Berkaca pada Erdogan

29 September, 2016 at 9:51 am

Oleh Moh Ramli

moh-ramliOleh Moh Ramli
Mahasiswa (Universitas Pesantren Darul Ulum UNIPDU) Jombang

 

 

“Hati itu seperti pohon, Bila dahannya rindang, burung-burung pun senang..

Ya begitulah sebuah kalimat hikma yang cocok untuk menggambarkan seorang seperti Recep tayyip Erdogan, salah satu tokoh muslim yang paling berpengaru di 2010, seorang politikus Turki (2013), lahir: 26 Februari 1954 Istanbul (Turki) yang sekarang ini menjabat presiden Turkey (10 – agustus 2014 – hingga sekarang) pemimpin yang terkenal bijaksana, adil dan muslim sejati.

Dalam kepemimpinan 10 tahun terakhir Erdogan membawa pendapatan perkapita penduduk Turki yang dahulunya hanya 3500 dollar pertahun, meningkat pada tahun 2013 menjadi 11.000 dollar pertahun, lebih tinggi dari perkapita penduduk Prancis. Dan Erdogan menaikkan nilai tukar mata uang Turki hingga 30 kali lipat. Dari sektor lembaga pendidikan dalam pemerintahannya telah mendirikan 125 universitas baru, 189 sekolah baru, dan membuat kebijakan dengan mengratiskan biaya semua kuliah untuk rakyat Yurki, mengembalikan pengajaran Al-qur’an dan hadist di sekolah negeri turki yang sudah lama dihilangkan, dan memberikan kebebasan berhijab di kampus-kampus Turki, membangun 510 rumah sakit baru yang modern, anggaran pendidikan dan kesehatan, mengunguli anggaran pertahanan, dan gaji guru sebesar gaji dokter. tidak berhenti disitu di antara keberhasilan terbesar politiknya Erdogan berhasil mendamaikan dua bagian Cyprus yang bertikai.

Itu paparan sedikit banyak yang menurut saya adalah pencapayan yang sangat fantastis, lalu pertanyaanya bagaimana dengan negeri tercinta kita ini? Kalo dibandingkan Dari sejak kepemimpinan tahun 2001-2003 sampai 2004-2014.

Tulisan ini tidak bermaksud menghina ataupun mengurangi rasa hormat saya kepada pahlawan-pahlawanku yang berjasa besar atas negeri ini dan bukan juga lantas mau menggurui. Namun sejatinya tulisan ini saya buat semata-mata hanya untuk mengingatkan dan memberi motivasi dari rakyat kecil seperti kami untuk selalu berjuang demi negara tercinta ini, kepada para pemimpin era sekarang (joko Widodo) sampai nanti penerus yang akan menjadi pemimpin bangsa ini. untuk bisa berkaca pada Erdogan (presiden Turki), dimana negeri ini korupsi sudah membudaya, radikal sudah menjadi-jadi.

Menurut hemat saya, negeri kita ini tidak mustahil untuk meniru negeri lain yang sudah maju dan dapat bersaing. Apalagi kita tau bahwa negara ini adalah negara yang kaya atas limpahan alamnya. Salah satunya dengan mengedepankan pendidikan, dimana pendidikan adalah satu-satunya senjata terakhir yang ampuh untuk membumi hanguskan problem-problem tersebut. Pemerintah seharusnya mengambil satu langkah besar dalam sektor pendidikan.

Seperti yang telah ulas di atas, pencapayan Erdogan di mulai dari sektor pendidikan. Erdogan dalam pemerintahannya telah mendirikan 125 universitas baru, 189 sekolah baru, dan membuat kebijakan dengan mengratiskan biaya semua kuliah untuk rakyat turki. anggaran pendidikan mengunguli anggaran pertahanan, dan gaji guru sebesar gaji dokter.

Jika dibandingkan dengan pendidikan Indonesia, seperti kasus yang terjadi pada  rabu,24 februari 2016 lalu di madrasah diniyah (TPA/TPQ sederajat) raudlatut thalibin di dusun lengkong, desa Bragung, kecamatan Guluk-Guluk, sumenep, jawa timur yang gurunya dibayar dengan pisang dan rangginang (nasi yang dijemur). Maklum saja lembaga ini berada di desa perekonomian sangat rendah, warga dusun yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan buruh.

Lalu pertanyaannya dimana peran pemerintah? Yang sejatinya adalah pelayan masyarakat. Apakah pemerintah hanya terfokus pada lembaga pendidikan negeri saja dan formal, lalu bagaiman dengan lembaga pendidikan swasta dan non formal? Apakah harus masyarakat sendiri yang memikulnya, sedangkan perekonomean masyarakat Indonesia ini masih terbilang sangat rendah, apa lagi dibagian plosok-plosok desa yang jarang pemerintah terjun langsung kesana.

Menurut saya ini adalah tindak ketidak adilan pemerintah, kebijakan kaku dan pilih kasih. UUD mengatakan ‘’ melindungi semua’’. Artinya pemerintahan yang baik adalah jika roda-rodanya berjalan sejajar. Inilah potret negara kesejahteraan (welfare state); keadilan yang selalu melahirkan kesejahteraan.

Akhir kata, pendidikan memberi secerca harapan bagi keselamatan masa depan bangsa, yang ingin lepas dari belenggu keserakahan, demi terciptanya generasi (pemimpin) berintegritas dan amanah.Semoga.(Email: ramly_moh@yahoo.co.id”>ramly_moh@yahoo.co.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Mengangkat Kehormatan Guru Ibu dan Generasi Bangsa


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: