Menyemarakkan Pendidikan Positif

8 November, 2016 at 10:36 am

Nurul YaqinOleh Nurul Yaqin SPdI
Guru MI Unggulan Daarul Fikri Cikarang Barat Bekasi Jawa Barat

 

 

Untuk menjadi lembaga unggul dan berprestasi, setiap lembaga pendidikan akan mengalami persaingan ketat dengan lembaga-lembaga lain. Selain mencapai target idealisme tujuan pendidikan, menjadi lembaga pendidikan terbaik juga harus bisa memberikan kepuasan bagi para pelanggan (Customer Satisfiction), yaitu orangtua. Sekolah harus mengupayakan pelayanan (service) terbaik bagi anak didik. Jika bertanya kepada orangtua apa yang paling mereka inginkan untuk anak-anaknya setelah lulus dari sekolah, jawabannya bisa dikategorikan menjadi dua bagian.

Pertama, kesejahteraan. Ini menjadi prioritas utama karena semua orangtua pasti menginginkan anaknya sejahtera dalam menempuh pendidikan. Kesejahteraan di sini meliputi, kebahagiaan, kepuasan, cinta, kesehatan, kebaikan, kerpercayaan, dan lain-lain. Kedua, kesuksesan. Selain kesejahteraan, orangtua juga pasti menginginkan anaknya menjadi orang yang sukses. Sederhananya, orang tua menginginkan anaknya mudah dalam mencari pekerjaan yang layak di masa yang akan datang.

Kedua jawaban orangtua di atas saling tumpang-tindih. Tidak ada orangtua yang hanya mengingingkan salah satu dari keduanya. Setiap orangtua menginginkan anaknya memperoleh kesejahteraan dan kesuksesan dari suatu lembaga pendidikan. Yang menjadi pertanyaan, mungkinkah sekolah-sekolah mengintegrasikan keduanya?.

Psikologi Positif dan Pendidikan Positif

Ilmu psikologi sering kali dianggap hanya berkonsentrasi dengan hal-hal negatif dalam diri manusia seperti  mengatasi gangguan stres, trauma, depresi, dan fobia. Seakan-akan psikologi tidak pernah berintervensi dengan manusia normal dan sehat. Benarkah demikian?

Stigma negatif tersebut telah terbantahkan. Sejak tahun 1998, Prof. Martin Seligman yang menjabat sebagai direktur APA (America Psychology Association), mengemukakan konsep anyar dalam dunia psikologi yang disebut dengan Positive Psychology (psikologi positif). Inti dari konsep tersebut adalah memanusiakan manusia untuk mencapai bahagia.

Lantas, apakah korelasi antara psikologi positif dengan pendidikan?. Lembaga pendidikan pasti mempunyai tujuan karakter yang akan dicapai peserta didik. Diantara karakter yang umum kita ketahui seperti disiplin (discipline), tekun (diligence), penanaman tanggung jawab (responsibility), hormat (respect), dan ketelitian (carefulness). Namun, ada karakter yang sampai saat ini belum tersentuh, dan juga sangat berpengaruh dalam pendidikan yaitu “kebahagiaan”.

Menurut Prof. Seligman, ada tiga cara untuk bahagia. Pertama, have a pleasant life; memiliki hidup yang menyenangkan, mendapatkan kenikmatan sebanyak mungkin. Kedua, have a good life; memiliki hidup yang baik. Dalam istilah Plato Eudaimonia, yaitu yang baik dari semua benda; kemampuan yang memadai untuk hidup dengan baik, kesempurnaan dalam hal kebajikan, serta sumber daya yang cukup untuk makhluk hidup. Ketiga, have a meaningful life; memiliki hidup yang bermakna. Menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang dan makhluk lain. Merasa hidup memiliki makna yang lebih tinggi dan lebih abadi dibandingkan diri kita sendiri (Muhammad Alwi, 2014).

Jadi, pendidikan tidak hanya mengantarkan anak menjadi manusia sukses, tetapi juga harus merasa bahagia (well-being). Maksudnya, anak diajarkan dan diarahkan untuk menguasai dua keterampilan sekaligus yaitu keterampilan tradisional (cara belajar dan bersikap) dan keterampilan mencapai kebahagian. Inilah yang dinamakan “Pendidikan Positif”.

Penerapan Pendidikan Positif

Di tengah dekadensi moral para pelajar, seperti meningkatnya aksi kekerasan, meningkatnya perilaku yang merusak diri, kaburnya pedoman moral antara yang baik dan yang buruk, rendahnya rasa hormat kepada orangtua dan guru, dan timbulnya rasa saling curiga dan kebencian. Maka, pendidikan positif sangat mendesak untuk diaktualisasikan di sekolah.

Ada tiga cara untuk menerapkan pendidik positif di lingkungan sekolah. Pertama, meningkatkan muatan emosi positif bagi para siswa. Suasana hati yang positif menjadikan siswa lebih berfikir kreatif dan holistik. Sebaliknya, emosi negatif hanya bisa berfikir sempit, kritis, dan analistis.

Kedua, meningkatkan kekuatan diri siswa. Mendorong siswa agar lebih percaya kepada kemampuan sendiri (Self-Efficacy). Dengan mengetahui kemampuan (skill) yang dimiliki, setiap siswa bisa meningkatkan prestasi dalam hidupanya. Ketiga, melibatkan siswa untuk hidup berarti bagi sesama (anfa’uhum linnas). Menanamkan sikap saling membantu dalam masyarakat untuk kepentingan sosial sehingga siswa terhindar dari sikap individualistis dan tempramental.

Oleh karena itu, Pendidikan positif diharapkan dapat meningkatkan kepuasaan hidup, membantu anak didik untuk belajar lebih baik, serta menanamkan kebahagiaan kepada anak didik sehingga bisa menangkal hal-hal negatif yang disebabkan oleh pelarian depresi. ( Kontak person : 081939003467, Email: mutiarayaqin@gmail.com)

Entry filed under: Artikel Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI). Tags: , .

Teka Teki Si Pendiam Meneladani Perjuangan Rasulullah SAW


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: