Menyoal Kompetensi Guru

19 Oktober, 2016 at 7:10 am

Nurul YaqinOleh  Nurul Yaqin SPdI
Guru MI Unggulan Daarul Fikri Cikarang Barat Bekasi, Jabar.

 

 

Ketika masih mengenyam pendidikan di sebuah pondok pesantren, penulis pernah mendengar nasihat kyai yang bernada bahasa arab “Attoriiqotu ahammu minal maddah, wal mudarris ahammu minat toriqoh” artinya metode lebih penting dari pada materi, dan guru lebih penting dari pada metode. Intinya, bahwa metode dan materi yang bagus tanpa guru yang handal belum tentu bisa diterima baik oleh peserta didik. Namun, jika guru mempunyai kualitas dan kompetensi yang tinggi, metode dan materi dengan sendirinya akan menjadi baik, sehingga informasi yang disampaikan kepada peserta didik akan lebih mudah diterima. Ini mengindikasikan bahwa nahkoda utama dalam pendidikan adalah guru.

Apabila ditamsilkan dengan orang menanam pohon guru adalah penanamnya. Jika bibit pohon yang ditanam ingin tumbuh segar dan berbuah, tentu harus ditanam dengan cara yang benar, diberi pupuk yang bagus, dan disiram tepat waktu. Begitu juga dengan seorang guru, jika dia menginginkan anak didiknya menjadi orang yang sukses tentu harus dibimbing, dididik, diajarkan dengan cara yang tepat dan benar.

Menjadi guru bukan karena trend, bukan karena terlanjur menjadi guru, apalagi karena hanya tuntutan pekerjaan. Bukan karena ingin dipuji, bukan pula karena kebutuhan numpang urip (menumpang hidup). Menjadi guru harus berasal dari panggilan hati. Jika ada inner voice (panggilan dari dalam), maka kita akan benar-benar menikmati segala bentuk profesi, termasuk menjadi guru.

Jika profesi guru berangkat dari niat yang kurang benar maka akan menimbulkan pengaruh buruk (bad effect) bagi anak didik. Guru hanya mengajar ala kadarnya, yang penting materi tuntas, dan mengisi kehadiran. Tidak ada ghirah (semangat) untuk pengembangan dirinya. Akibatnya, pembelajaran terasa hambar, guru tampak menakutkan, dan ruang kelas terlihat menyeramkan. Sehingga anak didik enggan untuk belajar dan pergi ke sekolah. Jika demikian, guru telah sukses menjadi  seorang perampok yang telah merampas hak-hak anak dalam belajar dan memperoleh pendidikan yang layak.

Rendahnya Kualitas Guru

Barang kali kita pernah mendengar tragedi bom atom yang menimpa kota besar Hirosima dan Nagasaki pada tahun 1945. Sehingga Jepang menyerah tanpa syarat pada Perang Dunia II (1942-1945). Kaisar Hirohito kala itu dengan kepanikannya bukan bertanya berapa banyak bangunan yang masih kokoh, bukan berapa banyak tentara yang masih hidup, tapi dia melontarkan pertanyaan, berapa guru yang masih hidup?.

Tentu sang kaisar paham bahwa tentara dan bangunan-bangunan merupakan hal sangat urgent bagi stabilitas negaranya. Karena tentara yang akan menjaga negara Jepang dari serangan musuh. Begitu juga dengan bangunan-bangunan akan sangat menentukan ekonomi dan kehidupan masyarakat Jepang ketika itu, seperti rumah, perusahaan, rumah sakit dan lain-lain. Tapi, dia lebih memikirkan nasib jepang di masa yang akan datang. Masa depan Jepang ada di tangan generasi muda. Dan nasib generasi muda akan ditentukan oleh jumlah guru yang masih hidup kala itu. Jadi jelas guru adalah manusia-manusia hebat yang selalu diharapkan kehadirannya.

Namun, menengok kualitas guru kita saat ini masih saja memprihatinkan. Berdasarkan pemetaan pendidikan global, Indonesai menempati peringkat ke 40 (peringkat terakhir dari 40 negara). Sedangkan menurut penelitian literasi sains internasional, Indonesia menempati peringkat 40 dari 42 negara. Padahal tingkat melek masyarakat Indonesia sudah cukup tinggi yaitu 94 % dan angka buta huruf hanya 6 %. Bahkan berdasarkan hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) tahun 2012 nilai rata-rata guru di seluruh Indonesia tidak mencapai 50 atau separuh dari skor maksimal kompetensi guru sebesar 100. (Suara Pembaruan, 26/03/2015)

Menurut data kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2012, hasil uji kompetensi awal (UKA) guru sebelum mendapat predikat profesional diperoleh gambaran, bahwa nilai rata-rata nasional adalah 42,25 untuk skala 0-100. Artinya, kompetensi guru Indonesia masih cukup jauh di bawah angka 50, atau kurang dari separuh dari angka ideal. Nilai tertinggi adalah 97,0 dan nilai terendah adalah 1,0. Jumlah guru terbanyak sekitar 80-90 ribu orang terdapat pada interval nilai 35-40.

 Standar Guru Berkualitas

Menjadi sesuatu yang sedikit itu memang sulit. Begitu pun menjadi guru yang berkualitas. guru berkualitas dalam skala mayoritas memang jarang kita temukan saat ini. Standar guru berkualitas bukan hanya mereka yang menyandang gelar PNS, bukan juga yang sudah mengajar bertahun-tahun.

Dalam Undang-Undang 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pasal 10 dan peraturan pemerintah no. 19 tahun 2005 tentang standar pendidikan nasional pasal 28 disebutkan bahwa guru yang berkualitas harus memiliki empat kompetensi. Pertama, Kompetesni Pedagogik yaitu kemampuan dalam mengelola proses pembelajaran, membuat perencanaan pembelajaran, dan penilaian.

Kedua, Kompetensi Profesional yaitu kemampuan dalam memahami secara luas dan mendalam bahan ajar (materi) yang akan diajarkan. Kompetensi profesional mengharuskan guru memiliki pengetahuan yang luas dan dalam tentang subject matter (bidang studi) yang akan diajarkan serta penguasaan metodologi yaitu menguasai konsep teoritik, atau pun memilih metode yang tepat dan mampu menggunakannya dalam proses belajar-mengajar (Arikunto, 1993).

Ketiga, kompetensi kepribadian yaitu guru harus memiliki sikap tegas, berkharisma atau berwibawa, stabil, bersikap arif, dan menjadi uswah hasanah (teladan yang baik) bagi anak didiknya. Keempat, kompetensi sosial yaitu kemampuan guru dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan peserta didik, tenaga kependidikan, wali murid, dan masyarakat sekitar.

Jika empat kompetensi di atas telah melekat pada seorang guru, maka pantaslah guru tersebut menyandang guru berkualitas dan profesional. Maka dari itu, guru harus sadar betul akan kompetensi yang harus dimilikinya. Jangan sampai berkata tidak tahu apalagi hanya puras-pura tahu. (Kontak person 081939003467. Email: mutiarayaqin@gmail.com)

Entry filed under: Artikel Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI), Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Hari Santri Nasional, Hari Kebangkitan Kaum Santri Emmaku Pemerhati Pendidikan


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: