Mengenal Pembelajaran Negosiasi dalam Cerpen Anak

1 Oktober, 2016 at 12:00 am

lucas-formiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

Pada suatu saat kita sebagai orangtua pernah bernegosiasi dengan anak-anak. Misal, pada saat libur, orangtua duduk bersama dengan anak-anak, lalu diadakan pembicaraan tentang rupa-rupa kegiatan untuk mengisi hari libur.

Pun kita sebagai guru  pernah bernegosiasi dengan para murid. Misal, rencana karya wisata, para guru duduk bersama dengan para murid untuk menentukan apa, kapan, dimana, dan bagaimana karya wisata dilakukan.

Apa yang dimaksud dengan negosiasi ?

Menurut Kristi Poerwandari (dalam “Negosiasi”, Kompas, 20 Agustus 2016), negosiasi adalah komunikasi timbali balik di antara pihak-pihak, dengan tujuan untuk menemukan penyelesaian masalah atau titik temu. Mengingat hidup ini kompleks dan tidak lepas dari konflik, kemampuan benegosiasi menjadi hal penting untuk dimiliki.

Pembelajaran tentang negosiasi juga ada dalam cerpen-cerpen anak. Hal tersebut saya temukan dalam majalah anak-anak “Bobo”, yaitu :

1.”Rainbow Cake untuk Papa”, karya Novita Sari, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 3 Desember 2015, hal.38-39.

2.”Topi Pink Berbulu”, karya Nurhayati Pujiastuti, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 5 Maret 2015, hal.26-27.

3.”Gambar Hati untuk Ayah”, karya Nurhayati Pujiastuti, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 20 Agustus 2015, hal.40.

4.”Om Kecil”, karya Sitta M Zein, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 8 Oktober 2015, hal.46-47.

5.”Kiki Mau Sekolah Lagi”, karya Dian Sukma Kuswardhani, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 1 Oktober 2015, hal.48-49.

Berikut kutipan-kutipan yang saya temukan dalam cerpen-cerpen anak tersebut di atas, yang menunjukkan negosiasi, yaitu :

1.Denda jika ketahuan merokok

Novita Sari menyampaikan pesan tentang negosiasi yang ada dalam keluarga. Untuk mencegah agar orangtua tidak merokok lagi, maka diadakan pembicaraan bersama, yaitu antara anak dan orangtua. Dari hasil pembicaraan, ada kesepakatan, apabila orangtua ketahuan merokok, maka akan kena denda. Berikut kutipan yang ada dalam cerpen “Rainbow Cake untuk Papa”, karya Novita Sari :

-Malam harinya, Nadine mencium bau sesuatu.

-“Sst … Kak Nino cium bau asap rokok enggak?” Nadine melongok ke kamar Nino yang tak ditutup. Nino langsung beranjak dari tempat tidurnya sambil tersenyum jenaka,”Akhirnya ada rejeki, nih, untuk beli cupcakes kesenangan Mama,” kata Nino.

-Mereka tertawa dan serempak berjalan ke arah taman belakang.

-“Papa … ketahuan merokok lagi. Ayo, denda Rp 30.000,00,” teriak Nino dan Nadine serempak. Papa yang sedang asyik menghisap rokok, terlonjak kaget, lalu langsung mematikan puntung rokok di asbak.

-“Mahal sekali?” protes Papa.

-“Ini, kan, sudah pelanggaran ke-6, Pa. Sesuai kesepakatan yang Papa buat sendiri, dendanya akan berlipat ganda. Di awal, Papa bilang dendanya mulai Rp 5.000,00. Lalu pelanggaran ke-2 sebesar Rp 10.000,00. Hingga saat ini, pelanggaran ke-6, berarti Papa harus bayar Rp 30.000,00,” terang Nino sambil tertawa-tawa penuh kemenangan. Nadine langsung berjalan mendekati Papa. Ia menyodorkan tangannya.

-Sambil bersungut, Papa merogoh saku belakang celananya. Dikeluarkan dompet kulit cokelat dan langsung menarik uang sebesar Rp 30.000,00. Nadine cepat-cepat menerima uang dari Papa.

“Sebaiknya Papa berhenti merokok saja. Selain uang Papa habis untuk beli rokok, habis untuk bayar denda pada kami, Papa juga jadi tidak sehat,” kata Nadine (hal.38).

Diceritakan berikutnya, papa Nadine dan Nino berhenti merokok. Untuk itu mama Nadine dan Nino membuat kue sebagai hadiah untuk papa mereka yang ingin berhenti merokok. Demikian kutipan :

-“Justru kue ini buatan Mama. Hadiah istimewa untuk Papa yang bertekad untuk berhenti merokok. Kita semua akan membantu Papa untuk menghentikan kebiasaan buruknya. Bukan dengan denda, tapi dengan kasih sayang. Sehingga Papa sadar untuk hidup sehat. Setuju?” kata Mama sambil menunjukkan pula stiker dilarang merokok yang ditempel di beberapa sudut rumah. Nadine dan Nino bersorak gembira (hal.39).

2.Membeli topi sebagai kenangan

Cerpen “Topi Pink Berbulu”, karya Nurhayati Pujiastuti, ingin menyampaikan pesan tentang upaya untuk membeli topi kesayangan. Topi kesayangan itu akan mengenang kasih sayang nenek kepada anaknya. Upaya itu tampak sekali ketika ibu Aindra berkali-kali pergi ke toko untuk melihat topi yang akan dibelinya. Namun, sayang, tabungan ibu Aindra belum mencukupi.

Berikutnya, ketika uang tabungan sudah dirasa cukup, ibu Aindra segera pergi ke toko untuk membeli topi pink berbulu. Meskipun ayah Aindra tidak setuju, apabila ibu Aindra membeli topi itu, dan memakainya. Berikut kutipan :

-Topi berbulu itu masih saja Ibu pikirkan meski Ayah sudah menggelengkan kepala. Menurut Ayah, Ibu lebih cocok beli jepit rambut, bukan topi. Apalagi topi berwarna pink dengan hiasan bulu seperti anak kecil.

-“Tabungan Ibu sudah cukup,” ujar Ibu pada Aindra.

-Aindra memandangi wajah Ibu. Aindra kasihan pada Ibu. Karena itu, Aindra mengikut saja ketika Ibu mengajaknya kembali ke toko itu (hal.26).

Ketika sampai di toko, ternyata topi pink berbulu itu sudah tidak ada. Mungkin, topi itu sudah dibeli orang. Ibu Aindra merasa sedih. Namun, kesedihan ibu Aindra tidak berlama-lama, karena ayah Aindra membawakan topi pink berbulu. Demkian kutipan yang mengharukan :

-Tiba-tiba Ayah membawakan topi pink dengan hiasan bulu untuk Ibu sambil tersenyum. Ayah baru pulang kerja. Aindra lihat mata Ibu berkaca-kaca ketika menerima hadiah itu.

-“Ibu sedang kangen pada almarhum Nenek. Nenek dulu pernah membuat topi pink dengan hiasan bulu untuk Ibu. Tapi topi itu hilang ketika pindah rumah.”

“Dan Ayah tahu itu?” tanya Aindra.

-Ayah mengangguk dan tersenyum pada Aindra (hal.27).

3.Mengungkapkan perasaan lewat gambar

Nurhayati Pujiastuti menyampaikan pesan tentang ungkapan perasaan dari anak-anak. Ada beberapa cara untuk menyampaikan ungkapan perasaan, bisa melalui bicara, tulisan, atau gambar. Melalui cerpennya yang berjudul “Gambar Hati untuk Papa”, Nurhayati Pujiastuti, menceritakan tentang Kiko yang ingin mengungkapkan perasaannya lewat gambar. Cara ini dilakukan oleh Kiko karena pembelajaran yang diberikan oleh ibunya. Demikian kutipan :

-Bunda memang selalu memberi contoh gambar pada Kiko. Setiap kali Kiko sedih atau ingin bicara pada Ayah, Bunda meminta Kiko untuk menggambar.

-Kemarin dulu, Kiko ingin sepatu. Ibu meminta Kiko menggambar sepatu. Sekarang, Kiko sedang kangen dan ingin bermain bola dengan Ayah.

-“Sedih Kiko, kan, ada di dalam hati. Jadi, Kiko menggambar hati saja,” saran Bunda (hal.40)

Kiko mengiyakan saran dari ibunya. Lalu gambar itu, Kiko tempel di depan pintu kamar ayah dan ibunya. Berikut kutipan :

-Gambar hati berwarna hitam itu artinya sedih. Hati Kiko sedih karena Ayah tidak dekat dengan Kiko. Gambar hati itu juga Kiko beri tetesan air mata. Kiko pernah melihat gambar hati menangis di buku komik koleksinya.

-Ayah mengelus kepala Kiko.

-“Maafkan Ayah, ya?”

-Kiko menunduk. Kiko jadi malu.

-“Hari ini, Kiko temani Ayah bersepeda, ya?” Biar hati Kiko warnanya tidak hitam lagi …,” Ayah merangkul bahu Kiko.

-“Setelah itu, Kiko bantu Ayah menyikat kolam ikan. Terus …”

-“Terus ke taman main perosotan, terus beli jajan terus … terus main bola.”

-Ayah mengangguk (hal40.

4.Sepakat dengan nama panggilan

Mazza adalah saudara sepupu Semeru. Dia satu sekolah dengan Semeru. Gara-gara Mezza memanggil Semeru dengan sebutan “Om Semeru” di sekolah, akhirnya teman-temannya juga menirukan memanggil “Om Semeru”. Hal ini dapat dilihat dalam cerpen berjudul “Om Kecil”, karya Sitta M Zein, demikian :

-Hari pertama masuk sekolah kemarin, aku bertemu dengan Mazza. Ia berteriak memanggilku “Om Semeru!”.

-Kebetulan ada Lidya, teman sekelasku, di dekatku. Ia kaget mendengar panggilan itu.

-“Hah? Anak itu memanggilmu Om?” tanyanya (hal.46)

Meskipun Semeru telah menjelaskan kepada Lidya, namun tetap saja teman-temannya tetap menanggilnya “Om Semeru”, bahkan ada yang panggil “Om Kecil”. Demikian kutipan :

-Sejak itu, teman-temanku ikut-ikutan memanggilku Om. Sebagian malah memanggilku Om Kecil. Tentu mereka lakukan sambil tersenyum atau malah tertawa-tawa (hal.46).

Ketidaksukaan Semeru ketika dia dipanggil dengan sebutan “Om Semeru” atau “Om Kecil” disampaikan kepada ayah dan ibunya. Lalu ayah dan ibunya membantu Semeru untuk mengatasi hal tersebut. Seperti berikut kutipannya :

-“Aku tidak suka!” teriakku.

-“Menurut Ayah, panggilan itu istimewa, lo,” Ayah tersenyum lebar. “Mana ada anak lain yang dipanggil begitu? Kamu tinggal jawab saja, ada apa keponakan? Begitu.”

-“Bagus itu, usul Ayah,” komentar Ibu. “Tidak usah marah. Mereka, kan, Cuma bercanda. Tanggapi dengan candaan juga, dong.”(hal.47).

Semeru memperhatikan usulan ayahnya. Dia akan mempraktikannya , ketika ada temannya yang menyapanya.

-“Om Semeru sudah datang,” kata Lidya begitu aku tiba di kelas pagi itu.

-Pandangan teman-teman segera saja tertuju padaku.

-Kuberanikan diri untuk menatap Lidya dan membalas sapaan itu. “Selamat pagi, keponakan.”

-Lidya tampak terkejut. Pasti ia tidak menduga aku akan menjawab seperti itu. Beberapa teman yang mendengar jawabanku, tertawa sambal memandang Lidya. Tampaknya Lidya malu, sehingga ia kemudian laru leluar kelas.

-Aku tersenyum lebar melihat hal itu. Ternyata jurus yang diberikan Ayah cukup majur (hal.47).

5.Semangat untuk berangkat ke sekolah

Cerpen “Kiki Mau Sekolah Lagi” menggambarkan anak yang semula ngambek tidak mau sekolah, akhirnya mau sekolah lagi. Sebagai penulis cerpen, Dian Sukma Kuswardhani, membuka ceritanya tentang alasan Kiki tidak mau sekolah, demikian kutipannya :

“Pokoknya aku tidak mau sekolah!” rajuk Kiki.

-“Kenapa tidak mau sekolah?” tanya Mama.

“Sekolahnya tidak enak. Temannya tidak ada yang Kiki kenal. Kiki mau ke sekolah yang lama saja,” rengek Kiki (hal.48).

Selanjutnya diceritakan bahwa ketika Kiki main sepeda, dia terjatuh. Lalu ada yang menolongnya. Namanya Fita. Dia tinggal tak jauh dari tempat Kiki jatuh. Ternyata Fita mengenal sejak pertama kali Kiki masuk sekolah. Sebenarnya banyak teman yang ingin berkenalan dengan Kiki. Tetapi, Kiki selalu menghindar dan menyendiri di perpustakaan.

Sebagai penutup cerita, Dian Sukma Kuswardhani, menggambarkan Kiki mau sekolah lagi. Karena Kiki sudah mempunyai teman yaitu Fita. Kemauan Kiki untuk bersekolah, digambarkan demikian :

-“Hmm … Mama yakin masih banyak teman-teman lain di sekolah yang juga baik seperti Fita. Kamu bisa mulai kenalan dengan mereka satu per satu …” nasihat Mama.

-Kiki tersenyum. Mama benar. Pasti masih banyak anak lain di sekolah yang mau berteman dengannya seperti di sekolahnya yang dulu (hal.49).

 

Beberapa catatan praktis berikut ini dapat dijadikan bahan pembelajaran tentang negoisasi, yaitu :

1.Cerpen sebagai bagian dari karya sastra merupakan representasi manusia dalam masyarakat (Nyoman Kutha Ratna, 2014:202).

2.Sejak awal, anak-anak bisa dilatih oleh orangtua atau guru untuk bernegoisasi. Dengan cara ini mereka belajar juga berkomunikasi dan menyelesaikan masalah yang menyangkut dirinya dan orang lain.

3.Terkait dengan negosiasi, masih menurut Kristi Poerwandari, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni tujuan atau goal dari negosiasi, memahami cara berpikir pihak lain, dan cara pendekatan kita dalam berkomunikasi.

Hal penting adalah cara kita berkomunikasi. Secara umum orang akan kurang nyaman dan mudah kesal berkomunikasi dengan pihak yang kurang bersedia mendengar, bersikap menyalah-nyalahkan atau tidak bersedia berkompromi.

Sebelum pertemuan negosiasi, mungkin diperlukan latihan-latihan untuk dapat berkomunikasi secara luwes, asertif, dan strategis.

Referensi :

  • Kristi Poerwandari, dalam “Negosiasi”, Kompas, 20 Agustus 2016.
  • Nyoman Kutha Ratna, S.U., Prof., Dr., Peranan Karya Sastra, Seni, dan Budaya dalam Pendidikan Karakter, Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Cetekan Pertama, 2014.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Ibu dan Generasi Bangsa Tanah Suci Kita


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: