Andai Sekolah Seunik Gadget

11 Oktober, 2016 at 7:28 am

Nurul YaqinOleh Nurul Yaqin SPdI
Guru MI Unggulan Daarul Fikri Cikarang Barat Bekasi, Jabar

Ketika penulis melakukan kegiatan home visit (silaturrahmi antara guru dan orangtua murid terkait perkembangan anak didik) ke rumah salah satu murid, orang tuanya berujar “pak, anak saya di rumah tidak mau lepas dari handpone (HP). Setiap waktu selalu main game. Bahkan ketika belajar pun harus memegang HP”. Pernah juga salah satu orangtua murid mengeluh lantaran prestasi anaknya yang menurun karena sering berselancar dengan alat komunikasi ini.

Peristiwa di atas adalah fenomena kecil anak masa kini. Fenomena yang disebabkan oleh canggihnya teknologi. Kehebatan teknologi membuat manusia tergiur tanpa memandang usia. Kemajuan teknologi selalu meluncurkan produk-produk baru yang membuat hidup manusi lebih mudah. Salah satu produk teknologi yang paling digandrungi oleh masyarakat saat ini adalah  gadget. Selain bentuknya yang sederhana juga selalu menawarkan hal-hal baru.

Gadget adalah sebuah istilah yang berasal dari bahasa inggris, yang artinya perangkat elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus. Dalam bahasa Indonesia, gadget disebut sebagai “acang”. salah satu hal yang membedakan gadget dengan perangkat elektronik lainnya adalah unsur “kebaruan”. Artinya, dari hari ke hari gadget selalu muncul dengan menyajikan teknologi terbaru yang membuat hidup manusia menjadi lebih praktis (Wikipedia).

Sekarang, gadget bukan lagi kebutuhan “sekunder” akan tetapi telah menjelma menjadi kebutuhan “primer”. Data menunjukkan bahwa 80% dari penduduk Jakarta selatan, anak banyak menggunakan gadget sebagai sarana bermain. 23% orang tua yang memiliki anak berusia 0-5 tahun mengaku bahwa anak-anak mereka gemar menggunakan internet, sedangkan dari 82% orang tua melaporkan bahwa balita mereka online setidaknya sekali dalam seminggu (News Media, 05/02/2015)

Peran Sekolah

Sungguh menyimpang jika ada yang beranggapan bahwa sekolah hanya sekedar legalitas pendidikan. Mendefinisikan sekolah tidak sesederhana itu. Ada tanggung jawab besar (responsibility) di pundak sekolah sebagai lokomotif pembangunan manusia.

Sekolah telah terbukti banyak menelurkan generasi-generasi handal (the best ouput). Sekolah adalah ladang paling strategis dalam mendidik, membimbing dan mengarahkan anak didik menjadi manusia yang berakhlak mulia (akhlakul karimah). Tentu, keberhasilan sekolah tidak akan lepas dari peran sentral seorang guru yang selalu loyal dalam membimbing anak didik di sekolah. Ibarat organg tubuh guru adalah jantung yang akan selalu menuntun anak didik pada jalan kebaikan.

Peran guru dalam fase perkembangan anak didik sangat signifikan. Selain mentransfer ilmu, guru dituntut untuk selalu menanamkan pendidikan moral agar anak mejadi manusia yang bermartabat dan bermanfaat. Uswah hasanah guru menjadi panutan bagi anak didiknya (learning by doing). Maka tak salah jika guru diibaratkan malaikat nyata yang akan membawa  anak didiknya menuju manusia yang pintar secara IMTAK (iman dan takwa) dan IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknolgi).

Anak didik diajarkan dan diarahkan untuk menjadi manusia bermoral, berdedikasi tinggi, cerdas, unggul dan berprestasi. Guru dengan segenap usaha (ilmu, tenaga bahkan harta) membimbing anak didik agar menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain (anfa’uhum linnas).

Peran gadget

Apalacur, perjuangan sekolah dan guru untuk mencerdaskan anak didik tercekat oleh sisi negatif teknologi. Gadget seolah menjadi musuh dalam selimut. Dengan lihainya anak didik diracuni dengan tampilan game yang sangat memukau. Sehingga tak jarang anak didik menjadi kecanduan.

Ketika anak didik diajarkan pentingnya kasih sayang sesama teman, terkikis oleh kekuatan game yang berisi jotos-jotosan. Ketika guru memberi pekerjaan rumah (PR), anak didik lupa tidak mengerjakan lantaran asiknya berselancar dengan dunia game. Ketika guru mengajarkan arti kehidupan sosial, gadget dengan lihainya menjadikan anak didik lebih induvidualis dan tempramental.

Seiring laju pesatnya teknologi, perangkat lunak ini sering kali menampilkan hal-hal baru yang menarik perhatian publik. Game dikemas dengan tampilan memukau yang menyebabkan anak ketagihan. Dalam penyajiannya, game dihiasi dengan gambaran dan warna yang sangat mencolok dan menarik. Tantangan dalam game membuat anak ingin bermain lebih. Jika anak berhasil menaklukkan permainan dan menjadi pemenangnya, anak akan diapresiasi dengan gegap gempita; keluar banyak kembang api dan point yang semakin bertambah.

Sebaliknya, tampilan sekolah kita terkesan stagnan. Tradisi lama telah mengakar kuat dan tidak bisa dilepaskan. Pembelajaran tetap sama, membosankan. Penyakit teacher talking time (ceramah yang berkepanjangan) tetap dipelihara. Nilai kognitif hanya menjadi target utama tanpa memperdulikan kebutuhan anak didik. Maka dari itu, wajar anak didik akan lebih tergiur kepada gadget yang berisi berbagai macam permainan yang penuh tantangan dengan reward yang spektakuler.

Sekolah yang Menyenangkan

Sudah saatnya satuan pendidikann (sekolah) kita merubah tradisi konservatif. ubah gaya belajar guru yang cenderung membosankan. Kemas pembelajaran dengan tampilan yang menarik dan menyenangkan layaknya permainan (game) dalam gadget. Gali potensi anak didik dengan pola pembelajaran yang unik dan sesuai dengan pola kecerdasannya (discovering ability).

Guru sebagai pemeran utama perubahan harus lebih aktif menjadikan pembelajaran lebih kreatif dan inovatif. Guru harus menjadi narkotika yang bisa mencandukan anak didik dengan ide dan imajinasi uniknya. Ketika energi dan fokus guru diarahkan untuk model yang kreatif-inovatif, proses pembelajaran akan menarik minat siswa untuk belajar dengan antusias dan enjoy (Munif Chotib, 2009 : 123). Ketika sekolah memberikan kepuasan batin kepada anak seperti halnya game, maka anak akan lebih terpacu untuk selalu belajar dan menjadikan sekolah sebagai tempat belajar yang asyik, unik, nyaman dan menyenangkan. (Kontak person : 081939003467. Email: mutiarayaqin@gmail.com)

 

Entry filed under: Artikel Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI). Tags: , .

Motivasi dan Hasil Belajar Deni Pembuatan Batik Tulis Hari Santri Nasional, Hari Kebangkitan Kaum Santri


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: