.  Hal ini disebabkan sesuai dengan Allah SWT dan rasul-Nya yang melarang manusia berbuat jahat, tetapi sebaliknya mendorong agar seseorang gemar akan melakukan kebaikan.  Semoga saja kita selalu dijadikan insan yang beriman dan benar-benar mampu mereguk buah iman yang bernama kemenangan cinta, amin.

 

Iklan

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Dasar (SD). Tags: , .

”Metode Klos” Meningkatkan Kecepatan Efektif Membaca Siswa Siaga Menyiapkan Generasi Pejuang dan Cinta Budaya Bangsa


ISSN 2085-059X

  • 879,893

Komentar Terbaru

Roos Asih di Surat Pembaca
rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: