Hari Santri Nasional, Hari Kebangkitan Kaum Santri

19 Oktober, 2016 at 7:06 am

Oleh Abdurrahman
Abdurrahman, Mahasiswa Doktoral Semester 4 UIN Malang

Pertempuran pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya menandai kegigihan masyarakat Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Ini merupakan perang pertama sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Ultimatum Mayjen Mansergh setelah tewasnya Brigjen Mallaby pada tanggal 30 Oktober tidak membuat rakyat Surabaya ketakutan. Justru sebaliknya, mereka lebih memilih mati sebagai pejuang kemerdekaan dari pada hidup di bawah rongrongan bangsa asing. Masyarakat Surabaya tetap melawan sampai tetes darah terakhir. Pertempuran yang sangat sengit oleh Arek-Arek Suroboyo itu kini dikenal sebagai Hari Pahlawan.

 

Meletusnya peperangan pada tanggal 10 November 1945 tidak terlepas dari Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari kepada tokoh pemuda Surabaya saat itu, yakni Bung Tomo. Bahkan, KH. Hasyim Asy’ari dan beberapa ulama’ lainnya menyeru kepada santri-santrinya untuk ikut andil dalam pertempuran di Surabaya yang dikomandoi langsung oleh Bung Tomo. Para santri itu kemudian melebur bersama masyarakat Surabaya ataupun yang tinggal di Surabaya. Intinya, dalam pertempuran yang dahsyat itu tidak hanya terdiri oleh masyarakat asli Surabaya ataupun santri saja, tetapi seluruh masyarakat yang tinggal di Surabaya saat itu, seperti orang-orang Maluku, Sulawesi, Bali, Sumatera, Madura dan sebagainya.

 

Sebab itu, wajar kalau beberapa kalangan tertentu tidak setuju diadakannya peringatan Hari Santri Nasional. Dalam konteks ke-Indonesiaan, sebagai Negara yang majemuk, hal ini dianggap sebagai bentuk pemetakan antar golongan. Dimana dalam pertempuran di Surabaya itu bukan hanya santri yang turun ke medan pertempuran. Bahkan bukan hanya orang Islam saja, melainkan semua lapisan masyarakat yang didalamnya juga ada orang-orang yang beragama Kristen, Hindu maupun Buddha. Begitupun juga dengan etnis yang ada saat itu, tidak semua orang pribumi Indonesia ataupun masyarakat asli Surabaya. Melainkan orang-orang Tionghoa dan orang-orang Arab juga ikut andil dalam pertempuran 10 November 1945 itu. Meskipun pada awalnya kebanyakan dari mereka adalah pedagang yang telah lama merantau ke Nusantara untuk mencari kehidupan baru. Meski sebagai minoritas, namun mereka juga tidak dapat dipinggirkan begitu saja dalam catatan sejarah.

 

Selain itu, sebagian lagi beranggapan bahwa diadakannya peringatan Hari Santri Nasional ini tidak terlepas dari unsur politik. Hal ini bisa diperhatikan dari sambutan ketua umum PBNU, Prof. DR. KH. Said Aqil Siradj tahun lalu pada acara kirab peringatan Hari Santri Nasional, bahwa Presiden Joko Widodo berjanji, kalau beliau terpilih menjadi presiden berencana akan mengadakan peringatan Hari Santri. Pernyataan inilah yang kemudian memantik rasa empati dari kalangan ulama’, kyai, santri dan umat Islam pada umumnya sebagai awal kebangkitan umat Islam. NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia sangat antusias menyikapi niat baik Presiden Joko Widodo tersebut. Lahirnya NU tidak terlepas dari peran ulama’, kyai dan pemuka agama Islam yang hampir semuanya pernah mengenyam pendidikan pesantren, sehingga dikatakan santri. Walaupun sebenarnya tanpa diadakan peringatan Hari Santri Nasional-pun tidak akan mengurangi” pesona” santri ataupun pesantren yang telah banyak mencetak kader-kader Islam di Indonesia.

 

Karena itu, berangkat dari kekhawatiran diatas, beberapa kalangan meminta pemerintah mengkaji lebih matang lagi terkait Hari Santri Nasional. Bahkan, jauh sebelum peringatan Hari Santri Nasional dilaksanakan tahun lalu, ketua umum Muhammadiyah Prof. DR. Din Samsuddin telah melayangkan surat resmi tentang pembatalan Hari Santri. Penolakan itu bukan tanpa alasan. Ketua umum ormas Islam tertua di Indonesia itu menilai bahwa peringatan hari santri akan memunculkan dikotomi dalam masyarakat antara santri dan bukan santri. Selain itu juga akan menimbulkan sekat-sekat sosial, melemahkan integrasi nasional dan membangkitkan kembali sentimen keagamaan yang selama ini telah mencair.

 

Kontribusi Santri Dalam Kemajuan Bangsa Indonesia

Terlepas dari pro dan kontra mengenai Hari Santri Nasional, tidak bisa dipungkiri bahwa peran santri, atau lulusan pesantren amatlah besar terhadap kemajuan bangsa Indonesia ini. Kita bisa saksikan, sejak dulu hingga hari ini, peran santri dalam mengisi sendi-sendi kehidupan bangsa ini tidak terbantahkan. Baik dalam bidang sosial, seni-budaya, pendidikan, hukum maupun politik praktis. Lulusan pesantren tidak hanya bisa mengaji dan berceramah saja. Mereka bisa menjadi guru, dosen, polisi, dokter, bupati, walikota, gubernur bahkan menjadi presiden (KH. Abdurrahman Wahid, pesiden ke-4 RI). Keberadaan santri dan lulusan pesantren sudah menjadi bagian terpenting dalam mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia.

Namun demikian, apapun penilaian terhadap peringatan Hari Santri Nasional ini tetaplah dianggap sebagai mementum kebangkitan santri. Menyandang predikat “santri” bukanlah perkara yang mudah. Karena dalam diri santri terdapat nilai-nilai religius yang menjadi tolak ukur kesalehan sesorang. Selain itu, komunitas santri selalu berkomitmen untuk menjaga keutuhan bangsa dan keutuhan NKRI. Dalam praktek keagamaan, santri tetap menjaga nilai-nilai kearifan lokal. Sejarah santri terhubung langsung dengan ulama’ yang dimulai sejak masa Walisongo yang kemudian tersambung dengan jaringan sanad, hubungan ilmu pengetahuan. Sebab jika seorang santri membuat sebuah kesalahan, melakukan tindak kriminal dan perilaku buruk lainnya, jelas akan berpengaruh besar terhadap asumsi masyarakat terhadap pesantrennya yang telah melahirkannya.

Momentun Hari Santri Nasional juga sebagai penegasan terhadap Indonesia sebagai Negara yang demokratis dan religius. Peran historis kaum santri dalam menjaga keutuhan NKRI begabung dengan elemen bangsa untuk melawan penjajah, menyusun kekuatan di daerah-daerah terpencil, mengatur strategi, dan mengajarkan tentang arti pentingnya sebuah kemerdekaan. Hari Santri Nasional seyogyanya diartiakan secara luas. Bukan hanya miliki santri dan umat Islam semata. Namun juga untuk seluruh rakyat Indonesia. Meneladani semangat jihad ke-Indonesiaan para pendahulu bangsa ini, semangat cinta tanah air dan semangat untuk berkorban demi bangsa dan Negara. Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari berhasil memberi kekuatan dan semangat pada umat Islam saat itu. Dengan begitu, semangat nasionalisme dan patriotisme tertanam kuat dalam diri santri.

 

Kini, setelah 71 tahun merdeka, perjuangan santri mengangkat senjata melawan kebengisan penjajah sudah tidak ada lagi. Meski demikian, bukan berarti kaum santri sudah tidak perlu melakukan jihad. Jusrtu, jihad kaum santri saat ini semakin berat karena tuntutan zaman yang mengharuskan santri berjuang lebih giat untuk melawan dekandensi moral, budaya asing yang tidak sesuai dengan falsafat Negara Indonesia, krisis kepemimpinan ataupun penegakan hukum yang runcing kebawah namun tumpul keatas. Perjuangan santri kali ini lebih berat karena harus melawan bangsanya sendiri yang telah dirasuki paham-paham liberalisme, radikalisme, dan penistaan terhadap agama yang berpotensi memecah kesatuan NKRI. Masih segar dalam ingatan, bagaimana seorang calon gubernur DKI Jakarta, Ahok yang begitu mudahnya mengatakan agar masyarakat jangan dibodohi oleh surat Al-Maidah ayat 51. Hal itu semakin diperburuk oleh pembelaan Nusron Wahid (politisi muda dari partai Golkar/ salah satu kepala BNP2TKI) terhadap Ahok tentang memahami tafsir Al-Qur’an.

Jadi, tantangan kaum santri kedepan jelas akan semakin berat. Karena itu, segala sesuatunya harus disiapkan secara matang. Selain pengetahuan keagamaan yang memang menjadi subtansi dari filosofi seorang santri, kaum santri juga harus membekali diri dengan kemampuan dalam bidang-bidang tertentu yang sesuai dengan tuntunan zaman. Seperti dalam bidang teknologi-informasi, ekonomi, dan merespon setiap perubahan dalam masyarakat. Kini saatnya santri berbicara pada level yang lebih tinggi. Sebagai tindak lanjut dari peringatan Hari Santri Nasional pemerintah dan santri harus bersinergi mendorong komunitas santri ke poros peradaban Indonesia yang lebih baik. Santri harus menjadi agen perubahan, berada di garda paling depan memberi kontribusi kongkret dalam membela NKRI.

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , , .

Andai Sekolah Seunik Gadget Menyoal Kompetensi Guru


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: