Mengenal Permainan Tradisional dalam Cerpen Anak

19 September, 2016 at 12:00 am

lucas-formiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

Agaknya kita sudah jarang mendengar atau melihat anak-anak, yang berada di jaman teknologi digital seperti sekarang ini,  melakukan permainan-permaianan yang boleh dikatakan sangat sederhana, tradisional, atau klasik. Semua permainan anak-anak sekarang sudah berbau teknologi yang serba canggih.

Andaikan ada pun, mungkin dilakukan oleh anak-anak hanya pada hari-hari tertentu. Misal, acara lomba-lomba pada tujuhbelasan agustus.  Yang perlu diacungi jempol, adalah ada komunitas-komunitas yang memang fokus mengangkat permainan tradisional agar tidak hilang.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, permainan adalah sesuatu yang digunakan untuk bermain; barang atrau sesuatu yang dipermainkan; hal bermain; perbuatan bermain; perbuatan yang dilakukan dengan tidak sungguh-sungguh (hanya untuk main-main); pertunjukkan; perhiasan didigantungkan pada kalung dan sebagainya (2001:698).

Ternyata, ketika saya membaca majalah anak-anak “Bobo”, saya menemukan cerpen-cerpen yang menyinggung masalah permainan. Permainan yang saya maksud, adalah permainan yang sederhana, tradisional, atau klasik.

Adapun cerpen-cerpen yang saya maksud adalah :

1.Cerpen “Seperti Dulu Lagi”, karya Nazma Hilyatul Laila D, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 23 April 2015, hal.22-23.

2.Cerpen “Batu Ajaib”, karya Nina Rahayu Nade, dimuat di malajah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 21 Mei 2015, hal.36-37.

3.Cerpen “Asep Anak Kampung”, karya Bambang Irwanto, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 16 Juli 2015, hal.46-47.

4.Cerpen “Dirawu Kelong”, karya Rosi Meilani, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 6 Agustus 2015, hal.30-31.

5.Cerpen “Nama Baik”, karya Pupuy Hurriyah, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 6 Agustus 2015, hal.48-49.

Berikut, gambaran di dalam cerpen-cerpen anak tersebut di atas, yang bisa saya tangkap tentang permainan sederhana, tradisional, atau klasik, yang sangat disukai anak-anak, yaitu :

1.Permainan lompat tali

Nazma Hilyatul Laila D, dalam cerpennya yang berjudul “Seperti Dulu Lagi”, mengungkapkan tentang sapintrong atau lompat tali, seperti berikut :

-Aku meminta Fani dan Selvi menunggu di kamarku. Sementara, aku ganti baju dan cuci muka di kamar mandi. Ketika aku masuk ke kamarku, tampak Fani sedang memegang roncean karet gelang yang biasa kugunakan bermain dengan teman-temanku dulu.

-“Karet ini untuk apa disusun seperti ini?” tanya Fani keheranan. Aku lebih keheranan lagi karena ternyata mereka tak tahu kegunaan tali karet itu. Apa mereka tak pernah bermain sapintrong?

-“Oh, itu untuk main lompat tali,” jawabku.

-“Gimana mainnya, Ka?” tanya Selvi yang juga penasaran. Ia ikut memperhatikan tali karet itu.

-“Gampang kok! Mainnya di luar, yuk!” ajakku bersemangat.

-Selvi dan Fani mengangguk mantap. Kami pun bergegas keluar, menuju lapangan kosong di dekat rumahku. Senyum sumringah mengembang di bibirku.

-“1.. 2… 3… hyaaa!” Fani melompat masuk ke tengah-tengah karet yang aku dan dan Selvi putar. Ia melompat-lompat gesit dan keluar dari putaran karet tanpa menyentuhnya. Semakin lama, Fabi semakin jago bermain karet (hal.23).

 

2.Bermain di sungai

Dalam cerpen berjudul “Batu Ajaib”, karya Nina Rahayu Nadea, ditulis tentang Lilo, Lola, dan Loli, yang tak bosan-bosannya bermain di Sungai Cijoho. Penulis dengan detail mengungkapkan tentang sungai itu, yang jernih dan segar. Ketiga anak yang telah berenang di sungai itu, diterangkan demikian :

-Kini mereka bertiga sudah berada dalam sungai. Lola sesekali menyelam, mengambil beberapa batu, lalu menyimpannya di tepi sungai.  Begitu terus berulang, hingga batu-batu itu berjejer.

-“Kita lomba cari batu sebanyak-banyaknya, yuk!” usul Lilo tiba-tiba.

-Mereka bertiga kini sibuk mencari batu-batu. Tidak hanya di dasar sungai, mereka juga mencari batu di tepi sungai (hal.36).

3. Bermain gundu, perang-perangan dengan senapan bambu, mencari buah sawo atau berenang di sungai

Karya Bambang Irwanto berupa cerpen dengan judul “Asep Anak Kampung”, menyingkap tentang permainan tradisional yang disukai anak-anak. Adapun permainan itu, disebutkan demikian :

-Siang itu, sehabis membantu membersihkan halaman belakang, Asep bermain bersama Tomi. Kali ini, Tomi meminjamkan Asep mainan robot terbarunya. Robot itu bisa bergerak dan mengeluarkan suara. Banyak lampu di sana-sini.

-Asep terkagum-kagum melihat robot canggih Tomi itu. Di kampungnya, tidak ada yang mempunyai robot seperti itu. Selain tidak ada yang menjual, harganya tentu mahal. Asep dan teman-teman biasanya hanya bermain gundu, perang-perangan dengan senapan bambu, mencari buah sawo atau berenang di sungai (hal.46)

4.Permainan petak umpet

Rosi Meilani, dalam cerpennya yang berjudul “Dirawu Kelong”, menyinggung permainan tradisional yang bernama “petak umpet”, demikian :

-Saat liburan di desa Nenek, Akmal mendapat teman baru, yaitu Sule, Usep, Ian, Nisa dan Ina. Mereka selalu bermain bersama.

-“Kita main petak umpet, yuk,” ajak Usep sore itu.

-“Aku antar Salma pulang dulu, ya!” ujar Akmal. Semua melirik adik Akmal yang berusia lima tahun.

-“Ikutan main aja, ya, Sal?” ajak Sule. Salma mengangguk senang.

-“Sesaat kemudian, terdengar seruan anak-anak itu.,”Hom pim pah alaium gambreng! Nisa jaga!”

-Nisa menghadap dinding rumah Mang Udin. Ia menghitung, sementara yang lainnya bersembunyi. Nisa lalu mencari tempat persembunyian teman-temannya sampai semuanya ia temukan. Anak yang pertama kali ditemukan, dialah yang selanjutnya jaga. Begitulah permainan itu diulang-ulang hingga menjelang magrib (hal.30).

5.Bermain kelereng

Melalui cerpen “Nama Baik”, Pupuy Hurriyah hendak menyampaikan tentang permainan tradisional yang sangat disukai anak-anak. Apa permainan itu ? Pupuy Hurriyah menulis, demikian :

-“Aku lapar, nih.” Tiba-tiba Agam mengantongi kelerengnya dan berlalu ke kantin.

-Nino juga cepat mengambil kelerengnya, lalu mengantonginya. Kemudian Nino bergegas menyusul Agam ke kantin.

-“Ke kelas, yuk!” Indra cepat-cepat mengajak Reza dan Tiro yang sedang mengumpulkan kelereng-kelereng mereka.

-“Hei, tunggu!” Iwan masih sibuk memunguti kelereng-kelerengnya yang berserakan di tanah (hal.48).

Berdasarkan kutipan yang diambil dari dalam cerpen-cerpen anak seperti tersebut di atas, dapat diambil beberepa catatan praktis, yaitu :

1.Kita bisa mengenal kembali permainan tradisonal melalui cerpen. Permainan-permainan itu, antara lain : sapintrong (lompat tali dari karet gelang yang dironce); gundu; perang-perangan dengan senapan bambu; naik pohon; berenang di sungai; petak umpet; main kelereng.

2.Sastra merupakan sesuatu yang sangat berharga dan berguna untuk mengolah sensitivitas dan perilaku yang baik (Mario Vargas Llosa dalam Basis, No.09-10, 2003:62).

3.Sebagai penguat, Butet Kertaredjasa, putra seniman serba bisa Bagong Kussudiardjo, menuturkan bahwa semasa kecil ketika sekolah di Taman Siswa ada hari Krida, yaitu setiap minggu sekali ada satu pelajaran lepas yang diisi dengan belajar beladiri, seperti pencak silat dan pelajaran menari. Bahkan ada dolanan anak. Pelajaran atau kegiatan ini sangat baik bagi perkembangan anak (Suara Merdeka, 18 Agustus 2016).

4.Banyak permainan tradisional Nusantara telah tenggelam oleh zaman, tetapi ada permainan tradisional yang masih tetap bertahan di Dusun Sembalun Bumbung, salah satu dusun tua di kaki Gunung Rinjani, Kecamatan Sembalun, Lombok Utara, yaitu permainan gasing. Permainan ini mengandung nilai-nilai kerja sama, keterbukaan, dan sportivitas (Kompas, 6 Agustus 2016).

5.Agar permainan itu bermakna bagi anak-anak atau siapa pun, saya sertakan puisi karya Driyarkara, seorang filsuf Indonesia, tentang permainan seperti berikut :

bermainlah dalam permainan
tetapi jangan main-main
mainlah dengan sungguh-sungguh,
tetapi permainan jangan dipersungguh
kesungguhan permainan
terletak dalam ketidak-sungguhannya
sehingga permainan yang dipersungguh
tidaklah sungguh lagi
mainlah dengan eros
tetapi janganlah mau dipermainkan eros
mainlah dengan agon
tetapi janganlah mau dipermainkan agon
barang siapa mempermainkan permainan
akan menjadi permainan permainan
bermainlah untuk bahagia
tetapi janganlah mempermainkan bahagia

 

Referensi :

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Mengenal Perasaan Anak dalam Cerpen Anak Mengenal Praktik Pendidikan Karakter dalam Cerpen Anak


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: