Krisis Keteladanan

7 Oktober, 2016 at 12:00 am

moh-ramliOleh Moh Ramli
Mahasiswa Universitas Pesantren Darul Ulum (UNIPDU)Jombang

 

 

“Guru kencing berdiri, siswa kencing berlari”

Peribahasa di atas tentu sudah familiar di telinga kita. Makna yang terkandung dari Peribahasa diatas adalah bahwasannya guru adalah manusia teladan yang segala tindak tanduknya selalu dicontoh oleh muridnya. Karna kitapun tak bisa menutup mata, bahwa Keteladan guru dinegeri ini nampak semakin krisis. Dimana seorang guru yang seharusnya menjadi kompas positif untuk anak didiknya. Guru yang seharusnya di gugu dan di tiru malah menjadi penampakan negatif di muka pendidikan.

Imam Ghazali telah menegaskan bahwa, seorang guru harus mempunyai kompentensi yang pertama, guru harus mempunyai sifat kasih sayang, kedua,guru melakukan aktivitasnya karna Allah, ketiga,guru mampu memberi nasehat yang baik, keempat,guru mampu mengarahkan peserta didik kehal-hal yang baik, kelima guru mengetahui tingkat nalar dan intelektual anak didiknya, keenam, mampu menumbuhkan kegairahan anak didiknya, ketujuh mampu mengedentifikasi materi yang sesuai dengan usia peserta didik, dan kedelapan, mampu memberikan teladan.

Salah satu karakter generasi terbaik adalah semangat menularkan kebaikan kepada sebanyak mungkin orang. Oleh karena itu keteladanan tidak bisa hanya ditularkan lewat lisan, tetapi dengan perbuatan (eksperesi). Makin tinggi otoritas yang dimiliki oleh seorang pendidik, makin luas pulalah pengaruh efek keteladanan pada anak didik.

Zuhairi Misrawi (2010) dalam hal ini dilingkungan pesantren misalkan, sangat di tekankan sebuah prinsip, lisan al-hal kyairun min lisan al-maqal, yaitu keteladan yang jauh lebih di utamakan dari pada orasi lisan.

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan, seorang pendidik diharuskan untuk mengantongi kompetensi propesional, bedagogis, kepribadian, serta sosial.

Dari keempat kompetensi tersebut, tentunya menambah sederetan kemampuan yang harus dimiliki pendidik, bukan saja secara intelektual namun secara personal yaitu kepribadian yang positif (toyibah), kepribadian yang sholeh, kepribadian yang menampakkan keteladan, kepribadian yang memberikan motivasi terhadap peserta didiknya. Ini semua ada pada aspek karakter dan kometmen pendidik tersebut.

Fakta yang terjadi belakangan ini,  terlansir di Metrolangkat-binjai.com, yang terjadi di Jl kampung baru, Kel Brandan barat, iiyas (40) seorang guru honor disekolah dasar (SD) 11 di pangkalan Brandan, yang tega mencabuli, NA (12) yang merupakan anak didiknya sendiri yang masih duduk dibangku VI (14/5/2016).

Menurut survei yang dilakukan oleh International Center for Research on Women (ICRW) pada 2015 lalu yaitu sebanyak 84% kekerasan. Angka tersebut lebih tinggi dari tren di kawasan asia yakni 70% (liputan6.com).

Hal ini mengartikan bahwa betapa ironisnya moral pendidik di negeri kita ini. Sarjana pendidikan (S.Pd), namun belum mampu mendidik dengan harapan masyarakat. Indonesia sendiri mengeluarkan sarjana pendidikan, strata satu (S-1) setiap tahunnya sekitar 260.000 sarjana.

Hemat saya, seharusnya seorang pendidik harus mengajarkan dengan tindakan yang efektif, yang dapat menginspirasi kebajikan bagi pelajar dari pada menyampaikan materi secara lisan yang hanya kebohongan semata. Dimana perilaku dan materi yang di ajarkan harus menjadi satu kesatuan yang sesungguhnya.

Oleh karnanya, guru adalah harapan masyarakat untuk membangun karakter positif yang luhur bagi muda-mudi generasi bangsa ini, jika itu terbangun, maka niscaya negeri yang kaya raya ini dengan sendirinya terwujud sebuah perdamaian, kemakmuran, kesejahteraan dan tanpa maling-maling berdasi (koruptor).(Email: ramly_moh@yahoo.co.id”>ramly_moh@yahoo.co.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Keadilan dan Ksejahteraan Motivasi dan Hasil Belajar Deni Pembuatan Batik Tulis


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: