Emmaku Pemerhati Pendidikan

19 Oktober, 2016 at 7:14 am

moh-ramliOleh Moh Ramli
Mahasiswa Universitas Pesantren Darul Ulum (UNIPDU) Jombang

 

 

Saya terlahir dari seorang nelayan sederhana, tempatnya di ujung timur pulau Madura, pulau indah dengan dedaunan yang hijau dipinggiran jalannya, pulau yang diciptakan tuhan dengan segumpal nurnya. Pulau dimana saya belajar akan kedamaian hidup. Ya itulah pulau Giligenting. pulau dimana masyarakatnya bisa di katakan tidak ada yang miskin (makmur).

namun disayangkan pulau saya ini terbilang masih rendah angka meminat pendidikan, Pulau dimana banyak sekali orang perantau, khususnya merantau ke ibu kota, namun tidak dengan Emma, dia tidak mau merantau ke mana-mana dia hanya ingin mengais rezekinya dikampung.

Perna suatu ketika rama (ayah) mengajak Emma untuk merantau ke ibu kota untuk ikut saudara yang memang banyak di situ. Tapi Emma menolaknya dengan alasan bekerja dikampung cukup untuk makan dan khususnya membiayai anak-anaknya sekolah, serta kedekatan dengan keluarga begitu penting katanya, saya adalah anak ke-2 dari 4 saudara, yang alhamdulillah dengan kerja keras Emma siang malam serta dukungan sekarang bisa menempuh jenjang S-1  di salah satu Universitas di jombang.

Emma memang bukan Sarjana, dia tidak perna sekolah sampai lulus, Emma dulu perna sekolah SD namun berhenti kelas 3 (tiga), tidak sama dengan rama yang lulusan SD.

Apa yang membedakan Emma dengan yang lain ? ya, cara berfikirnya, Emma memang bukan sarjana tapi Emma bisa berfikir bahwa pendidikan adalah nomer 1 (satu), dimana masyarakat pulau saya yang cenderung memaksa anak-anaknya untuk tidak melanjutkan sekolahya melainkan untuk merantau/bekerja. Pemikiran dimana pendidikan tidak menghasilkan apa-apa dan menghabiskan uang. Itu yang saat ini masih melanda pemikiran orang-orang pulau saya.

Saya masih ingat jelas, perna suatu ketika saya hampir lulus SMA, saya bermain ke rumah teman saya, orang tuanya bertanya kepada saya, habis ini kuliah apa kerja kejakarta ? kuliah, jawab saya, kalo anak saya suruh kerja kejakarta biar banyak uang, kalo kuliahkan hanya matade’ (Madura) uang. Saut orang tua temanku tadi. Saya  hanya balas dengan senyum tipis saja.

Beda dengan pandangan Emma, Emma memandang bahwa pedidikan sangat penting bagi anak-anaknya dari pada bekerja masih usia muda untuk mencari kekayaan, bukan lantas emma melarang anaknya kaya, memang disaat ini dipulau saya, anak yang masih dibawah umur alias masih belum layak bekerja sudah banyak yang merantau. minset masyarakat pulau saya mengira dengan bekerja hingga kaya adalah suatu kesuksesan besar. Tanpa harus melanjutkan pendidikan dulu.

Dulu saat kakak saat kuliah perna meminta untuk sambil bekerja, namun tidak diizinkan, dengan alasan takut mengganggu studinya. Dan kakak saya saat ini sudah sarjana S-1 di Jakarta dan menjadi guru di sekolah Muhammadiya disana. Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri buat Emma.

Saat ini umur Emma bisa dikatakan sudah tua, karna sudah mempunyai cucu dari kakak saya. Namun dengan tekatnya dan semangatnya Emma masih belum berhenti bekerja setiap hari, setiap malam, mencari cercahan recehan dari laut. untuk terus menyekolahkan anak-anaknya.

Suatu ketika Emma perna bilang pada saya dan sampai saat ini masih saya ingat, anak-anak Emma tidak boleh bekerja seperti Emma, Emma ingin mengubah nasib anak-anaknya dengan pendidikan, bukan dengan warisan, kata Emma orang berpendidikan itu tidak akan susah hidupnya.

Emma memang bukan orang berpendidikan tinggi, namun dengan semangatnya Emma ingin mengubah nasib anak-anaknya untuk masah depan yang lebih cerah, dengan pendidikan.

Emmaku si pemerhati pendidikan.(Email: ramly_moh@yahoo.co.id”>ramly_moh@yahoo.co.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Menyoal Kompetensi Guru Teka Teki Si Pendiam


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: