Mengenal Praktik Pendidikan Karakter dalam Cerpen Anak

20 September, 2016 at 7:40 am

lucas-formiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

Lewat bukunya Karya Sastra, Seni, dan Budaya dalam Pendidikan Karakter, Nyoman Kutha Ratna mengatakan bahwa pendidikan karakter merupakan proses pembentukan kepribadian. Pendidikan karakter bersumber pada pemikiran positif.  Lebih jauh, Nyoman Kutha Ratna menandaskan bahwa secara praktis, sejak bangun pagi hari hingga menjelang tidur pada malam hari, dengan melakukannya secara teratur dengan norma dan aturan yang dapat disepakati bersama dan memberikan makna positif terhadap kehidupan ini jelas merupakan pendidikan karakter. (2014:132, 236, 237-240).

Berangkat dari pemikiran tersebut, saya ingat cerpen-cerpen yang dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, yang menyinggung pembelajaran tentang pendidikan karakter. Penulis cerpen begitu mahirnya memberi simpul-simpul yang jitu tentang hal-hal sederhana dan praktis dilakukan dalam kehidupan sehari-hari oleh anak-anak, orangtua, dan masyarakat.

Adapun cerpen-cerpen di majalah anak-anak “Bobo”, yang saya maksud, adalah :

1.Cerpen “Gara-gara Telur Mata Sapi”, karya Gina Matrasyani, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 20 Agustus 2015, hal.14-15.

2.Cerpen “Salam dari Nenek”, karya Pupuy Hurriyah, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 5 Maret 2015, hal.36-37.

3.Cerpen “Badru Si Pengantar Susu”, karya Rosi Meilani, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 21 Mei 2015, hal.24-25.

4.Cerpen “Rem Sepeda Tito”, karya Nurhayati Pujiastuti, dimuat di malajah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 26 Februari 2015, hal.16-17.

5.Cerpen “Buku-buku Andaru”, karya Gita Lovusa, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 24 September 2015, hal.26-27.

6.Cerpen “Rainbow Cake untuk Papa”, karya Novita Sari, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 3 Desember 2015, hal.38-39.

7.Cerpen “Es Krim Sandwich”, karya Faya Azjka Iftita, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 13 Agustus 2015, hal.48-49.

 

Berikut gambaran yang terdapat dalam cerpen-cerpen di atas tentang pendidikan karakter.

1.Menyapa atau memberi salam

Tentang pembelajaran “menyapa” atau “memberi salam”, Gina Matrasyani penulis cerpen “Gara-gara Telur Mata Sapi”, menulis demikian :

-“Ibuuu…”

-Pulang sekolah, aku setengah berteriak memanggil Ibu. Aku ingin melaporkan pesanan puding mata sapi yang cukup banyak.

-“Eh, anak Ibu, salamnya mana, Sayang?” tanya Ibu. Aku menepuk jidat.

-“Maaf, Bu…. Terlalu semangat. Assalamualaikum, Ibuuu…” ujarku sambil tertawa. “Besok banyak pesanan puding telur  mata sapi, Bu! Sebentar, Kira keluarkan catatannya dulu ya, Bu.” (hal.15).

2.Menyampaikan salam dan doa

Pupuy Hurriyah, penulis cerpen “Salam dari Nenek”, menyampaikan pembelajaran tentang etika pergaulan, yaitu “menyampaikan salam” dan “doa”, seperti  tertulis :

-“Kakak Fifi…” Sebuah teriakan mengejutkan sore itu. Dari balik jendla kamar, aku melihat Rara, adikku, turun dari mobil. Ia berlari masuk ke rumah.

-“Ada salam dari Nenek,” ujar Rara.

-Aku tersenyum. “Terima kasih, ya.”

Diceritakan berikutnya, Fifi begitu antusiasnya untuk bertemu dengan Neneknya. Hal ini terajdi karena ada berita Neneknya jatuh sakit. Digambarkan demikian :

-“Aku ikut.” Suara itu keluar begitu saja dari mulutku.

-Aku memejamkan mata sepanjang perjalanan menuju rumah Nenek. Aku teringat salam-salam Nenek. Aku menggeleng, saat ini aku tidak mau hanya mendapat salam dari Nenek. Aku ingin bertemu Nenek. Tuhan, tolong …. (hal.37).

3.Doa untuk orang lain

Doa untuk orang lain, disinggung oleh Rosi Meilani, dalam cerpennya “Badru Si Pengantar Susu”. Doa itu disampaikan oleh Badru ketika ia diberi oleh Pak Kemal, ayah Salwa, berupa sepeda berwarna pink. Sepeda itu akan digunakan oleh Badru untuk mengantar susu ke pelanggan. Badru berterima kasih dan mendoakan Pak Kemal dan keluarganya. Ditulis oleh Rose Meilani, demikian :

-“Kalau kamu tidak suka warnanya, kamu bisa cat ulang. Keranjangnya juga bisa dilepas,” ujar Om Kemal.

-“Tidak usah, Om. Warna pink bagus. Pasti menarik perhatian. Ada keranjangnya lagi. Terima kasih, Om. Semoga pahala Om sekeluarga terus mengalir dalam setiap kayuhan sepada ini.” (hal.25).

 

4.Menuruti nasehat orangtua

Dalam cerpen “Rem Sepeda Tito”, Nurhayati Pujiastuti, mengungkapkan Tito yang tidak mau menuruti nasehat Bundanya. Ia ingin sepedanya diganti dengan rem sepeda yang baru. Padahal rem sepedanya masih bagus. Tito ingin membeli rem sepeda baru dengan cara membuka celengan plastiknya. Lalu ia berangkat ke Pak Ali, pemilik bengkel sepeda.

Dalam perjalanan, ada motor tidak memberi klakson. Tito cepat membanting setang sepedanya, hingga masuk ke selokan. Uang di dalam kantong plastiknya jatuh berceceran ke dalam selokan. Tubuh Tito bau air selokan. Tito semakin kecewa, karena sepedanya jenis lama tidak bisa diberi rem sepeda jenis baru. Penulis cerpen menutup dengan kalimat demikian :

-Besok besok Tito janji, akan selalu menuruti apa kata Bunda (hal.17).

5.Menepati janji

Pembelajaran tentang “menepati janji” ditulis oleh Gita Lovusa dalam cerpennya “Buku-buku Andaru”. Diceritakan, Andaru yang ingin sekali agar Dindy, teman sekolah, senang membaca buku. Tetapi, banyak halangan yang ditemui Andaru. Suatu saat, tiba-tiba Dindy mengungkapkan keinginannya, demikian :

-“Ru, boleh enggak, aku mampir ke rumahmu sekarang?”

-“Boleh. Kok tiba-tiba, Din?”

-“Ehmmm… Aku mau lihat koleksi bukumu yang lain. Siapa tahu ada yang aku suka. Boleh, kan?”

-“Waaah, ya boleh sekali. Dindy. Yuk!”

Dalam hati, Andaru tersenyum. Selain sudah berbuat kebaikan minggu ini, ia juga sudah memenuhi janji lamanya pada diri sendiri. Yaitu, membuat Dindy tertarik membaca buku (hal.27).

6.Kesepakatan atau komitmen bersama

Novita Sari, sebagai penulis cerpen “Rainbow Cake untuk Papa”, ingin menggambarkan bahwa kesepakatan atau komitmen yang baik dapat dilakukan dalam keluarga. Hal ini ditunjukkan oleh kemauan ayah Nadine dan Nino yang ingin berhenti merokok. Oleh karena itu, mama Nadine dan Nino memberi hadiah kue rainbow bertabur keju. Novita Sari menulis demikian :

-“Wow … sedap sekali….” ujar Nino sambil menelan ludah,”Papa yang belikan untuk Mama?” katanya lagi.

-“Justru kue ini buatan Mama. Hadiah istimewa untuk Papa yang bertekad untuk berhenti merokok. Kita semua akan membantu Papa untuk menghentikan kebiasaan buruknya. Bukan dengan denda, tapi dengan kasih sayang. Sehingga Papa sadar untuk hidup sehat. Setuju?” kata Mama sambil menunjukkan pula stiker dilarang merokok yang ditempel di beberapa sudut rumah. Nadine dan Nino bersorak gembira (hal.39).

 

7.Menghargai barang milik orang lain

Pembelajaran tentang menghargai barang milik orang lain, dan jika ingin menggunakan atau memanfaatkan harus minta izin, ditulis oleh Faya Azjka Iftitalam cerpennya  “Es Krim Sandwich”. Digambarkan pembelajaran itu seperti ini :

-“Andi minta maaf, ya, Kak,” kata Andi.

-“Jangan diulangi lagi ya! Kalau kamu minta izin dulu, Kakak pasti mau, kok, membagi es krim kak,” ucap Rini.

-“Yuk, kita makan sama-sama es krimnya!” Rini menyuapkan sesendok penuh es krim ke mulut Andi. Hap! (hal.49).

Dari pemikiran yang diajukan oleh Nyoman Kutha Ratna, dan ungkapan penulis cerpen-cerpen seperti tersebut di atas, ada beberapa catatan praktis, yaitu :

1.Kegiatan menyapa atau memberi salam kepada orang lain; doa untuk diri sendiri; doa untuk keluarga atau orang lain; menuruti nasehat orangtua; menepati janji; mentaati tata tertib yang sudah menjadi kesepakatan bersama; menghargai barang milik orang lain, dan jika ingin menggunakan atau memanfaatkan harus minta izin, adalah bagian dari praktik pendidikan karakter dalam kehidupan sehari-hari.

2.Burhan Nurgiyantoro (2013:13), menuturkankan bahwa kelebihan cerpen adalah pemadatan dan pemusatan terhadap sesuatu yang dikisahkan. Cerita tidak dikisahkan secara panjang lebar sampai mendetil, tetapi dipadatkan dan difokuskan pada satu permasalahan (tema) saja.

3.Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, yang menjadi pembicara kunci seminar “Pendidikan Karakter” dalam perspektif tokoh-tokoh pendiri lembaga pendidikan untuk menyiapkan pemimpin Indoensia tahun 2035, di SMA Van Lith, Muntilan, Magelang, mengatakan bahwa untuk mengukur keberhasilan pendidikan karakter, lihatlah potret di masyarakat. Masyarakat harus hidup teratur, disiplin, dan taat aturan. Misalnya jika lampu merah masyarakat berhenti maka pendidikan karakter berhasil (Suara Merdeka, 26 Agustus 2016).

4.Dalam dialog bertema “Peran Strategis Pendidikan Karakter dalam Mewujudkan Generasi Emss” di Jakarta, pakar pendidikan kebangsaan Universitas Paramadina, Yudi Latif, memaparkan bahwa karakter terdiri dari olah pikir, olah rasa, dan olah tindkan. Semuanya harus diterapkan di dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat (Kompas, 9 September 2016).

Referensi :

  • Nyoman Kutha Ratna, Prof.,Dr., S.U.,Karya sastra, Seni, dan Budaya dalam Pendidikan Karakter, Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2014.
  • Nurgiyantoro, Burhan., Teori Pengkajian Fiksi, Penerbit Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, Cetakan Ke-10, 2013.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Mengenal Permainan Tradisional dalam Cerpen Anak Mengenal Kepribadian Anak dalam Cerpen Anak


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: