Mengenal Pembelajaran Flora-Fauna dalam Cerpen Anak

8 September, 2016 at 12:00 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

 

Jika kita ingin mengetahui lebih banyak tentang flora-fauna, kita bisa mengenal pembelajarannya dengan berbagai cara, antara lain : menonton acara di televisi yang menayangkan flora-fauna; membaca surat kabar atau majalah yang menyinggung masalah flora-fauna; atau membaca buku yang khusus membicarakan flora-fauna.

Apa yang dimaksud dengan flora-fauna?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud flora, adalah keseluruhan kehidupan jenis tumbuh-tumbuhan suatu habitat, daerah, atau strata geologi tertentu; alam tumbuh-tumbuhan; karya atau terbitan yang memuat daftar dan penelaahan jenis tumbuh-tumbuhan suatu habitat, daerah, atau strata geologi tertentu.

Lalu, fauna adalah keseluruhan kehidupan hewan suatu habitat, daerah, atau strata geologi tertentu; dunia hewan; karya atau penerbitan yang memuat daftar dan penelaahan jenis hewan suatu habitat, daerah, atau strata geologi ertentu.

Nah, ternyata, ketika saya membaca majalah anak-anak “Bobo”, saya menemukan cerpen yang menceritakan tentang flora-fauna. Penulis cerpen tidak semata-mata mengungkapkan tentang flora-fauna, tetapi juga membalutnya dengan dinamika permasalahan anak-anak.

Adapun cerpen-cerpen yang dimaksud, adalah :

1.Cerpen “Hujan Bunga Helikopter”, karya Dwi Rahmawati, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLII, 29 Januari 2015, hal.12-13.

2.Cerpen “Batu Ajaib”, karya Nina Rahayu Nadea, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 21 Mei 2015, hal.36-37.

3.Cerpen “Mawar Melati Semua Indah”, karya S. Gegge Mappangewa, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 28 Mei 2015, hal.46-47.

4.Cerpen “Monster Diona”, karya Rosi Meilani, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 30 Juli 2015, hal.14-15.

5.Cerpen “Telur Raksasa di Pohon Mangga”, karya Fitri Restiana, dimuat di majalahanak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 21 September 2015, hal.48-49.

Berikut gambaran tentang flora-fauna yang ditampilkan dalam cerpen-cerpen di atas.

1.Cerpen “Hujan Bunga Helikopter”

Dalam cerpen yang berjudul “Hujan Bunga Helikopter”, karya Dwi Rahmawati,  menceritakan tentang keunikan pohon meranti dan manfaatnya, seperti berikut :

-“Sekarang, perhatikan pohon itu!” Pak Seno menunjuk sebatang pohon. Di bagian bawahnya ada papan bertuliskan Meranti Shorea Macrophylla.

-Tiba-tiba, sesuatu jatuh dari dahan pohon. Benda itu terbang berputar-putar sampai tanah. Makin lama, makin banyak yang berjatuhan.

-“Hujan! Lihat, seperti hujan tapi bukan air yang jatuh,” Nina menunjuk biji-biji yang beterbangan ke tanah.

-“Ya, inilah hujan bunga helikopter. Kalian beruntung bisa menyaksikannya,” Pak Seno bersemangat memungut sekuntum bunga yang jatuh.

-Semua murid berlari memunguti bunga helikopter.

-“Tidak seperti helikopter, Pak,” Ical mengcungkan bunga meranti.

-“Memang tidak mirip. Cara sayap-sayap melindungi biji hingga tetap utuh saat mendarat, seperti baling-baling helikopter. Itulah yang membuatnya dijuluki bunga helikopter,” jelas Pak Seno.

-“Satu-satunya bunga yang bisa terbang dan mendarat. Lihat, bijinya bersayap! Dua… tiga… empat… lima,” Aji mulai menghitung.

-“Bunganya mirip shuttlecock mini,” sela Nowo sambil tersenyum, diikuti anggukan Pak Seno.

-“Pohon meranti banyak tumbuh di dalam hutan Kalimantan. Penduduk memanfaatkan kayunya untuk membangun rumah. termasuk rumah saya, juga terbuat dari kayu meranti,” ujar Pak Seno tersenyum (hal.13).

2.Cerpen “Batu Ajaib”

“Batu Ajaib” adalah cerpen yang ditulis oleh Nina Rahayu Nadea. Melalui cerpennya, penulis ingin menyampaikan tentang batu besar yang berada di tepi sungai, dan dipercaya bahwa batu itu semakin membesar. Oleh ketiga anak, Lilo, Lola, dan Loli, batu itu disebut batu ajaib. Bahkan, ada warga yang sudah mendengar cerita itu.

-“Jangan-jangan, benar kata Ado! Sungai ini ada penunggunya. Dan penunggunya itu tinggal di batu ajaib ini!” (hal.37).

Diceritakan berikutnya, ketiga anak itu ingin bertemu dengan Pak Guru. Setelah mendengar cerita tentang batu ajaib itu, Pak Guru tidak percaya. Lalu ketiga anak itu pergi bersama Pak Guru menuju ke sungai.

-“Ini bukan batu, tetapi jamur!”

-“Jamur?”

-“Iya. Kalian tidak percaya? Yuk, kita angkat angkat batunya, ya!”

-Dengan hati-hati, pak Guru mencongkel batu besar itu.

-“Benar, kan! Lihat! Dibawahnya ada batang jamur.”

-“Oh, pantas bisa membesar. Jamur apa ini, Pak? Bentuknya bagus sdekali, bulat dan cokelat kehitaman seperti batu,” kata Lola kagum.

-“Ini namanya jamur shiitake atau dikenal juga dengan sebutan chinese black mushroom, karena warnanya yang hitam.”

-“Ha ha. Ternyata tidak ada batu ajaib di sungai! Ayo, berenang lagi!” seru anak-anak itu (hal.37).

3.Cerpen “Mawar Melati Semua Indah”

Untuk mendukung cerpen yang berjudul “Mawar Melati Semua Indah”, S. Gegge Mappangewa menyisipkan percakapan Hana dan Papanya tentang acara pilihan di tivi. Ketika Hana tetap bersikukuh ingin menontoh film kartun, maka dia mencari saluran tivi yang ada film kartunnya. Namun tak ada. Lalu Hana dan Papanya akhirnya menonton acara fauna, dengan gambaran seperti berikut :

-Papa meminta Hana berhenti menekan tombol remote. Di layar tivi, tampak acara fauna di Discovery Channel.

-“Lagi nonton apa, nih? Serius sekali….? sapa Mama saat keluar dari kamar.

-“Acara fauna, Ma. Ada anak bangau yang lagi disuapi induknya,” cerita Hana.

-“O iya, Pa. Tadi Hana hampir dipatuk ayam,” ucap Mama sambil ikut nonton.

-“Itu berarti, ayam sayang sama anaknya. Nah, apalgi Mama dan Papa. Iya, kan, Ma?” kata Papa.

-“Iya, dong….” Mama mencubit dan mencium pipi Hana (hal.47).

4.Cerpen “Monster Diona”

Cerpen “Monster Diona”, karya Rosi Meilani. Penulis menceritakan tentang tiga lalat, Lety, Lala, dan Laysa. Mereka bersahabat, dan mengadakan perjalanan menuju hutan angker.

Diceritakan kemudian oleh penulis, bahwa Lety memperhatikan rawa yang dipenuhi tanaman unik. Keunikan tanaman itu ditulis demikian :

-Kelopak-kelopak daun tanaman itu tampak cantik sekali. Luarnya berwarna hijau, dalamnya berwarna merah. Ujung kelopak itu ditumbuhi beberapa helai rambut lentik. Seperti bulu manusia (hal.15)

Selanjutnya, diceritakan ketika Lety tertidur, dan menghinggapi kelopak tanaman itu, dengan perlahan menutup lalu berubah menjadi makhluk yang menyeramkan. Laysa panik dengan teriak sambil menyebut tanaman itu seperti monster. Laysa dan Lala mencoba menolong Lety, dengan cara memakai ranting kering  untuk mengganjal kelopak monster. Akhirnya Lety bisa lepas dari cengkeraman si monster.

Cerita ditutup dengan penjelasan dari Lala tentang tanaman yang dianggap monster itu, demikian :

-“Eh, kalian tahu … Monster tadi itu ternyata tanaman karnivora, bernama Dionaea Muscipula,” jelas  Lala.

-“Kamu tahu dari mana?” tanya Lety penasaran.

-“Kan, semalam aku mencoba membaca buku flora milik Nenek,” jelas Lala.

-“Hmm, sepertinya aku harus banyak baca juga. Biar banyak tahu,” guman Lety (Hal.15).

 

5.Cerpen “Telur Raksasa di Pohon Mangga”

Cerpen yang ditulis Fitri Restiana, berjudul “Telur Raksasa di Pohon Mangga”, menceritakan tentang telur raksasa yang berada di pohon mangga. Telur itu dianggap aneh oleh Zaki, Arung, dan Banyu.Ternyata yang dimaksud adalah sarang tawon.

-“Zaki, apa benar ada telur raksasa?” Banyu yang bertubuh gempal menghampiri Zaki.

-“Telur raksasa?” Zaki menata Banyu bingung.

-“Yang kemarin itu, loh, Ki” jelas Arung.

-“Ooo, yang dipohon mangga samping rumahku itu? Mmm, aku juga enggak tahu, Banyu. Bentuknya aneh!”

-“Yuk, kita ke sana!”

Sampai di pohon mangga, diceritakan oleh Fitri Restiana, bahwa Banyu meminta agar Arung naik ke pohon mangga itu. Tetapi, Arung menolak. Begitu juga Zaki menolak, kalau diminta untuk naik pohon mangga yang ada terlur besarnya itu. bahkan Zaki mengajak Arung untuk pulang. Tiba-tiba terdengar bunyi timpukan yang mengenai telur raksasa. Demikian tertulis :

-Ternyata Banyu menimpuk telur raksasa itu. dan apa yang terjadi? Puluhan binatang bersayap terbang ke arah Banyu dengan suara dengunan yang cukup keras. Itu tawon!

-“Aduuuh, sakit … sakit…”

-Badan Banyu bentol-bentol. Rupanya, telur raksasa yang ada di pohon mangga itu adalah sarang tawon. Selama ini, Zaki, Arung, dan Banyu belum pernah melihat sarang tawon.

-Zaki dan Arung menjenguk Banyu. Sudah dua hari ia tidak main di lapangan.

-“…, Kata ayahku, sarang tawon itu tidak boleh dipukul atau ditimpuk. Nanti mereka marah dan menyerang yang ada di dekatnya. Gigitannya berbahaya, lo!” Zaki menjelaskan.

-“…, Ayah sudah membuang sarang tawon itu,” ujar Zaki tersenyum. “Tadi malam, Ayah membuat buntalan kain yang diikat di ujung bambu. Buntalan itu lalu dibakar. Sisa asapnya lalu didekatkan ke sarang tawon sekitar 1 jam lebih. Setelah tawon pergi meninggalkan sarangnya, baru Ayah mengambil sarang yang menggantung itu,” Zaki menjelaskan panjang lebar.

-“Mmh, ini pelajaran buat kita. Lain kali, kalau melihat sarang tawon, kita enggak boleh melemparinya!” ujar Arung (hal.49).

Berangkat dari ungkapan dalam cerpen-cerpen seperti tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa :

1.Pembelajaran flora-fauna bisa juga dilakukan lewat cerpen, yang bisa dicari di majalah anak-anak.

2.Keuntungan dengan membaca cerpen, disamping mengenal flora-fauna yang diceritakan dalam cerpen, juga sekaligus belajar tentang sastra itu sendiri. Jadi, sastra mempunyai fungsi yang baik juga sebagai sarana pembelajaran tentang sesuatu.

3.Tentang fungsi sastra, saya ingat ungkapan dari Edgar Allan Poe (via Wellek dan Warren, 2014:23), bahwa sastra berfungsi menghibur, dan sekaligus mengajarkan sesuatu.

Referensi :

  • Kamus Besar Bahasa Indonesia.
  • Wellek, Renne dan Warren, Austin., Teori Kesusastraan, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Cetakan Ke-5, 2014.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Mewaspadai Fenomena Hedonism Wayang Masuk Sekolah


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: