FDS Problematika Orangtua

14 Desember, 2016 at 12:00 am

Oleh Nurul Yaqin Nurul Yaqin, S.Pd.I
Guru MI Unggulan Daarul Fikri, Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat

“Ganti menteri ganti kurikulum” begitu kira-kira adagium yang melekat dalam benak masyarakat ketika dihadapkan dengan pergantian menteri, khususnya menteri pendidikan. Kurang lebih sudah lima bulan Anies Baswedan lengser dari jabatannya (27 Juli 2016) sebagai Mendikbud yang kemudian digantikan dengan Muhajir Effendy, mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur.

Belum genap sebulan menjabat, Muhajir menggagas sistem full day school (FDS) untuk tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) yang menimbulkan pro-kontra berbagai kalangan mulai dari praktisi pendidikan, guru, bahkan masyarakat. Yang kemudian dilanjutkan dengan pernyataan presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam acara peringatan 90 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur bahwa rancangan FDS akan dilaksanakan. (SindoNews, 19/09/2016)

Bukan tanpa alasan jika mendikbud baru menggagas sistem FDS. Menurutnya, penerapan sistem FDS diharapkan bisa membangun karakter siswa dengan memberikan program tambahan di sekolah. Ketika orangtua sibuk dengan pekerjaanya, alangkah baiknya anak berada di sekolah dibawah bimbingan guru, dari pada sendiri di rumah sangat riskan bagi pertumbuhan sikap dan perilaku anak. Anak tanpa pengawasan orangtua cenderung liar dan mudah berperilaku negatif. Begitu kira-kira pandanganMuhajir Efendy dengan FDS-nya.

Refleksi FDS

Gagasan yang diusung oleh menteri Muhajir adalah ide cemerlang. Muhajir telah memperlihatkan bahwa bangsa ini krisis pendidikan karakter, yang selama ini masih dipandang sebelah mata. Bahkan, banyak yang berasumsi bahwa pendidikan karakter hanya menjadi beban baru bagi dunia pendidikan.
Namun, menanggapi wacana FDS yang akan diterapkan di tingkat SD dan SMP ini, penulis mempunyai beberapa pandangan. Pertama, sistem FDS akan menambah beban baru bagi para guru dan sekolah. Diterapkannya FDS praktis akan memperpanjang jam mengajar guru. Bertambahnya jam mengajar bagi guru maka bertambah pula upah yang harus dibayarkan oleh sekolah. Yang perlu diingat, tidak semua sekolah mempunyai keuangan yang memadai, terlebih di pedesaan.

Guru juga harus berupaya benar-benar mengajarkan pentingnya pendidikan karakter sehingga anak didik bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Tapi, apabila jam tambahan hanya diisi dengan pembelajaran yang menekankan ranah kognitif dan kegiatan ceramah (teacher talking time) yang memiliki sedikit indikasi pada karakter anak, sudah tentu penerapan FDS menyimpang dari harapan dan tujuan.

Kedua, pendidikan karakter adalah tanggung jawab bersama. Orangtua, guru, dan masyarakat adalah penanggung jawab pembentukan karakter anak. Namun, penerapan sistem FDS terkesan hanya dibebankan kepada guru. Sebaliknya, orangtua akan merasa lebih santai dan apatis mengingat waktu jam belajar anak sudah seharian di sekolah. Orangtua terlena, dan tidak berfikir untuk mengawasi anak lebih intensif. Jika paradigma ini telah melekat, maka secara tidak langsung orangtua telah menyalahi kodratnya sebagai pendidik utama.

Ketiga, sistem FDS menghambat karakter anak yang sudah mulai terbentuk di rumah. Bagi siswa yang terbiasa membantu pekerjaan orangtuanya, misalnnya menjaga toko dan membantu di sawah, pendidikan karakter sosial telah terbentuk dengan sendirinya. Ketika anak sudah memiliki kepedulian besar kepada orangtua dan masyarakat, kemudian anak harus berlama-lama di sekolah, maka sistem telah mematikan karakter anak untuk bersosialisi dengan masyarakat.

Problematika Orangtua

Sistem FDS merupakan langkah jitu untuk menyelamatkan karakter anak bangsa. Namun, FDS merupakan wacana untuk mengatasi masalah di hilir. Sebenarnya terdapat permasalahan hulu yang harus diselesaikan lebih dulu. Yaitu, peran orangtua.

Seperti yang telah disampaikan Muhajir, salah tujuan FDS adalah menjaga anak dari sikap ammoral ketika sendiri di rumah. Jika dikaji ulang, sistem FDS yang saat ini sedang dilakukan uji coba, sebenarnya akar permasalahannya bukan terletak pada anak, tetapi orangtua. Orangtua yang terlalu sibuk dengan karir dan pekerjaannya menyebabkan anak hidup sendiri di rumah.

Menurut Edi Sugianto dalam bukunya Menyalakan Api Pendidikan Karakter (2016 : 9), Salah satu faktor dekadensi moral adalah hilangnya kasih sayang dan pengawasan orangtua dalam pendidikan keluarga. Seiring dengan meningkatnya kesibukan orangtua di luar rumah, sentuhan kasih sayang dan bimbingan yang mestinya dirasakan anak-anak semakin hari kian hilang.

Orangtua saat ini lebih mengejar materi dari pada mendidik anak. Nafsu yang begitu besar untuk memiliki segalanya telah mencampakkan hak anak dari orangtua. Tak sedikit suami dan istri yang berkarir untuk memenuhi gaya hidup, terlebih di perkotaan. Padahal Ibu sebisa mungkin hanya fokus dengan perkembangan anaknya. Karena mendidik anak lebih sulit dari pada mencari finansial (materi). jika kita gagal dalam bekerja, kita bisa mencoba dan mencari lagi. Namun, apabila kita gagal dalam mendidik anak, maka tidak mungkin untuk diulangi.

Di sini, orangtua mempunyai peran sentral. Orangtua sebagai motor penggerak harus bisa membawa anaknya. Orangtua harus bisa menanamkan karakter sejak dini dengan cara mendampingi anak. Karena orangtua adalah pendidikan utama (tarbiatul ula) bagi anaknya.
Orangtua harus memberikan porsi waktu yang cukup untuk perkembangan anaknya sehingga pendidikan karakter dengan sendirinya akan tertanam. Sebagus apapun sistem tanpa ada campur tangan orangtua maka akan hanya tinggal rencana dan wacana. Kontak person : HP : 085694023409, Email : mutiarayaqin@gmail.com

Iklan

Entry filed under: Artikel Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI). Tags: , .

Pro dan Kontra Konsep Full Day School di Indonesia Pemimpin dan Kepemimpinan


ISSN 2085-059X

  • 839,764

Komentar Terbaru

Roos Asih di Surat Pembaca
rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: