Mengenal Kewirausahaan Bisnis dalam Cerpen Anak

24 September, 2016 at 8:30 am

lucas-formiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo ketika mengajar di SMK 1 Wonogiri (Suara Merdeka, 9 September 2016), menerangkan, membangun ekonomi kreatif kini menjadi hal penting. Masyarakat harus mampu berinovasi meningkatkan nilai tambah dari sebuah produk.

Menurut Gubernur, siswa Wonogiri bisa menciptakan ekonomi kreatif dari singkong. Saat ini, harga singkong mentah dari tangan petani kurang dari seribu rupiah per kilogram. Apabila dibuat gaplek menjadi seribu rupiah per kilogram. Namun, jika sudah diolah menjadi kue brownis singkong, harganya melejit hingga mencapai lebih dari Rp 25 ribu per buah.

Berita tentang ekonomi kreatif tersebut, mengingatkan saya tentang cerpen-cerpen anak yang dimuat di majalah anak-anak “Bobo”. Cerpen-cerpen anak yang menyinggung kegiatan ekonomi kreatif atau kewirausahaan bisnis, adalah :

1.”Gara-gara Telur Mata Sapi”, karya Gina Matrasyani, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 20 Agustus 2015, hal.14-15.

2.”Hot Chocolate”, karya L. Heni S., dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 17 Desember 2015, hal.22-23.

3.”Rahasia Rega”, karya Dian Sukma Kuswardhani, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 30 Juli 2015, hal. 24-25.

4.”Sepatu Nadia”, karya Irra Fachriyanthi, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 9 Juli 2015, hal.46-47.

5.”Dapur Nenek”, karya Rosi Meilani, dimuat di majalah anak-anak “bobo”, Tahun XLIII, 28 Mei 2015, hal.26-27.

 

Berikut adalah kutipan dari cerpen-cerpen anak, yang mengandung gagasan tentang kewirausahaan bisnis :

1.Jualan : “Puding Mata Sapi”

Gina Matrasyani, dalam cerpennya “Gara-gara Telur Mata Sapi”, menceritakan tentang seorang ibu yang pandai membuat makanan. Makanan itu kemudian dibawa oleh anaknya, Kira, sebagai bekal. Ketika jam istirahat tiba, Kira membuka bekalnya dihadapan teman-temannya. Ternyata ada menu baru, yaitu puding mata sapi. Makanan ini digambarkan, seperti berikut :

-“Ibumu kreatif sekali, ya, Kira. Mata sapi puding jelly-nya lucu dan yummy. Besok aku pesan, ya, Kira!” kali ini Shinta yang bicara (hal.14).

Mendengar Shinta memesan puding mata sapi, akhirnya Kania, Vira, Bu Vania, wali kelas Kira, juga ikut memesan. Bahkan Bu Vania memesan 20 buah, sekalian untuk sampel buat guru-guru yang lain. Hal tersebut diungkapkan oleh ibu Kira, demikian :

-“Jadi, besok, Ibu harus menyiapkan 40 puding, ya, Sayang….,” ujar Ibu padaku (hal.15).

2.Jualan : “Hot Chocolate”

Cerpen dengan judul “Hot Chocolate”, yang ditulis oleh L. Heni S., menceritakan tentang Mimi yang ingin membuka usaha baru, selain jualan nasi sayur. L. Heni S., menulis, demikian :

-“Selama ini, Ibu jualan nasi sayur. Aku ingin usaha apa gitu, yang menghasilkan uang. Biar meringankan Ibu!” (hal.22).

Lalu, cerita dilanjutkan pertemuan Mimi dan Imel, teman sekolahnya. Setelah pulang sekolah Imel mengajak Mimi ke rumah tantenya, Tante Gisel. Imel memohon kepada Tante Gisel, agar mau membantu Mimi membuka usaha baru. Tante Gisel mengajarkan cara membuat “Hot Chocolate” kepada Mimi.

Disamping itu, Tante Gisel juga memberi motivasi kepada Mimi, agar usahanya berhasil. Adapun motivasi yang diajarkan, diungkapkan demikian :

-“… Pertama, yang penting punya niat baik. Mimi bagus, niat baiknya ingin menolong Ibu.”

-“Syarat kedua, kita mau bekerja dengan sungguh-sungguh,” jelas Tante Gisel.

-“Oh, niat baik disertai kerja sungguh-sungguh ya, Tante,” Mimi menyimpulkan (hal.23).

3.Jualan : koran dan membersihkan rumput di rumah orang

Melalui karya cerpennya, yang berjudul “Rahasia Rega”, Dian Sukma Kuswardhani membuka cerita dengan kegelisan Galih dan Doni yang telah lama menunggu Rega. Mereka berangkat ke sekolah dengan naik becak. Semula Rega selalu terlambat ke sekolah. Tetapi, kemudian Rega terulang terlambat lagi. Suatu saat Galih dan Doni sepakat untuk pergi ke rumah Rega. Sampai di rumahnya, mereka tidak bertemu dengan Rega, tetapi bertemu dengan seorang nenek, yang ternyata neneknya Rega. Nenek menyampaikan alasan, mengapa Rega sering terlambat masuk ke sekolah, digambarkan seperti berikut :

“Rega sedang membersihkan rumput di rumah Pak Joyo,” jawab nenek itu saat ditanyakan (hal.25).

Kemudian Galih dan Doni bertanya kepada Nenek tentang keterlambatan Rega berangkat ke sekolah. Setelah mendengar jawaban dari Nenek, betapa kagetnya mereka. Kekagetan mereka diungkapkan oleh penulis cerpen, demikian :

-“Kalau pagi, Rega antar koran dulu keliling komplek. Lumayan untuk bantu-bantu bayar sekolah …” jelas Nenek (hal.25).

Diceritakan berikutnya bahwa Rega sempat bertemu dengan Galih dan Doni. Mereka bercakap-cakap. Tetapi, Rega tidak bisa berlama-lama, dengan alasan seperti berikut :

-Ada pekerjaan lain yang menantinya lagi. Membersihkan rumput di rumah Pak Tiyo (hal.25).

4.Jualan : “Pin Kupu-kupu”

Usaha mencari uang dengan cara berjualan “Pin Kupu-Kupu” diungkapkan oleh Irra Fachriyanthi dalam cerpennya “Sepatu Nadia”. Yang berjualan pin itu adalah Rani. Dia mau berjualan, karena dia ingin sepatu seperti yang dimiliki temannya, Nadia. Suatu saat, Rani menyampaikan keinginannya itu kepada ibunya. Namun, tanggapan ibunya itu membuat Rani melongo, seperti berikut :

-“Baiklah, Ibu mengerti. Tapi sekarang ini, uang Ibu belum cukup. Rani mau menolong Ibu, menjualkan pin-pin ini? Supaya uangnya cepat terkumpul untuk membeli sepatu impianmu itu.” (hal.46).

Mula-mula Rani malu. Tetapi, kemudian Bu Nilam, wali kelasnya Rani, mengetahuinya juga. Lalu Bu Nilam membeli, dan guru-guru yang lain juga membeli. Selanjutnya diceritakan bahwa ayah Rani selama ini merasa terbantu dengan jualan “Pin Kupu-kupu”. Demkian kutipannya :

-“Pin kupu-kupu Ibu itu sudah membantu Ayah membayar uang sekolahmu, lo,” ujar Ayah ketika aku mengungkapkan kekagumanku pada Ibu (hal.47).

5.Jualan : brownis

Sebagai penulis cerpen yang berjudul “Dapur Nenek”, Rosi Meilani membuka ceritanya dengan Amel yang berlibur di rumah neneknya. Ketika Amel melihat dapur neneknya, ia merasa perihatin. Lalu Amel menyerahkan amplop berisi uang dari papanya kepada neneknya untuk memperbaiki dapur. Ternyata uang itu tidak cukup. Uangnya hanya cukup untuk membeli material. Atas kebaikan Mang Tarmin, maka ongkos kerjanya ditunda.

Diceritakan berikutnya, Amel mempunyai ide untuk menambah kekurangan uang. Ia ingin membuat brownis, dan kemudian dijual di warung neneknya. Pada jam istirahat sekolah, anak-anak SD menyerbu brownis buatan Amel. Semua habis terjual. Kutipan berikut menggambarkan keberhasilan Amel menjual brownis :

-Keesokan harinya, Amel dan Nenek membuat brownis lagi. Tiga resep sekaligus. Berita tentang enaknya brownis Amel, sampai ke telinga guru-guru SD. Mereka memesan untuk dibawa pulang. Amel dan Nenek sampai kewalahan menerima pesanan. Biarpun capek, mereka senang (hal.27).

Hari terakhir, Amel dijemput oleh Om Ryan. Amel menceritakan pengalamannya selama berlibur di rumah neneknya. Om Ryan kagum dengan cerita itu. Lalu Om Ryan memberikan sesuatu, yang membuat nenek Amel bergembira, seperti tertulis :

-“Wah, Nenek bisa membeli oven, mixer, dan loyang baru, nih!” seru Nenek girang (hhal.27).

Dari berita koran dan contoh dalam cerpen-cerpen anak tentang ekonomi kreatif atau kewirausahaan bisnis, maka ada beberapa catatan praktis, yaitu  :

1.Sastra (cerpen) memberi pengetahuan dan filsafat (Wellek dan Austin, 2014:26).

2.Hempri Suyatno (dalam “Menuju Generasi Sociopreneur”, Kedaulatan Rakyat, 6 September 2016) menulis bahwa proses pendampingan dalam pengembangan kewirausahaan perlu dilakukan secara kontinyu dan berorientasi pada kemandirian. Intervensi yang dilakukan perlu dilakukan dengan proses tahapan yang jelas dan strategi yang tepat dengan menyesuaikan karakteristik pelaku usaha.

3.Menurut Ketua Umum Kadin Jateng, Kukrit Suryo Wicaksono (Suara Merdeka, 9 September 2016), kunci sukses untuk berkarier maupun berwirausaha, adalah personal branding (citra diri atau kesan positif seseorang).

 

Referensi :

  • Kedaulatan Rakyat, 6 September 2016.
  • Suara Merdeka, 9 September 2016.
  • Wellek, Rene., dan Warren, Austin., Teori Kesusastraan, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Cetakan Kelima, 2014.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Mengangkat Kehormatan Guru Mengenal Kewirausahaan Bisnis dalam Cerpen Anak


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: