Teka Teki Si Pendiam

8 November, 2016 at 8:57 am

Oleh Ali Sahbana SPd
Guru Sukwan SDN 1 Papayan Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat

Tepat setahun Andra ditinggal mati kekasihnya.  Sampai sekarang ia tetap bungkam, menyepi, dan jadi introvert.  Tak sepatah kata pun terucap.  Hanya bahasa tubuh yang bicara.  Padahal ia tak bisu.  Ia jarang keluar.  Kalaupun keluar, hanya berdiam diri berjam-jam di taman.  Memang tak bisa dipungkiri bahwa kematian seseorang merupakan sebab universal bagi kesedihan dan penderitaan mendalam.  Banyak jenis kehilangan yang memicu kesedihan, diantaranya: kehilangan kekasih akibat meninggal dunia, kehilangan harga diri akibat gagal mencapai tujuan dalam pekerjaan, dan kehilangan bagian tubuh akibat kecelakaan atau penyakit.

“Dra, tuh ada Raina.” panggil ibunya sambil membuka pintu kamar.  Andra nampak lagi menatap kosong dibalik jendela.  Pikirannya entah melayang kemana.  Yang ada hanya fisiknya saja.  Mungkin lagi menyepi.  Memang tak ada yang melarang untuk menyepi.  Tengok saja nabi Muhammad SAW.  Beliau menyendiri di Gua Hiro.  Disanalah beliau mendapat wahyu pertama dari Allah SWT.  Ada juga Einstein dan Leonardo Da Vinci yang sering merenung di tempat favoritnya bukit dan pinggiran hutan yang tenang.  Dari situlah mereka menghasilkan gagasan brilian sehingga menjadi karya yang besar.

Andra mengangguk.  Kemudian menghampiri ke depan.  Aku menemaninya.  Tak ada kata terucap.  Hanya sebuah senyum yang menyapa.

“Bagaimana kabarmu, Dra? Maaf baru bisa menemuimu sekarang.  Soalnya kemarin-kemarin kuliahku lagi sibuk.” Sapa Raina.

“Yah, beginilah, mbak.  Terimakasih sudah mau menjenguk Andra” jawabku.  Karena melihat Andra yang tetap bungkam.   Aku bersyukur atas kehadiran teman Andra, Raina.  Tadinya aku berharap bisa terjadi komunikasi yang baik, sehingga bisa mengikis sedikit demi sedikit kesedihannya.  Seperti Francos Bacon katakan bahwa komunikasi seseorang dengan temannya memiliki dua efek yang berlawanan.  Pertama menggandakan kegembiraan.  Kedua memotong separoh kesedihan.

Akhirnya aku dan Raina lah yang berbicara.  Raina sesekali menghibur Andra dengan cara menceritakan kebersamaannya saat-saat kuliah bersama teman-temannya.  Saat ku tatap wajahnya, ia hanya senyum sesekali.  Kembali lagi, aku tak melihat Andra yang dulu.  Tenang, selalu ada buat teman-temannya.  Tak terasa air mataku menetes.  Aku bergegas ke kamar untuk menahan kesedihanku.  Aku menangis di kamarku.  Tak lama berselang, ibu masuk.  Ia coba menghiburku dan menyemangatiku.

“Ibu percaya, suatu saat Andra kembali seperti sedia kala.” Sahut ibu.

“ya, bu.  Aku juga berharap seperti itu.” Sahutku.

Masih teringat betul bagaimana kebersamaan Andra dan Susan, serta awal mula kisah cinta mereka.

****

Udara masih nampak segar.  Tak ada banyak asap seperti biasa.  Mungkin ini baru pagi.  Sang surya pun menambah hangat suasana.  Banyak orang hilir mudik kesana kemari.  Nampak pula beberapa mobil truk milik ABRI.  Yap, hari ini kebetulan ada acara penerimaan anggota baru unit kegiatan mahasiswa (UKM) pecinta alam.  UKM tersebut berencana untuk melantik calon anggota baru di pantai Pangandaran.

“Susan Nurhidayat” panggil Andra.

“Hadir, kak” sahut Susan.

Andra merupakan salah satu panitia pelaksana acara tersebut.  Ia nampak tinggi.  Rambut cepak dan badan tegap.  Ia layaknya seorang tentara.  Ini mungkin karena kegemarannya berolahraga dan ngegym.  Kebetulan ia ditugaskan mengabsen dan mengecek barang-barang calon anggota baru UKM tersebut.  Sedangkan, Susan adalah calon anggota baru UKM tersebut.  Dia memilih gabung dengan UKM tersebut dikarenakan kegemarannya berpetualang.  Sejak SMA, ia gemar melakukan acara petualangan.

“Silakan, naik” sahut Andra.  Saat setelah mengecek kelengkapan barang-barang Susan.

“Terima kasih, kak” respon Susan.  Tak terasa saat mengucapkan kata tersebut, mata mereka berpapasan.  Nampak wajah Andra begitu tampan.  Mungkin ia masuk kriteria yang diinginkan Susan.  Begitu pun dengan Andra.  Ada perasaan lain yang mengalir ke hatinya.  Mungkinkah itu Cinta? Dia hanya menyimpannya dalam hati.

Tak terasa beberapa truk tersebut berangkat meninggalkan kampus.  Bendera Indonesia dan UKM pecinta alam nampak berkibar di setiap truk.  Ini untuk menambah semarak suasana.  Kebetulannya, Andra dan Susan berada di truk yang sama.  Setiap truk calon anggota baru ditugaskan beberapa panitia.

Awalnya perjalanan menuju lokasi, begitu terasa hambar dan sepi.  Tak ada obrolan ataupun nyanyian.  Susan yang emang berkarakter rame, periang berinisiatif bernyanyi sambil diiringi gitar dan tepuk tangan teman-temannya.  Suasana semakin mencair saat panitia ikut gabung menambah ramai perjalanan menuju pantai Pangandaran.  Hal itu menambah keyakinan Andra untuk lebih mengenal Susan.

Tak terasa gemuruh ombak menandakan bahwa lokasi sudah dekat.  Nampak pantai yang begitu indah.  Tak salah bila kabupaten Pangandaran mengandalkan kawasan wisata ini sebagai income nya.  Tak berselang lama mereka sudah sampai.  Mereka segera memasang tenda dan membagi sesuai dengan kelompok yang ditentukan.  Acara demi acara pelantikan calon anggota baru berjalan lancar.  Tak ada lagi perploncoan seperti yang sering terjadi.  Tak ada kekerasan.  Yang ada hanyalah keakraban antara calon anggota baru dan anggota lama.  Bagi Andra, UKM ini sudah jadi rumah keduanya.  Sedih dan senang, suka dan duka dan banyak pelajaran yang ia raih disini.  Para calon anggota baru pun mengikutinya dengan hidmat dan gembira.

“Susan, ayo berenang.” Ajak Andra memberanikan diri.  Nampak pula temannya yang lain menghambur dengan teman-temannya berenang.

Tak ada respon.  Susan nampak terpaku.  Karena tak menyangka Andra begitu dikaguminya memanggilnya.  Tak terasa tangannya ada yang menariknya ke depan.  Dan itu adalah Raina.  Teman yang baru dikenalnya dari acara tersebut dan kemudian menjadi sahabat karibnya.  Akhirnya, mereka berenang dengan sukaria.  Menghilangkan kepenatan selama mengikuti acara penerimaan anggota baru.  Mereka larut dalam setiap canda dan tawa.  Entah karena keasyikan saat bersuka ria saat berenang, Susan dan Raina berenang sampai ke tengah.  Dan tak disadari ombak besar menghantam dan menelan mereka.  Raina yang kebetulan cukup mahir dalam berenang mampu menyelematkan diri, sedangkan Susan yang kurang pandai berenang terpaksa terbawa besarnya arus laut.  Hal tersebut membuat Andra panik dan menangis histeris.  Mulai dari saat itulah, ia menjadi pendiam, menyepi dan introvert.

****

Aku dan ibu menghampiri ke depan lagi untuk menemani Andra dan Raina.  Walaupun tak ada respon yang begitu baik.  Raina tetap bersemangat bercerita tentang memori Indah bersama Andra dan temannya. Namun, aku melihatnya seolah-olah ia sedang bercerita sendirian.  Karena komunikasi yang terjadi hanya satu arah.  Aku berharap suatu saat nanti Andra bisa kembali seperti sedia kala.  Aku teringat apa yang diungkapkan James Mathiew Barrie bahwa jangan biarkan seorang yang bercinta bersedih.  Bahkan cinta yang terbalas pun memiliki pelanginya sendiri.  Semoga suatu saat nanti Andra mampu menemukan cintanya kembali yang mampu mengisi sebagian hatinya yang kosong.

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Dasar (SD). Tags: , .

Emmaku Pemerhati Pendidikan Menyemarakkan Pendidikan Positif


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: