Mengenal Kepribadian Anak dalam Cerpen Anak

22 September, 2016 at 6:06 am

lucas-formiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

1. Koswara (1991:9) menyampaikan bahwa pengertian tentang kepribadian dapat dilihat menurut pengertian sehari-hari dan menurut pengertian psikologi.

Menurut pengertian sehari-hari, kepribadian dihubungkan dengan ciri-ciri tertentu yang menonjol pada diri individu, atau menunjuk kepada bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi individu-individu lainnya. Contoh, orang yang pemalu disebut “berkepribadian pemalu”. Orang yang supel disebut “berkepribadian supel”. Orang yang suka bertindak keras disebut “berkepribadian keras”.

Selain itu, ada sebutan bagi orang yang “tidak berkepribadian”. Misal, orang-orang yang lemah, plin-plan, pengecut, dan semacamnya.

Menurut pengertian psikologi, George Kelly (via E. Koswara, 1991:10) memandang bahwa kepribadian adalah cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya. Gordon Allport (via E. Koswara, 1991:10) merumuskan kepribadian sebagai sesuatu yang terdapat dalam diri individu yang membimbing dan memberi arah kepada seluruh tingkah laku individu yang bersangkutan.

M.A.W Brouwer (1979), dalam bukunya Kepribadian dan Perubahannya, mengartikan kepribadian adalah corak tingkah laku sosial, corak gerak-gerik, corak opini dan sikap.

Berdasarkan pengertian tentang kepribadian seperti tersebut di atas, saya ingin menyampaikan bahwa dalam cerpen-cerpen anak yang dimuat di majalah anak-anak “Bobo” juga dapat ditemukan contoh-contoh tentang kepribadian. Adapun cerpen-cerpen anak yang dimaksud, adalah :

1.”Kungfu Jono”, karya Pawit Mulyadi, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 29 Januari 2015, hal.28-29.

2.”Surat untuk Jaya”, karya Gik Sugiyanto HP, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 11 Juni 2015, hal.26-27.

3.”Pengusaha Barang Bekas”, karya Rauhiyatul Jannah, Tahun XLIII, 25 Juni 2015, hal.26-27.

4.”Asep Anak Kampung”, karya Bambang Irwanto, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 7 Februari 2015, hal.46-47.

5.”Budi Ingin Berbudi”, karya Novia Erwida, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 20 Agustus 2015, hal.22-23.

6.”Kaina Bukan Nenek Sihir”, karya Nurhayati Pujiastuti, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 17 Desember 2015, hal.48-49.

 

Berikut saya sampaikan gambaran tentang kepribadian yang ada dalam cerpen-cerpen anak, dalam bentuk kutipan.

1.Jono yang penakut, yang jagoan, yang senior, yang juara, dan yang pemaaf

Pawit Mulyadi mengawali cerpennya yang berjudul “Kungfu Jono”, dengan cerita tentang persiapan perkelahian teman-teman Jono dengan anak sekolah lain. Akan tetapi, Jono tidak ikut bergabung. Oleh karena itu teman-temannya menyebut Jono penakut. Sebutan tersebut ada dalam kutipan percakapan berikut :

-“Bagaimana, Jon? Percuma bisa kungfu kalau tidak dipakai,” ucap Deni.

-“Apa untungnya, sih, berkelahi?” sahut Jono dengan tenangnya.

-“Huuh! Tidak setia kawan …” teriak Ardan dan teman-temannya.

-“Payah Jono! Ternyata penakut! Ha ha ha …” ejek Ardan (hal.28).

Selanjutnya diceritakan bahwa akhirnya Jono ikut. Ketika anak-anak sekolah lain muncul, Ardan yang semula mengatakan bahwa Jono penakut, berubah menyebut Jono jagoan. Demikian kutipan :

-Beberapa saat kemudian, barulah Jono muncul dari semak-semak dengan tenangnya. Melihat kemunculan Jono, anak-anak sekolah lain itu terperanjat.

-“Ha ha ha … takut, kan, kalian semua! Nih, jagoan sekolahku,” ucap Ardan berlagak.

-Salah seorang anak dari sekolah lain itu, lalu mendekati Jono. Dialah Toni yang jago kungfu. Anak-anak tampak tegang. Mereka mengira bakal terjadi perkerlahian seru. Akan tetapi, perkiraan mereka salah. Jono dan Toni malah saling tersenyum dan berjabat tangan.

-“Maafkan aku, Jon,” ujar Toni.

-“Aku juga, Ton,” sahut Jono.

-“Kalian sudah kenal, ya?” ucap Ardan heran.

-Toni mengangguk. “Jono ini, temanku latihan kungfu. Dia seniorku, lagian dia juara,” terang Toni (hal.29).

2.Jayanti si jorok, pemain watak, yang cerdas, dan suka humor, dan Runi si sok bersih

Dalam cerpennya yang berjudul “Surat untuk Jaya”, Gik Sugiyanto HP memulai dengan ketidaksukaan Runi yang mendapati bangkunya kotor, penuh dengan corat-coret pensil dan spidol. Lalu dia menulis surat yang ditujukan kepada Jayanti, seperti terlihat di kutipan :

-“Buat kamu Si Jorok. Biasakan membuang sampah di bak sampah …” (hal.26).

Kemudian Jayanti yang disebut Si Jorok membalas surat Runi dengan sebutan, seperti kutipan berikut :

-“Buat, … Si Sok Bersih. Jangan ajari aku soal kebersihan, ya, Dik…” (hal.26).

Gik Sugiyanto HP menutup cerpennya dengan pertemuan antara Runi dan Jayanti, yang dikhawatirkan akan terjadi pertengkaran. Ternyata justru sebaliknya, yaitu saling mendukung. Jayanti berharap dengan bentuk tulisan Runi yang bagus dan rapi, dia bisa membantu di pembuatan majalah dinding sekolah sebagai redaktur. Sebagai wujud bahwa mereka berdua saling mendukung, ada kutipan seperti ini :

-“Kami kelas lima berencana membuat majalah dinding sekolah. …” ujar Jayanti sambil mengulurkan tangan, lalu merangkul Runi. “ … Kulihat tulisan di surat kecilmu bagus dan rapi sekali. Kamu cocok menjadi redaktur membantu kami!” (hal.27).

3.Tomi, sumber ide kreatif

Rauhiyatul Jannah, dalam cerpennya “Pengusaha Barang Bekas”, menggambarkan tentang suasana memperingati hari Kemerdekaan RI di sebuah sekolah. Sisa kemeriahan perayaan ulang tahun kemerdekaan masih terlihat jelas. Namun, perasaan yang dialami Tomi berbeda. Sejak mengalami kecelekaan, Tomi tidak pernah lepas dari tongkatnya. Kesedihan yang muncul dalam diri Tomi, ditangkap oleh temannya, Hilda. Demikian kutipannya :

-“Lo, kok, sedih, sih?” ditepuknya bahu Tomi.

-“Aku merasa tidak berguna. Sejak kakiku sakit …” ujar Tomi pelan. Hilda merangkul sahabatnya.

Mendengar ujaran Tomi yang bernada lesu, segera Hilda dan teman-temannya menanggapi dengan ungkapan yang positif, dengan kutipan :

-“Ya, ampun Tomi, tidak benar begitu. Kamu sahabat kami yang sangat  berharga. Tanpa kamu, sekolah sepi!” bujuk Hilda.

-“Benar, Tomi ini sumber segala ide kreatif!” sahut  teman yang lain, yang ikut berkumpul.

-Tomi terharu. Ia bahagia memiliki teman-teman yang baik. Wajahnya kembali ceria (hal.27).

4.Tomi tidak sombong, Benhar yang kasar, dan Asep yang bersahabat

Cerpen berjudul “Asep Anak Kampung” karya Bambang Irwanto, ingin menyampaikan pesan bahwa anak yang baik adalah anak yang mau belajar rendah hati. Diawali dengan cerita tentang angan-angan Asep ingin berlibur di rumah Pak Abraham. Pak Abraham adalah seorang pengusaha sukses. Sedangkan ayah Asep, Pak Ujang, adalah sopir pribadi Pak Abraham.

Jika liburan di keluarga Pak Abraham, Asep senang sekali, karena Pak Abraham mempunyai anak seusianya. Namanya Tomi. Tentang kepribadian Tomi, berikut kutipannya :

-“Walau anak orang kaya, Tomi tidak sombong. Tomi selalu mengajak Asep bermain dan meminjamkan koleksi mainannya yang sangat banyak. Kadang Tomi mengajak Asep bersepeda di sekitar komplek atau pergi rekreasi keliling Jakarta (hal.46).

Sementara Tomi mempunyai saudara sepupu. Namanya Benhar. Semula Benhar belum bisa menerima kehadiran Asep. Karena Asep dianggap orang kampung. Ketika hampir saja Benhar tenggelam di kolam renang Tomi, dengan sigap Asep melompat ke kolam dan menolong Benhar. Benhar selamat. Benhar mengungkapkan perasaan dan sikapnya kepada Asep. Demikian bunyi kutipannya :

-“Sep, terima kasih sudah menolongku. Maafkan sikap kasarku, ya!” ucap Benhar.

-“Sama-sama, Ben!” jawab Asep tersenyum bersahabat (hal.47).

5.Budi anak yang nakal dan anak yang badung, yang kemudian menjadi Budi yang ingin berbudi.

Novia Erwida membuka cerpennya yang berjudul “Budi Ingin Berbudi” dengan serentetan daftar kenakalan atau kebadungan seorang anak yang berama Budi. Daftar tersebut dapat dilihat di kutipan berikut :

-Namaku Budi. Kulitku sawo matang, rambutku keriting, dan keningku sering berkerut. Temanku tak banyak, mereka enggan berteman denganku. Kata mereka, aku anak nakal. Padahal namaku Budi, harusnya aku berbudi (Hal.22).

Suatu saat Bu Guru ingin sekali berkunjung ke rumah Budi. Justru Budi berharap, jangan sampai Bu Guru berkunjung ke rumahnya. Karena Budi merasa malu, rumahnya jelek dan berantakan. Ternyata, Bu Guru sampai juga di rumah Budi. Dugaan Budi adalah Bu Guru bertanya kepada para tetangga. Kutipan berikut menunjukkan kepribadian Budi :

-“Semua tetanggaku kenal aku. Budi badung” (hal.23).

Setelah Bu Guru bertemu dengan ibunya Budi, Bu Guru memberi nasehat kepada Budi agar dia menjadi anak yang baik, membantu ibu mengasuh kedua adiknya. Supaya ibunya tidak capek, tidak marah-marah lagi, dan ibu punya waktu menemani Budi belajar. Kutipan berikut ucapan janji Budi :

“Baiklah, Bu. Aku berjanji akan jadi anak yang berbudi, seperti namaku. Aku akan rajin belajar. Kalau aku rajin belajar, aku akan jadi anak pintar. Ibu pun semakin sayang kepadaku” (hal.23)

6.Kaina si nenek sihir yang baik hati

Dalam cerpen dengan judul “Kaina Bukan Nenek Sihir”, Nurhayati Pujiastuti hendak menyampaikan kekesalan Kaina, karena sering diejek oleh teman-temannya sebagai nenek sihir. Kutipan berikut menunjukkan kekesalan Kaina :

-Kaina meletakkan buku cerita itu. matanya mulai basah. Kaina tidak suka cerita tentang nenek sihir yang jahat di buku itu. Kaina kesal. Kenapa teman-temannya menjulukinya “si nenek sihir”? Mereka bilang, Kaina tahu segalanya walau mereka belum cerita apapun pada Kaina.

Selanjutnya diceritakan bahwa kekesalan Kaina ditangkap oleh ibunya. Kaina dihibur oleh ibunya bahwa Kaina tahu segalanya tentang teman-temannya, karena Kaina berteman dengan memakai hati. Hiburan dan sekaligus penguat dari ibunya, dapat dilihat dalam kutipan ini :

-“Kaina bukan sekedar berteman. Kaina selalu memperhatikan kebiasaan teman-teman Kaina. Memperhatikan kebutuhan mereka. Iya, kan?”

-“Sekarang, kamu masih marah kalau dipanggil nenek sihir?”

-Kaina menggeleng lalu memeluk Ibu sambil tersenyum. “Tidak apa-apa,” kata Kaina. “Aku, kan, nenek sihir yang baik hati …” (hal.49).

Berdasarkan pengertian tentang kepribadian dan contoh-contoh kepribadian yang diambil dari dalam cerpen-cerpen anak di atas, maka ada beberapa catatan praktis :

1.Kepribadian bersifat dialektis. Manusia menjadi seorang pribadi dengan berhubungan dengan orang lain, dan dalam orang lain itu dia menemukan dirinya kembali. Menurut Maslow (via M.A.W. Brouwer, 1979), manusia akan berkembang menjadi pribadi yang utuh kalau dia berhasil mewujudkan bakatnya sebaik-baiknya. Yang menyelamatkan manusia bukan adaptasi (menyesuaiakan diri) tetapi realisasi potensi.

2.Kepribadian seseorang adalah “unik”. Menurut Elizabeth B. Hurlock, dalam bukunya Perkembangan Anak-2, “unik” artinya tidak seorang pun akan bereaksi dengan cara yang persis sama, dan tidak ditemukan pada orang lain.

3.Kepribadian yang dialektis dan unik tampak pada :

-diri Jono yang semula disebut oleh teman-temannya penakut, pada puncaknya terbukti bahwa diri Jono dapat disebut jagoan, senior, juara, dan pemaaf.

-Jayanti yang semula disebut si jorok, pemain watak, yang cerdas, dan suka humor, dan Runi yang semula disebut si sok bersih, pada puncaknya mereka bisa menjadi anak yang pemaaf.

-Tomi yang sempat mengeluh oleh sebab sakit pada kaki, pada puncaknya disebut oleh teman-temannya bahwaTomi, sumber ide kreatif.

-Tomi yang disebut anak yang tidak sombong, Benhar yang kemudian  mengakui diri sebagai anak yang kasar, dan Asep yang bersahabat, pada puncaknya mereka bisa menjadi anak yang bersahabat dan pemaaf.

-Budi yang semula disebut anak yang nakal dan anak yang badung, pada puncaknya Budi bisa menjadi anak yang mau berbudi.

-Kaina yang semula menolak disebut  si nenek sihir, pada puncaknya Kaina mau disebut si nenek sihir yang baik hati.

4.Cerpen sebagai bagian dari karya sastra, tidak lepas dengan unsur tokoh dan penokohan. Menurut Nyoman Kutha Ratna (2014:246), tokoh adalah pelaku suatu peristiwa. Sebaliknya dapat dikatakan bahwa peristiwa selalu melibatkan tokoh, dan tidak ada peristiwa tanpa tokoh. Demikian juga sebaliknya tidak ada tokoh tanpa menampilkan suatu peristiwa.  Selanjutnya, Nyoman Kutha Ratna (2014:247) juga mengatakan bahwa dalam rangka pendidikan karakter, tokoh dan penokohan dalam karya sastra, relatif mudah dipahami, baik melalui indentifikasi diri maupun orang lain, sehingga secara mudah juga dijelaskan kepada peserta didik.

Referensi :

  • E. Koswara, Teori-teori Kepribadian, Penerbit PT Eresco, Jakarta, Cetakan Kedua, 1991.
  • Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak-2, Penerbit Erlangga, Edisi Keenam, Jakarta.
  • M.A.W Brouwer, Kepribadian dan Perubahannya, Penerbit Gremedia, Jakarta, 1979.
  • Nyoman Kutha Ratna, S.U., Prof. Dr., Peranan Karya Sastra, Seni, dan Budaya dalam Pendidikan Karakter, Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Cetakan Pertama, 2014.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Mengenal Praktik Pendidikan Karakter dalam Cerpen Anak Mengangkat Kehormatan Guru


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: