Pengaruh Pendidikan Dalam perubahan Tingkat Sosial Ekonomi

23 November, 2016 at 12:00 am

yenny-hafsahOleh Dra Yenni Hafsah
Guru MAN Gumawang Kab. OKU Timur, Sumatera Selatan

Era globalisasi yang melanda dunia termasuk Indonesia berlangsung sangat cepat yang menimbulkan dampak global pula yang sekaligus menuntut kemampuan manusia unggul yang mampu mensiasati dan mengantisiapasi kemungkinan-kemungkinan yang sedang dan akan terjadi. Globalisasi akan semakin membuka diri bangsa dalam menghadapi bangsa-bangsa lain. Batas-batas politik, ekonomi, sosial budaya antara bangsa semakin kabur. Persaingan antar bangsa akan semakin ketat dan tak dapat dihindari, terutama dibidang ekonomi dan IPTEK.

Pendidikan harusnya dapat mengubah pola pikir, pola sikap dan pola tindak seseorang ke arah yang lebih maju sesuai tuntutan zaman. Maka, penekanan terhadap peningkatan mutu pendidikan, harus merupakan komitmen bersama antara pemerintah, masyarakat dan orangtua peserta didik, sehingga hasil pendidikan di harapkan sesuai dengan tujuannya, yaitu mampu melahirkan SDM yang memiliki keunggulan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya di dunia serta mampu mewujudkan kemantapan iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan dapat memperlihatkan sikap baik (Akhlakul Karimah).

Namun masalah yang sering terjadi mengemuka adalah dunia pendidikan saat ini sangat bergantung pada situasi dan ekonomi sebuah negara, karena itu menjadi jelas bahwa pendidikan bukan merupakan satu-satunya alat untuk mengurang kemiskinan, apalagi jika dari konteks politik dan sistem ekonomi yang dianut.

Berdasarkan riset para ahli ekonomi menyebutkan pendidikan hanya menyumbangkan sedikit yaitu sekitar 16,1 % per tahun PDB (produk domestic bruto) dihampir semua Negara, tapi tak bisa dipungkiri bahwa pendidikan merupakan investasi masa depan yang sangat signikan dan strategis suatu Negara. Oleh sebab itu untuk menjawab tantangan kedepan agar pendidikan memiliki kepekaan dalam rangka menumbuhkan semangat berwirausaha dikalangan siswa. Memadukan pendidikan yang relevan dengan dunia kerja atau link and match harus menjadi kebijakan dibidang pendidikan. Serta bagaimana menumbuhkan semangat untuk menciptakan wirausahawan yang handal menjadi salah satu prioritas dalam dunia pendidikan.

Pendidikan wirausaha harus menjadi entri point bagi pendidikan oleh karenanya model dan sistem pendidikan bisnis harus menunjang pendidikan kewirausahaan. Proses pembelajaran dalam pendidikan bisnis harus diarahkan kepada pemanfaatan pengetahuan dan kemampuan untuk bekal hidup sasaran didik di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat dan bernegara, sehingga belajar sambil bekerja menjadi sangat penting. Untuk itu proses pembelajaran harus memperhatikan keseimbangan faktor bawaan (minat, motivasi, bakat) dan faktor lingkungan (masyarakat dan pendidikan).

Keselarasan antara potensi bawaan dan lingkungan akan dapat membawa pencapaian tujuan pembelajaran seperti yang diharapkan oleh siswa sendiri. Karena guru memegang peran sebagai fasilitator, innovator, motivator bagi belajar siswa, maka proses belajar individual menjadi sangat penting dengan memilih metode pembelajaran yang mengarah pada penemuan kemampuan dan keterampilan sesuai dengan keinginan, minat, motivasi, dan bakat siswa. Sebaiknya proses pembelajaran tidak lagi berorientasi kepada selera sekolah atau guru.

Penekanan evaluasi pada sikap dan keterampilan intelektual siswa, serta tidak lagi kepada pengetahuan teoritis. Pengumpulan pengetahuan teoritis yang berlebih tanpa ada maknanya bagi hidup, merupakan pekerjaan yang sia-sia. Disarankan perlu adanya perubahan yang mendasar dari visi dan misi pendidikan kejuruan dan profesi mengubah model dan sistem pembelajaran, dengan tidak beroerientasi kepada pembentukan tukang, tetapi harus lebih dari itu, yakni menumbuhkan wirausahawan yang tangguh

Pendidikan kewirausahaan di Indonesia masih kurang memperoleh perhatian yang cukup memadai, baik oleh dunia pendidikan maupun masyarakat. Banyak pendidik yang kurang memperhatikan penumbuhan sikap dan perilaku kewirausahaan sasaran didik, baik di sekolah-sekolah kejuruan, maupun di pendidikan profesional. Orientasi mereka, pada umumnya hanya pada menyiapkan tenaga kerja.

Dari lain, secara historis masyarakat kita memiliki sikap feodal yang diwarisi dari penjajah Belanda, ikut mewarnai orientasi pendidikan kita. Sebagian besar anggota masyarakat mengaharapkan output pendidikan sebagai pekerja, sebab dalam pandangan mereka bahwa pekerja (terutama pegawai negeri) adalah priyayi yang memiliki status sosial cukup tinggi dan disegani oleh warga masyarakat. Lengkaplah sudah, baik pendidik, institusi pendidikan, maupun masyarakat, memiliki persepsi yang sama terhadap harapan ouput pendidikan.

Sebagai negara sedang berkembang, Indonesia termasuk masih kekurangan wirausahawan. Hal ini dapat dipahami, kerena kondisi pendidikan di Indonesia masih belum menunjang kebutuhan pembangunan sektor ekonomi. Perhatikan, hampir seluruh sekolah masih didominasi oleh pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran yang konvensional. Mengapa hal itu dapat terjadi? Di satu sisi institusi pendidikan dan masyarakat kurang mendukung pertumbuhan wirausahawan. Di sisi lain, banyak kebijakan pemerintah yang tidak dapat mendorong semangat kerja masyarakat, misalkan kebijakan harga maksimum beras, maupun subsidi yang berlebihan yang tidak mendidik perilaku ekonomi masyarakat.

Oleh sebab itu, untuk menjadikan pendidikan yang mampu mengubah tingkat sosial ekonomi, harusnya pendidikan diarahkan bukan hanya untuk menjadi pegawai atau pekerja di perusahaan tapi menjadi wirausahawan yang handal, yang bukan hanya menjadi pencari kerja, tapi menyediakan pekerjaan, kesiapan mental wirausaha bagi siswa/siswa dengan pelatihan dan ketrampilan harus didukung dengan pertumbuhan ekonomi yang mantap, dan situasi sosial ekonomi yang kondusif. Karena jika tidak demikan kemungkinan pendidikan belum bisa mengubah “orang miskin” dan tetap dalam kondisi tingkatan sosial ekonomi bawah.

Dengan kata lain, dalam dunia pendidikan harus bisa menjawab tantangan zaman yang terus cepat berubah, jangan sampai justru “orang miskin” tidak berubah atau masih tetap stagnan berdiri pada tempatnya. Oleh sebab itu pentingnya sebuah program secara sistematis supaya pendidikan dapat mengubah tingkatan sosial ekonomi masyarakat, terutama problem yang kebanyakan dimiliki Negara-negara berkembang, seperti program kewirausahaan dengan pelatihan dan ketrampilan, dan bahkan jika mampu memberikan bantuan Modal bagi peserta didik yang akan menyelesaikan studinya. (Email: Yennyhafsah33@yahoo.com)

Entry filed under: Artikel Guru Madrasah Aliyah (MA). Tags: , .

Hidup Sukses Itu Berproses Pro dan Kontra Konsep Full Day School di Indonesia


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: