Mewaspadai Fenomena Hedonism

7 September, 2016 at 7:35 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

 

Ada guru yang sangat senang sekali dengan muridnya yang menunjukkan karakter yang kuat. Murid itu tidak mudah tergiur dengan segala macam simbol ekonomi yang sedang bermunculan dan melanda di kalangan anak muda. Sementara ada juga guru yang prihatin dengan muridnya yang sulit sekali dicegah agar tidak terpengaruh oleh penampilan yang mengarah ke hedonism.

Tak dapat dihindari, fenomena hedonism semakin menyeruak di masyarakat sekarang ini. Hal ini ditunjukkan dengan memiliki benda-benda bernilai ekonomi tinggi dan sifat konsumtif. Boleh jadi perilaku ini hanya untuk menampilkan bahwa hidupnya penuh gaya, kaya, dan menjadi pusat perhatian orang. Fenomena demikianlah yang dikahawirkan oleh guru, jika terjadi pada anak didiknya.

Kiranya, tertarik dengan hedonism, boleh-boleh saja dan bahkan syah-syah saja. Namun, sudahkah dalam diri kita (anak, orangtua, guru) mempunyai konsep tentang simbol-simbol ekonomi yang menunjukkan kesuksesan atau kekayaan dengan tetap peduli pada nilai-nilai universal (jujur, sopan, disiplin, tanggung jawab, menghargai orang lain, dan lain-lain)?

Misal, ada anak yang kebetulan seorang pelajar mengendarai mobil atau sepeda motor yang tergolong mahal atau mewah, sambil kirim SMS atau telpon, membuang sampah bekas bungkus makanan, menghidupkan musik dengan keras, ngebut, dan lain-lain. Jelas, perilaku demikian menunjukkan bahwa pelajar itu tidak disiplin, dan tentu sangat berbahaya bagi pengguna jalan yang lain. Apabila terjadi sesuatu yang mencelakakan, baik terjadi pada dirinya sendiri maupun orang lain, sejauhmana tanggungjawabnya?

Membangun kesadaran atas simbol-simbol ekonomi yang bernilai tinggi, dan tidak melupakan nilai-nilai universal sangat penting bagi anak-anak. Untuk itu orangtua atau guru perlu membangun dan mengembangkan pembelajaran yang namanya karakter. Diharapkan dengan pembelajaran karakter, anak-anak tidak berhenti pada simbol-simbol ekonomi saja, tetapi mampu mengejawantahkan kerpibadiannya yang kuat. Dengan demikian, anak-anak mampu menghadapi atau mewaspadai fenomena hedonism.

Apa yang dimaksud dengan karakter ?

Karakter adalah suatu ciri khusus dari seseorang, terutama wataknya. Sehingga ia berbeda dengan orang lain (M. Huasaini B.A dan M. Noor Hs, 1981). Karakter adalah gabungan dari kebiasaan-kebiasaan. Kebiasaan adalah faktor yang kuat dalam hidup kita. Karena konsisten, maka kebiasaan itu mengekspresikan karakter kita (Stephen R. Covey, 1997). Kebiasaan adalah suatu cara bertindak yang telah dikuasai dan tahan uji (HC.Witherington, 1982).

Bagaimana cara membangun karakter yang kuat?

Menurut Stephen R. Covey (1977), dalam rangka membangun karakter yang kuat dibutuhkan, antara lain :

1.Komitmen yang luar biasa.

2.Pengetahuan, keterampilan, dan keinginan.

Karena kebiasaan sebagai titik pertemuan dari pengetahuan, keterampilan, dan keinginan. Pengetahuan adalah paradigma teoritis, apa yang harus dilakukan, dan mengapa dilakukan. Keterampilan adalah bagaimana melakukannya. Keinginan adalah motivasi untuk melakukan. Agar sesuatu bisa menjadi kebiasaan dalam hidup kita, kita harus mempunyai ketiga hal itu.

Dari pembelajaran tentang fenomena hedonism dan karakter seperti yang diuraikan di atas, maka orangtua atau guru bisa mengajak anak-anak untuk mampu bersikap waspada : sejauhmana penggunaan dan tanggung jawab pada barang-barang yang bernilai tinggi atau mewah yang dimilikinya (sebagai simbol ekonomi yang bernilai tinggi, kaya, atau kenikmatan hidup)?

Berandai-andai, apabila anak sudah mempunyai mobil mewah, maka dia akan memperlakukan mobil mewahnya itu dengan cara merawat yang baik. Ketika di jalan, taat dengan peraturan lalu-lintas. Ketika mengendarai, tidak sambil ber-HP. Setelah menikmati makanan, tidak membuang sampah sisa makanan atau bungkusnya dengan sembarangan. Menghormati dan menghargai pemakai jalan yang lain, yang tentunya juga ingin selamat. Secara singkat, apabila anak itu peduli dengan mobil mewahnya, berarti juga dia harus peduli dengan dirinya, dan lebih-lebih peduli juga dengan orang lain. Selanjutnya, apabila kebiasaan tersebut sudah mengental dalam dirinya dan mempunyai komitmen yang tinggi, maka anak menjadi berkarakter kuat.

Referensi:

  • H.C. Witherington (diterjemahkan oleh M. Buchori), Psikologi Pendidikan-3, Penerbit Jemmers, Cetakan Keempat, Bandung, 1982.
  • M. Huasaini B.A dan M.Noor Hs, Psikologi-Himpunan Istilah, Penerbit Mutiara, Cetakan Kedua, Jakarta, 1981.
  • Stephen R. Covey (alih bahasa Budijanto, Drs), The Seven Habbits of Highly Effective People (Tujuh kebiasaan Manusia yang Efektif), Binarupa Aksara, Jakarta, 1997.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Mengenal Makanan Tradisional dalam Cerpen Anak Mengenal Pembelajaran Flora-Fauna dalam Cerpen Anak


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: