Ibu dan Generasi Bangsa

30 September, 2016 at 12:00 am

moh-ramliOleh Moh Ramli
Mahasiswa (Universitas Pesantren Darul Ulum UNIPDU)Jombang

 

 

KASIH IBU

Kasih ibu

Kepada beta

Tak terhingga

Sepanjang masa

Hanya memberi tak harap kembali

Bagai sang surya, Menyinari dunia

  1. Mochtar

Sungguh, rasanya setiap hari, saat membuka social media (sosmed) mungcul berita yang mungkin menandakan akhir zaman dunia ini. penemuan anak yang baru lahir  di pinggir jalan, sawah, sungai. penganiayaan, pembunuhan, penelantaran anak, oleh orang tua kandungnya sendiri.

Kalau difikir secara nalar sehat, mana mungkin, dara daging sendiri yang di dalam Rahim 9 (Sembilan) bulan lamanya, setelah terlahir kedunia menjadi sasaran penyiksaan. Singa yang lapar pun tak akan memangsa anaknya sendiri.

Namun seperti itulah realitanya yang terjadi. Kasus belakangan ini misalkan, yang terlansir TRIBUNNEWS.COM, Makasar (30/8/2016) R (nama inisial) (24) ibu yang menyiksa anak kandungnya sendiri N (13), hingga kritis dirumah sakit, terduga aksi kejamnya itu sudah dilakukan sejak lama. Hal ini terlihat dari kondisi fisik korban yang kurus dan lemah, serta rambut yang hampir habis karna selalu dipangkas ibunya itu.

Lalu kemana yang katanaya kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa itu, lagu yang diciptakan oleh SM Mochtar yang saya dengar dari kecil. Dan jadi mungkin inilah salah-satu factor pudarnya generasi bangsa yang menjadi cita – cita bangsa ini untuk  mempertahankan kemerdekaan. Merdeka dari penindasan, merdeka dari keterpurukan.

Menurut saya ini adalah topik yang menarik untuk di perbincangkan kembali. Karna tidak terfikir bagaimana jadinya negeri, yang telah di usung mati matian dengan pertumpahan darah oleh pahlawan-pahlawan kita, jikalau problem ini masih tidak bisa terbendungi.

Sesuai hasil kajian Indonesia indicator (12) dalam kurun waktu 1 juli 2014 hingga 22 juli 2015 kemarin yang di sampaikan Direktur komonikasi Indonesia indicator (12) Rustika herlambang, di Jakarta, kamis (23/7) sebanyak 343 media di seluruh Indonesia, baik nasional maupun lokal, terus memberitakan terpuruknya nasib anak di bidang hukum,social, kesehatan, dan pendidikan.

Komisi perlindungan anak Indonesia (KPAI) menyatakan kekerasan kepada anak selalu meningkat setiap tahunya. Dari hasil pemantauan KPAI dari 2011 kasus sampai 2014, terjadi peningkatan yang sefnifikan. ‘’ tahun 2011 terjadi 2178 kasus kekerasan, 2012 ada 3512 kasus, 2013 ada 4311 kasus, 2014 ada 5066 kasus’’, kata wakil ketua KPAI, maria Advianti kepada harian terbit, Minggu (14/6/2015) lalu. (Kpai.go.id)

Dari paparan di atas telah menggambarkan betapa ngeri dan ironisnya kasus di negeri tercinta kita ini. Seorang ibu (orang tua) seharusya menjadi tempat berlindungnya seorang anak, untuk mendapatkan belayan kasih sayangnya malah menjadi korban ke ganasan yang tak berprikemanusian.

Apalagi system pembinaan karakter  yang diterapkan oleh orang tua, yang kelak akan menentukan akan menjadi seperti apa anak dikemudian hari. Apakah anak tetap dalam fitrah yang dimilikinya, atau menentang fitrah yang dimilikinya. Semua itu bagaimana kedua orang tuanya.

Oleh karenanya Rasulullah  saw menegaskan dalam sabdanya ‘’ setiap bayi yang lahir dalam keadaan fitrah. Maka orang tuanyalah yang kemudian berperan dalam merubah fitrahnya, apakah kelak ia menjadi yahudi, menjadi majusi, atau menjadi nasrani.’’ (hadits shahih).

Dan bersyukurlah kita yang masih memiliki orang tua yang masih sehat jasmani dan rohaninya, yang memberi kita setulus kasih dan sayangnya, serta berjuang keras untuk kesuksesan kita dimasa depan nanti.

Akhirnya penulis berdo’a: “Wahai Tuhanku sayangilah mereka berdua, sebagaimana mereka telah mendidikku waktu kecil (dengan kasih sayang)”. (QS. 17:24). (Email: ramly_moh@yahoo.co.id”>ramly_moh@yahoo.co.id)

Iklan

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Berkaca pada Erdogan Mengenal Pembelajaran Negosiasi dalam Cerpen Anak


ISSN 2085-059X

  • 879,867

Komentar Terbaru

Roos Asih di Surat Pembaca
rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: