Keadilan dan Ksejahteraan

3 Oktober, 2016 at 7:09 am

moh-ramliOleh Moh Ramli
Mahasiswa Universitas Pesantren Darul Ulum (UNIPDU)Jombang

 

 

Bicara pendidikan yang berkualitas, tidak terlepas dari kualitas seorang pendidik (guru) itu sendiri. Tidak hanya kualitas akademiknya saja namun juga kualitas ke ikhlasannya (kalbu) dalam arti ikhlas mengayomi dan mendidik.

Masih teringat betul dalam benak saya, semasi duduk di sekolah SMP, SMA saya begitu sering menjumpai perkataan guru yang mengatakan ‘’gaji saya kecil, maka tolong hargai saya’’ dari perkataan guru tersebut dapat disimpulkan bahwa kadar keikhlasan seorang pendidik juga dapat dipengaruhi kadar upah yang ia terimanya. Walau demikian arti ikhlas itu sendiri dalam pendapat Al’izz bin abdis salam, seorang ulama besar kelahiran damaskus tahun 577 H, bahwa ikhlas ialah, seorang mukallaf melaksanakan ketaatan semata-mata karna Allah. Dan tidak berharap pengagungan dan penghormatan manusia dan tidak pula berharap manfaat dan menolak bahaya.

Namun yang harus digaris bawahi adalah, merujuk kesifat kemanusian tadi, guru juga butuh materi untuk bertahan hidup. Untuk memenuhi sandang dan pangannya. Untuk itu selayaknya seorang pendidik, harus di penuhi terlebih dahulu kebutuhanya.

Dan juga tidak bisa dipungkiri bahwa taraf sekolah nasional dan taraf sekolah internasional sangatlah jauh prestasinya. Alasan yang nampak, kita tau, sekolah yang bertaraf internasional dari segi fasilitas, honor guru, apalagi yang sudah pegawai negeri sipil (PNS) jauh lebih maksimal ketimbang sekolah yang bertaraf sekolah nasional.

Mungkin itu juga alasan mengapa sekolah gratis itu tidaklah baik untuk pelajar, yang mana perpustaan saja tidak memadai, gedung sekolah yang mungkin tidak nyaman di tempati, metode pengajarannya yang masih jadul (jaman dulu), dorongan kepada pelajar untuk belajar secara semangat sangatlah rendah. Karna penulispun sudah pernah mengalaminya sendiri.

Tahun 2014, sekolah internasional di Indonesia, ada 111 sekolah, di antaranya adalah DKI Jakarta 41 sekolah, banten 11 sekolah, jawa barat 15 sekolah (1 dikabarkan tutup) jawa tengah 5 sekolah, Jogjakarta 1 sekolah, jawa timur 11 sekolah, bali 11 sekolah, sultara 1 sekolah, sulawesi selatan 2 sekolah, NTB 1 sekolah, papua 2 sekolah, kaltim 5 sekolah, riau 3 sekolah, Sumatra utara 2 sekolah, (JPNN.com, sumber : kementerian pendidikan dan kebudayaan 31/2014) lalu.

Lalu bagaimana pemerintah dalam menyikapi hal ini ? yang sewajibnya adalah pelayan masyarakat, harapan terakhir dalam memendam dalam – dalam problem ini.

Misalkan, Seperti yang terjadi di Pulau Longos, NTT. Listrik, sekolah, perekonomian masih jauh tertinggal dan terbelakang. Tidak hanya itu, yang terlansir di Liputan6.com, lebih ironis, 9 (Sembilan) guru di SMA Bahrul Ulum Pulau Longos, sama sekali tak pernah menerima gaji, dikarenakan pihak sekolah belum mampu memberikan gaji yang layak sebagai seorang guru. Bahkan agar mendapatkan uang, para guru tersebut ikut bekerja sebagai nelayan.

Dari papar diatas menggambarkan masalah utama dalam hal kesejahteraan para pendidik, hemat saya adalah rasa keadilan. Bagaimana pengupayaan pemerintah agar mampu mengisi rasa keadilan, bagi para pendidik dalam hal kesejahteraan. Hal Ini yang masih belum teroptimal. Harapan yang di aminkan kita, pemerintah yang baru saat ini (era Jokowi) bisa mengelola sistem yang lebih baik dan menyeluruh dari sabang hingga merauke.

Dari itu, dimana guru adalah juru selamat pendidikan. Baik tidaknya kualitas pendidikan sebagian besar tergantung pada guru. karena itu, beban guru sangatlah berat. Oleh karenanya merupakan suatu kewajaran jika kesejahteraan guru harus diperhatikan secara lebih serius.

Seperti yang dikatakan oleh Usman Awang, seorang sastrawan negera Malaysia,

jika hari ini seorang perdana menteri berkuasa, jika hari ini seorang raja menaiki tahta, jika hari ini seorang presidensebuah negara, jika hari ini seorang ulamayang mulia, jika hari ini seorang peguam menang bicara, jika hari ini seorang penulis terkemuka, jika hari ini siapa sahaja menjadi dewasa; sejarahnya dimulaikan oleh seorang guru biasa, dengan lembut sabarnya mengajar tulis-baca

Akhirnya, guru mempunyai andil yang begitu vital dalam mencerdaskan muda mudi bangsa ini, hingga  negeri ini bisa maju jauh dari keterpurukan, keterbelakangan dan sejahtera. Semogah. (Email: ramly_moh@yahoo.co.id”>ramly_moh@yahoo.co.id).

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: .

Tanah Suci Kita Krisis Keteladanan


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: