Wayang Masuk Sekolah

13 September, 2016 at 5:50 pm

Oleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

Sepulang dari sekolah, Riwa langsung meminta kepada ibunya, agar dibelikan buku yang membahas masalah wayang. Ibunya mengatakan bahwa Riwa tidak perlu membeli buku itu, karena di almari buku milik keluarga ada buku yang membahas masalah wayang. Bahkan buku itu disertai dengan gambar tokoh wayang dan sifat-sifat dari tokoh wayang tersebut.

Riwa mengatakan bahwa ia ia mendapat tugas dari guru untuk membuat gambar tokoh wayang sesuai pilihannya, dan kemudian diminta juga untuk menjelaskan tokoh wayang yang menjadi pilihannya itu.

Setelah Riwa menerima buku tentang wayang tersebut, ia kemudian membaca dengan tekun, dan sekaligus memilih tokoh wayang yang menjadi idolanya, yaitu Bima. Kemudian ia menggambar tokoh wayang bernama Bima. Riwa tidak mengalami kesulitan, ketika ia menggambar tokoh wayang Bima, karena ia memang mempunyai dasar suka menggambar. Dia menggambar tokoh wayang Bima dengan ukuran kertas gambar yang besar. Berikutnya Riwa poles dengan cat poster. Hasil gambarnya sangat bagus.

Ketika Riwa menyerahkan gambar wayang Bima, ia ditanya oleh guru tentang tokoh wayang Bima yang menjadi pilihannya dan idolanya itu. Riwa menjelaskan bahwa ia senang dan mengidolakan tokoh wayang Bima, karena Bima mempunya sifat-sifat yang yang baik, yang bisa ditiru oleh anak-anak, yaitu jujur, berani, teguh, dan patuh.

Begitu juga yang dialami oleh Tiana. Sepulang dari sekolah, ia bercerita kepada ibunya bahwa ia mendapat tugas dari guru untuk membuat wayang dari bahan kertas karton. Berbeda dengan Riwa, Tiana tidak mempunyai buku tentang wayang. Tetapi Tiana ingat bahwa tetangganya mempunyai wayang kulit dengan tokoh Arjuna dan Cakil, yang dipasang di dinding ruang tamu. Lalu Tiana diajak oleh Ibunya untuk meminjam tokoh wayang tersebut. Sangat kebetulan tetangganya itu mengijinkan dan mempersilahkan Tiana untuk dibawa pulang, agar dia bisa menggambar kedua wayang itu dengan leluasa.

Sama halnya dengan Riwa, Tiana ditanya oleh guru tentang tokoh wayang pilihannya itu. Tiana menjawab bahwa tokoh wayang Arjuna itu sifatnya tenang, tetapi wasapada. Sebaliknya tokoh wayang Cakil itu sifatnya : “pethakilan”, senang mengadu domba, menjengkelkan, dan suka menghalangi orang yang mau maju. Tiana juga menambahkan bahwa Cakil itu kira-kira seperti “preman” di jaman sekarang. Oleh karena itu sifat-sifat buruk pada Cakil menjadi peringatan bagi anak-anak, agar tidak berperilaku seperti Cakil.

Dari pengalaman Riwa dan Tiana, kita dapat menyimak bahwa ternyata wayang bisa masuk ke dalam pembelajaran di sekolah. Wayang tidak dianggap lagi sebagai sesuatu yang kuno dan tidak menarik karena jadul (jaman dulu). Semakin menjadi mantap, ketika guru membawakan pembelajaran tentang wayang dengan cara yang menarik, dan akhirnya anak-anak pun ikut tertarik juga.

Dari pembelajaran tentang wayang, anak-anak dapat memperoleh nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dengan mengenal tokoh wayang dan sifat-sifatnya, anak-anak dapat belajar tentang pendidikan karakter. Tokoh wayang dengan sifat yang baik (jujur, tanggung jawab, berani, disiplin, patuh, tertib, membela atau menolong orang yang lemah, dan lain-lain) dapat diserap dan dikembangkan oleh anak-anak. Sedangkan wayang dengan sifat yang tidak baik (penipu, culas, iri, suka mengadu domba, egois, suka mencelakakan orang lain, dan lain-lain) hendaknya dihindari atau ditinggalkan oleh anak-anak.

Melalui wayang, anak-anak dapat belajar tentang seni rupa. Misal, menggambar tokoh wayang. Dengan mengambar tokoh wayang, anak-anak belajar detail tentang bentuk tubuh/postur wayang, pakaian wayang, asesoris wayang, dan lain-lain.

Dengan sarana wayang, guru dapat menyampaikan cerita tentang lakon wayang. Lakon wayang dapat ditampilkan dalam bentuk teatrikal. Anak-anak akan senang, karena mereka akan belajar gerak dan kata. Oleh karena itu wayang dapat dilakukan oleh guru dan anak-anak secara in door (di dalam ruang kelas) maupun out door (di luar ruang kelas).

Oleh karena itu pula, pembelajaran tentang wayang dapat disebut sebagai wujud pelestarian dan pengembangan budaya lokal, yang paling efektif adalah sejak anak-anak duduk dibangku sekolah. Guru atau orangtua sangat berperanan dalam pembelajaran ini. Dari mana memulainya? Guru atau orangtua dapat memulainya dari hal yang paling sederhana, yaitu suka wayang. Baru kemudian anak-anak akan suka wayang. Tanda-tanda bahwa anak-anak suka wayang, dapat dilihat dengan cara : mendengarkan cerita wayang, membaca buku wayang, menonton wayang, membuat wayang, mencoba memainkan wayang, dan seterusnya.

Referensi:

  • Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna, S.U.,Peranan Karya Sastra, Seni, dan Budaya dalam Pendidikan Karakter, Penerbit Pustaka Pelajar, Cetakan Pertama, September 2014, Yogyakarta.
  • Ki Wisnoe Poerwo Tjarito dan Sri Wintala Achmad, Cerita-Cerita Wayang Paling Unik-20 Kisah Masterpiecedalam Jagad Pakeliran, Penerbit Syura Media Utama, Cetakan Pertama, Mei 2016, Yo0gyakarta.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Mengenal Pembelajaran Flora-Fauna dalam Cerpen Anak Pendidikan Senjata Terakhir


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: