Pendidikan Holistik

14 September, 2016 at 12:00 am

lucas-formiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

Ki Tyas Sudarto, selaku Ketua Majelis Luhur Taman Siswa, menilai dunia pendidikan Indonesia saat ini lebih menekankan dan menghargai materi serta kepintaran semata. Kondisi ini sangat memprihatinkan masa depan bangsa, yang saat ini masih dilanda krisis multidimensi (Kompas, 26 Oktober 2007).

Rambu-rambu dalam proses belajar, juga menjadi catatan dari praktisi Pendidikan Multiple Intelegence dan Holistic Learning dan akrab disapa Ayah Edy, yaitu dari cara guru mengoreksi jawaban dari latihan soal sangat terlihat bahwa kemerdekaan anak untuk menjawab pertanyaan sangat terbatasi. Semua itu merupakan wujud pembatasan kreativitas anak. Akibatnya, mereka tak terbiasa mencari jalan keluar lain untuk suatu masalah (Suara Merdeka, 18 Agustus 2008).

Berangkat dari keprihatinan seperti yang diungkapkan oleh kedua praktisi pendidikan seperti tersebut di atas, tentu harus ada pencerahan.

Berikut, adalah uraian tentang pendidikan holistik yang memungkinkan bisa menjadi pencerahan bagi orangtua, guru, atau siapapun yang mencintai dunia pendidikan.

Menurut Ratna Megawangi, Melly Latifah, dan Wahyu Farrah Dina (2008), pendidikan holistik adalah pendidikan yang bertujuan membentuk manusia utuh (holistic, whole person) dan cakap dalam menghadapi dunia yang penuh tantangan dan cepat berubah, serta mempunyai kesadaran spiritual bahwa dirinya bagian dari keseluruhan (the person within a whole). Oleh karena itu, potensi manusia harus dikembangkan melalui pendidikan yang mengandung aspek : spiritual, intelektual, emosi, sosial, jasmani, dan kerativitas.

Adapun aspek-aspek yang dimaksud, adalah :

1.Aspek spiritual : bersikap tak’zim kepada seluruh ciptaan Tuhan; menghadirkan Tuhan/keimanan dalam tiap aktivitas; mampu sharing peribadi dalam pelajaran agama; mampu berdoa; menolong orang lain; belajar/bekerja dengan sungguh-sungguh sebagai ungkapan persembahan kepada Tuhan; disiplin beribadah; sabar; tawakal; pasrah; ikhlas; ridho; berdamai/menerima masa lalu; kerja keras; menerima keadaan diri apa adanya; bersyukur; bermenung di saat sakit; rasa memiliki; memuji/mengakui orang lain; memaafkan orang lain; berterima kasih atas apa yang telah diterima dari orang lain; integritas.

2.Aspek intelektual atau kognitif : mampu berbahasa (mengungkapkan); membaca dan menulis dengan baik; berani menyampaikan pertanyaan; bisa menarik kesimpulan dari berbagai informasi; mengenal dan memahami konsep berhitung (penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian); bisa berdiskusi; daya bayang ruang; berpikir logis.

3.Aspek emosi : mampu mengendalikan stres; mengontrol diri dari perbuatan negatif; percaya diri; berani mengambil resiko; empati (mengenal, mengerti, memahami, mendengarkan perasaan orang lain); mampu mengungkapkan perasaan (mengenal, mengelola); mengenal keinginan dan kebutuhan; belajar mengantri; menghormati hak diri sendiri dan orang lain; memahami nilai/norma.

4.Aspek sosial : menyenangi pekerjaan; bekerja dalam tim; pandai bergaul; peduli; berjiwa sosial; bertanggung jawab; menghormati orang lain; mematuhi peraturan yang berlaku; mampu menempatkan diri dalam lingkungan; memotivasi diri; refleksi; introspeksi; berdamai dengan situasi; komunikasi; kerja sama; tolong-menolong; interaksi; senang berteman; senang membuat orang lain senang.

5.Aspek jasmani : motorik kasar dan halus berkembang; menjaga stamina; menjaga kesehatan tubuh agar tetap sehat; tidak mudah sakit oleh karena cuaca; tidak mudah mengeluh.

6.Aspek kreativitas : mampu mengekspresikan diri; mencari solusi dari berbagai masalah; mampu berimajinasi; mampu menemukan banyak cara dalam melakukan sesuatu.

Selanjutnya, Ki Tyas Sudarto, menambahkan bahwa pendidikan holistik memberikan keseimbangan pada pengembangan intelektual, fisik, mental, dan spiritual setiap individu. Pendidikan holistik tak sekadar mencetak anak-anak pintar, tetapi juga terciptanya anak yang berkarakter kuat yang tidak lepas dari sejarah dan kebudayaan Indonesia (Kompas, 26 Oktober 2007).

Dalam rangka aplikasi pendidikan holistik, metode yang bisa dipakai, antara lain :

1.Bekerjasama.

Bekerja sama adalah aktivitas pembelajaran yang menjadi perhatian serius pada pendidikan holistik. Bekerja sama atau cooperative learning, adalah sebuah metode yang melibatkan siswa bekerja bersama-sama, berhadapan muka dalam kelompok kecil dan melakukan tugas yang sudah terstruktur. Beberapa keunggulan dari metode belajar kelompok, adalah : segala perbedaan dihargai; belajar melihat perspektif yang lebih lengkap; pengembangan kemampuan untuk personal; setiap anak terus mempunyai kontribusi; memberikan kesempatan untuk mendapatkan umpan balik (Ratna Megawati, Melly Latifah, Wahyu Farrah Dina, 2008).

2.Dialog.

Dialog adalah aktivitas pembelajaran yang menekankan pada percakapan atau tanya-jawab secara langsung, terbuka, dan komunikatif antara pendamping dan anak-anak. Lebih dalam lagi, Paulo Freire (via Dharma Kesuma dan Teguh Ibrahim, 2016) mengatakan bahwa melalui dialog akan diperoleh pengetahuan yang benar. Pendidikan pun mempersyaratkan dialog. Syarat dialog, antara lain : perhubungan dialogis, cinta, kerendahan hati, keyakinan mendalam terhadap manusia, kepercayaan, harapan, dan pemikiran kristis.

3.Refleksi.

Refleksi adalah kegiatan yang mengajak anak untuk mengungkapkan perasaan mereka dalam proses pembelajaran itu sendiri. Lebih menukik lagi, Paulo Freire (via Dharma Kesuma dan Teguh Ibrahim, 2016) menandaskan bahwa pengetahuan diperoleh tidak hanya memalui rasionalitas semata, atau hanya mengandalkan pengalaman. Pengetahuan yang benar diperoleh manusia melalui refleksi-refleksi atas segala tindakannya yang tertuju pada humanisasi. Jadi, refleksi adalah sikap yang membawa tindakan perubahan yang tertuju pada humanisasi.

Referensi :

  • Dharma Kesuma dan Teguh Ibrahim, Struktur Fundamental Pedagogik-Membedah Pemikiran Paulo Freire, Penerbit Refika Aditama, Cetakan Kesatu, Bandung, 2016.
  • Kompas, 26 Oktober 2007.
  • Ratna Megawangi, Melly Latifah, Wahyu Farrah Dina, Pendidikan Holistik, Penerbit Indonesia Heriage Foundation, Cetakan Kedua, Jakarta, 2008.
  • Suara Merdeka, 18 Agustus 2008.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Pendidikan Senjata Terakhir Mengenal Pembelajaran Keutamaan Moral dalam Cerpen Anak


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: