Pro dan Kontra Konsep Full Day School di Indonesia

23 November, 2016 at 12:00 am

suryantoOleh Suryanto SPd
Guru MAN Gumawang, Belitang Oku Timur, Sumatera Selatan

Semakin berkembangnya dunia, pendidikan saat ini mulai beramai-ramai meningkatkan kualitas sumber daya siswa dengan berbagai cara. Hal ini berangkat dari banyaknya “tuntutan” untuk menjadi manusia yang kaya ilmu serta diseimbangkan dengan skill yang mumpuni. Salah satu strateginya adalah full day school. Namun, konsep full day school ini juga mengundang pro dan kontra dari berbagai pihak.

Bapak Muhadjir Effendy selaku Mendikbud yang baru telah mengusung sistem Full Day School untuk tingkat SD dan SMP. Kemunculan sitem baru ini tentunya melalui beberapa pertimbangkan dan perbincangan dengan beberapa ahli sehingga nanti harapan ke depannya pendidikan di Indonesia ini menjadi lebih baik dari saat ini.

Pertimbangan pertama, Menurut mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, maksud darifull day school adalah pemberian jam tambahan. Namun, pada jam tambahan ini siswa tidak akan dihadapkan dengan mata pelajaran yang membosankan. Kegiatan yang dilakukan seusai jam belajar-mengajar di kelas selesai adalah ekstrakurikuler (ekskul). Dari kegiatan ekskul ini, diharapkan dapat melatih 18 karakter, beberapa di antaranya jujur, toleransi, displin, hingga cinta tanah air. “Usai belajar setengah hari, hendaknya para peserta didik (siswa) tidak langsung pulang ke rumah, tetapi dapat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang menyenangkan dan membentuk karakter, kepribadian, serta mengembangkan potensi mereka,” kata Muhadjir. Dengan demikian, kemungkinan siswa ikut arus pergaulan negatif akan sangat kecil karena berada di bawah pengawasan sekolah. Misalnya, penyalahgunaan narkoba, tawuran, pergaulan bebas, dan sebagainya.

Pertimbangan kedua, faktor hubungan antara orangtua dan anak. Biasanya siswa sudah bisa pulang pukul 1. Tidak dipungkiri, di daerah perkotaan, umumnya para orangtua bekerja hingga pukul 5 sore. “Antara jam 1 sampai jam 5 kita nggak tahu siapa yang bertanggung jawab pada anak, karena sekolah juga sudah melepas, sementara keluarga belum ada”. Pungkas beliau menambahkan. Kalau siswa tetap berada di sekolah, mereka bisa sambil menyelesaikan tugas sekolah sampai orangtuanya menjemput sepulang kerja. Setelahnya, siswa bisa pulang bersama orangtua, dan selanjutnya aman di bawah pengawasan orangtua.

Petimbangan ketiga, Program ini dianggap dapat membantu guru untuk mendapatkan durasi jam mengajar sebanyak 24 jam/minggu. Ini merupakan salah satu syarat untuk lolos proses sertifikasi guru. “Guru yang mencari tambahan jam belajar di sekolah nanti akan mendapatkan tambahan jam itu dari program ini,” tambahnya. Kalau pada akhirnya diterapkan, dalam sepekan sekolah akan libur dua hari, yakni Sabtu dan Minggu. Sehingga, ini akan memberikan kesempatan bagi siswa bisa berkumpul lebih lama dengan keluarga. “Peran orangtua juga tetap penting. Di hari Sabtu dapat menjadi waktu keluarga. Dengan begitu, komunikasi antara orangtua dan anak tetap terjaga dan ikatan emosional juga tetap terjaga,” ujar Muhadjir.

Menurut menteri pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi, Asman Abnur “ya mungkin untuk peningkatan kualitas. Ya kalau peningkatan kualitas harus kita dukung karena kan banyak juga ternyata guru-guru yang harus di up date terus ilmunya tidak boleh ketinggalan. Nah saya lagi metakan ini berapa usia guru yang muda, berapa yang sedang, berapa yang sudah tua”.

Sementara itu pemerhati anak Seto Mulyadi menilai butuh pengkajian lebih dalam dari respons masyarakat terhadap usulan kebijakan full day school. Setiap daerah memiliki kebijakan masing-masing dalam penerapan waktu kegiatan belajar mengajar. Seto juga menegaskan dalam proses belajar mengajar harus mempertimbangkan hak-hak anak.

“yang penting adalah bahwa proses belajar itu harus ramah anak dan demi kepentingan terbaik bagi anak jadi belajar juga bukan hanya formal bisa juga nonformal di tengah masyarakat melalui sanggar-sanggar bisa juga di dalam keluarga dan tidak semua juga ibu itu bekerja” ujar Seto Mulyadi Ketua Umum Komnas PA. Dari beberapa pertimbangan dan perbincangan diatas, menuai berbagai respon, baik pro maupun kontra. Sebagian pihak yang kurang setuju berargumen bahwa penerapan model full day school di Indonesia tidak mudah, banyak faktor yang mempengaruhi seperti budaya, kebiasaan, ekonomi dan sebagainya termasuk kesiapan sarana dan prasarana pendidikan.

Sosiolog Musni Umar menilai, baru di kota-kota besar yang mungkin bisa menjalankan full day school, walaupun persiapan sarana dan prasarana dan guru cukup. “Kalau di desa-desa, saya tidak setuju diberlakukan. Bukan saja tidak memiliki segala macam kesiapan, tetapi anak masih berfungsi sebagai tenaga perbantuan orangtua untuk ikut menopang kehidupan ekonomi keluarga,” ujar Musni ‎kepada Dia berpendapat, gagasan full day school cocok diterapkan di Singapura, Malaysia dan negara lain yang sudah maju. Pertama, lanjut dia, tingkat kesibukan kedua orangtua sangat tinggi, karena keduanya bekerja di luar rumah untuk menopang kehidupan ekonomi keluarga. Sehingga lebih baik kalau anak lebih lama di sekolah ketimbang di rumah yang tidak ditemani oleh siapapun. Kedua, sambung dia, tingkat kehidupan ekonomi keluarga sudah memadai, sehingga mampu memberi dana yang cukup kepada putera-puterinya jika full day school.

Ketiga, “segala macam kegiatan ekstrakurikuler disediakan di sekolah, sehingga anak bisa memilih kegiatan yang disukai”. Keempat, “fasilitas sekolah dan lingkungannya sangat mendukung,” tutur wakil rektor I Universitas Ibnu Chaldun Jakarta ini. Yang kelima, jumlah guru harus cukup memadai, sehingga mampu melayani dan membimbing anak-anak sekolah. Oleh karena itu, dia menyarankan sebaiknya gagasan full day school dikaji secara mendalam dan jika perlu dilakukan uji coba di DKI Jakarta untuk melihat efektivitasnya. “Di Indonesia belum siap‎,” paparnya.

Dari pernyataan diatas dapat disimpukan bahwa program full day school belum mampu diterapkan di Indonesia, terkhusus jika harus dibebankan untuk jenjang SD maupun SMP. Konsep ini kurang cocok jika diberikan untuk anak-anak. Mereka akan merasa bosan dengan sendirinya. Selain itu, jika dilihat dari segi fisik juga kurang baik untuk kesehatan. Seharusnya, masa mereka adalah untuk bermain, bergembira dan belajar hal-hal yang sederhana, bukan untuk dibebani dengan berfikir ini itu ini itu yang mungkin akan membuat stress anak. Tidak seluruh sekolah punya banyak pilihan ekskul yang diinginkan peserta didik. Jika kegiatan ekskul itu membosankan, maka hanya membuat peserta didik tertekan.

Selain itu, saya juga merasa kasian dengan guru swasta. Kalau full day school, otomatis mereka harus ada di sekolah secara penuh .Gaji masih jauh di bawah upah minimum yang mengaruskan mereka bekerja sambilan demi memenuhi kebutuhan hidup. (Email: suryanto523@yahoo.com)

Entry filed under: Artikel Guru Madrasah Aliyah (MA). Tags: , .

Pengaruh Pendidikan Dalam perubahan Tingkat Sosial Ekonomi


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: