Mengenal Pembelajaran Keutamaan Moral dalam Cerpen Anak

15 September, 2016 at 6:22 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

Dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah atau di sekolah, kita sering mendengar nasehat dari orangtua atau guru kepada anak-anaknya atau murid-muridnya. Nasehat itu berupa nilai-nilai keutamaan moral, seperti :

“Kamu hendaknya jadi anak yang jujur.”

“Jadilah anak yang bisa bertanggung jawab.”

“Anakku, belajarlah rendah hati.”

Lalu, apa yang dimaksud dengan keutamaan moral atau kekuatan moral.

Meminjam pendapat dari Franz Magnis-Suseno, dalam bukunya “Etika Dasar” (1993:hal141), yang dimaksud dengan  keutamaan moral atau kekuatan moral adalah kekuatan kepribadian seseorang yang mantap dalam kesanggupannya untuk bertindak sesuai dengan apa yang diyakininya sebagai benar (1993:141).

Sikap-sikap yang mendasari kepribadian yang mantap, di dalamnya adalah kejujuran, bertanggung jawab, dan kerendahan hati.

Masih menurut Franz Magnis-Suseno  (1993:142), yang dimaksud dengan bersikap jujur adalah sikap berani untuk berpisah dari kebohongan. Bersikap tidak jujur berati tidak seia-sekata untuk mengambil sikap lurus. Bersikap jujur terhadap orang lain, berarti bersikap terbuka dan fair. Dengan bersikap demikian, kita muncul sebagai diri kita sendiri. Terbuka dan fair berarti orang boleh tahu, siapa kita ini. Oleh karena itu bersikap jujur butuh keberanian. Dibuat merasa malu pun kita tidak patah untuk tetap bersikap jujur, sehingga kekuatan batin kita bertambah.

Sikap bertanggung jawab berarti kesediaan untuk melakukan apa yang harus dilakukan, dengan sebaik mungkin. Sikap bertanggung jawab berarti suatu sikap terhadap tugas yang membebani kita. Sikap bertanggung jawab tidak memberi ruang pada pamrih kita. Sikap bertanggung jawab berarti, perasaan-perasaan seperti malas, “wegah”, takut, atau malu tidak mempunyai tempat berpijak. Meskipun orang lain tidak melihat, kita tetap bertanggung jawab dengan menyelesaikan tugas sampai tuntas. Sikap bertanggung jawab berarti bersedia bersikap positip, kreatif, kritis, dan obyektif. Sikap bertanggung jawab berarti kesediaan untuk diminta, dan untuk memberi (Franz Magnis-Suseno, 1993:146).

Bersikap rendah hati berarti mampu melihat diri sesuai kenyataannya. Orang yang rendah hati tidak hanya melihat kelemahannya, melainkan juga kekuatannya. Orang yang rendah hati, orang yang mampu menerima diri. Orang yang rendah hati tidak gugup atau sedih karena ia bukan sorang manusia super. Orang yang rendah hati adalah orang yang tahu diri dalam arti yang sebenarnya. Oleh karena itu orang yang rendah hati bersedia untuk memperhatikan dan menanggapi setiap pendapat orang lain (Franz Magnis-Suseno, 1993:149).

Melalui pengertian tentang kejujuran, bertanggung jawab, dan kerendahan hati, seperti yang diutarakan oleh Fraz Magnis-Suseno, saya mencoba menunjukkan bahwa di dalam karya sastra bernama cerpen, juga ada cerita yang menyangkut masalah-masalah tersebut. Adapun cerpen-cerpen yang saya maksud, adalah :

1.Cerpen “Si Penjual Bunga Gunung”, karya Fransisca Emilia, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 31 Desember 2015, hal.46-47.

2.Cerpen “Tragedi Es Pisang Ijo”, karya Erna Fitrini, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, tahun XLIII, 25 Juni 2015, hal.12.

3.Cerpen “Rahasia Rega”, karya Dian Sukma Kuswardhani, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XL III, 30 Juli 2015, hal.24-25.

Berikut gambaran tentang kejujuran ditunjukkan di dalam cerpen “ Si Penjual Bunga Gunung”. Gambaran tentang bertanggung jawab ada di cerpen “Tragedi Es Pisang Ijo”, dan gambaran tentang kerendahan hati ada di cerpen “Rahasia Rega”.

1.Cerpen “Si Penjual Bunga Gunung”

Cerpen yang ditulis oleh Fransisca Emilia ini, menceritakan seorang anak penjual bunga gunung. Namanya Tejo. Tejo berjualan di tepi jalan masuk bunker. Bunker itu dibangun sebagai tempat perlindungan dari awan panas Merapi. Awan panas yang dikenal sebagai “wedhus gembel” itu bergerak sangat cepat dan mematikan. Dengan adanya bunker, warga tidak perlu mengungsi jauh-jauh.

Diungkapkan bahwa Tejo sempat merasa kecewa karena belum juga pengunjung yang membeli bunga gunung yang dijualnya. Ia sudah berusa menawarkan kepada para pengunjung.

Diceritakan berikutnya, bahwa Tejo segera pulang ke rumah, karena ada berita Simbahnya sakit. Tetapi, setelah dia makan siang, ia ingin segera kembali ke bunker untuk berjualan lagi. Apa yang terjadi setelah dia sampai di bunker?, demikian ceritanya :

-Setelah makan siang, tejo kembali ke bunker. Sudah sepi. Tidak ada pengunjung lagi. Tejo mengemasi bunga-bunganya ke dalam kardus. Ia hendak beranjak pergi ketika melihat sesuatu berkilau. Tejo mendekati benda itu. Sebuah telpon genggam tergeletak di pasir. Ia menimang-nimang benda itu. Sudah lama ia ingin punya telpon genggam. Dengan begitu, ia bisa menelpon Simbok yang bekerja di Jakarta. Dan Simbok tidak perlu menelpon Pakdhe Gimo kalao ingin bicara dengannya.

-“Tapi ini bukan milikku. Pasti ada pengunjung yang kehilangan,” pikir Tejo (hal.47)

Lalu, Tejo berusaha mencari pemilik telepon genggam. Ia menuju ke warung-warung yang berada di sekitar tempat parkir. Akhirnya, dia menemukan seorang pemuda yang mau membantu Tejo untuk bertemu dengan si pemilik telepon genggam bernama Ferdi. Percakapan yang mengandung nilai kejujuran, muncul seperti berikut :

-“Kamu yang berjualan bunga kering di depan bunker, kan? Terima kasih, ya. Hape ini sangat berharga buat saya. Seluruh catatan pekerjaan saya ada di sini.”

-Ternyata Om Ferdi adalah lelalki yang tak jadi membeli bunga. Ia seorang wartawan. Ia mengeluarkan dua lembar ratusan ribu dari dompetnya. “Ini untukmu.” (hal.47).

2.Cerpen “Tragedi Es Pisang Ijo”

Erna Fitrini menulis cerpen berjudul “Tragedi es Pisang Ijo”. Ada pesan yang ingin dia sampaikan lewat tokoh anak, si “aku”.

Cerita dimulai dengan keingian si “aku” dan temannya Angky untuk membeli es pisang ijo di pasar. Untuk itu si “aku” membawa uang sepuluh ribu. Si “aku” juga dititipi uang oleh Ibunya, agar diberikan kepada Tante Nana, yang bertempat tinggal di dekat pasar.

Di tikungan jalan, langkah mereka terhenti karena ada orang yang membawa kotak bertuliskan “Bantuan untuk Korban Kebakaran”. Si “aku” dan Angky menanggapi, demikian :

Angky mencolek sikuku. “Ikutan nyumbang supaya es pisang ijonya masih ada. Katanya, kalo kita nyumbang, segala doa kita dikabulkan.”

“Tapi uangku pas-pasan untuk beli es pisang ijo,” kataku ragu. Angky menepuk pundakku.

“Tenang, nanti kutraktir! Uangmu disumbang aja!” saran Angky sambil merogoh saku celana. Ia memasukkan uang ke dalam kotan sumbangan. Aku akhirnya melakukan hal yang sama (hal.12).

Ketika mereka berdua sampai di pasar, segera membeli es pisang ijo. Alangkah kagetnya si “aku” karena uang titipan Ibunya tidak ada di sakunya. Berikut ungkapan si “aku” :

Aku iseng merogoh saku celana, memeriksa uang titipan Ibu. Mataku terbelalak tak percaya ketika melihat pecahan sepuluh ribu ditanganku. “Ky,” bisiku. “Uang titipan Ibu hilang.”

Mata Angky membelalak bulat menatapku. Mulutnya terbuka lebar. “Kotak sumbangan!” serunya. “Berapa yang tadi kamu masukkan?”

Badanku lemas. Dengkulku gemetar. “Enggak liat.”

Angky menepuk jidatnya.

Sekarang aku sibuk memikirkan penjelasan yang harus kusampaikan kepada Ibu. Es pisang ijo tiba-tiba terasa hambar di mulutku (hal.12).

3.Cerpen “Rahasia Rega”

Cerpen berjudul “Rahasia Rega”, ditulis oleh Dian Sukma Kuswardhani, mengungkapkan tentang keprihatinan Doni dan Galih karena temannya yang bernama Rega sering terlambat tiba di pangkalan becak, dan juga terlambat masuk sekolah. Ketika Rega ditanya oleh Dono dan Galih, dia selalu menjawab,”Enggak apa-apa.” (Hal.24).

Dalam cerita berikutnya, diungkapkan bahwa Doni dan Galih mulai curiga ada yang disembunyikan Rega. Untuk itu mereka berdua akan mengunjungi Rega di rumahnya. Sampai di rumah Rega, Doni dan Galih bertemu dengan nenek. Percakapan yang mengandung kerendahan hati Rega, muncul demikian :

-“Rega sedang membersihkan rumput di rumah Pak Joyo,” jawab nenek itu saat ditanyakan.

-Doni dan Galih memutuskan menunggu di teras. Mereka menebak wanita tua itu adalah nenek Rega. Ia menemani Galih dan Doni di teras.

-“Nek, Rega kalau berangkat sekolah jam berapa, sih?” Doni bertanya duluan.

-“Habis subuh,” jawab Nenek.

-“Hah?” seru Galih keheranan. Galih dan Doni beradu pandang. Jadi kenapa Rega selalu telat?

-“Kalau pagi, Rega antar koran dulu keliling komplek. Lumayan untuk bantu-bantu bayar uang sekolah. sebulan kemarin, Nenek sakit. Rega jadi sempat berhenti antar koran. Baru kemarin dia mulai lagi,” jelas Nenek (hal.25).

Ketika Rega datang, mereka saling menyapa. Lalu, dilanjutkan duduk bersama. Doni dan Galih mulai bercakap-cakap. Ungkapan Rega membuat Doni dan Galih semakin memahami keberadaan dan sikap Rega.

-“Aku baru tahu, kamu tinggal sama nenekmu, Ga,” kata Galih.

-“Iya, memang aku tinggal berdua dengan Nenek. Bapak ibuku, kan sudah enggak ada,” kata Rega (hal.25).

Setelah dirasa cukup percakapan mereka bertiga, Rega menyampaikan permohonan maaaf kepada Doni dan Galih, bahwa dia harus bekerja lagi. Ungkapan Rega tertulis demikian :

-Rega sebenarnya masih ingin berlama-lama dengan teman-temannya. namun ada pekerjaan lain yang menantinya lagi. Membersihkan rumput di rumah Pak Tiyo. Teman-temannya tak perlu tahu. Bukan karena ia malu. Rega hanya tidak ingin dikasihani (hal.25).

Dari ketiga cerpen tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa :

1.Karya sastra, ternyata mempunyai fungsi sebagai pembelajaran. Menurut Kosasih (2014:1), sastra mempunyai fungsi rekreatif dan juga didaktif. Sebagai fungsi rekreatif, sastra memberikan rasa senang, gembira, serta menghibur. Sebagai fungsi didaktif, sastra mendidik para pembaca karena nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang ada di dalamnya.

2.Pembelajaran tentang keutamaan moral ternyata bisa lewat cerpen. Dari cerpen, bisa ditemukan isi cerpen yang menggambarkan nilai-nilai keutamaan moral. Dengan cara ini pula, orangtua atau guru akan terbantu untuk memberi pembelajaran kepada anak-anaknya atau murid-muridnya.

3.Untuk menjadi orang yang mampu bersikap jujur, bertanggung jawab, dan rendah hati, ternyata butuh keberanian untuk mempertimbangkan dan menentukan sikap mana yang akan dipilih : tidak jujur karena mendapat keuntungan. Tidak bertanggung jawab karena tidak ada yang melihat. Memelas karena supaya dikasihani orang. Atau mengambil sikap : jujur, meskipun tidak mendapat keuntungan, tetapi hati tenteram. Bertanggung jawab, meskipun kemungkinan tidak mendapat penghargaan. Terbuka, meskipun kemungkinan akan dipermalukan karena ketahuan keberadaan diri yang kurang atau lemah.

4.Tentang kejujuran, James Luhulima (dalam “Hati-hati”, Kompas, 20 Agustus 2016), menulis, kita teringat dengan kata-kata bijak Wakil Presiden Mohammad Hatta (1945-1956),”Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun, tidak jujur itu sulit diperbaiki.”

5.Tentang pembelajaran keutamaan moral, Daoed Joesoef (dalam “Tanggung Jawab Moral”, Kompas, 5 September 2016), menulis demikian : manusia modern selalu apa pun dan dimana pun diingatkan agar tetap bertanggung jawab moral atas perbuatannya terhadap sesama manusia. Wajar jika setiap orang berusaha berperan dalam kehidupan bersama. Namun, peran bukan berarti mematikan tanggung jawab. Ia harus ditanggapi sebagai peluang bagi manusia untuk bertanggung jawab atas nasib pihak lain, yaitu orang-orang yang dengan dia bukan sekeluarga, sesuku, sedaerah, seagama, separtai, atau dari ras yang sama. Jadi, kepedulian moralnya terhadap pihak lain karena ia berupa manusia yang sama sekali lain dengan dia.

Referensi :

  • Kosasih, E, Dr., Dasar-dasar Keterampilan Bersastra, Penerbit Yrama Widya, Bandung, Cetakan Ke-2, 2014.
  • Franz Magnis-Suseno, Etika Dasar-Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, Cetakan Ke-4, 1993.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Pendidikan Holistik Anti nyontek anti korupsi


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: