Mengenal Makanan Tradisional dalam Cerpen Anak

6 September, 2016 at 12:00 am

Oleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

Pada waktu saya bersalaman pagi dengan anak-anak yang akan berangkat ke sekolah, saya sering melihat mereka menenteng tas kecil. Ketika saya bertanya tentang isi tas kecil itu, mereka menjawab :

“Tas ini, isinya bekal. Saya bawa nasi sedikit, sama sayur sedikit, dan tempe.”

“Lha, ini, kan, makanan. Nanti saya makan waktu jasm istirahat. Saya dibekali Ibu, pisang goreng.”

“Nah, kalau saya dibekali makanan, singkong rebus.”

Dari percakapan di atas, sebenarnya apa yang dimaksud dengan makanan?

Yang dimaksud dengan makanan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001), adalah segala sesuatu yang dapat dimakan, seperti penganan, lauk-pauk, kue.

Ternyata makanan, dalam hal ini makanan tradisional,  tidak hanya muncul dalam percakapan sehari-hari. Tetapi, juga diangkat di dalam cerpen anak-anak. Menarik bahwa para penulis cerpen anak-anak mampu juga mengangkat dan sekaligus memperkenalkan kembali bahwa makanan tradisional masih ada sampai sekarang, dan masih digemari juga oleh anak-anak.

Berikut, saya ingin menyampaikan bahwa masalah makanan tradisional, yang saya temukan di  majalah anak-anak “Bobo”, antara lain :

1.Cerpen “Tela-tela”, karya Andriani, dimuat di malajah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 23 April 2015, hal.36-37.

2.Cerpen “Oleh-oleh”, karya Pupuy Hurriyah, dimuat di malajah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 9 Juli 2015, hal.48-49.

3.Cerpen “Uang Jajan Azam”, karya Indari, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 5 November 2015.

4.Cerpen “Azra”, karya Sri Mulyani, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 10 Desember 2015, hal.48-49.

5.Cerpen “Kerak Nasi atau Grubi?”, karya Sitta M Zein, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 12 November 2015, hal.46-47.

6.Cerpen “Kue Lempeng Nenek”, karya Hairi Yanti, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 26 November 2015, hal.48-49.

Gambaran makanan tradisional yang muncul dalam cerpen-cerpen di atas, dapat disimak dalam kutipan-kutipan di bawah ini.

1.Cerpen “Tela-tela”

Cerpen ini adalah karya Andriani. Dia mengungkapkan keinginan Ani kepada ibunya tentang makanan seperti yang dibawa oleh Putri, teman sekolahnya. Ungkapan tersebut dapat dilihat di kutipan berikut :

-Setiba di rumah, aku bercerita pada Mama soal camilan lezat yang dibawa Putri, mama tersenyum dan berjanji akan membuatkan camilan seperti itu untukku.

-Sore harinya, aku mencium bau harum dari dapur. Baunya persis seperti Tela-tela yang biasa dibawa Putri ke sekolah. Hmm, enaaaak… Pasti Mama sedang menggoreng Tela-tela di lemari esa tadi!

-Kulangkahkan kaki menuju dapur.

-“Mama, mau dong!” kataku sambil mengambil satu batang Tela-tela dan langsung memakannya.

-“Auuu… Panaaas!” teriakku.

-Mama tertawa melihatku. “Sabar, Ani!”

-Selesai menggoreng, Mama meletakkan camilan itu di piring. Di sebelahnya, ada dua piring kecil berisi sambal cabe dan sambal tomat tanpa cabe. Mama mengambil sepotong Tela-tela, kemudian mencocolkan ke sambal itu.

-“Hmm, sedap!” gumam Mama.

-Aku langsung ikut mencocolkanTela-tela ke saus. Adikku juga tak sabar ingin segera mencicipinya (hal.37).

2.Cerpen “Oleh-oleh”

Cerpen “Oleh-oleh” ditulis oleh Pupuy Hurriyah, yang menyampaikan makanan tradisional. Makanan ini dibawa oleh kakek dan nenek Anya. Semula Anya ragu ketika akan membawa oleh-oleh dari kakek dan neneknya itu ke sekolah, karena dia khawatir teman-temannya akan menolak. Kutipan berikut bagian dari gambaran kekahwatiran Anya :

-Pagi ini, Anya sangat terkejut. Ia melihat rantang-rantang berisi olahan singkong, jagung, ubi, talas, dan tebu memenuhi meja. Nenek ternyata yang menyiapkan semuanya. Semua oleh-oleh yang harus dibawa Anya untuk dibagikan kepada teman-teman.

-“Jangan lupa, dibawa oleh-olehnya,” kata Kakek saat Anya bersiap-siap berangkat ke sekolah.

-Anya mengangguk. Setengah hati, Anya memasukkan oleh-oleh Kakek dan Nenek ke dalam kantong besar. Rencananya, saat jam istirahat, Anya akan membagikannya kepada teman-teman.

-“Ini oleh-olehnya?” Finny, Susan, Santi dan Hilda memandangi kantong besar yang dibawa Anya.

-Anya meringis melihat ekspresi wajah teman-temannya. “Kakek dan Nenek bilang, semoga kalian suka.”

-Hahaha. Keempatnya tertawa. “Tentu saja!”

-Anya tak menyangka. Hari itu, seperti ada pesta di kelasnya. Saat jam istirahat, semua teman sekelas menikmati oleh-oleh Anya. Hasil olahan Nenek. Ada singkong goreng, jagung rebus, kue bola-bola ubi, keripik talas, dan es tebu manis (hal.49).

3.Cerpen “Uang Jajan Azam”

Indriani menyajikan cerita tentang alasan Azam tidak ke kantin sekolah untuk jajan. Karena dia tidak biasa diberi uang jajan oleh ibunya. Mengingat ibunya harus mengatur keuangan rumah tangga dengan baik. Sebagai gantinya, ibu Azam memberi bekal makanan kepada Azam. Di sekolah Azam bisa bertukar makanan dengan temannya, Rama. Lihat kutipan berikut ini :

-“Rama, kita tukeran lauk, yuk!” Kamu cicip udang balado buatan ibuku. Aku cicip sambal teri buatan ibumu,” kata Azam bersemangat.

-“Boleh,” kata Rama. Lalu mereka tertawa bersama (hal.49).

4.Cerpen “Azra”

Sri Mulyani menceritakan tentang ketidaksukaan Azra pada ikan. Ada saja alasan Azra untuk menolak ikan yang dibuatkan oleh ibunya. Tetapi, dalam perkembangannya, melalui makanan empek-empek,  Azra bisa menerima ikan sebagai lauk, sepereti ini :

-“Ikan itu selain enak, bergizi tinggi, juga banyak manfaatnya, lo, Nak. Salah satunya bisa bikin tambah pintar!” terang Bunda. Tante Susi dan Bunda merasa puas dengan siasat mereka kali ini.

-Sejak makan empek-empek buatan Tante Suzi, Azra tidak lagi menolak untuk makan ikan. Bahkan, Azra sering memberi ide pada Bunda, ikannya dimasak apa (hal.49).

5.Cerpen “Kerak Nasi atau Grubi?”

Cerpen karya Sitta M Zein, menceritakan tentang Vella yang heran dengan makanan tradisional bernama kerak nasi dan grubi. Dia tidak hanya heran dengan bentuknya, tapi rasanya. Yang jelas, kedua makanan itu enak rasanya. Hal itu diakui oleh Vella. Kutipan berikut, menggambarkan keheranan Vella :

-Kerak nasi itu besar sekali. Bulat. Tepinya agak melengkung ke atas. Bentuknya seperti penggorengan. Vella bertanya dalam hati. Tidak hanya bentuknya yang unik. Rasanya juga enak. Renyah, gurih, sekaligus manis. Rasa manis itu berasal dari gula jawa yang dicairkan, lalu dituang tipis di atas kerak nasi yang telah digoreng. Begitu kata Tante Kiky yang membawakan oleh-oleh ini dari Solo.

-“Enak, ya? Bunda tersenyum.

-Vella mengangguk,

Diceritakan berikutnya, Vella diminta oleh Bundanya untuk mengantar oleh-oleh kerak nasi ke beberapa tetangga. Ketika Vella mengantar oleh-oleh itu, ia pun mendapat ganti oleh-oleh. Ada oleh-oleh dari Tante Cecil yang menarik hati Vella, yaitu :

-Vella mengamat-amati kue itu. “Apa ini, Nda ?” tanyanya.

-“Oh, ini grubi namanya.”

-Nama yang aneh, pikir Vella. Ia pun mencicipi kue grubi dari Tante Cecil. Hm, enak. Manis.

-“Itu dari ubi yang diserut, lalu digoreng, dicampur gula cair, dan dibentuk bulat seperti itu,” Bunda menjelaskan. “Mana lebih enak? Kerak nasi atau grubi?”

-Vella menatap Bunda. Memainkan bola matanya. Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. “Enak semua sih, Nda.” (hal.47).

6.Cerpen “Kue Lempeng Nenek”

Hairi Yanti, lewat karya cerpennya, mengungkapkan tentang makanan tradisional dari Banjarmasin. Namanya kue lempeng. Hairi Yanti, mengenal makanan kue lempeng secara lengkap, mulai dari bahan-bahannya, dan cara membuatnya. Proses pembuatan kue lempeng, dan rasanya yang lezat, ditunjukkan dengan ungkapan Alina dan Rahma, sepupunya, ketika berlibur ke neneknya, di Banjarmasin, seperti berikut :

-Alina suka sekali kue lempeng buatan Nenek. Kue itu bentuknya pipih dan bundar. Seperti pizza tetapi bukan pizza karena rasanya manis. nenek selalu membuatkan Alina kue lempeng kalau Alina ke Banjarmasin, ke rumah Nenek.

-“Apa Alina mau belajar membuat kue lempeng?” tanya Nenek pada Alina. Alina mengangguk setuju. Rahma, sepupu Alina, juga sedang berlibur di rumah Nenek. Mereka berdua janjian akan belajar sore nanti.

-Nenek menyusun bahan-bahan yang diperlukan di atas meja. Ada santan, tepung, pisang dan telur. Ada juga toples berisi gula.

-“Caranya gampang,” kata Nenek sambil mencampur gula, telur dan terigu. Kemudian Nenek memasukkan santan ke dalam adonan.

-“Diberi sedikit garam.” Nenek memasukkan sedikit garam ke dalamnya.

-“Kemudian, masukkan pisang yang sudah dipotong-potong.” Nenek memotong-motong pisang, kemudian mencampurnya dengan adonan kue lempeng. Nenek mencicipi adonan itu dan meminta Alina dan Rahma juga mencicipinya.

-“Kalau rasanya sudah pas, baru kita masak di atas kompor,” Alina dan Rahma mencicipinya. Rasanya sudak enak sekali. Padahal belum masak.

-Alina dan Rahma senang sekali saat melihat Nenek mengoleskan margarine di atas wajan. Nenek kemudian menuangkan dua sendok besar adonan ke atas wajan.

-Aroma kue lempeng kesukaan Alina sedah tercium. Nenek membalik kue lempeng yang sedang dimasak itu. Tak lama kemudian, kue lempeng sudah siap disantap. Alina dan Rahma bersorak senang (hal48).

Dari uaraian tentang makanan tradisonal yang tertuang dalam cerpen-cerpen seperti tersebut di atas, maka dapat dimaknai bahwa :

1.Meskipun anak-anak sekarang diperlihatkan banyak jenis makanan yang boleh dikatakan termasuk makanan moderen, ternyata anak-anak juga masih senang dengan makanan yang berjenis tradisional.

2.Mengenalkan makanan tradisional sangat efektif melalui keluarga dekat, baru kemudian lewat sekolah, dan masyarakat. Ternyata lewat karya sastra pun bisa dikenalkan makanan tradisional itu.

3.Cerpen anak sebagai bagian dari ragam sastra, betapa pun maksudnya untuk menghibur, tetap saja ia bersifat mendidik (Riris K. Toha-Sarumpaet, 2010:12).

Referensi :

  • Kamus Besar Bahasa Indonesia, Penerbit Balai Pustaka, Jakarta, 2001.
  • Sarumpaet, Riris K. Toha, Pedoman Peneltian Sastra Anak, Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Cetekan Ke-2, 2010.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Iklan

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Belajar Dalam Permainan Mewaspadai Fenomena Hedonism


ISSN 2085-059X

  • 879,876

Komentar Terbaru

Roos Asih di Surat Pembaca
rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: