Anti nyontek anti korupsi

15 September, 2016 at 6:25 am

moh-ramliOleh Moh Ramli
Mahasiswa Universitas Pesantren Darul Ulum (UNIPDU) Jombang

“Pikiranmu akan menjadi ucapanmu. Ucapanmu akan menjadi perilakumu. Perilakumu akan menjadi kebiasaanmu. Kebiasaanmu akan menjadi karaktermu. Karaktermu akan menjadi takdirmu.” – Mahatma Gandhi

Anti nyontek, anti korupsi, begitulah kira-kira yang saya dengar tadi malam saat acara penutupan Oscar 2016 di Kampus UNIPDU Jombang. Mungkin ini topik yang menarik untuk diperbincangkan kembali. Karna tidak dipungkiri, Bangsa ini begitu merindukan generasi jujur, berani, dan berpihak pada kebenaran. Walaupun mengaplikasikan keberanian, bersikap jujur, tidak semudah membalikkan telapak tangan. mungkin hal itu juga saya geluti saat ini, yang masih berprofesi sebagai pelajar dan juga tidak mustahil untuk bisa dipraktekkan.

Kecurangan adalah sebuah bentuk ketidakjujuran yang kerap kali terjadi dalam kehidupan, termasuk saat ini dalam dunia pendidikan yang seharusnya menjadi tempat bagi pelajar untuk berlatih jujur. Belajar sekedar untuk mendapatkan nilai yang bagus, bahkan budaya mencontek semakin marak demi mendapatkan nilai yang memuaskan yang terlihat di masyarakat saat ini.

Benar kata Edi sugianto (2015) Saat ini, mencari orang jujur seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Mengapa demikian ? seperti yang sudah di paparkan di atas, kemarakan menyontek di sebabkan demi mendapatkan nilai bagus. Karna begitulah masyarakat kita, hanya memandang kepintaran intelektual semata dari pada kepintaran rohani (hati), hanya melihat hasil dari pada prosesnya.

Kita tidak bisa membalikkan ingatan, bahwa sejak muda, sistem pendidikan yang sudah di sediakan telah menjadikan ketidak jujuran tertali secara kuat dalam diri.

Lalu pertanyaanya apa kaitannya menyontek dan tindakan korupsi ? bisa di katakan menyontek sudah banyak yang mendarah daging ditubuh pelajar, hingga perbuatan curang itu menjadi habits (kebiasaan) sampai terbawah hingga tua. Akhirnya ketika mendapatkan pekerjaan seorang itu akan biasa berbuat curang, curang sedikit-sedikit, sedikit demi sedikit dan menjadi bukit (koruptor).

Dan tak tercengang lagi bahwa Indonesia saat ini adalah negara terkorup ke empat di level Asia. Mengapa tidak, Akhir-akhir ini misalnya, Ketua komisi pemberantas korupsi ( KPK), Agus Ruhardjo mengungkapkan, dilansir dari nasional.kompas.com, sudah 119 anggota dewan, 15 Gubenur yang ditangkap (5/9/2016). Lebih gilanya KPK telah banyak menangkap pemimpin yang dipilih dari hasil pemilu akibat korupsi.

Dari hasil survei persepsi korupsi pada 2015 sangat memprihatinkan, Tentara islam Indonesia ( TII ) melakukan survei di sebelas kota Indonesia. Sebelas kota tersebut adalah pekanbaru, semarang Banjarmasin, Pontianak, makasar, manado, medan, padang, bandung Surabaya, dan Jakarta. Dari hasil survei tersebut menyebutkan bahwa kota yang memiliki skor tertinggi dalam indeks persepsi korupsi 2015 ialah Banjarmasin dengan skor 68, Surabaya 65 dan semarang 60. Sementara itu, kota yang memiliki indeks terendah adalah bandung dengan skor 39, pekanbaru 42, makasar 48.(www.ti.or.id)

Mengutip dari ayat al-Qur’an, (surat an-Nahl ayat 105)‘’ sesungguhnya yang mengadakan kebohongan ialah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan mereka adalah orang yang berdusta’’

Akhir kata, kejujuran adalah hal yang utama dalam membangun kehidupan yang tenteram, damai dan tenang. lebih – lebih kehidupan nanti di akhirat yang kekal selamanya. Amin.

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Mengenal Pembelajaran Keutamaan Moral dalam Cerpen Anak Mengenal Perasaan Anak dalam Cerpen Anak


ISSN 2085-059X

  • 649,871

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: