Belajar Dalam Permainan

3 September, 2016 at 8:46 am

RosmilarsihOleh Roosmilarsih SIPust
Pengelola Perpustakaan SD Negeri 01 Wringin Agung, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, Jateng.

Setiap manusia pada masa pertumbuhan pasti pernah mengalami fase dimana pada pada masa itu belum saatnya memikirkan segala permasalahan hidup apalagi menyelesaikannya dengan berbagai solusi, atau mencari jalan keluar agar tak menyakiti atau merugikan siapapun untuk mencari keunggulan atau pujian. Masa tersebut adalah masa belia atau yang sedikit diatasnya adalah masa anak-anak. Pada masa belia dan anak-anak tersebut belum sedikitpun dapat berpikir apa untung ruginya, apa akibatnya, bagaimana perasaan orangtua dan orang-orang di sekeliling kita, mengapa orangtua melarang dan berbagai hal baik buruknya kehidupan. Sehingga apabila orangtua melarang tidak boleh ini itu, mengapa tidak boleh atau berbagai larangan dan anjuran lainnya, anak-anak tetap belum mengindahkan apalagi melaksanakan, semuanya bagai masuk telinga kanan masuk telinga kiri.

Pada masa tersebut yang dilakukan anak-anak adalah bermain dan bermain, hanya beberapa persen yang menyisihkan banyak waktu untuk belajar dan belajar setelah pulang dari sekolah. Maka sangat tepat menempatkan anak pada lembaga pendidikan formal maupun nonformal, karena di lembaga pendidikanlah terdapatnya berbagai peraturan yang mengikat seluruh komunitas sekolah dengan tujuan agar peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan yang ada di sekolah tersebut dapat menjalankan fungsinya untuk mencapai manfaat yang sebesar-besarnya terhadap hasil pendidikan khususnya dan pendidikan nasional pada umumnya. Semua peraturan yang dibuat tentunya sudah mempertimbangkan berbagai hal dan siapa yang menjadi sasarannya serta bertujuan agar tercapainya kualitas sumberdaya manusia yang mumpuni, berkualitas dan dapat bertanggungjawab terhadap diri sendiri, masyarakat dan negaranya.

Di lembaga pendidikanlah anak-anak dapat belajar dengan berbagai peraturan dan kewajiban yang mengikat yang harus dilaksanakan dengan berbagai sanksi yang akan dikenakan bagi siapa saja yang melanggarnya. Lembaga pendidikan bukannya sebuah jeruji besi bagi anak-anak yang membatasi dan memagari anak-anak dari dunianya yang merupakan hak kodrati dan manusiawi dimana secara kodrati anak-anak ditakdirkan menikmati masa kanak-kanaknya dengan bebas dan menyenangkan serta tidak terpengaruh oleh berbagai permasalahan kehidupan yang terjadi, yaitu masa bermain. Lembaga pendidikan juga menyediakan sarana, memberikan kebebasan, kepada anak-anak didik untuk bermain di saat jam istirahat serta memberi batasan-batasan tertentu untuk mengajarkan anak-anak bertanggungjawab. Banyak hal yang bisa dilakukan anak-anak di lembaga pendidikan dengan tidak mengebiri waktu bermainnya sebagai hak naluri anak-anak yang mutlak harus ada dan tidak bisa dirampas oleh siapapun. Jikapun ada pendidikan yang merampas hak bermain anak-anak pasti hasilnya tidak akan maksimal karena anak-anak merasa jenuh dan stress mengikuti pembelajaran yang terus menerus dengan keadaan lelah dan ngantuk. Maka lembaga pendidikan adalah tempat belajar terbaik dengan tidak menghilangkan kesempatan bermain disela pembelajaran.

Pada saat bermain tersebut banyak diperoleh nilai-nilai yang nantinya akan menjadi bekal anak dalam menempuh kehidupan selanjutnya. Jangan menilai bahwa bermain berarti bersenang-senang dan tidak ada manfaatnya. Pada masa anak-anak secara alamiah belum mampu berpikir berat untuk menerima berbagai hal dari berbagai surmber misalnya orangtua, dan guru serta orang-orang di sekitarnya. Anak belum dapat mencerna segala resiko yang diakibatkan oleh segala hal yang mungkin dilakukan akibat perbuatanya atau kenakalannya, yang dapat dilakukan anak adalah melakukan apa yang ingin dilakukan dan disukai bersama teman-teman, sehingga kadang-kadang di mata anak teman lebih diprioritaskan daripada kita orangtuanya. Tidak heran karena pada saat bermain anak-anak mendapat kegembiraan, tetapi kirannya salah anggapan kita yang demikian karena pada saatnya anak-anak akan tetap memilih orangtuanya, misalnya pada saat berkumpul bersama keluarga anak-anak akan mendapat kehangatan dan keharmonisan yang tidak mungkin diperoleh dari teman-temanya. Keceriaan yang diperoleh pada saat berkumpul dan bermain bersama teman tentu tidak akan sama dengan kebersamaan yang diperoleh dari sebuah keluarga.

Melalui sebuah permainan anak akan mendapat berbagai pelajaran dari semua persoalan dan masalah yang muncul pada saat bermain, diantaranya dari sebuah permainan dengan menggunakan beberapa benda yang harus dibagi dengan semua teman anggota permainan maka dengan adanya pembagian alat bermain tersebut anak belajar bahwa semua anggota harus mendapatkan haknya dengan sama persis dengan teman lainnya tidak boleh menbeda-bedakan, dari sebuah permainan petak umpet misalnya anak akan belajar harus melaksanakan tugasnya sesuai waktu dan saat yang telah ditetapkan oleh kesepakatan bersama yaitu apabila siapa saja yang ketemu terlebih dahulu oleh musuh maka harus bertugas menjaga tempat yang telah ditetapkan bersama. Anak juga belajar nilai kemanusiaan dan tolong menolong jika pada saat bermain tiba-tiba ada anak yang terjatuh sehingga terluka, maka secara reflek anak-anak akan segera menghubungi orangtuanya atau orang yang lebih tua untuk meminta pertolongan. Pada saat membuat suatu alat permainan biasanya anak akan bersama-sama untuk digunakan bersama, maka pada saat itulah anak pelan-pelan namun pasti telah telah tertanam nilai kegotongroyongan dalam diri anak.

Banyak manfaat yang dapat dipetik dari berbagai permainan dalam dunia anak-anak, mengingat anak-anak belum mampu dan belum mengerti segala hal dan resiko yang akan terjadi dalam kehidupan, maka sangat bermanfaat menyampaikan berbagai pesan dalam berbagai permainan anak-anak. Orangtua adalah kontrol dan pengawas yang terbaik yang harus dapat menyampaikan dengan cara yang terbaik yang tidak berpihak kepada siapapun yang terlibat dalam permainan jika muncul persoalan dalam bermain. Orangtua harus dapat menjadi pihak ketiga yang menjadi pemersatu dari semua anggota permainan yang mempunyai tugas mendamaikan jika muncul perselisihan saat bermain. Orangtua adalah pihak yang paling mengerti berbagai resiko yang ditimbulkan apabila anak-anak melakukan kesalahan dalam bermain tetapi kita membiarkan anak menyelesaikan dengan cara yang salah, dan kita hanya diam saja.

Maka mari kita menjadi pengawas dan pemerhati bagi anak-anak kita dan lingkungan sekitar, karena apa yang dilakukan oleh anak-anak kita adalah tanggungjawab kita untuk memberikan arah yang tepat, dan kesalahan yang dilakukan oleh anak-anak di sekitar lingkungan kita nantinya akan memberi imbas yang tidak baik pada anak kita karena pada akhirnya anak-anak kita akan mencontohnya. Apalagi jika kesalahan yang dilakukan oleh anak dilingkungan kita tinggal di selesaikan dengan cara yang salah maka selamanya akan selalu berkata.

“Seperti dia kok tidak apa-apa bu?” Biasanya dan sering, contoh dari lingkungan akan sering mengena pada diri anak-anak dikarenakan banyak yang meniru selain dia, maka anak akan menganggap itu benar dan layak ditiru, tanpa mempertimbangkan baik buruknya, salah benarnya kepada kita orangtuanya. Anak-anak gampang meniru apa saja yang dilihatnya dan menganggap itu sedang trend tidak mempedulikan resiko apapun dari apa yang dianggapnya baik. Mari kita awasi anak-anak kita dalam bermain dan dalam pendidikannya agar menjadi generasi yang tidak mudah meniru segala hal belum tentu benar, dan mari memperbaiki anak -kita agar menjadi lebih baik. Amin. (Kontak person: 085869266188. Email : roosmilarsih74@gmail.com).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Dasar (SD). Tags: , .

Perlu Cetak Biru Pengelolaan SMA/SMK Mengenal Makanan Tradisional dalam Cerpen Anak


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: