Mengenal Perasaan Anak dalam Cerpen Anak

17 September, 2016 at 6:24 am

lucas-formiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti pernah mendengar ungkapan dari anak-anak tentang perasaan mereka. Misal :

“Aku senang, karena aku berhasil mendapat nilai bagus dalam ulangan harian.”

“Aku kecewa sekali, karena ternyata temanku tidak jadi menjemputku.”

Dari ungkapan seperti tersebut di atas, sebenarnya apa yang dimaksud dengan perasaan? Apa saja macam perasaan?

Sumadi Suryabrata, dalam bukunya Psikologi Pendidikan (2014:66-69), mengatakan bahwa perasaan biasanya didefinisikan sebagai gejala psikis yang bersifat suyektif yang umumnya berhubungan dengan gejala-gejala mengenal, dan dialami dalam kualitas senang atau tidak senang dalam berbagai taraf.

Berlainan dengan berpikir, maka perasaan itu bersifat sebyektif, banyak dipengaruhi oleh keadaan diri seseorang. Apa yang enak, indah, menyenangkan bagi seseorang tersebut, belum tentu juga enak, indah, menyenangkan bagi orang lain.

Perasaan umumnya bersangkutan dengan fungsi mengenal, artinya perasaan dapat timbul karena mengamati, menanggap, mengkhayalkan, mengingat-ingat, atau memikirkan sesuatu.

Dilihat dari macamnya, maka ada perasaan jasmaniah dan perasaan rohaniah. Perasaan jasmaniah itu meliputi perasaan indriah dan vital. Perasaan rohaniah meliputi perasaan intelektual, kesusilaan, keindahan, sosial, harga diri, dan keagamaan.

Berangkat dari uraian dari Sumadi Suryabrata tersebut, ternyata kita bisa mengenal lebih jauh lagi tentang perasaan dari anak-anak lewat cerpen.

Untuk itu saya menggunakan cerpen-cerpen yang dimuat di majalah anak-anak “Bobo”. Karena majalah “Bobo”, adalah majalah anak-anak yang secara umum sudah dikenal.

Adapun cerpen-cerpen yang saya ambil di majalah “Bobo”, antara lain :

1.Cerpen “Jus Hijau Istimewa”, karya Sari Wiryono, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, TahunXLIII, 23 Juli 2015, hal.32-33.

2.Cerpen “Sariawan Aira”, karya Novia Erwida, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 21 Mei 2015, hal.40-41.

3.Cerpen “Es Krim Sandwich”, karya Faya AzjkaIftita, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 13 Agustus 2015, hal.48-29.

4.Cerpen “Kelas Menulis”, karya Hairi Yanti, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 5 November 2015, hal.24.

5.Cerpen “Mawar Melati Semua Indah”, karya S. Gegge Mappangewa, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 28 Mei 2015.

6.Cerpen “Kemala”, karya Hairi Yanti, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 24 September 2015, hal.46.

7.Cerpen “Badru Si Pengantar Susu”, karya Rosi Meilani, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 21 Mei 2015, hal.24-25.

8.Cerpen “Rainbow cake untuk Papa”, karya Novita Sari, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 3 Desember 2015, hal.38-39.

9.Cerpen “Kungfu Jono”, karya Pawit Mulyadi, dimuat di majalah anak-anak Bobo, Tahun XLII, 29 Januari 2015, hal.28-29.

10.Cerpen “Si Penjual Bunga Gunung”, karya Fransisca Emilia., dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, TahunXLIII, 31 Desember 2015, hal.46-47.

Berikut ini akan dideskripsikan bentuk perasaan yang diungkapkan oleh anak-anak. Adapun bentuk perasaan yang diamati dalam cerpen-cerpen itu, adalah : perasaan indriah, perasaan vital, perasaan intelektual, perasaan kesusilaan, perasaan keindahan, perasaan sosial, perasaan harga diri, dan perasaan keagamaan.

1.Perasaan indriah

Perasaan indriah, yaitu perasaan-perasaan yang berhubungan dengan perangsangan terhadap pancaindera, seperti : sedap, manis, asin, pahit, panas, dan sebagainya (Sumadi Suryabrata, 2014:67).

Cerpen “Jus Hijau Istimewa”, yang ditulis oleh Sari Wiryono, menggambarkan Safira suka jus buah, dan tidak suka makan sayur. Ketika ia bermain di rumah Clara, ia melihat Clara minum jus berwarna hijau, yang ternyata jus sawi. Penuh rasa ingin tahu, Safira juga meminum jus itu. Tanggapan Safira atas jus sawi, demikian :

-“Enak, kan ?” tanya Clara.

-Safira mengangguk pelan keheranan.. sayuran, kok, di-jus … tetapi bisa enak (hal.32)

Berikut, cerpen “Sariawan Aira”,  yang juga mengungkapkan masalah perasaan indriah. Cerpen ini ditulis oleh Novia Erwida.

Cerpen “Sariawan Aira” mengungkapkan tentang Aira yang kena sariawan. Ibunya berusaha untuk membantu kesembuhan Aira dari serangan sariawan, dengan memberi tomat. Menurut ibunya, tomat adalah obat alami untuk sariawan karena mengandung vitamin C. Aira mengungkapkan perasaan, demikian :

-Cairan merah dalam gelas itu membuatku merinding. Hiy… Seraaam. Rasanya asam walau tampak merah segar. Ibu mengambil sendok, melarutkan madu dan menyodorkan gelas itu padaku. Aku menutup mulut sambil menggelengkan kepala.

-“Coba dulu,” kata Ibu.

-Aku menggeleng kuat-kuat. Tidak suka. Ibu tak memaksa, meletakkan gelas itu di meja.

-“Ibu senang kalau Aira bisa habiskan ini,” kata Ibu sambil tersenyum. Lalu Ibu kembali ke dapur.

-Aku mengambil sendok dan meneteskan jus tomat itu ke gelas. Kental sekali, semakin membuatku bergidik ngeri. Mungkin Ibu memblender dua buah tomat dengan air yang sangat sedikit.

-Kuraba pipiku yang bengkak. Ada beberapa sariawan di situ. Kata Ibu, aku kurang vitamin C, jadi gampang sariawan. Tomat mengandung vitamin C. Kata, Ibu, tomat adalah obat alami untuk sariawan. Namun rasanya … Aduh, aku tak suka.

-Aku benci tomat. Bentuknya mengerikan, dan rasanya asam (hal.40-41)

2.Perasaan vital

Perasaan vital, yaitu perasaan-perasaan yang berhubungan dengan keadaan jasmani pada umumnya, seperti : segar, letih, sehat, lemah, tak berdaya, dan sebagainya (Sumadi Suryabrata, 2014:67).

Dalam cerpen “Es Krim Sandwich”, kita dapat menemukan perasaan vital. Diceritakan Andi bermain dengan-temannya di lapangan bola. Ketika bermain, matahari bersinar sangat terik. Keadaan yang seperti itu membuat Andi menjadi lelah. Untuk menghilangkan rasa haus, ia segera pulang. Sampai di rumah ia membuka freezer. Ungkapan perasaan jasmani yang diceritakan oleh Faya AzjkaIftita, adalah :

-Andi lalu mengangkat jempolnya. Lalu berlari menuju lapangan bola yang tak jauh dari rumahnya. Di sana, teman-temannya sudah menunggu.

-Matahari bersinar sangat terik siang itu. Keringat Andi terus menetes di dahinya. Belum sampai satu jam berlalu, Andi dan teman-temannya mulai lelah bermain karena panasnya udara.

-Andi memutuskan pulang ke rumah. Ia sangat haus dan ingin minum minuman dingin (hal.48).

3.Perasaan intelektual

Perasaan intelektual, ialah perasaan yang bersangkutan dengan kesanggupan intelek (pikiran) dalam menyelesaikan problem-problem yang dihadapi. Misalnya, rasa senang yang dialami oleh seseorang yang dapat menyelesaikan soal ujian (perasaan intelektual positif), atau perasaan kecewa yang dialami oleh seseorang yang sama sekali tak dapat mengerjakan soal ujian (Sumadi Suryabrata, 2014:68).

Perasaan intelektual dapat ditemukan dalam cerpen “Kelas Menulis”, karya Hairi Yanti. Dalam cerpen ini diungkapkan perasaan Riva ketika dia berhasil mengikuti pelatihan menulis, demikian :

-Usai pelatihan, Riva jadi semangat menulis. Riva bertekad menulis satu cerita setiap hari. Riva juga didaftarkan Mamanya ikut pelatihan menulis online. Riva selalu semangat jika ikut pelatihan menulis. Banyak ilmu dan teman baru yang ia dapatkan.

-Cerpen yang ditulis Riva sudah banyak. Mama meminta Riva memisahkan cerpen yang bertema sama dalam satu folder. Mama juga membantu Riva mengirimkan kumpulan cerpen itu ke penerbit.

-Dua buku kumpulan cerpen Riva akan diterbitkan. Cerpen Riva juga dimuat di koran daerah. Riva senang sekali (Hal.41)

4.Perasaan kesusilaan

Perasaan kesusilaan atau disebut juga perasaan etis, ialah perasaan tentang baik-buruk. Tiap-tiap orang tentu mempunyai ukuran baik-buruk sendiri-sendiri yang bersifat individual, yang sering juga disebut norma individual. Di samping itu, kita mengetahui bahwa di dalam masyarakat tertentu terdapat norma yang berlaku bagi masyarakat, yang biasanya disebut norma sosial. Perasaan kesusilaan bersangkut paut dengan pelaksanaan norma-norma tersebut. Juga perasaan kesusilaan ada dua macam, yaitu positif dan negatif. Perasaan kesusilaan yang positif, misalnya dialami sebagai rasa puas kalau orang telah melakukan hal yang baik, dan yang negatif, misalnya dialami sebagai rasa menyesal kalau orang telah melakukan hal yang tidak baik (Sumadi Suryabrata, 2014:68).

Cerpen “Mawar Melati Semua Indah” ditulis oleh S. Gegge Mappangewa. Dia menulis tentang Hana yang ingin mempunyai adik. Namanya Kirei. Perasaan Hana dituangkan dalam tulisan :

-“Pulang sekolah, enggak boleh langsung cubit pipi adik Kirei. Nanti bawa kuman, lo,” ujar Mama.

-“Sekaliiii aja, Ma!”

-“Sudah, ganti seragam saja dulu. Cuci tangan yang bersih. Lagi pula, kamu belum makan, kan?”

-“Hana, kan, rindu sama adik. Masa dilarang pegang-pegang!”

-“Bukan melarang, tapi setelah ganti seragam dan cuci tangan….”

-Hana masuk ke kamarnya dengan kecewa. Dulu, ia pikir, punya adik menyenangkan. Ternyata sebaiknya (hal.46).

Ketika Hana merasa ibunya melarang untuk dekat-dekat dengan adiknya, Hana mengungkapkan perasaan yang dalam, demikian :

-Sepanjang jam belajar matematika tadi, Hana tak mengerti sedikit pun penjelasan Bu Jannah. Ia melamun memikirkan Mama dan Papa yang tampak lebih sayang pada adiknya (hal.46).

Hana sempat menyampaikan perasaannya itu kepada temannya, Erna. Lalu Erna menyarankan agar Hana bermain ke rumah tetangga atau bermain ke rumah temannya yang lain. Hana setuju, dan dia mengungkapkan perasaannya :

-“Makanya, Han, kalo punya adik, jangan banyak main di rumah. Main di tetangga saja,” saran Erna.

-“Pulang sekolah nanti, kita main ke rumah Linda, yuk!” ajak Erna kemudian.

-“Bilang saja mau belajar bareng. Pasti diizinkan.”

-Hana mengangguk sambil tersenyum (hal.46).

Ternyata ibunya Hana tahu bahwa ada perubahan sikap pada Hana. Ibunya bertanya, dan Hana menanggapi dengan sikap, seperti berikut :

-Namun, Mama akhirnya mulai curiga. Ketika Hana akan pamit belajar bersama, Mama mulai bertanya.

-“Lho, kok, setiap hari kamu belajar di rumah teman?”

-Hana garuk-garuk kepala. Takut ketahuan kalau selama ini ia sebetulnya bukan belajar bareng, tetapi bermain bareng.

-Hana meletakkan bukunya di meja dengan malas. Adiknya menangis. Mama langsung berlari masuk kamar. Saat sendiri seperti itu, Hana semakin merasa Mama pilih kasih. Papa juga begitu…. (hal.47).

Cerpen ditutup dengan kesadaran Hana bahwa mama dan papanya tidak pilih kasih. Hana semakin merasa didukung, ketika papanya memberi kata-kata yang indah untuk Hana, yang diambil dari lagu anak-anak, demikian :

-Kekecewaan di hati Hana seketika hilang. Ternya Mama tidak pilih kasih. Adik Kirei yang masih bayi, memang masih lebih butuh Mama.

-“Bagai bunga, kamu itu mawar, dan adik kirei melati. Semua indah di mata Mama Papa. Sayangnya juga sama….” ujar Papa.

-Hana mencium mama dan papanya bergantian sambil menyanyi …

-Mawar Melati, semuanya indah … (hal.47).

5.Perasaan keindahan

Perasaan keindahan, yaitu perasaan yang menyertai atau yang timbul karena seseorang menghayati sesuatu yang indah atau tidak indah (Sumadi Suryabrata, 2014:68).

Membaca cerpen dengan judul “Kemala”, yang ditulis Hairi Yanti, kita bisa menemukan ungkapan perasaan keindahan.

Hairi Yanti menceritakan, ada seorang anak yang baru masuk pertama kali sekolah di Balikpapan. Namanya Kemala. Mendengar nama itu, teman-temannya tersenyum, dan guru pun mengatakan bahwa di Balikpapan ada pantai yang bernama Kemala. Berkaitan persamaan nama, Kemala menyampaikan perasaannya kepada ayahnya, demikian :

-“Kenapa namaku Kemala?” tanya Kemala pada ayah saat di rumah. Kening ayah mengernyit heran.

-“Namaku sama dengan nama pantai. Ayah tahu?”

-Ayah tersenyum dan mengangguk.

-“Besok hari minggu kita ke Pantai Kemala,” kata Ayah.

-Saat hari minggu tiba, Ayah mengajak Kemala ke pantai. Kemala membaca papan nama di sana. Pantai Kemala. Huh, ternyata memang ada pantai yang sama dengan namaku. Kemala mendengus sebal.

-Namun mata Kemala langsung berbinar saat masuk ke pantai itu. pasirnya putih nampak lembut buat diinjak. Ada banyak anak-anak yang bermain di sekitar pantai. Pantainya berwarna biru, berdampingan dengan langit yang juga biru. Hari itu matahari memang bersinar cerah. Tapi suasana tampak rindang karena banyak pohon kelapa di pinggir pantai. Kemala berdecak kagum melihatnya.

-“Pantainya cantik sekali, Ayah,” kata Kemala (hal.46).

6.Perasaan sosial

Perasaan sosial, ialah perasaan yang mengikatkan individu dengan sesama manusia, perasaan untuk hidup bermasyarakat dengan sesama manusia untuk bergaul, saling tolong-menolong, memberi dan menerima simpati dan antipati, rasa setia kawan, dan sebaginya (Sumadi Suryabrata, 2014:69).

Cerpen yang mengungkapkan perasaan sosial ada dalam cerpen dengan judul “Badru Si Pengantar Susu”. Cerpen ini ditulis oleh Rosi Meilani.

Diceritakan, sambil sekolah, Badru menyempatkan jualan susu. Suatu saat ia bertemu dengan Salwa, yang sedang mendorong sepedanya, karena bannya gembos. Sepeda itu lalu dibawa oleh Badru ke tukang tambal ban. Setelah beres, ternyata Salwa tak ada uang di sakunya. Lalu Badru membantu Salwa. Berikutnya, Badru mengantar Salwa ke rumahnya, dan bertemu dengan ayahnya. Ketika Salwa menceritakan tentang sepedanya, segera ayahnya (Pak Kemal) mengganti uang milik Badru. Ungkapan perasaan Badru, seperti tertulis demikian :

-“Kembaliannya untuk kamu saja, Ru,” lanjut Om Kemal.

-“Wah, makasih banget, Om,” ucap Badru (Hal.25).

Selanjutnya, Badru juga diberi oleh Pak Kemal, sebuah sepeda milik saudara kembarnya Salwa, yaitu Salma yang meninggal dunia karena demam berdarah. Percakapan yang bernuansa saling tolong-menolong digambarkan, demikian :

-“Om pikir, daripada sepeda ini tidak bermanfaat, lebih baik kamu pakai saja.”

-“Iya, Yah. Langganan Badru tambah banyak. Bawaannya berat. Sampai ke sekolah terlambat terus,” timpal salwa.

-“Iya… Salma juga pasti senang, karena sepedanya bisa menolong kamu, Ru,” Om Kemal mengusap sepeda itu, lalu disodorkan kepada Badru.

-“Kalau kamu tidak suka warnanya, kamu bisa cat ulang. Keranjangnya juga bisa dilepas,” ujar Om Kemal.

-“Tidak usah, Om. Warna pink, bagus. pasti menarik perhatian. Ada keranjangnya lagi. Terima kasih, Om. Semoga pahala Om sekeluarga terus mengalir dalam setiap kayuhan sepeda ini.” (hal.25).

7.Perasaan harga diri

Perasaan harga diri ini dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu perasaan harga diri positif dan perasaan harga diri negatif. Perasaan harga diri positif, ialah misalnya, perasaan puas, senang, gembira, bangga yang dialami oleh seseorang yang mendapatkan penghargaan dari pihak lain (misalnya, mendapatkan pujian, hadiah, tanda jasa, dan sebagAinya). Perasaan harga diri negatif ialah misalnya perasaan kecewa, tak senang, tak berdaya, kalau seseorang mendapat celaan, dimarahi, mendapatkan hukuman, dan sebagainya (Sumadi Suryabrata, 2014:69).

Cerpen yang berjudul “Rainbow cake untuk Papa”, diceritakan oleh Novita Sari, bahwa ayah Nadine dan Nino suka merokok. Mama, Nadine, dan Nino bekerja bersama-sama agar ayahnya tidak merokok lagi. Semula, jikalau ayahnya ketahuan merokok, akan kena denda. Tetapi, dalam perkembangannya, suatu kejutan terjadi. Kejutan itu ditandai dengan ungkapan perasaan, seperti berikut :

-“Nadine … Nino, … ayoo turun. Mama membuat kue istimewa,” teriak papa pada Nadine dan Nino yang sedang melukis di lantai dua. Tergopoh-gopoh Nadine dan Nino berlari ke bawah. Di atas meja makan terhidang kue rainbow bertabur keju.

-“Wow… sedap sekali…,” ujar Nino sambil menelan ludah,”Papa yang belikan untuk Mama?” katanya lagi.

-“Justru kue ini buatan Mama. Hadiah istimewa untuk Papa yang bertekad untuk berhenti merokok. Kita semua akan membantu Papa untuk menghentikan kebiasaan buruknya. Bukan dengan denda, tapi dengan kasih sayang. Sehingga Papa sadar untuk hidup sehat. Setuju?” kata Mama sambil menunjukkan pula stiker dilarang merokok yang ditempel di beberapa sudut rumah. Nadine dan Nino bersorak gembira (hal.39).

Tentang perasaan harga diri, dapat juga ditemukan dalam cerpen yang berjudul “Kungfu Jono”. Cerpen ini  digarap oleh Pawit Mulyadi.

Cerpen dibuka dengan cerita tentang beberapa anak yang berkerumun untuk membicarakan masalah pertengkaran dengan anak sekolah lain. Deni mengajak Jono untuk bergabung dengan anak-anak yang lain. Tetapi, Jono menolak, bahkan dikatakan “ayam sayur”, karena punya kepandaian tidak untuk berkelahi.

Berawal dari ejekan itu, Jono mengalami permasalahan dengan harga dirinya. Tanda-tandanya tertulis ketika Jono belajar malam, demikian :

-Malam itu, Jono hanya membalik-balik buku pelajarannya. Ia tak konsentrasi belajar. Pikirannya kembali di pagi hari tadi. Ia sebenarnya gengsi dan malu diolok-olok teman-temannya (hal.28).

Akibat Jono menemui masalah dan berpikir keras, pada malam hari ia terserang pusing.  Bahkan ketika sampai di sekolah teman-temannya bersikap tidak peduli kepada Jono. Hal tersebut dapat dilihat berikut ini :

-Keesokan harinya, ketika Jono datang, teman-temannya tidak menyapanya. Mereka masih asyik membincangkan perkelahian itu. Namun, tak ada lagi yang mengajak Jono bergabung (hal.28).

8.Perasaan keagamaan

Perasaan keagamaan yaitu perasaan yang bersangkut paut dengan kepercayaan seseorang tentang adanya Yang Maha Kuasa seperti : rasa kagum akan kebesaran Tuhan, rasa syukur setelah lepas dari marabahaya secara ajaib, dan sebagainya (Sumadi Suryabrata, 2014:69).

Fransisca Emilia menulis cerpen dengan judul “Si Penjual Bunga Gunung”. Dalam cerpen ini ada ungkapan perasaan keagamaan, seperti berikut :

-Ternyata Om Ferdi adalah lelaki yang tak jadi membeli bunga. Ia seorang wartawan. Ia mengeluarkan dua lembar ratusan ribu dari dompetnya. “Ini untukmu.”

-Tejo tersenyum. Ia menolak dengan halus. “Tidak perlu, Om. Saya hanya mengembalikan yang bukan milik saya.”

-“Begini saja. Saya sedang meliput daerah ini dan perlu pemandu. Bagaimana kalau kamu menunjukkan tempat-tempat menarik di sini? Termasuk tempat kamu memetik bunga-bunga yang kamu jual. Uang ini sebagai bayarannya.”

-Mata Tejo berbinar. “Baiklah! Saya tahu semua daerah sini.” Tejo sangat senang.

-Hari ini, dagangannya tidak laku. Namun Tejo memperoleh uang dari pekerjaan lain. Tejo tak lupa bersyukur pada Tuhan (hal.47).

Kutipan yang dimabil dari dalam cerpen-cerpen seperti tersebut di atas, maka dapat disimpulkan, yaitu :

1.Perasaan yang muncul dalam diri anak-anak melatarbelakangi dan mendasari aktivitas mereka.

2.Pada umumnya, kegembiraan menjadikan anak-anak bergairah. Sedangkan kesedihan atau kekecewaan menjadikan anak tidak bersemangat atau lemah.

3.Rasa bersyukur perlu terus dikembangkan dalam diri anak.

4.Membaca cerpen-cerpen yang ditampilkan di atas, sepertinya pembaca diajak bertemu dengan penulisnya yang mencoba menuangkan perasaan-perasaannya lewat tokoh utama atau pendukung-pendukungnya, baik itu anak-anak, orangtua, atau orang lain. Dengan demikian, kita sebagai pembaca langsung juga mengenal bermacam-macam perasaan pada mereka, khususnya pada anak-anak. Oleh karena itu, meminjam ungkapan Bakdi Soemanto, dalam tulisannya yang berjudul “Pasemon” di buku Humanis Y.B. Mangunwijaya (2015:51), bahwa sastra hadir secara personal ke dalam batin pembaca di saat tenang, sunyi, sehingga mengantar pembaca berdialog dengan batin sendiri.

 

Referensi :

  • Humanisme Y.B. Mangunwijaya, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2015.
  • Suryabrata, Sumadi., Psikologi Pendidikan, Penerbit RajaGrafindo, Jakarta, Cetakan Ke-21, 2014.

 

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Anti nyontek anti korupsi Mengenal Permainan Tradisional dalam Cerpen Anak


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: