Pendidikan Senjata Terakhir

13 September, 2016 at 5:53 pm

moh-ramliOleh Moh Ramli
Mahasiswa (Universitas Pesantren Darul Ulum UNIPDU)Jombang

Patah satu, tumbuh seribu. Begitu kira-kira pepatah yang cocok untuk menggambarkan kasus korupsi di negeri ini.  Ketua komisi pemberantas korupsi ( KPK), Agus Ruhardjo mengungkapkan, dilansir dari nasional kompas.com, sudah 119 anggota dewan, 15 Gubenur yang di tangkap (5/9/2016). Lebih gilanya KPK telah banyak menangkap pemimpin yang dipilih dari hasil pemilu akibat korupsi.

Dari hasil survei persepsi korupsi pada 215 sangat memprihatinkan , TII melakukan survei di sebelas kota Indonesia. Sebelas kota tersebut adalah pekanbaru, semarang Banjarmasin, Pontianak, makasar, manado, medan, padang, bandung Surabaya, dan Jakarta. Dari hasil survei tersebut menyebutkan bahwa kota yang memiliki skor tertinggi dalam indeks persepsi korupsi 2015 ialah Banjarmasin dengan skor 68, Surabaya 65 dan semarang 60. Sementara itu, kota yang memiliki indeks terendah adalah bandung dengan skor 39, pekanbaru 42, makasar 48 (www.ti.or.id)

Pertanyaannya. Bagaimana cara memutus lingkaran setengah iblis itu? bukankah mereka orang pintar,cerdas dan berpendidikan setinggi langit ? Apa respon pendidikan sesungguhnya, sebagai senjata paling jitu untuk menyelamatkan bangsa ini?

Kesejahteraan suatu bangsa tak diukur dari seberapa besar pendapatan negara , namun seberapa besar jumlah masyarakat yang mengenyam pendidikan dan berkarakter. Karena itu, penjajah bangsa kita saat ini adalah kegilaan para pemimpin terhadap dunia (korupsi).

‘Gila’ di sini bukan dimaknai sebagai gejala penyakit psikis, seperti orang stres, ngamuk-ngamuk,telanjang di jalan-jalan dan lainnya. ‘Gila’ disini yang maksud lebih kepada ‘mental menerabas’, yang selalu dipertontonan para koruptor dan politikus. Mereka sadar, bahwa memakan uang rakyat berarti memakan api neraka, Tapi karena hati nurani mereka sudah tertutup batu bata, rasa malu pun hilang diterhanyut angin.

Tujuan KPK bukan selamatkan uang negara, kalau saya tidak perluh gaduh, tapi tujuanya tercapai yakni menurunkan angka korupsi.(Agus rahardjo)

Namun apa realita dari dulu hingga sekarang, setiap hari di media cetak,online,telivisi tidak pernah bosan-bosan menayangkan kasus korupsi, koruptor yang seperti artis naik daun saja, karena begitu seringnya nongol di telivisi.

Dunia yang gemerlap telah menjerumuskan manusia ke dalam jurang keserakahan (greedy), tuna moral, membutakan mata hati. Koruptor yang tanpa henti membuat onar di negeri menjadi bukti nyata gila/sintingnya bangsa ini.

Kini, masyarakat sudah bosan menyaksikan kasus korupsi negeri ini. Para koruptor di balik jeruji besi, jumlahnya tak terhitung. Mungkin, satu atau dua tahun ke depan penjara pun penuh dengan mereka. Betapa tidak, di zaman edan, korupsi sudah menjadi warisan. Orangtua koruptor, kakak koruptor, adik koruptor, terbentuklah keluarga besar koruptor (edi sugianto, menyalakan api pendidikan karakter : 2016)

Benar kata Edi sugianto (2015) Saat ini, mencari orang jujur seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Bangsa ini begitu merindukan generasi jujur, berani, dan berpihak pada kebenaran.

Kecurangan adalah sebuah bentuk ketidak jujuran yang kerap kali terjadi dalam kehidupan, termasuk saat ini dalam dunia pendidikan yang seharusnya menjadi tempat bagi anak-anak untuk berlatih jujur. Belajar sekedar untuk mendapatkan nilai yang bagus, bahkan budaya mencontek semakin marak demi mendapatkan nilai yang memuaskan yang terlihat di masyarakat saat ini. Keadaan itu dengan  ikut sertanya para guru dalam membantu dan mendorong terjadinya kecurang tersebut. Seperti yang terjadi tahun 2013 kecurangan ujian nasional tercatat 1.035 laporan, berdasarkan data yang dimiliki Federasi serikat guru indonesia (FSGI) kecurangan 2014 semakin menurun yaitu mencapai 304 laporan, penurunan ini di duga terjadi akibat kebijakan baru pemerintah yang menetapkan ujian nasional tidak lagi sebagai penentu kelulusan siswa. Pertanyaanya sampai dimana peran guru dan pemeritah dalam mengatasi problem ini?.

Di dalam membentuk pribadi jujur, bukan hal yang mudah dan terbentuk begitu saja. Pendidikan kejujuran mesti disemai sejak dini, seperti melukis di atas batu. Tak heran, saat ini masyarakat, para guru bersama pemerintah menggalakkan Pendidikan Anak Usia Dini. Kesadaran mendidik anak usia dini disebabkan adanya kesadaran bahwa anak usia dini tergolong dalam masa keemasan. Masa tersebut terjadi ketika seluruh fungsi dan kemampuan anak sedang berkembang dengan pesat sehingga sayang bila tidak di optimalkan.

Menurut data direktorat PPTK PAUDNI Pada 2011, jumlah seluruh PTK PAUDNI sebanyak 409.301 orang. PTK PAUDNI telah memiliki NUPTK sebanyak 385.991. sisanya, sebanyak 23.310 PTK PAUDNI belum memiliki NUPTK.

Mengapa internalisasi nilai-nilai (kejujuran) begitu vital dimulai sejak  dini? Jawabannya, hasil penelitian menunjukkan, bahwa sekitar 50 persen variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika berusia 4 tahun. Peningkatan 30 persen berikutnya terjadi pada usia 8 tahun. Dan 20 persen sisanya, pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. (Megawangi, 2011: 1)

Salah satu hasil penelitian menyebutkan bahwa pada usia 4 tahun kapasitas kecerdasan anak telah mencapai 50% seperti diungkapkan direktur pendidikan Anak usia dini (PAUD), Depdiknas, Dr. Gutama, kapasitas kecerdasan itu mencapai 80% di usia 8 tahun. Ini menunjukkan pentingnya memberikan perangsangan pada anak usia dini, sebelum masuk sekolah. di mana pada periode ini (usia 4 tahun)  anak-anak menyerap semua hal dengan sangat kritis. Jadi, penanaman nilai-nilai kejujuran pada usia dini sangat strategis bagi perkembangan hidup selanjutnya.

Untuk itu, para guru harus memahami betul, bahwa pembelajaran kejujuran mesti disesuaikan dengan dunia anak zaman sekarang (positif), hingga tercipta prosesnya belajar menjadi menggembirakan. Bila anak-anak gembira, senang, tidak takut, terhadap pendidik yang bersahabat, mereka akan berani meng-ekspresikan ide, unek-unek, potensi dan kemampuan yang dimiliki. Lalu, terlahirnya mental ‘baja’ murni yang bukan tipu-tipu.

Pada akhirnya, pendidikan memberi harapan bagi keselamatan masa depan bangsa ini, yang ingin mentuntaskan dari gelapnya keserakahan para pemimpin. Pembudayaan kejujuran sejak dini menjadi keniscayaan, demi menciptakan generasi baru, berintegritas, amanah, tidak hanya menghambur-hamburkan sumpah dan memenuhi janji, kemakmuran masyarakat. Amin. (Email: ramly_moh@yahoo.co.id”>ramly_moh@yahoo.co.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Wayang Masuk Sekolah Pendidikan Holistik


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: