Motivasi dan Hasil Belajar Deni Pembuatan Batik Tulis

11 Oktober, 2016 at 7:22 am

Oleh Suwandi
Guru SMP Negeri 1 Tegowanu, Grobogan, Jateng
Email: suwandi16@yahoo.com

Pengantar redaksi:
Artikel ini diangkat dari hasil penelitian berjudul UPAYA PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SENI BUDAYA MATERI PEMBUATAN BATIK TULIS  MENGGUNAKAN  MODEL PENDEKATAN PROJECT BASED LEARNING MELALUI LANGKAH 4  M DAN     5 P  SISWA KELAS VII F SMP NEGERI 1 TEGOWANU KABUPATEN GROBOGAN  SEMESTER GENAP TAHUN 2015 / 2016

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatkan motivasi dan nilai  hasil belajar Seni Budaya siswa kelas VII F SMP Negeri 1 Tegowanu Kabupaten  Grobogan materi batik tulis menggunakan model pembelajaran project based learning menggunakan langkah 4 M dan 5 P pada semester genap tahun pelajaran 2015 / 2016.

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh guru sekaligus sebagai peneliti  dalam setiap pertemuannya dibantu oleh satu orang pengamat. Subyek  penelitian tindakan ini adalah siswa  kelas VII F Negeri 1 Tegowanu Kabupaten Grobogan semester genap tahun pelajaran 2015 / 2016 dengan jumlah 38 orang yang terdiri atas 18 siswa laki –laki dan 20 siswa perempuan. Penelitian  dilakukan  dalam  dua siklus, tiap siklusnya  terdiri dari tiga pertemuan. Teknik pengumpulan datanya dilakukan melalui observasi, pemberian angket, pendokumentasian serta hasil belajar.

Hasil  penelitian  menunjukkan   adanya  peningkatan   hasil belajar Seni Budaya siswa kelas VII F Negeri 1 Tegowanu Kabupaten Grobogan setelah diadakan tindakan berupa pembelajaran dengan model Project Based Learning melalui langkah 4 M dan 5 P. Pembelajaran meliputi kegiatan persiapan guru dan siswa dalam memulai pembelajaran,  pengelompokan,  pembahasan  materi,  pelaksanaan pembelajaran melalui teori dan praktik,  penyimpulan materi dan penugasan serta persiapan pada materi berikutnya. Hasil observasi menunjukkan  banyaknya siswa yang termotivasi pada saat pembelajaran adalah 91,44 %. Hasil  belajar Seni Budaya membatik teknik tulis  menunjukkan  rata-rata penguasaan Praktik sebesar 80.00 dan banyaknya siswa yang tuntas dalam pembelajaran mencapai 97.37 %.

Dari data diatas, diketahui bahwa indikator  keberhasilan  telah  tercapai, sehingga  peneliti  menyimpulkan  bahwa (1) model pembelajaran project based learning melalui langkah 4 M dan 5 P dapat meningkatkan hasil belajar Seni Budaya siswa kelas SMP Negeri 1 Tegowanu materi batik tulis semester genap tahun pelajaran 2015/2016; dan (2) model pembelajaran project based learning dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Seni Budaya siswa kelas VII F SMP Negeri 1 Tegowanu materi batik tulis semester genap tahun pelajaran 2015/2016. Maka saran yang dapat kami sampaikan antara lain sebagai berikut: model pembelajaran Project Based Learning melalui langkah 4 M dan 5 P dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran Seni Budaya, para guru diharapkan dapat memperkaya penerapan beberapa model pembelajaran yang lain untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran Seni Budaya dan model pembelajaran project based learning juga dapat diterapkan pada mata pelajaran lain.

Kata kunci: Motivasi Belajar, Hasil  belajar,  Pembelajaran  Project  Based Learning.

PENDAHULUAN

        Latar Belakang Masalah

Perbaikan kualitas pendidikan sampai saat ini tidak akan pernah terhenti. Menurut Supriyanto ( 2007 : 9 ) menjelaskan bahwa tuntutan untuk penyesuaian dunia usaha juga harus di sesuaikan dengan kualitas pendidikan yang ada.

Tujuan pembelajaran Seni Budaya di Sekolah Menengah Pertama )atau SMP  sebagaimana yang diamanatkan dalam Permen No. 22 Tahun 2006 mengenai Standar Isi  adalah “agar siswa dapat memahami konsep dan pentingnya seni budaya, menampilkan sikap apresiatif terhadap seni budaya, menampilkan kreativitas melalui seni budaya, menampilkan peran serta dalam seni budaya dalam tingkat lokal regional, maupun global. Pendidikan Seni sebagai aesthetic needs memiliki fungsi yang esensial  dan unik, sehingga mata pelajaran ini tidak dapat digantikan dengan mata pelajaran lain. Berdasarkan berbagai kajian dan penelitian, baik secara filosofis, psikologis maupun sosiologis ditemukan bahwa pendidikan seni memiliki keunikan peran atau nilai strategis dalam pendidikan sesuai perubahan dan dinamika masyarakat.

Dalam dunia pendidikan, Seni Budaya dijadikan sebagai salah satu bidang studi yang menduduki peranan penting. Hal ini ditunjukkan dengan kajian etika dan estetika, di mana tidak dimiliki oleh karakteristik mata pelajaran lain. Mata Pelajaran Seni Budaya diberikan pada semua jenjang pendidikan dari pendidikan dasar sampal pada tingkat perguruan tinggi.

Sebagai perwujudan pencapaian tujuan pembelajaran Seni Budaya, belajar merupakan proses aktif dan kreatif yang memerlukan dorongan dan bimbingan dalam penguasaan hasil belajar siswa. Kenyataan di lapangan pada saat ini, meskipun Seni Budaya merupakan pengalaman estetika dasar yang erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari, namun pelajaran yang  paling tidak disenangi bagi siswa, karena Seni Budaya bagi sebagian siswa dianggap sebagai pelajaran yang sulit dan rumit, sehingga membutuhkan proses yang sangat panjang, dan belum menjamin untuk memiliki kemampuan yang maksimal dalam mempelajari seni budaya. Dengan Kata lain siswa dalam pengetahuan dasar seni budaya masih kurang. Oleh karena itu, ketidakmampuan sering menimbulkan kejenuhan dan kesulitan belajar terutama di dalam menganalisis secara sederhana untuk memecahkan masalah dalam bentuk tugas praktik. Akibatiya prestasi belajar siswa cenderung lebih rendah dengan mata pelajaran lainnya. Sebagai suatu contoh materi pembelajaran Seni Budaya dalam materi seni rupa sub materi batik tulis, sangat sulit dan sangat menghabiskan waktu, tenaga, finansial, dan pikiran.

Bertolak dari kenyataan di atas, maka dapat dikatakan salah satu penyebab rendahnya prestasi belajar Seni Budaya ( seni rupa ) materi batik tulis,  adalah adanya pemilihan metode pembelajaran yang kurang memberikan pernberdayaan dari potensi siswa dan karakteristik bidang studi itu sendiri, dalam kegiatan pembelajaran lebih terpusat pada guru sehingga pembelajaran kurang bermakna yang akhirnya tuiuan belajar belum optimal.

Salah satu bidang garapan pembelajaran Seni Budaya yang memegang peranan penting ialah pengetahuan konsep yang menunjuk pada pemahaman dasar dan keterampilan menunjuk pada sesuatu yang dilakukan oleh siswa. Suatu jenis keterampilan Seni Budaya adalah proses berkreasi.  Keterampilan ini dapat dilihat dari kinerja siswa yang dapat berkembang dan ditingkatkan melalui pengerjaan tugas

Berdasarkan analisis konseptual dan kondisi pendidikan Khususnya Seni Rupa sub materi batik tulis di Sekolah Pertama ( SMP ), ternyata guru dalam keterampilan memilih model dan metode belum dapat mengembangkan iklim pembelajaran yang kondusif bagi siswa untuk belajar. Hal ini dikarenakan model pembelajaran termasuk juga metode pernbelajaran yang digunakan kurang tepat dan guru terbiasa dengan menggunakan strategi ekspositorik pembelajaran secara klasikal. Pada dasarnya siswa, mempunyai kemampuan dan cara belajar yang berbeda .Dalam pembelajaran klasikal guru memperlakukan siswa dengan cara yang sama, sehingga perbedaan kemampuan dan cara belajar siswa kurang mendapat perhatian dari guru. Pembelajaran secara klasikal memang perlu dilakukan dengan siswa dan menyadari bahwa tidak semua kebutuhannya dapat dipenuhi, namun harus dicari afternatif cara lain agar siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan dan cara yang dipilihnya.

Dalam proses belajar mengajar guru harus memilih strategi agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu strategi itu harus mengetahui teknik-teknik penyajian yang disebut pembelajaran. Pembelajaran hendaknya diupayakan oleh pendidik secara sistematik untuk menciptakan kondisi-kondisi agar peserta didik melakukan kegiatan belajar”. Metode adalah cara kerja yang konsisten untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.

Banyak metode yang dikenal misalnya : metode Ceramah, Penugasan, Tanya Jawab, Diskusi, Demonstrasi, Bermain Peran, Eksperimen, Widya Wisata, Latihan, Simulasi, Kerja Project Based Learning dan simulasi. Guru profesional harus dapat memilih model pembelajaran dan metode yang tepat untuk pembelajaran khususnya Seni budaya  dengan ketepatan metode yang diterapkan oleh guru, diharapkan aktivitas guru dan siswa lebih aktif sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai secara optimal.

Salah satu model dan metode pembelajaran Seni Budaya  yang dalam kegiatannya cenderung melakukan banyak tugas praktik, maka model pembelajaran yang paling tepat, adalah menggunakan model Project Based Learning           ( Project BL ) suatu model pembelajaran yang di pandang tepat karena memungkinkan siswa dapat selalu belajar dan bekerja atau mengerjakan tugas praktik  secara Project Based Learning untuk menyelesaikan tugasnya dalam mencari pengalaman belajarnya.

Model pembelajaran Project Based Learning dalam proses pembelajaran Seni Budaya akan dapat memberikan pengalaman yang bermakna bagi siswa kelas VII F dalam proses belajar, bila siswa dalam memahami berbagai konsep dan tentang keterampilan atau psikomotorik.

Raka Joni dan Unen (1984: 11) menjelaskan “pesan terpenting dari metode Kerja Project Based Learning adalah pemecahan masalah melalui proses Project Based Learning”. Johson dan Johson (1984: 10) menjelaskan “ada empat elemen dasar dalam pembelajaran koperatif yaitu (1) saling ketergantungan positif, (2) interaksi tatap muka (3) akuntabilitas individual, dan (4) keterampilan menjalin hubungan interpersonal”. Interaksi koperatif menuntut semua anggota dalam Kerja Project Based Learning dapat saling bertatap muka sehingga mereka dapat melakukan dialog tidak hanya dengan guru tetapi dengan sesama mercka. Interaksi semacam itu diharapkan dapat memungkinkan siswa menjadi sumber belajar bagi semuanya. Di dalam pembelajaran dengan penerapan metode Kerja Project Based Learning, siswa bukan hanya belajar dan menerima apa yang disapkan guru, melainkan bisa juga berinteraksi antara anggota yang satu dengan anggota yang lain dalam suatu kelompok guna menyelesaikan tugas-tugas belajar secara bersama-sama. Kegiatan Kerja Kelompok memungkinkan siswa terlibat aktif dalam belajar sehingga tanggung jawab siswa dalam belajar juga menjadi lebih besar. Bekerja di dalam kelompok memungkinkan siswa untuk membangun kebiasaan bekerja sama, tenggang rasa dan saling menghargai. Di samping itu sifat kepemimpinan dapat berkembang karena bekerja dalam kelompok memerlukan seorang pemimpin kelompok.

Metode pembelajaran yang diharapkan adalah pembelajaran yang terjadi adanya proses interaksi saling kerjasama, tukar informasi, pengalaman, mendapatkan pemecahan secara lisan dengan tujuan saling bertatap muka bersama-sama. Oleh karena itu, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang “Peningkatan Motivasi dan Prestasi Belajar Seni Budaya Materi Batik Tulis Menggunakan Model Project Based Learning Melalui Langkah 4 M dan 5 P Siswa Kelas VII F SMP Negeri `1 Tegowanu Tahun Pembelajaran 2015/2016.”

 

       Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian-uraian latar belakang masalah di atas maka dapat diuraikan rumusan masalah sebagai berikut: Apakah model pembelajaran Project Based Learning melalui langkah 4 M dan 5 P dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar Seni Budaya Sub materi batik tulis siswa Kelas VII F SMP Negeri 1 Tegowanu Tahun Pembelajaran 2015/2016” ?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa penggunaan model Project Based Learning melalui langkah 4 M dan 5 P dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar Seni Budaya materi batik tulis siswa Kelas VII F SMP Negeri 1 Tegowanu  Tahun  Pembelajaran 2015/2016.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini sangat bermanfaat bagi guru sebagai peneliti, institusi maupun pendidikan secara umum, sebagai berikut :

  1. Bagi peneliti : Meningkatkan kepekaan guru dalam melakukan tindakan kelas yang tepat dalam pembelajaran sehingga pembelajaran mencapai tujuan yang diharapkan.
  2. Institusi : Meningkatkan mutu sekolah karena dengan meningkatnva mutu guru dan nilai siswa berarti mutu sekolah secara otomatis terjadi peningkatan.
  3. Pendidikan secara umum :
  4. Meningkatkan mutu pendidikan
  5. Tercapainya tujuan pendidikan nasional.

 

KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS

Konsep dan Hakekat Belajar serta Pembelajaran

Belajar pada prinsipnya adalah suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan ( Hamalik, 2008 : 28 ). Melihat dari keterangan tersebut,    perubahan  tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara siswa dengan sumber-sumber atau obyek belajar baik secara sengaja dirancang atau  tanpa sengaja dirancang. Kegiatan belajar tersebut dapat dihayati (dialami) oleh orang yang sedang belajar. Selain itu kegiatan belajar juga dapat di amati oleh orang lain. Belajar yang di hayati oleh seorang pebelajar (siswa) ada hubungannya dengan usaha pembelajaran, yang dilakukan oleh pembelajar (guru). Pada satu sisi, belajar yang di alami oleh pebelajar terkait dengan pertumbuhan jasmani yang siap berkembang. Pada sisi lain, kegiatan belajar yang juga berupa perkembangan mental tersebut juga didorong oleh tindakan pendidikan atau pembelajaran. Dengan kata lain, belajar ada kaitannya dengan usaha atau rekayasa pembelajar. Dari segi siswa, belajar yang dialaminya sesuai dengan pertumbuhan jasmani dan perkembangan mental, akan menghasilkan hasil belajar sebagai dampak pengiring, selanjutnya, dampak pengiring tersebut akan menghasilkan program belajar sendiri sebagai perwujudan emansipasi siswa menuju kemandirian. Dari segi guru, kegiatan belajar siswa merupakan akibat dari tindakan pendidikan atau pembelajaran. Proses belajar siswa tersebut menghasilkan perilaku yang dikehendaki, suatu hasil belajar sebagai dampak pengajaran.

Prinsip-prinsip Belajar

Menurut Hamalik ( 2008 : 27- 28 ) prinsip-prinsip belajar. Diantara prinsip-prinsip belajar yang penting berkenaan dengan :

  1. Pujian lebih efektif dari pada hukuman
  2. Semua siswa mempunyai kebutuhan psikologis yang bersifat dasar
  3. Motivasi diri lebih efektif dari pada motivasi luar
  4. Pengulangan belajar
  5. Tantangan semangat belajar
  6. Pemberian balikan dan penguatan belajar
  7. Adanya perbedaan individual dalam perilaku belajar
  8. Teknik dan proses pembelajaran yang bermacammacam lebih efektif untuk memelihara minat siswa.

Perhatian dapat memperkuat kegiatan belajar, menggiatkan perilaku untuk mencapai sasaran belajar. Perhatian berhubungan dengan motivasi sebagai tenaga penggerak belajar. Motivasi dapat bersifat internal atau eksternal, maupun intrinsik atau ekstrinsik.  Motivasi yang bersifat internal adalah motivasi yang datang dari diri sendiri. Motivasi yang bersifat eksternal adalah motivasi yang datang dari orang lain. Yang dimaksud dengan motivasi yang bersifat intrinsik adalah tenaga pendorong yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. Sebagai contoh, seorang siswa yang dengan sungguh-sungguh mempelajari matapelajaran disekolah karena ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya. Sedang motivasi ekstrinsik adalah tenaga pendorong yang ada di luar perbuatan yang dilakukannya tetapi menjadi penyertanya. Sebagai contoh, seorang siswa belajar sungguh-sungguh bukan disebabkan karena ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya tetapi didorong oleh keinginan untuk naik kelas atau mendapatkan ijazah. Naik kelas dan mendapatkan ijazah adalah penyerta dari keberhasilan belajar.  Dewasa ini para ahli memandang siswa adalah seorang individu yang aktif. Oleh karena itu, peran guru bukan sebagai satu-satunya pembelajar, tetapi sebagai pembimbing, fasilitator dan pengarah. Belajar memang bersifat individual, oleh karena itu belajar berarti suatu keterlibatan langsung atau pemerolehan pengalaman individual yang unik. Belajar tidak terjadi sekaligus, tetapi akan berlangsung penuh pengulangan berkali-kali, bersinambungan, tanpa henti. Belajar yang berarti bila bahan belajar tersebut menantang siswa. Belajar juga akan menjadi terarah bila ada balikan dan penguatan dari pembelajar. Betapapun pembelajaran yang telah direkayasa secara pedagogis oleh guru, hasil belajar akan terpengaruh oleh karakteristik psikis, kepribadian dan sifat-sifat individual pebelajar.

Motivasi Belajar

Siswa belajar karena didorong oleh kekuatan mentalnya. Kekuatan mental itu berupa keinginan, perhatian atau cita-cita. Kekuatan mental tersebut dapat tergolong rendah atau tinggi. Ada sebagian ahli psikologi pendidikan yang menyebut kekuatan mental yang mendorong terjadinya belajar tersebut sebagai motivasi belajar. Motivasi dipandang sebagai sebagai suatu proses dan dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku belajar ( Hamalik, 2008 : 158 ). Dalam motivasi terkandung adanya keinginan yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan perilaku pada individu belajar ). Sebagai kekuatan mental, motivasi dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu

Motivasi Intrinsik

Motivasi Intrinsik adalah motivasi yang tercakup di dalam situasi belajar dan menemui kebutuhan dan tujuan-tujuan siswa ( Hamalik, 2008 : 162 ).

Motivasi Ekstrinsik

Motivasi Ekstrinsik  adalah motivasi yang diperoleh dan disebabkan  dari luar situasi belajar ( Hamalik, 2008 :    163 ). Hal ini berbeda dengan motivasi intrinsik.  Sebagai ilustrasi seorang yang lapar akan tertarik pada makan dibanding belajar.  Untuk memperoleh makanan tersebut orang harus bekerja terlebih dahulu. Agar dapat bekerja dengan baik, orang harus belajar bekerja. “Bekerja dengan baik” merupakan motivasi sekunder. Bila orang bekerja dengan baik, maka ia akan memperoleh gaji berupa uang. Uang tersebut merupakan penguat motivasi sekunder. Uang merupakan penguat umum, agar orang bekerja dengan baik. Bila orang memiliki uang setelah ia bekerja dengan baik, maka ia dapat membeli makanan untuk menghilangkan rasa lapar. Sebagai contoh motivasi ekstrinsik adalah tingkatan hadiah, ijasah, angka kredit, pertentangan, dan lain-lain.

Model Project Based Learning

Metode proyek berasal dari gagasan John Dewey tentang konsep “Learning by doing” yaitu proses perolehan hasil belajar dengan mengerjakan tindakan-tindakan tertentu sesuai dengan tujuan (Grant, 2002). Kelas demokratis mengandung arti bahwa siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan proyek yang menarik dan pilihan siswa sendiri.

Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan siswa akan berkembang saat siswa menghadapi pengalaman baru yang memaksa untuk membangun dan memodifikasi pengetahuan awal. Vygotsky menyatakan bahwa perkembangan intelektual individu berhadapan dengan pengalaman baru dan menantang lalu berusaha untuk memecahkan masalah yang dimunculkan oleh pengalaman tersebut. Kedua pernyataan ahli tersebut didukung dengan teori konstruktivisme yang menekankan pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa dengan menggunakan pengalaman dan struktur kognitif yang sudah dimiliki (Wrigley, 2003).

Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning atau  Project BL) adalah metode pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Project based Learning yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata (Kemdikbud, 2013). Project Based Learning adalah pelajaran yang berpusat pada siswa untuk melakukan suatu investigasi yang mendalam terhadap suatu topik. Siswa secara konstruktif melakukan pendalaman  pembelajaran dengan pendekatan berbasis riset terhadap permasalahan dan pertanyaan yang berbobot, nyata, dan relevan (Grant, 2002).

Berdasarkan teori tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis proyek adalah pembelajaran yang menitikberatkan pada aktifitas siswa untuk dapat memahami suatu konsep dengan melakukan investigasi mendalam tentang suatu masalah dan menemukan solusi dengan pembuatan proyek.

Karakteristik Project Based Learning

Project based learning memiliki karakteristik yang membedakan model yang lain. Karakteristik tersebut, antara lain :

  1. Centrality
  2. Pada project based learning proyek menjadi pusat dalam pembelajaran.
  3. Driving question
  4. Project based learning difokuskan pada pertanyaan atau masalah yang mengarahkan siswa untuk mencari solusi dengan konsep atau prinsip ilmu pengetahuan yang sesuai.
  5. Constructive Investigation
  6. Pada project based learning, siswa membangun pengetahuannya dengan melakukan investigasi secara mandiri (guru sebagai fasilitator).
  7. Autonomy
  8. Project based learning menuntut student centered, siswa sebagai problem solver dari masalah yang dibahas.
  9. Realisme
  10. Kegiatan siswa difokuskan pada pekerjaan yang serupa dengan situasi yang sebenarnya. Aktifitas ini mengintegrasikan tugas otetik dan menghasilkan sikap profesional (Thomas, 2000).

Tujuan Project Based Learning

Setiap model pembelajaran pasti memiliki tujuan dalam penerapannya. Tujuan project based learning, antara lain : Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam pemecahan masalah proyek. Memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru dalam pembelajaran Membuat peserta didik lebih aktif dalam memecahkan masalah proyek yang kompleks dengan hasil produk nyata. Mengembangkan dan meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelola bahan atau alat untuk menyelesaikan tugas atau proyek Meningkatkan kolaborasi peserta didik khususnya pada PjBL yang bersifat kelompok

Langkah-langkah Project Based Learning

Langkah-langkah project based learning sebagaimana yang dikembangkan oleh The George Lucas Educational Foundation (2005) terdiri dari:

  1. Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question)

Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan kepada siswa dalam melakukan suatu aktivitas. Topik penugasan sesuai dengan dunia nyata yang relevan untuk siswa. dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam.

  1. Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project)

Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara guru dan siswa. Dengan demikian siswa diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.

  1. Menyusun Jadwal (Create a Schedule)
  2. Guru dan siswa secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain:
  3. membuat timeline (alokasi waktu) untuk menyelesaikan proyek,
  4. membuat deadline (batas waktu akhir) penyelesaian proyek,
  5. membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru,
  6. membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan
  7. meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara.
  8. Memonitor siswa dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project)
  9. Guru bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas siswa selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi siswa pada setiap proses. Dengan kata lain guru berperan menjadi mentor bagi aktivitas siswa. Agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting.
  10. Menguji Hasil (Assess the Outcome)
  11. Penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing- masing siswa, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai siswa, membantu guru dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
  12. fMengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience)
  13. Pada akhir pembelajaran, guru dan siswa melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu.

Kajian Batik Tulis

Batik Tulis adalah salah satu jenis hasil proses produksi batik yang teknis pembuatan motifnya langsung ditulis secara manual. Alat untuk menulisnya atau yang biasa disebut canting terbuat dari tembaga dengan gagang dari bambu. Ujung dari canting atau biasa disebut cucuk, mempunyai lubang yang bervariasi, sehingga bisa menentukan besar kecilnya motif. Sedangkan bak penampung canting disebut sebagai nyamplung. Nyamplung ini bisa berisi cairan malam atau pewarna, tergantung dari teknik batik yang akan digunakan. Sebtik konenarnya batik itu jenisnya banyak sekali yah seperti batik tulis, batik cap, batik pekalongan, batik jumputan, batik solo, batik lukis, ada juga batik tulis semi klasik, batik kontemporer, dan batik modern.

Menurut Irwan Tirta, Pengertian Batik adalah teknik menghias kain atau testil dengan menggunakan lilin dalam proses pencelupan warna, yang semua proses tersebut menggunakan tangan. Pengertian Batik menurut Santosa Doellah, Batik adalah sehelai kain yang dibuat secara tradisional dan terutama juga digunakan dalam matra tradisional, memiliki beragam corak hias dan pola tertentu yang pembuatannya menggunakan teknik celup rintang dengan lilin batik sebagai bahan perintang warna. Oleh karena itu, suatu kain dapat disebut batik apabila mengandung dua unsur pokok, yaitu jika memiliki teknik celup rintang yang menggunakan lilin sebagai perintang warna dan pola yang beragam hias khas batik.

Menurut Hamzuri, Pengertian Batik ialah lukisan atau gambar pada mori yang dibuat dengan menggunakan alat bernama canting. Orang yang melukis atau menggambar pada mori memakai canting disebut membatik. Membatik ini menghasilkan batik yang berupa macam-macam motif dan mempunyai sifat khusus yang dimiliki oleh batik itu sendiri.

Pengertian Batik menurut Afif Syakur adalah serentang warna yang meliputi proses pemalaman (lilin), pencelupan (pewarnaan) dan pelorotan (pemanasan), hingga menghasilkan motif yang halus yang semuanya ini memerlukan ketelitian yang tinggi.

Selain itu, banyak jenis kain tradisional Indonesia yang memiliki cara pemberian warna yang sama dengan pembuatan batik yaitu dengan pencelupan rintang. Perbedaannya, pada batik dipakai malam sebagai bahan perintang warna, sedangkan jenis-jenis kain tradisional digunakan berbagai jenis bahan lain sebagai bahan perintang warna. Adapun jenis-jenis kain yang cara pemberian warnanya serupa dengan pembuatan batik yaitu kain simbut (suku Baduy, Banten), kain Sarita dan kain Maa (suku Toraja, Sulawesi Selatan), Kain Tritik (Solo, Yogyakarta, Banjarmasin, Bali, Palembang) dan lain sebagainya.

Seni batik maupun cara pembuatannya sudah dikenal di Indonesia sejak zaman dulu. Namun mengenai asal mula batik masih menimbulkan perdebatan. Ada sebagian pihak yang menyetujui bahwa batik memang berasal dari Indonesia, tetapi ada juga pihak yang tidak menyetujuinya. Pihak yang tidak setuju dengan pendapat bahwa batik berasal dari Indonesia mengemukakan bahwa batik dibawa oleh nenek moyang kita ketika melakukan perpindahan penduduk atau mungkin juga diperkenalkan oleh nenek moyang kita pada kaum pendatang. Pendukung pendapat ini mengatakan bahwa batik sebenarnya berasal dari Mesir dan Persia. Itu sebabnya cara pembuatan dan penghiasan batik tidak hanya dikenal di Indonesia, akan tetapi ada juga di Thailand, Jepang, India, Srilangka dan Malaysia.

Sementara pihak yang setuju mengatakan bahwa batik di Indonesia adalah suatu bentuk kesenian yang berdiri sendiri dan tidak ada hubungannya dengan batik yang berkembang di negara lain. Cara pembuatan maupun corak-corak dan cara hiasan yang ada pada batik Indonesia tidak mempunyai kemiripan dengan cara pembuatan batik asing. Alat dan pola hiasan batik Indonesia benar-benar mencerminkan cipta, rasa dan karsa bangsa Indonesia. Jika pola tersebut berbentuk hiasan, maka hiasan tersebut merupakan hiasan yang terdapat di Indonesia.

Terlepas dari kedua pendapat tersebut, sesungguhnya batik memiliki latar belakang yang kuat dengan bangsa dan rakyat Indonesia dalam segala bidang dan bentuk kebudayaan serta kehidupan sehari-hari. Batik di Indonesia terus mengalami perubahan seiring dengan pengaruh dan perkembangan zaman. Pengaruh ini akan membawa konsekuensi yang sangat besar terhadap perkembangan motif dan pola yang dibuat pada batik. (http://www.pengertianpakar.com/2015/04/pengertian-batik-dan-jenis-jenis-atik.html, diunduh hari Senin 27 Juni 2016 pukul 13.30 WIB).

Jenis Jenis batik dapat digolongkan menjadi beberapa macam, adalah :

  1. Batik Tulis

Pengertian Batik Tulis adalah batik yang dianggap paling baik dan tradisional, yang proses pembuatannya melalui tahap-tahap persiapan, pemolaan, pembatikan, pewarnaan, pelorodan dan penyempurnaan. Pada batik tulis sangat sulit dijumpai pola ulang yang dikerjakan persis sama, pasti ada selintas perbedaan, contohnya : lengkungan garis atau sejumlah titik. Kekurangan tersebut merupakan kelebihan dari hasil pekerjaan tangan. Pada proses pembatikan sering terjadi gerakan spontan, tanpa dihitung atau diperhitungkan lebih rinci. Batik tulis dibuat masal dengan standar ketetapan yang sama dari faktor tangan manusia.

  1. Batik Modern

Batik Modern dibedakan menjadi Batik Cap, Batik Kombinasi dan Tekstil Motif Batik.

Pengertian Batik Cap adalah batik yang proses pembuatanya melalui tahap-tahap persiapan, pencapaan, pewarnaan, pelorodan dan penyempurnaan. Pelaksanaan pembuatan batik cap lebih mudah dan cepat. Kelemahan pada batik cap ialah motif yang dapat dibuat terbatas dan tidak dapat membuat motif-motif besar. Selain itu pada batik cap tidak terdapat seni coretan dan kehalusan motif yang dianggap menentukan motif batik.                               ( http://www.pengertianpakar.com/2015/04/pengertian-batik-dan-jenis-jenis-batik.html, diunduh hari Senin, 27 Juni 2016, pukul 13.30 WIB).

Menurut Gazalba dan Krisnawati ( 2005 : 34 – 35 ) pengertian Batik Kombinasi (tulis dan Cap) adalah batik yang dibuat dalam rangka mengurangi kelemahan-kelemahan yang terdapat pada produk batik cap, seperti motif besar dan seni coretan yang tidak dapat dihasilkan dengan tanga. Dalam proses pembuatan batik kombinasi ini memerlukan persiapan-persiapan yang rumit, terutama pada penggabungan motif yang ditulis dan motif capnya, sehingga efisiensinya rendah (hampir sama dengan batik tulis) dan nilai seni produknya disamakan dengan batik cap. Adapun proses pembuatannya melalui tahap persiapan, pemolaan (untuk motif besar), pembatikan (motif yang tidak dapat dicap), pecapaan, pewarnaan, pelorodan dan penyempurnaan. Tekstil motif batik ini tumbuh dalam rangka memenuhi kebutuhan batik yang cukup besar dan tidak dapat dipenuhi oleh industri batik yang biasa. Tekstil motif batik ini diproduksi oleh industri tekstil dengan mempergunakan motif batik sebagai desain testilnya. Proses produksinya dilakukan dengan sistem printing, sehingga produk tersebut dikenal sebagai batik printing dan dapat diproduksi secara besar-besaran. Namun demikian ciri-ciri khas yang mendukung identitas batik tradisional tidak terdapat pada batik printing, tetapi harganya relatif murah sehingga dapat dijangkau semua lapisan masyarakat yang memerlukannya.

Media batik tulis

  1. Alat

dan bahan yang digunakan untuk membuat batik ada beberapa jenis, masing-masing alat dan bahan memiliki fungsi dan tujuan sendiri. Untuk membuat batik diperlukan beberapa peralatan dan bahan. Pada artikel ini akan diuraikan jenis peralatan dan bahan serta fungsi alat tersebut dalam membuat batik.

Peralatan Untuk Membuat BatikPeralatan sederhana untuk belajar membuat batik

Jenis alat untuk membatik antara lain :

  1. Canting tulis: untuk membatik di atas kain
  2. Canting  cap dan meja cap: untuk membuat motif cap di atas kain
  3. Wajan dan kompor: untuk mencairkan lilin batik
  4. Stik besi: untuk menghilangkan tetesan lilin
  5. Timbangan: untuk menimbang warna
  6. Dingklik: untuk duduk pada waktu membatik tulis
  7. Gawangan: untuk membentangkan kain/mori batik
  8. Meja pola: untuk memindahkan gambar dari kertas ke kain
  9. Gelas ukur : Untuk mengukur kebutuhan air/larutan.
  10. Sarung tangan : Untuk pelindung tangan pada saat mewarna kain.
  11. Mangkok, gelas dan sendok : Untuk  tempat melarutkan warna batik
  12. Ember : Untuk tempat mewarna kain batik
  13. Gunting : untuk memotong kain
  14. Penghapus, pensil, spidol, rautan, dan penggaris : untuk menggambar pola
  15. Meteran: untuk mengukur panjang atau lebar kain
  16. Scrap: untuk membersihkan lilin yang menetes di lantai.
  17. Seterika dan meja seterika: untuk menghaluskan kain
  18. Kompor pompa dan kompresor: untuk merebus air lorodan
  19. Kenceng: untuk tempat melorod kain batik.
  20. Wajan cap (Loyang, serak kasar, serak halus, kain blaco kasar, kain blaco tipis): untuk mencairkan lilin batik cap.
  21. Rak kompor: untuk tempat kompor dan wajan cap pada waktu membatik cap
  22. Ceret dan kompor minyak: untuk merebus air
  23. Jemuran: untuk menjemur kain batik.
  24. Kuas: untuk mencolet kain batik.
  25. Baju kerja: untuk kesehatan dan keselamatan kerja
  1. Bahan

Bahan untuk membuat batik tulis ada beberapa jenis, masing-masing memiliki jenis dan fungsi sendiri. antara lain:

  1. Lilin klowong: untuk membatik (Klowong/garis motif)
  2. Lilin Tembok: untuk menembok/menutup bagian yang tidak  dikehendaki berwarna
  3. Parafin: untuk membuat motif pecahan pada kain batik
  4. Soda Abu: untuk obat bantu melorod
  5. TRO: untuk pembasah
  6. Kostik: obat bantu zat warna napthol
  7. Natrium nitrit: untuk obat bantu zat warna indigosol
  8. HCl: untuk obat bantu pembangkit warna indigosol
  9. Garam biru BB: pembangkit zat warna napthol
  10. Garam kuning GC: pembangkit zat warna napthol
  11. Garam orange GC: pembangkit  zat warna napthol
  12. Indigosol violet B: untuk  zat warna batik
  13. Indigosol kuning IGK: zat warna untuk batik
  14. Napthol AS : sebagai warna dasar
  15. Napthol AS- 0L : sebagai warna dasar
  16. Napthol AS- BS: sebagai warna dasar
  17. Napthol ASG: sebagai warna dasar
  18. Kertas roti: untuk menggambar pola batik.
  19. Selendang sutera: bahan untuk batik
  20. Selendang katun: bahan untuk batik
  21. Kain sutera: bahan untuk batik
  22. Mori primisima : bahan untuk batik
  23. Blaco dan santung: bahan untuk batik
  24. Kain untuk kaos: bahan  untuk batik
  25. Kaos  (T-shirt): bahan untuk batik
  26. Waterglass: untuk obat bantu nglorod

Diatas telah disebutkana beberapa jenis peralatan dan bahan untuk membuat kain batik tulis maupun batik cap. Peralatan dan bahan untuk membuat batik diatas digunakan dapat diperoleh pada toko perlengkapan batik.

(sumber : http://pustakamateri.web.id/alat-dan-bahan-untuk-membuat-batik/ diunduh hari Senin, 27 Juni 2016 pukul 13.00 WIB ).

Langkah-langkah membuat batik tulis adalah :

  1. Pencucian kain dari kanji
  2. Pengeringan kain
  3. Membuat desain
  4. Pencantingan
  5. Pewarnaan motif
  6. Pewarnaan dasar
  7. Penguncian warna
  8. Pembersihan kain dari waterglass
  9. Pengklorotan malam
  10. Pencucian kain
  11. Pengeringan kain tidak kena sinar matahari
  12. Setrika kain
  13. Pengemasan kain
  14. Pemasaran kain

Dari penjelasan tentang langkah-langkah membatik tulis, dapat peneliti simpulkan bahwa langkah membatik tulis adalah 4M dan 5 P, adalah : 1. Mencuci kain, mendesain kain, mencanting malam, mewarnai kain. Sedangkan 5 P, adalah : 1. Penguncian warna,  penglorotan malam, pembersihan malam, dan pembilasan kain, pengemasan kain, dan kemudian dilanjutkan pameran hasil karya.

Penelitian Yang  Relevan

Merujuk pada hasil penelitian terdahulu dari penelitian Suwandi tentang penelitian peningkatan hasil desain batik tulis di SMP Negeri 1 Tegowanu tahun 2015  secara kelompok, yang menyimpulkan bahwa dengan menggunakan teknik traccing, dapat meningkatkan kreativitas siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Tegowanu tahun 2014 / 2015.          

  1. Kerangka Berfikir
MODEL PEMBELAJARAN KONVENSIONAL KBM didominasi oleh guru, siswa pasif, KKM rendah tidak tercapai
MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING Langkah 4 M dan 5 P
MODEL PEMBELAJARAN MODERN,  KBM didominasi oleh siswa,  siswa aktif,  KKM tterlampaui

KONDISI AWAL

TINDAKAN 2 SIKLUS ATAU LEBIH
KETUNTASAN PEMBELAJARAN SENI BUDAYA BATIK TULIS TERCAPAI

KOMDISI AKHIR

Hipotesis Tindakan       

Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah terdapat peningkatan motivasi dan hasil belajar Seni Budaya siswa kelas VII F SMP Negeri 1 Tegowanu materi batik tulis menggunakan model pembelajaran Project Based Learning melalui langkah 4 M dan 5 P pada semester genap tahun pelajaran 2015 / 2016.

 

METODOLOGI PENELITIAN

Setting Penelitian

Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan di kelas  SMP Negeri 1 Tegowanu, yang berlokasi di Jl. Jenderal Sudirman No. 4 Tegowanu, Grobogan.

 

Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada semester genap

tahun pelajaran 2015 / 2016 selama 6 bulan

yaitu antara bulan Januarii- Juni  2016.

Subjek Penelitian

Subyek penelitian tindakan ini adalah siswa  VII F SMP Negeri 1 Tegowanu Kabupaten Grobogan semester genap tahun pelajaran 2015 / 2016 dengan jumlah 38’’ orang yang terdiri atas 18 siswa laki – laki dan 20 siswa perempuan.

Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini, adalah penelitian tindakan kelas ( Classroom Action research ).  ) Menurut Mulyasa ( 2007 : 13 ) adalah upaya untuk mencermati kegiatan belajar kelompok peserta didik dengan memberikan sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan. Sedangkan menurut Danim ( 2002 :   27 ) bahwa penelitian ini dirancang dan diarahkan untuk memecahkan  suatu masalah tertentu.   Arikunto ( 2009 :  58 ) menjelskan bahwa penelitian pada dasarnya untuk meningkatkan mutu belajar siswa serta aktivitas guru dalam mengajar.

Data dan Sumber Data

Moleong ( 2002 : 112 – 116 ) mengatakan bahwa sumber data penelitian ini dikumpulkan dari berbagai sumber yang meliputi ; kata-kata dan tindakan dari Guru, teman sejawat, siswa; dan dokumen atau arsip seperti arsip nilai praktik, dan tugas, foto dan data statistik.

Prosedur Penelitian

Penelitian ini dirancang sebagai penelitian tindakan kelas ini dengan menggunakan model sikusl Kemmis dan Mc Tagart. Deskripsi alur siklus seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini :

 

  Perencanaan

 

    Refleksi

 

  Pelaksanaan

 

    SIKLUS I

 

   Pengamatan

 

  Perencanaan

 

  Pelaksanaan

 

   SIKLUS II

 

   Pengamatan

 

    Refleksi

 

   Siklus berikutnya

 

 

Gambar 3.1. alur siklus Kemmis dan Mc Taggart

Berdasar dari model siklus Kemmis dan Mc Taggart, Penelitian. tindakan kelas ini direncanakan 3 (tiga) siklus. Adapun langkah–langkahnya adalah sebagai berikut:

Siklus I : Pertemuan Pertama

  1. Perencanaan (planning)
    • Menyusunan Rencana Perencanan P
    • Menjelaskan tentang tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
    • Menentukan kelompok siswa dalam belajar.
    • Membuat Lembar Kerja Siswa sebagai bahan diskusi dan praktik.
    • Membuat lembar pengamatan/observasi
  1. Pelaksanaan (acting)
    • Guru menjelaskan konsep mencuci kain    batik tulis
    • Siswa dalam kelompok mengerjakan tugas mencuci kain batik tulis menggunakan satu macam warna, dan alat seadanya.
    • Guru membentuk kelompok praktik tugas yang terdiri atas 5 sampai 6 siswa..
    • Setiap kelompok diberi tugas untuk menguasaai kompetensi tertentu dengan bantuan lembar kerja siswa yang telah disiapkan oleh guru.
    • Setiap kelompok mengerjakan tugas dengan bantuan alat dan bahan yang disediakan sebelumnya.
    • Setiap kelompok membuat tugas praktik hasil pekerjaan dalam bentuk tugas kelompok.
    • Secara acak guru meminta 3 sampai 4 kelompok untuk menyampaikan hasil kerjanya.
    • Guru mengadakan konfirmasi terhadap hasil pekerjaan siswa dan membuat kesimpulan bersama siswa.
  1. Pengamatan (observing)

Peneliti mengamati jalannya proses belajar mengajar. Pengamatan dilakukan bersamaan dengan penelitian tindakan kelas, dengan aspek-aspek yang diamati dalam mengikuti pembelajaran di kelas, yang meliputi:

  • Peneliti mengamati siswa dalam komitmen menghadapi tugas
  • Peneliti mengamati keaktifan siswa dalam belajar
  • Peneliti mengamati keuletan dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan.
  • Peneliti mengamati semangat siswa senang mencari dan memecahkan masalah-masalah
  • Peneliti mengamati kemampuan siswa dapat mempertahankan pendapatnya
  • Peneliti mengamati kemampuan siswa mampu mengalokasikan waktu untuk belajar
  1. Refleksi (reflecting)

Refleksi merupakan analisis hasil pengamatan dan evaluasi dari tahapan-tahapan dalam siklus I. Refleksi dilaksanakan segera setelah pelaksanaan dan pengamatan siklus I pertemuan pertama selesai. Refleksi dilakukan untuk mengetahui kelebihan atau kekurangan yang dijumpai dalam kegiatan siklus I pertemuan pertama, dan juga digunakan untuk membuat kajian guna menentukan langkah-langkah yang diperlukan pada siklus berikutnya yaitu pada siklus I pertemuan kedua.

Siklus I : Pertemuan Kedua

  1. Perencanaan (planning)
    • Menyempurnakan persiapan yang belum dilaksanakan pada siklus I pertemuan 1
    • Menyusunan draf atau Rencana Perencanan P
    • Menjelaskan materi bahan tentang tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
    • Menentukan kelompok siswa dalam belajar dan praktik.
    • Membuat Lembar Kerja Siswa sebagai bahan diskusi.dan praktik.
    • Membuat lembar pengamatan/observasi
  1. Pelaksanaan (acting)
    • Guru menjelaskan konsep mewarnai dasar batik tulis dengan menggunakan aneka warna yang tersedia, dengan alat seadanya dari kelompok.
    • Guru membentuk kelompok belajar yang terdiri atas 5 sampai 6 siswa dan mengatur tempat kelompok duduk siswa  agar setiap anggota kelompok dapat saling bertatap muka.
    • Setiap kelompok diberi tugas untuk menguasaai kompetensi tertentu mengenai pewarnaan dasar dengan bantuan aneka warna dan alat yang telah disiapkan sebelumnya, dengan bantuan lembar kerja siswa yang telah disiapkan oleh guru.
    • Setiap kelompok mengerjakan tugas praktik dengan bantuan bahan pustaka dan sumber yang lain seperti buku paket, internet, Koran dan lain-lain.
    • Setiap kelompok praktik membuat tugas mewarnai dasar juga dengan membuat laporan hasil pekerjaan dalam bentuk laporan tertulis.
    • Secara acak guru meminta 3 sampai 4 kelompok untuk menyampaikan hasil kerjanya.
    • Guru mengadakan konfirmasi terhadap hasil pekerjaan siswa dan membuat kesimpulan bersama siswa.
  1. Pengamatan (observing)

Pengamatan dilakukan bersamaan dengan penelitian tindakan kelas, dengan aspek-aspek yang diamati dalam mengikuti pembelajaran di kelas, yang meliputi:

  • Peneliti mengamati siswa dalam komitmen dalam menghadapi tugas
  • Peneliti mengamati keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas praktik.
  • Peneliti mengamati keuletan dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan.
  • Peneliti mengamati semangat siswa senang dalam mengerjakan tugas mewarnai dasar dengan pantauan dan bimbingan guru.
  • Peneliti mengamati kemampuan siswa dapat mempertahankan pendapatnya
  • Peneliti mengamati kemampuan siswa mampu mengalokasikan waktu untuk belajar dan praktik mengerjakan tugas.
  1. Refleksi (reflecting)

Refleksi merupakan analisis hasil pengamatan dan evaluasi dari tahapan-tahapan dalam siklus I. Refleksi dilaksanakan segera setelah pelaksanaan dan pengamatan siklus I pertemuan kedua selesai. Refleksi dilakukan untuk mengetahui kelebihan atau kekurangan yang dijumpai dalam kegiatan siklus, dan juga digunakan untuk membuat kajian guna menentukan langkah-langkah yang diperlukan pada siklus berikutnya yaitu siklus II pertemuan pertama.

 Siklus II : Pertemuan Pertama

Siklus II merupakan tindakan perbaikan dari yang telah dihasilkan pada siklus I. Setelah diadakan identifikasi masalah pada siklus I, maka pada siklus II dibuat suatu perencanaan kembali sebagai upaya penyempurnaan untuk mencapai tujuan.

  1. Perencanaan (planning)
    • Menyusunan Rencana Perencanan P
    • Menjelaskan tentang tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
    • Menentukan kelompok siswa dalam belajar.
    • Membuat Lembar Kerja Siswa sebagai bahan mengerjakan tugas praktik.
    • Membuat lembar pengamatan/observasi
  1. Pelaksanaan (acting)
    • Guru menjelaskan konsep mewarnai dasar dengan aneka warna dan alat yang sudah ditentukan.
    • Siswa dalam kelompok belajar yang terdiri atas 5 sampai 6 siswa dan mengatur tempat duduk siswa.
    • Setiap kelompok diberi tugas untuk menguasaai kompetensi tertentu tentang teknik batik tulis dengan bantuan lembar kerja siswa yang telah disiapkan oleh guru.
    • Setiap kelompok mengerjakan tugas dengan bantuan bahan pustaka dan sumber yang lain seperti buku paket, internet, koran dan lain-lain.
    • Setiap kelompok membuat laporan hasil pekerjaan dalam bentuk laporan tertulis.
    • Secara acak guru meminta 3 sampai 4 kelompok untuk menyampaikan hasil kerjanya.
    • Guru mengadakan konfirmasi terhadap hasil pekerjaan siswa dan membuat kesimpulan bersama siswa.
  1. Pengamatan (observing)

Pengamatan dilakukan bersamaan dengan penelitian tindakan kelas, dengan aspek-aspek yang diamati dalam mengikuti pembelajaran di kelas, yang meliputi:

  • Peneliti mengamati siswa dalam komitmen dalam menghadapi tugas
  • Peneliti mengamati keaktifan siswa dalam belajar dan mengerjakan praktik.
  • Peneliti mengamati keuletan dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan.
  • Peneliti mengamati semangat siswa senang mencari dan memecahkan masalah-masalah serta mengerjakan tugas.
  • Peneliti mengamati kemampuan siswa dapat mempertahankan pendapatnya tentang proses membatik teknik tulis.
  • Peneliti mengamati kemampuan siswa mampu mengalokasikan waktu untuk belajar dan mengerjakan tugas praktik.
  1. Refleksi (reflecting)

Refleksi merupakan analisis hasil pengamatan dan evaluasi dari tahapan-tahapan dalam siklus II. Refleksi dilaksanakan segera setelah pelaksanaan dan pengamatan siklus II pertemuan pertama selesai. Refleksi dilakukan untuk mengetahui kelebihan atau kekurangan yang dijumpai dalam kegiatan siklus II pertemuan pertama, dan juga digunakan untuk membuat kajian guna menentukan langkah-langkah yang diperlukan pada siklus berikutnya yaitu pada siklus II pertemuan kedua.

Siklus II : Pertemuan Kedua

  1. Perencanaan (planning)

Berdasarkan hasil refleksi pada siklus II pertemuan pertama, maka diadakan perencanaan ulang. Perencanaan yang dibuat pada prinsipnya sama dengan perencanaan pada siklus II pertemuan pertama, hanya saja permasalahan yang diberikan berbeda pada siklus II pertemuan kedua.

  1. Pelaksanaan (acting)

Pelaksanaan tindakan yang dilakukan sama seperti yang dilakukan pada siklus II pertemuan pertama, dan di akhir pertemuan siswa secara individu diberi tugas untuk menentukan perolehan nilai peningkatan hasil belajar guna menentukan penghargaan masing-masing kelompok. Selain itu siswa diberikan angket untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa.

  1. Pengamatan (observing)

Pengamatan pada siklus II pertemuan kedua sama dengan pengamatan yang dilakukan pada siklus II pertemuan pertama, menggunakan lembar pengamatan yang sama pada siklus sebelumnya.

  1. Refleksi (reflecting)

Data yang diperoleh dari hasil pelaksanaan dan penelitian selama proses pembelajaran pada siklus II pertemuan 2 dikumpulkan dan dianalisis agar diperoleh hasil dan kesimpulan dari pelaksanaan penelitian yang menggunakan model pembelajaran inkuiri.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan dua cara yaitu teknik penilaian hasil karya  dan non tes.

  1. Teknik Penilaian Tugas Praktik

Teknik penilaian hasil karya ini digunakan untuk memperoleh data hasil belajar siswa sesudah diadakan pembelajaran dengan model pembelajaran kelompok dan untuk menjawab permasalahan dalam penelitian. Penilaian hasil karya dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada akhir siklus I dan pada akhir siklus II. Hasil dari penilaian hasil karya siklus I dijadikan sebagai acuan dalam perbaikan tindakan siklus II. Penilaian hasil karya diberikan setelah setelah siswa melakukan kegiatan pembelajaran kelompok yang disertai perbaikan pembelajaran oleh guru. Penilaian yang kedua dijadikan sebagai tolak ukur peningkatan keberhasilan siswa dalam pembelajaran Seni Budaya materi batik tulis dengan menggunakan pembelajaran kelompok.

 

  1. Teknik Non Tes

Teknik non tes yang digunakan adalah pengamatan melalui lembar observasi. Observasi dilakukan pada saat berlangsungnya proses pembelajaran. Disamping itu juga observasi dilakukan terhadap peneliti untuk mengetahui sejauh mana peneliti telah melakukan hal-hal yang diharapkan selama proses pembelajaran berlangsung pada siklus I dan siklus II. Sebelumnya peneliti mempersiapkan lembar observasi untuk dijadikan pedoman dalam pengambilan data. Observasi dilakukan oleh peneliti dibantu oleh guru mata pelajaran. Dalam observasi ini kedua orang ini mengamati perilaku siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan mencatat semua kejadian selama proses pembelajaran berlangsung.

Adapun aspek-aspek yang terdapat dalam

pedoman/ lembar observasi adalah sebagai berikut

  1. Komitmen dalam menghadapi tugas
  2. Tekun dalam mengerjakan tugas praktik.
  3. Ulet dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan
  4. Senang mengerjakan praktik tugas membuat karya.
  5. Dapat mempertahankan pendapatnya
  6. Mampu mengalokasikan waktu untuk mengerjakan tugas.
  1. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan dalam

penelitian ini ada dua yaitu instrumen penilaian

hasil karya dan instrumen non tes. Instrumen hasil

karya berupa tes praktik yang diberikan di setiap

akhir siklus dan instrumen nontes berupa lembar

observasi.

  1. Instrumen penilaian hasil karya

Bentuk instrumen penilaian hasil karya yaitu berupa soal perintah mengerjakan tugas praktik mengenai batik tulis yang terdiri dari soal perintah tentang materi batik tulis sub mewarnai dasar, yang diberikan kepada siswa di setiap akhir siklus. Setiap soal dikerjakan oleh siswa, dianalisis dan skor akhir dari setiap soal digabung untuk mendapatkan skor keseluruhan. Dari jumlah skor keseluruhan ini kemudian diolah untuk mendapatkan nilai akhir yang selanjutnya nilai akhir inilah yang dianalisis apakah sudah memenuhi indikator ketuntasan belajar yang ditetapkan dalam penelitian ini.

  1. Instrumen Non Tes

Bentuk instrumen non tes yang digunakan adalah lembar observasi. Hal yang diamati dalam hal ini meliputi ; komitmen dalam menghadapi tugas, tekun dalam belajar, ulet dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan, senang mencari dan memecahkan masalah-masalah dapat mempertahankan pendapatnya, dan mampu mengalokasikan waktu untuk belajar dan praktik mengerjakan tugas.

Pedoman  observasi   dimaksudkan  untuk memperoleh  data tentang  motivasi belajar dan keterlaksanaan pembelajaran Seni Budaya sub materi batik tulis  dengan menggunakan model  pembelajaran  Project based Learning. Untuk  memperoleh  data tentang motivasi belajar siswa dalam pembelajaran, digunakan pedoman observasi motivasi belajar. Pedoman observasi motivasi belajar siswa berisi deskripsi-deskripsi tingkah laku siswa yang dapat menggambarkan kondisi motivasi belajar siswa. Pengamat menentukan siswa yang melakukan tindakan yang dideskripsikan pada pedoman observasi pada saat proses pembelajaran berlangsung.

  1. Catatan lapangan

Catatan  lapangan  digunakan  untuk  mendeskripsikan  segala  kejadian  yang terjadi  saat  pelaksanaan   pembelajaran Seni Budaya  materi Batik Tulis dengan   menggunakan model pembelajaran Project Based Learning. meliputi seluruh kejadian yang didengar, dilihat  dan  dialami  untuk  mendeskripsikan   suasana  kelas,  interaksi

guru dengan siswa serta interaksi antar siswa.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif.

  1. Teknik Kuantitatif

Teknik kuantitatif diperoleh dari hasil penilaian tugas yang dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada akhir siklus I dan siklus II. Adapun langkah perhitungannya adalah dengan cara menghitung persentase jawaban benar yang dicapai setiap peserta didik yang dirumuskan sebagai berikut.

Dengan:

Np = nilai prosentase

Nk = nilai yang didapat

Nt = nilai jika semua benar

Dari hasil perhitungan prosentase ini, peneliti akan dapat mengetahui  sampai sejauh mana penguasaan setiap siswa atas bahan yang telah diajarkan. Dengan kata lain, sejauh mana tingkat keberhasilan siswa atas bahan yang telah diajarkan ditinjau dari sudut kriteria keberhasilan belajar (indikator keberhasilan) yang diharapkan atau yang telah ditetapkan.

Selain itu juga dari hasil perhitungan siswa dari masing-masing tes kemudian dibandingkan antara siklus I dan siklus II. Hasil ini akan memberikan gambaran mengenai persentase peningkatan kemampuan siswa setelah mengikuti pembelajaran inkuiri.

  1. Teknik Kualitatif

Teknik kualitatif ini diperoleh dari data non tes yaitu observasi. Data observasi diambil dari pengamatan terhadap kegiatan siswa dan guru selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

Selama pembelajaran berlangsung, keaktifan siswa diukur berdasarkan hasil pengamatan aktifitas siswa pada saat implementasi pembelajaran Project Based Learning berlangsung.

Hasil observasi tentang pelaksanaan pembelajaran dianalisis secara deskriptif untuk perbaikan dalam pembelajaran berikutnya. Data hasil observasi motivasi belajar siswa dianalisis sebagai berikut:

  1. Menghitung banyaknya siswa dalam kelas yang termotivasi (melaksanakan keenam aspek motivasi yang diamati) pada saat pembelajaran berlangsung
  2. Kemudian jumlah siswa yang termotivasi dipersentasekan dengan rumus:

jumlah siswa

Nilai motivasi   =    jumlah keseluruhan siswa     x 100 %

Selama pembelajaran berlangsung, kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran di kelas diukur berdasarkan indikator-indikator yang ditentukan pada lembar pengamatan. Bagaimana kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran inkuiri tersebut dan melaksanakan indikator tersebut atau tidak. Sehingga kemampuan guru dinilai baik apabila indikator yang telah ditentukan dalam lembar observasi dapat dilaksanakan oleh guru dengan baik.

Indikator Keberhasilan

  • Meningkatnya motivasi  belajar  siswa  yang  dapat  dilihat  dari  persentase hasil observasi motivasi bela Pada setiap aspek motivasi, banyaknya siswa yang berkategori tinggi telah mencapai ≥ 75% serta banyaknya siswa yang berkategori tinggi dalam keenam aspek motivasi telah mencapai ≥ 75%
  • Meningkatnya rata-rata  hasil  belajar  yang  dicapai  oleh  siswa  dan banyaknya siswa yang tuntas (nilai ≥ KKM yaitu75) telah mencapai ≥ 85% (disesuaikan  dengan  standar  ketuntasan  yang  berlaku  di  SMP  Negeri  1 Tegowanu  Kabupaten Grobogan.


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

  • Deskripsi Kondisi Awal

Motivasi dan hasil belajar Seni Budaya   VII F SMP Negeri 1 Tegowanu  Kabupaten Grobogan masih terbilang masih rendah . Dari hasil kajian terhadap dokumentasi catatan siswa diperoleh dari 38 siswa di kelas VII F SMP Negeri 1 Tegowanu, sebagian besar siswa tidak tepat waktu menyelesaikan tugas, keaktifan siswa di kelas kurang, kemampuan kerja sama secara individu dengan teman kurang serta kemampuan bertanya dan menjawab siswa rendah serta motivasi belajar yang rendah sekitar 55,25% . Pada saat guru menyampaikan materi, siswa cenderung ramai dan berbicara dengan teman sebangkunya. Hal tersebut terjadi karena guru belum melaksanakan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan bagi siswa. Disamping itu guru juga belum memanfaatkan media pembelajaran yang ada secara baik dan memadai. Sehingga siswa merasa tidak atau kurang berminat mengikuti pembelajaran Seni Budaya  materi batik tulis, terasa membosankan.

Berdasarkan kajian tugas praktik  ke-1 dari 35 siswa  kelas VII F  SMP Negeri 1 Tegowanu Kabupaten Grobogan pada semester genap tahun pelajaran 2015 / 2016, tercatat hanya 18 siswa atau 7,89  % siswa yang tuntas belajar dengan nilai rata-rata penguasaan praktik sebesar 69,65. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini (Tabel 4.1):


 


Tabel 4. 1  Hasil Belajar Seni Budaya Pra Siklus

No. Aspek Rerata Keterangan
1 Nilai rata – rata  penguasaan praktik 69,65 Indikator kinerja rata-rata 75 dengan ketuntasan ≥ 85% belum tercapai
2 Ketuntasan belajar 7,89 %
 


Deskripsi Hasil Siklus I

 

  1. Perencanaan Tindakan

Pada tahap perencanaan  siklus I, peneliti telah menyusun instrument berupa RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) 1 tentang praktik secara kelompok tentang teknik mencuci bahan kain batik, dan penerapan praktik mencuci kain bahan yang akan dijadikan kain batik tulis, mempersiapkan Lembar Kerja Siswa 1 yang akan digunakan untuk proses pembelajaran  pertemuan 1.

Disamping itu peneliti juga menyusun lembar

observasi siswa yang akan digunakan

pengamatan dalam proses pembelajaran yang

akan berlangsung.

  1. Pelaksanaan Tindakan
  • Pertemuan Pertama

Tindakan kelas siklus I dilaksanakan pada hari, Selasa, 1 Maret  2016, pada jam pelajaran ke 1 sampai 2 dimulai pukul 07.00 dan berakhir pada pukul 08.40 di kelas VII F yang jumlah siswanya sebanyak 38 orang. Peneliti dibantu oleh 1 orang kolaburator untuk melaksanakan pengamatan dan 1 orang kamerawan yang bertugas mendokumentasi proses pembelajaran.

Langkah awal yang dilakukan peneliti pada tindakan siklus 1 ini adalah melakukan apersepsi dengan memberikan beberapa pertanyaan tentang pengetahuan yang sudah dimiliki siswa dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kelasnya. Guru memberikan pertanyaan lagi tentang apa itu teknik mencuci bahan kain untuk batik tulis.  Dari beberapa siswa ada yang merespon dan tunjuk jari untuk menjelaskan apa itu teknik mencuci bahan kain untuk batik tulis.  Guru menunjuk salah satu dari siswa yang tunjuk jari untuk memberikan jawabannya, dan mengembalikan jawaban itu kepada semua temannya untuk dimintai tanggapan, dan menurut pengamatan guru banyak siswa yang sudah mengerti. Kemudian guru memberikan penegasan tentang hal tersebut. Dari beberapa pertanyaan yang diberikan itu anak mulai tertarik dan antusias tentang materi yang akan disampaikan. Dari apersepsi itu, kemudian peneliti mengkomunikasikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan menyampaikan materi yang akan diajarkan yaitu mendeskripsikan teknik mencuci kain bahan batik tulis.

Langkah berikutnya peneliti memberikan penjelasan tentang model pembelajaran Project Based Learning yang akan digunakan dalam pembelajaran. Semua siswa tertuju dan memperhatikan penjelasan peneliti. Pada saat memberikan penjelasan, siswa diminta untuk menanyakan hal-hal yang belum dipahami.

Dalam mengerjakan tugas praktik peneliti membentuk kelompok tugas praktik tersebut yang terdiri dari atas 5 sampai 6 siswa. Karena dari ke 38 siswa maka dalam menentukan kelompok belajar berdasarkan urutan tunjukan dari guru, karena akan terasa adil, dalam kelompok sebaran anak laki-laki dan perempuan akan mendekati imbang, sehingga penyebaran kemampuan anak tiap kelompok dapat merata. Setelah semua siswa mengetahui kelompoknya mereka berkumpul sesuai dengan kelompok-kelompok yang telah dibentuk.

Kemudian peneliti membagikan Lembar Kerja Siswa 1 kepada setiap kelompok 1 tugas. Selama siswa belajar di dalam kelompok, peneliti berkeliling untuk mengawasi kinerja kelompok dan membantu secara proporsional kepada kelompok yang mengalami kesulitan dalam memecahkan atau menyelesaikan tugas  tersebut.

Di dalam kelompok, anggota saling berdiskusi untuk membahas langkah kerja yang diberikan  kepada kelompoknya. Memang hampir semua kelompok mempunyai kendala yaitu ketidaktahuan langkah kerja yang diberikan oleh gurunya. Untuk itu guru berkeliling untuk menanyakan langkah kerja yang dianggap sulit dengan memberikan motivasi dan bimbingan agar siswa tidak menyerah dalam menyelesaikan tugas yang dianggap sulit.

Selama proses pembelajaran berlangsung peneliti juga mengadakan pengamatan yaitu pada saat siswa sibuk dalam diskusi. Peneliti meminta masing-masing kelompok untuk memilih salah seorang siswa untuk memimpin diskusi sebelum mengerjakan tugas praktik.. Untuk memperlancar jalannya diskusi, peneliti memberi motivasi agar semua siswa dalam kelompoknya berperan aktif dan mau mengemukakan idenya. Peneliti memberi bimbingan kepada kelompok diskusi yang mengalami kesulitan. Masing-masing kelompok diskusi mulai dapat mendiskusikan Lembar Kerja Siswa dengan baik.

Sesudah semua kelompok selesai mengerjakan lembar kerja, masing-masing kelompok mempraktikkan dalam kelompok di luar kelas. Selama praktik berlangsung, semua anggota kelompok yang lain memperhatikan, lalu menanggapi dan memberikan saran atas praktik  yang ada. Kemudian peneliti mengkonfirmasi pekerjaan yang diberikan dan menegaskan teknik mencuci bahan kain batik yang benar. ( kemudian bahan cucian kain tersebut dibentangkan dikeringkan tidak terkena sinar matahari menurut kelompok masing-masing ).

Setelah selesai kegiatan belajar dan mengajar peneliti menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan kolaborator tentang jalannya proses pembelajaran dan jalannya kerja kelompok maupun diskusi kelas yang berlangsung saat itu, dan minta masukan atau saran untuk perbaikan agar pertemuan berikutnya dapat terlaksana dengan lebih baik lagi.

  • Pertemuan Kedua

Tindakan kelas siklus I pada pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Selasa, 8 Maret 2016, pada jam pelajaran ke 1 sampai 2 dimulai pukul 07.00 WIB dan berakhir pada pukul 08.15 WIB di kelas VII F yang jumlah siwanya sebanyak 38 orang. Peneliti masih dibantu oleh 1 orang kolaburator untuk melaksanakan pengamatan dan 1 orang kamerawan yang bertugas mendokumentasi proses pembelajaran.

Langkah awal yang dilakukan peneliti pada tindakan siklus 1 pertemuan kedua ini adalah melakukan apersepsi dengan memberikan beberapa pertanyaan tentang pengetahuan yang sudah dimiliki siswa dan segala sesuatu yang berkaitan dengan pembelajaran di kelasnya. Peneliti memberikan penjelasan bahwa model pembelajaran yang digunakan masih sama  yaitu model pembelajaran Project Based Learning. Peneliti menyampaikan materi pelajaran yang akan diajarkan yaitu menjelaskan mendesain bahan kain untuk batik tulis yang telah dikerjakan pada pertemuan pertama, dan tekniknya serta  memberikan penjelasan tentang tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Peneliti membentuk kelompok belajar sesuai kelompok pada pertemuan pertama, yang terdiri atas 5 sampai 6 siswa, kelompok yang telah terbentuk sesuai pada pertemuan sebelumnya.

Karena teknik penugasan yang diberikan guru kepada siswa adalah penerapan, maka konsep yang diberikan kepada kelompok adalah bagaimana memahami konsep mendesain bahan secara baik dan benar sehingga dalam mengerjakannya nanti tidak ada kesalahan. Kemudian peneliti membagikan Lembar Kerja Siswa 2 kepada setiap kelompok. Setelah adalah  semua kelompok selesai menyelesaikan tugas  yang diberikan, Salah satu dari kelompoknya mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Setelah presentasi berakhir siswa dari kelompok lain diminta untuk menanggapai temannya yang maju. Kemudian di akhir pembelajaran guru memberikan tugas praktik  kepada masing-masing kelompok untuk mengenai materi yang telah dilakukan.

Selain kolaborator yang memberi masukan kepada peneliti, siswa juga dimintai masukan untuk perbaikan dalam pembelajaran pada pertemuan berikutnya. Sehingga peneliti semakin memperoleh data yang lengkap dalam melakukan penelitian. Banyak masukan yang disampaikan oleh siswa, diantaranya tentang waktunya kurang lama, guru terlalu cepat dalam menyampaikan materi, mereka takut salah mengutarakan pendapat, dan lain-lain. Hal ini  akan dijadikan  dasar peneliti untuk memperbaiki jalannya pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

  • Pertemuan ketiga

Pertemuan ketiga dilaksanakan pada hari Selasa, 15 Maret  2016, pelajaran dimulai pada pukul 07.00 sampai 08.15 WIB.. Kegiatan yang  dilakukan  adalah  tugas  siklus  I  materi mencanting bahan kain yang untuk dijadikan batik tulis. Secara kelompok, memperhatikan tayangan video tentang teknik mencating yang benar, selesai melihat tayangan tersebut, lalu  perwakilan dari masing-masing kelompok mempraktikkan dengan selembar kain kecil, secara bergantian, sesuai arahan gurunya. Setelah lancar menggunakan alat canting, dan bisa menuliskan malamnya di lembar kain kecil, lalu semua kelompok diberi waktu 45 menit menyelesaikan tugas praktik  mencanting tersebut sesuai kelompoknya dengan arahan dan petunjuk dari gurunya menggunakan bahan kain yang lebar seluas 2 x 1 meter.

4).  Pertemuan keempat

Pertemuan keempat dilaksanakan pada hari Selasa, 22 Maret 2016 dan pelajaran dimulai pada pukul 07.00 sampai 08.15 WIB. Aktivitas seperti biasa pada pertemuan sebelumnya yaitu dengan mengkondisikan kelas seperti mengabsen siswa, menata tempat duduk, berdoa, dan guru guru mengadakan apersepsi yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan mengenai teknik mencanting. Guru nenberikan penegasan kepada semua kelompok mengenai kegiatan pada pertemuan sebelumnya teknik mencanting yang benar. Teknik cantingan yang benar adalah tembus, tebal tipisnya cantingan harus sama, tidak putus hasil cantingannya, serta rapi hasil cantingannya. Setelah itu, semua kelompok mempraktikkan teknik cantingan yang benar melalui perwakilan kelompok secara bergantian. Siswa bersama dengan guru menyimpulkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan.

5). Pertemuan Kelima

Pertemuan kelima dilaksanakan pada hari 22 Maret 2016 dan pelajaran dimulai pada pukul 07.00 sampai 08.15 WIB. Aktivitas seperti biasa pada pertemuan sebelumnya, yaitu guru mengkondisikan kelas dengan mengucapkan salam, berdo’a, mengabsen siswa, dan menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Semua kelompok diberi kesempatan untuk menanyakan masalah yang dianggap sulit selama praktik pada pertemuan sebelumnya. Siswa bersama guru membahas masalah yang dianggap sulit dalam kegiatan praktik pada pertemuan sebelumnya. Guru memberi contoh praktik teknik mencanting ke dalam kain yang telah disediakan guru sendiri. Perwakilan siswa secara bergiliran dalam kelompok mempraktikkan teknik mencanting yang benar sesuai saran dari gurunya. Siswa bersama guru menyimpulkan hasil pembelajaran pada pertemuan kelima.

6). Pertemuan Keenam

Pertemuan keenam dilaksanakan pada hari Selasa, 29 Maret  2016, pelajaran dimulai pukul 07.00 sampai 08.15 WIB. Kegiatan awal dimulai dengan mengkondisikan kelas, seperti mengucapkan salam, berdo’a, mengabsen siswa, dan menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Sebelum mengerjakan tugas praktik, siswa dalam kelompok mendiskusikan tentang kesulitan mencanting yang oleh dialami oleh masing-masing kelompok, sekitar 15 menit sampai 20 menit, dengan arahan guru yang mengajar. Setelah selesai diskusi kecil, masing-masing kelompok melanjutkan praktik mencanting, sebagai langkah akhir kegiatan mencanting. Praktik mencanting oleh masing-masing kelompok dikerjakan oleh tiap-tiap siswa dalam kelompok secara bergantian. Bagi siswa tiap kelompok yang tidak mendapat jatah giliran nyanting, tugasnya memegang kain yang dicanting, serta mengambilkan malam dalam canting. Dengan demikian, tidak ada siswa dalam kelompok yang lepas dari tugas atau nganggur . Semua pengerjaan tugas tersebut dilakukan secara bergiliran tanpa memandang jenis kelamin, ketua kelompok ataupun anggota, semua bekerja tanpa membedakan kedudukan kelompok. Kegiatan nyanting selesai, siswa dan guru menyimpulkan materi pembelajaran yang telah dilaksanakan.

7). Pertemuan ketujuh

Pertemuan ketujuh dilakukan pada hari Selasa, 5 April 2016. Pelajaran dimulai pada pukul 07.00 sampai pukul 08.15 WIB. Guru mengkondisikan kelas, melalui kegiatan berdo’a, mengucapkan salam, mengabsen siswa, dan menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Siswa secara kelompok, mengerjakan Lembar Kerja Siswa mengenai konsep mewarnai motif dan tekniknya. Waktu yang disediakan 15 sampai 20 menit, kemudian masing-masing kelompok, melalui perwakilan kelompok, membacakan hasil diskusi. Guru menegaskan kembali mengenai materi hasil diskusi, setelah itu siswa secara kelompok mengerjakan tugas praktik dengan materi mewarnai motif pada kain yang telah dicanting. Semua anak pada masing-masing kelompok mengerjakan tugas mewarnai motif, sesuai dengan kesepakan masing-masing kelompok. Kegiatan selesai, siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah diajarkan.

8). Pertemuan kedelapan

Pertemuan kedelapan ini dimulai pada hari Selasa, 12 April 2016, proses pembelajarannya dimulai pada pukul 07.00 sampai pukul 08.15 WIB. Sebelum proses pembelajaran berlangsung, guru mengkondisikan kelas melalui mengucapkan salam, berdo;a, mengabsen, menata tempat duduk. Pelajaran dimulai, guru membagikan Lembar Kerja Siswa kepada tiap-tiap kelompok. Siswa dalam tugas, mengerjakan LKS mengenai materi mewarnai motif dan tekniknya. Pembahasan diskusi kelompok diberi waktu 15 sampai 20 menit. Perwakilan siswa dalam kelompok membacakan hasil diskusi, dan guru menegaskan kembali hasil diskusi dari kelompok. Masing-masing kelompok keluar kelas, mengerjakan tugas praktik memwarnai dasar sesuai dengan petunjuk hasil kesepakan diskusi kelompok, dengan arahan guru pembimbingnya. Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah dilakukan.

 9. Observasi Tindakan

Observasi merupakan upaya mengamati pelaksanaan tindakan dalam konteks penelitian tindakan kelas, untuk menghasilkan adanya peningkatan dalam proses pembelajaran dalam kondisi kelas tertentu. Bersama kolaborator, peneliti mengamati proses pembelajaran yang sedang berlangsung, yang meliputi pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran dan aktivitas guru dalam menyampaikan pembelajaran, dengan menggunakan lembar pengamatan yang telah disiapkan. Disamping itu pengamat juga mencatat segala peristiwa yang sedang terjadi  selama proses pembelajaran berlangsung. Untuk mendapatkan data yang cukup peneliti juga membuat catatan lapangan untuk dipadukan dengan hasil pengamatan kolaburator. Hasil pengamatan yang berupa catatan lapangan dijadikan masukan sebagai bahan refleksi dan didiskusikan bersama kolaborator.

Pada pengamatan aktivitas siswa ada beberapa aspek yang diamati terutama mengenai motivasi siswa  dalam mengikuti proses pembelajaran. Ada 6 aspek utama yang diamati pada motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Keenam aspek itu meliputi: komitmen dalam menghadapi tugas, tekun dalam belajar, ulet dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan, senang mencari dan memecahkan masalah-masalah dalam tugas kerja kelompok,  dapat mempertahankan pendapatnya, dan mampu mengalokasikan waktu untuk mengerjakan tugas praktik.

Setelah melakukan observasi motivasi pada siklus I diperoleh data bahwa pembelajaran kelompok pada kelas VII F SMP Negeri 1 Tegowanu  Kabupaten Grobogan menunjukkan hasil yaitu sebesar 67,64% (Lampiran).

Dari hasil tugas siklus I, hasil prestasi belajar penguasaan praktik       tercatat 6 siswa atau  15,79 % siswa yang tuntas belajar dengan nilai rata-rata penguasaan praktik (psikomotorik)   sebesar 72,82  (Lampiran ). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini (Tabel 4.2):

 

Tabel 4. 2  Hasil Nilai Tugas Belajar Seni Budaya Siklus I

No. Aspek Rata-rata Keterangan
1 Nilai rata – rata  penguasaan konsep 72,82 Indikator kinerja rata-rata 75 dengan ketuntasan ≥ 85% belum tercapai
2 Ketuntasan belajar 15,79 %

 

  1. Refleksi Tindakan

Berdasarkan hasil obervasi siklus I,

ternyata proses dan hasil belajar  belum

mencapai indikator yang diharapkan. Hal

ini disebabkan berbagai permasalahan

yang muncul dalam pembelajaran Project

Besed Learning, baik permasalahan dari

siswa maupun permasalahan dari pihak

guru.

Permasalahan dari siswa diantaranya adalah beberapa siswa dalam kelompok belum memahami betul konsep mengenai teknik mencuci kain, mendesain, mewarnai motif, serta mewarnai dasar, sehingga masing-masing ketua kelompok mengalami kesulitan , dengan kata lain belum sesuai dengan kemampuannya. Hal ini menyebabkan kurangnya  menguasai  materi yang menjadi tanggung jawabnya, sehingga dalam kerja kelompok ada beberapa siswa dalam kelompok yang tidak tahu akan tugasnya, sehingga pasif dan kurang bertanya pada kelompoknya serta idenya sangat terbatas, sehingga pada saat kerja praktik mereka kurang dapat mengerjakan tugas praktik yang menjadi tanggung jawabnya. Hal ini menyebabkan teman yang lain tidak bisa menerima kehadirannya, karena kurang bisa menangkap dan hasil kesepakan kelompok sebelumnya. Permasalahan dari guru diantaranya adalah terlalu cepatnya penjelasan guru sehingga terdapat sebagian siswa dalam kelompok yang belum memahami konsep dan teknik mengenai materi dari pertemuan pertama, sampai pertemuan keenam, guru kurang memberikan motivasi siswa dalam belajar di kelompok dan kurang memperhatikan penggunaan waktu dengan baik.

Berdasarkan hasil refleksi, untuk mencapai indikator yang diharapkan yaitu ketercapaian nilai rata-rata  kelas memperoleh nilai 72,82 dan ketuntasan kelas mencapai 15,79 %, maka dilakukan tindakan kelas siklus II dengan melakukan perbaikan-perbaikan strategi, teknik dan metode yang lebih efektif untuk mencapai standar tersebut. Dengan cara menjelaskan kembali tentang materi Konsep dan Teknik Mencuci kain, Mendesain, Mewarnai motif dan Mewarnai dasar, serta menegaskan kembali agar dalam pembentukan kelompok  betul-betul sesuai dengan kemampuannya, sehingga pada saat praktik kerja kelompok, dalam kelompok betul-betul menguasai dan tidak merasa minder, sehingga praktik kerja kelompok dapat hidup dan berjalan dengan lancar.

  1. Deskripsi Hasil Siklus II
  2. Perencanaan Tindakan

Perencanaan pada siklus II, peneliti menyusun Rencana Pelaksnaan Pembelajaran (RPP) 2 tentang membatik teknik tulis mengenai konsep dan teknik serta penerapan penguncian warna, penglorotan malam, pembersihan malam dan pengemasan hasil batik tulis dengan menyiapkan  Lembar Kerja Siswa 3. Guru membagi kelompok belajar seperti pada siklus I.

  1. Pelaksanan Tindakan
  • Pertemuan Pertama

Tindakan kelas pada siklus II pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Selasa, 26 April 2016 pada jam pelajaran ke 1 sampai dengan 2, dari pukul 07.00 sampai 08.15 WIB di kelas  kelas VII F yang jumlah siwanya sebanyak 35 orang, dengan indikator materi yang berbeda yaitu menerapkan teknik mengunci warna, menglorot malam, membersihkan malam, dan mengemas hasil batik tulis. Di sini peneliti masih menggunakan kolaburator yang sama. Dalam mengawali pelaksanaan tindakan kelas pada siklus II, guru memberikan apersepsi lagi  seperti pada siklus I. Guru menjelaskan materi yang akan dipelajari yaitu mendeskripsikan konsep dan teknik tentang konsep 4 P   ( penguncian warna, penglorotan malam, pembilasan dan pengemasan kain batik tulis ) Setelah selesai memberi penjelasan guru memberikan Lembar Kerja Siswa 3.

Guru membagi kerja kelompok seperti pada kelompok pada siklus I.. Guru menegaskan agar di dalam menentukan kelompok betul- betul sesuai dengan kemampuanna. Karena pada siklus I ada beberapa kelompok yang kurang sesuai dengan kemampuannya sehingga dalam kerja kelompok, mereka kurang aktif dan hanya mencatat dari hasil diskusi dikelompok.

Setelah masing-masing kelompok selesai membahas tugas LK,  selanjutnya guru menyuruh masing-masing kelompok untuk keluar mempersiapkan media yang ada, dan mengerjakan tugas praktik materi penguncian warna. Karena pekerjaan ini sangat beresiko tinggi, maka pengerjaannya melalui perwakilan kelompok saja, akan tetapi tidak mengurangi kegiatan kerja kelompok. Selama kegiatan penguncian warna berlangsung, semua kelompok memperhatikan perwakilan kelompok mempraktikkan teknik mengunci warna. Waktu penguncian melalui perendaman kain berlangsung 6 sampai 12 jam. Pada waktu kegiatan praktik penguncian warna, semua kelompok diberi waktu oleh guru pembimbingnya, untuk menanyakan masalah yang berhubungan dengan materi yang dibahas. Kemudian peneliti mengkonfirmasi jawaban yang diberikan dan menegaskan jawaban yang benar. Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah dibahas.

2).  Pertemuan Kedua

Pertemuan kedua proses pembelajaran dilaksanakan pada hari Selasa, 3 Mei 2016 pukul 07.00 sampai pukul 08.15 WIB bertempat di ruang kelas VII F. Sebelum melaksanakan pembelajaran, guru mengkondisikan kelas, antara lain mengucapkan salam, berdo’a, mengabsen dan menata tempat duduk. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Sebelum memulai praktik, guru memberikan waktu untuk bertanya mengenai teknik nglorot malam kepada semua kelompok. Guru menegaskan kembali teknik nglorot malam yang benar kepada semua kelompok. Kegiatan dimulai, semua perwakilan kelompok mempraktikan teknik nglorot yang benar sesuai dengan bahan kain dari masing-masing kelompok. Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah dilakukan.

3). Pertemuan Ketiga

Tindakan kelas siklus II pertemuan ketiga dilaksanakan pada hari Selasa, 10 Mei 2016, pada jam pelajaran ke 1 sampai 2 dimulai pukul 07.00 dan berakhir pada pukul 08.15 di kelas VII F yang jumlah siwanya sebanyak 38 orang. Peneliti masih dibantu oleh 1 orang kolaburator untuk melaksanakan pengamatan dan 1 orang kamerawan yang bertugas mendokumentasi proses pembelajaran.

Pada tahap  pendahuluan, peneliti menanyakan keadaan siswa, mengondisikan kelas antara lain mengucapkan salam, berdo’a, mengabsen siswa, menata tempat duduk, serta menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.  Semua siswa berada dikelompoknya masing-masing untuk mendiskusikan teknik pembilasan bahan kain yang akan dilorot, terutama tentang permasalahan yang belum dipahami. Setelah waktu yang ditentukan untuk diskusi di kelompok  berakhir. Masing-masing kelompok memaparkan teknik pembilasan yang benar kepada kelompok lain, kemudian guru menegaskan kembali hasil diskusi yang dibahas. Semua kelompok menuju ke depan kelas, dengan disaksikan oleh masing-masing kelompok mempraktikan cara pembilasan sesuai dari arahan guru pembimbingnya, dan setelah itu semua bahan kain tersebut, dijemur dengan tidak ternkena sinar matahari langsung.  Peneliti juga membimbing siswa dan mendorongnya untuk berpikir sendiri, menganalisis sendiri dengan memanfaatkan pengalamannya sehingga mereka dapat mengembangkan pemikirannya yang dapat dipakai untuk menyelesaikan tugas-tugas praktik telah dan akan dikerjakan. Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah dibahas.

  • Pertemuan Keempat

Pertemuan keempat dilaksanakan pada hari Selasa, 17 Mei  2016. Kegiatan yang  dilakukan  adalah  pengemasan hasil karya batik tulis. Sebelum melaksanakan pembelajaran, guru mengkondisikan kelas, antara lain mengucapkan salam, berdo’a, mengabsen dan menata tempat duduk. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Sesuai waktu yang telah ditentukan, bersama kelompoknya masing-masing, mendiskusikan teknik mengemas karya yang telah dibuat menggunakan bahan plastik kemas. Semua kelompok mempraktikan cara mengemas karya yang telah dibuat, dengan bimbingan guru.  Siswa bersama guru menyimpulkan hasil materi pembelajaran.

  1. Observasi Tindakan

Setelah dilakukan tindakan pada siklus II dengan beberapa perbaikan dan dilakukan observasi atau pengamatan terhadap proses pembelajaran, diperoleh data bahwa aktivitas siswa dalam pembelajaran projec Based Learning pada kelas VII F  SMP Negeri 1 Tegowanu Kabupaten Grobogan sudah menunjukkan hasil yang memuaskan yaitu sebesar 97,37 %  ( Lampiran ) .

Sementara itu dari hasil tugas siklus II, prestasi belajar penguasaan psikomotorik tentang Penguncian warna, Penglorotan malam, Pembilasan, dan Pengemasan ( 4 P ), tercatat 37 siswa atau  97,37 % siswa yang tuntas belajar dengan nilai rata-rata penguasaan psikomotorik sebesar 80,00 (Lampiran). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.3 dibawah ini :

 

Tabel 4. 3  Hasil Belajar Seni Budaya Siklus II

No. Aspek Rata-rata Keterangan
1 Nilai rata – rata  penguasaan psikomotorik 80,00 Indikator kinerja rata-rata 75 dengan ketuntasan ≥ 85% sudah tercapai
2 Ketuntasan belajar 97,37 %

Pada siklus II ini, dengan motivasi, penjelasan dan bimbingan guru secara menyeluruh pembelajaran sudah meningkat. Dalam siklus ini telah memenuhi indikator yang diharapkan. Oleh karena itu pelaksanaan tindakan kelas sudah dirasa cukup, dan tidak akan dilakukan tindakan pada siklus berikutnya.

  1. Refleksi Tindakan

Setelah dilakukan tindakan pada siklus II dengan melalui beberapa perbaikan dengan guru menegaskan agar di dalam menentukan ketua kelompok, betul-betul sesuai dengan tanggungjawabnya, sehingga dalam menyelesaikan praktik pada masing-masing kelompok berjalan dengan baik. Pengamatan yang dilakukan terhadap proses pembelajaran juga berjalan dengan baik, sehingga diperoleh data bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan jika dibandingkan pada siklus I. Pada siklus II rata-rata nilai kelas mencapai 80,00 dan ketuntasan belajar mencapai 97,37 %. Ini berarti tindakan kelas pada siklus II telah mencapai indikator yang diharapkan.

Pada siklus II ini, dengan memberi motivasi kepada siswa, serta penjelasan dan bimbingan yang terarah oleh peneliti, secara menyeluruh siswa sudah mempunyai keberanian untuk berekspresi menuangkan ide dan gagasannya untuk menghasilkan karya yang terbaik. Walaupun masih dijumpai sedikit kekurangan  pada saat siswa melakukan praktik mengerjakan tugas, namun hal ini masih dianggap sesuatu yang wajar.

Hal ini tidak menjadi masalah bagi peneliti dalam membuat evaluasi untuk mengetahui tingkat keberhasilan hasil belajar siswa. Sehingga secara keseluruhan hasil belajar siswa mengalami peningkatan pada siklus II ini. Tampak tabel 4.3 untuk hasil belajar siswa setelah diadakan tindakan pada siklus II mengalami peningkatan yang sangat baik. Terbukti pencapaian hasil belajar siswa yang sudah memenuhi harapan peneliti. Sehingga dapat  disimpulkan bahwa pada siklus ini telah memenuhi indikator yang diinginkan oleh peneliti. Oleh karena itu pelaksanaan tindakan kelas sudah dirasa cukup, dan tidak akan dilakukan tindakan berikutnya.

  1. B. Pembahasan

Hasil  penelitian  menunjukkan,   motivasi dan prestasi belajar  Seni Budaya siswa kelas  VII F mengalami  peningkatan  dengan menggunakan model pembelajaran Projec Based Learning ( PBL ).

  1. Pembahasan Siklus I

Pada siklus pertama, pembelajaran telah berlangsung dengan baik, sebagian besar siswa sudah cukup aktif mengikuti kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti. Siswa belajar melalui diskusi kelompok, dan praktik kerja kelompok, pembahasan LKS.

Pada pertemuan pertama, kegiatan pembelajaran belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Hal ini dikarenakan sebagian mengenai tugas siswa disibukkan dengan kerja sendiri-sendiri untuk mengerjakan lembar kerja dan langsung mengerjakan secara kelompok  sehingga menyita waktu untuk menyelesaikan kegiatan yang lain.

Pada pertemuan kedua, pelaksanaan  pembelajaran  dengan model pembelajaran Projec based Learning telah berjalan dengan baik. Para siswa sudah memahami dan terbiasa dengan model pembelajaran tersebut. Disamping siswa sudah bisa membagi waktu dengan baik dalam menyelesaikan tahapan-tahapan pembelajaran dengan baik seperti mengerjakan Lembar Kerja, diskusi kelompok dan praktik kerja kelompok. Hasil analisis lembar observasi motivasi belajar seni Budaya diketahui adanya peningkatan motivasi belajar siswa dengan telah melaksanakan keenam aspek motivasi yang diamati yaitu sebanyak 23 siswa atau 67,64%. Selain itu, dari hasil nilai tugas  siklus I prestasi belajar penguasaan psikomotorik materi mencuci bahan kain, mendesain, mencanting, mewarnai motif, dan mewarnai dasar, tercatat 6 siswa atau 15,79 % siswa yang tuntas belajar dengan nilai rata-rata penguasaan psikomotorik sebesar 72,82. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 4.1 dibawah ini:

Gambar 4.1. Grafik Peningkatan Rerata Motivasi, Hasil Belajar dan Ketuntasan Belajar Siswa pada Siklus I

  1. Pembahasan siklus II

Pada siklus kedua, pelaksanaan pembelajaran berlangsung dengan baik. Peneliti  dan siswa telah melaksanakan pembelajaran sesuai yang diharapkan, sehingga kegiatan pembelajaran dapat terlaksana dengan baik.

Pada pertemuan pertama maupun pertemuan kedua, siswa sudah aktif dan terbiasa dengan adanya kegiatan-kegiatan seperti diskusi kelompok, mengerjakan LKS, presentasi kelas, dan pembahasan soal. Semua tahapan-tahapan kegiatan dalam model pembelajaran ini dapat terlaksana dengan baik dan lancar, sehingga alokasi waktu yang tersedia dapat telaksana sesuai dengan yang telah direncanakan. Berdasarkan analisis data hasil observasi, motivasi belajar siswa dan hasil belajar Seni Budaya siswa kelas VII F  mengalami peningkatan. Dari hasil analisis lembar observasi motivasi  belajar,  menunjukkan  banyaknya  siswa  yang termotivasi  pada saat pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi motivasi belajar, siswa yang  berkategori  tinggi  pada  setiap  aspek  motivasi  telah mencapai lebih dari 75% yaitu sebanyak 35 siswa atau 91,44 %. Selain itu, dari hasil tugas praktik siklus II prestasi belajar penguasaan psikomotorik  tentang materi mengunci warna, nglorot malam, pembersihan bahan batik, dan pengemasan hasil karya ada  37 siswa atau  97,37 % siswa yang tuntas belajar dengan nilai rata-rata  penguasaan psikomotorik sebesar 80,00. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 4.2 dibawah ini:

SIKLUS 2

 

Gambar 4.2. : Grafik Peningkatan Rerata Motivasi, Hasil Belajar dan Ketuntasan Belajar Siswa pada Siklus II

  1. Pembahasan Antar Siklus

Pada proses pembelajaran yang berlangsung baik pada siklus I maupun siklus II, sebagian besar siswa aktif mengikuti kegiatan  yang dilaksanakan peneliti. Siswa belajar melalui kerja kelompok kerja praktik kelompok. Melalui Kerja kelompok, siswa dilatih untuk bekerja secara mandiri dan bertanggung jawab, bekerjasama, menentukan keputusan dan menghargai pendapat orang lain. Dengan kerja praktik kelompok, siswa diharapkan mampu bertanggung jawab terhadap tugas yang diembannya dan melalui  tugas praktik secara  kelompok  dapat  melatih  siswa  untuk mengembangkan kreasi, baik kreasi sendiri, maupun kreasi teman kelompok, dan kreasi teman antar kelompok, sehingga harapannya mampu bersosialisasi dengan siswa kelompok sendiri, ataupun sosialisasi dengan kelompok lain.

Dalam pembelajaran, diadakan  kegiatan  diskusi kelompok untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Suasana  yang  menarik  itu menyebabkan  proses  belajar  menjadi bermakna  secara afektif atau emosional  bagi siswa. Sesuatu  yang bermakna akan lestari diingat, dipahami atau dihargai. Pada saat menjawab pertanyaan dan melaksanakan tugas praktik, suasana belajar yang  tercipta  adalah  kompetisi  antar  siswa, dan kompetisi antar kelompok.  Suasana  kompetisi  mendorong siswa untuk belajar lebih baik lagi, sebagaimana diungkapkan oleh Herminarto Sofyan dan Hamzah Uno (2003:47), suasana persaingan akan memberikan kesempatan  kepada para siswa untuk mengukur  kemampuan  dirinya dengan kemampuan orang lain. Selain itu, belajar dengan bersaing akan menimbulkan upaya belajar yang sungguh-sungguh.

Hal ini dilakukan untuk memupuk rasa  ingin  tahu  siswa  tentang  suatu  hal,  sehingga  mendorong siswa untuk berusaha  segera  dalam mengatasi masalah yang dihadapi secara kelompok. Rasa ingin tahu merupakan daya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.

Berdasarkan hasil observasi motivasi belajar, motivasi belajar siswa pada siklus II pada siswa kelas II F  mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan dengan kegiatan pembelajaran pada kondisi awal maupun pada siklus I. Peningkatan motivasi belajar siswa itu dapat dilihat pada setiap aspek motivasi belajar yang diamati telah  mencapai lebih dari 75%, yang artinya banyaknya  siswa  yang  mencapai  kategori tinggi  pada  keenam  aspek  motivasi  telah  memenuhi  indikator  keberhasilan (≥ 75%). Selain itu, berdasarkan hasil belajar Seni Budaya siswa kelas VII F  mengalami peningkatan baik rata-rata penguasaan psikomotorik   maupun ketuntasan belajarnya dibandingkan tugas praktik hasil belajar Seni Budaya pada kondisi awal maupun siklus I.. Untuk lebih jelasnya dapat

dilihat pada gambar 4.3. dibawah ini

Gambar 4.3. : Grafik Perbandingan Peningkatan Rerata Motivasi, Hasil Belajar dan Ketuntasan Belajar Siswa antar siklus

Dari gambar 4.3 diatas, sangat jelas menunjukkan adanya peningkatan baik motivasi belajar, nilai rata-rata kelas maupun ketuntasan belajar siswa dari kondisi awal hingga kondisi akhir.  Peningkatan motivasi belajar siswa kelas VII F dari kondisi awal 55,25% menjadi 63,15 % pada siklus I dan 91,44 % pada siklus II atau kondisi akhir. Sementara itu nilai rata-rata penguasaan konsep siswa kelas VII F dari kondisi awal 69,65 menjadi 72,82 pada siklus I dan dan 80,00 siklus II atau kondisi akhir. Sedangakan peningkatan  ketuntasan belajar siswa kelas VII F dari kondisi awal 7,89 % menjadi 15,79 % pada siklus I dan  97,37 % siklus II atau kondisi akhir. Dengan demikian motivasi belajar, ketuntasan belajar maupun hasil belajar /nilai rata-rata penguasaan psikomotorik Seni Budaya materi Batik Tulis SMP Negeri 1 Tegowanu, Kabupaten Grobogan telah  mencapai  indikator keberhasilan yaitu nilai rata-rata 75 dan ketuntasan belajar lebih dari 85%

PENUTUP

 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran project based learning, dapat :

  1. Meningkatkan motivasi belajar Seni Budaya siswa kelas VII F SMP Negeri 1 Tegowanu materi Batik Tulis pada semester genap tahun pelajaran 2015/2016.
  2. Meningkatkan hasil belajar Seni Budaya siswa kelas VII F SMP Negeri 1 Tegowanu materi Batik Tulis pada semester genap tahun pelajaran 2015/2016

Saran

Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian diatas, maka saran yang dapat kami sampaikan antara lain sebagai berikut:

  1. Model pembelajaran project based learning  ( Project BL ) dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada pembelajaran Seni Budaya.
  2. Para guru diharapkan dapat memperkaya penerapan beberapa model pembelajaran yang lain untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada pembelajaran Seni Budaya.
  3. Model pembelajaran project based learning juga dapat diterapkan pada mata pelajaran lain.

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Arikunto,S., 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik . Jakarta : Rineka Cipta.
  • Arikunto, Suharsimi, Suhardjono, dan Supardi, 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara
  • ————-Permen No. 22 tahun  2006. Standar Isi Kurikulum Pendidikan Seni Budaya tahun  2006. Jakarta : Depdiknas
  • Danim, S.2002. Menjadi peneliti Kualitatif. Bandung : CV. Pustaka Setia.
  • Grant, R.M. 2002. Contemporary Strategic Analysis, 4 th.,Oxford : Blackwell.
  • Hamalik,O. 2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : PT Bumi Aksara.
  • Harminarto, S. dan Hamzah, U. 2003. Teori Motivasi dan Aplikasinya dalam Penelitian. Gorontalo : Nurul Jannah.
  • Johnson, David W. And Roger T. Johnson. 1984. Cooperation in the Classroom, Edina Minnesota. A publication Book Company.
  • Mulyasa. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
  • Moleong,   Lexy   J.  2002. Metodologi Penelitian Kualitatif.  PT Remaja Bandung : Rosdakarya.
  • ————–Kemendikbud. 2013. Kemendikbud No. 54, 64, 65, 66 tentang : Standar Kelulusan, Standar Isi, Standar Proses, Setandar Penilaian.
  • Nazir, Moh. 2005. Metode Penelitian. Bogor Selatan: Ghalia Indonesia
  • Raka Joni dan Linen (1984). Belajar dan Pembelajaran.Jakarta: Depdikbud
  • Supriyanto.E.,2007.Inovasi Pendidikan. Solo : UMS Press.
  • Sumadi, S.1984. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rajawali.
  • Suwandi, S. 2009. Model Assessment dalam Pembelajaran. Surakarta : Panitia Sertifikasi Guru          ( PSG ) Rayon 13.

Sumber Internet :

 

<img class=”alignnone size-thumbnail wp-image-673″ src=”https://suaraguru.files.wordpress.com/2009/03/issn1.jpg?w=128&#8243; alt=”” width=”128″ height=”91″ />

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tags: , .

Krisis Keteladanan Andai Sekolah Seunik Gadget


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: