Menumbuhkembangkan Motivasi Belajar

2 September, 2016 at 12:01 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

Ada rasa senang yang muncul dalam diri orangtua atau guru, jika ada anak mempunyai motivasi yang besar dalam belajar. Hal ini terungkap dengan kata-kata, Misalnya :

“Begitu kuat motivasi belajarmu! Pantas nilai-nilaimu bagus-bagus!”

“Kamu berhasil, karena kamu punya motivasi yang tinggi!”

“Kembangkan terus motivasimu, ya!”

Sebaliknya orangtua atau guru akan merasa sedih, apabila ada anak yang menunjukkan motivasi yang kurang atau lemah dalam belajar. Hal ini diungkapkan dalam kata-kata. Misalnya :

“Ah, mana motivasimu?”

“Nilaimu jelek, karena kamu tidak punya motivasi belajar!”

“Jangan hanya omong saja! Motivasi dari dalam dirimu harus ada!”

Dari kedua ilustrasi di atas, ada dua hal yang perlu orangtua atau guru gali, yaitu apa yang dimaksud dengan motivasi?  Apa yang harus dilakukan, jika anak belum tumbuh dan berkembang motivasinya dalam belajar?

Menurut M. Huasaini B.A dan M. Noor Hs (1981), motivasi yaitu suatu rangsangan, dorongan, atau pembangkit tenaga bagi terjadinya suatu tingkah laku. Motivasi menunjuk pada seluruh proses gerakan atau dorongan yang timbul dalam diri individu. Tingkah laku bermotivasi ialah tingkah laku yang berlatar belakang adanya suatu kebutuhan.

Ria Hilmiati (1982) motivasi dapat diterjemahkan menjadi dorongan. Jadi, motivasi yaitu suatu tenaga dari dalam diri yang menyebabkan kita berbuat atau bertindak. Tenaga dari dalam ini berdasarkan dorongan yang aktif dan biasanya tertuju pada tujuan tertentu.

Cara menumbuhkembangkan motivasi pada anak, menurut Oemar Humalik (2007), antara lain :

1.Beri penghargaan atau ganjaran. Tujuan pemberian penghargaan adalah membangkitkan minat. Penghargaan adalah alat, bukan tujuan. Hendaknya diperhatikan, jangan sampai penghargaan menjadi tujuan utama.

2.Pemberian angka atau grade. Penekanannya bukan pada angka atau grade-nya, tetapi pada proses bagaimana anak itu mendapatkan angka atau grade. Dalam hal ini, anak perlu mendapat penjelasan, agar anak yang tidak mendapatkan angka atau grade, tidak menjadi rendah diri.

3.Pemberian pujian. Pujian dapat ditunjukkan baik secara verbal maupun non verbal. Dalam bentuk non verbal, misalnya anggukan kepala, senyuman, atau tepukan bahu.

4.Kompetisi. Dalam kompetisi harus ada kesempatan yang sama untuk menang.

Hubungan antara pengertian motivasi dan pemberian penghargaan, H.C. Witherington (1982) mengingatkan bahwa motivasi belajar dikatakan murni, apabila pada anak terdapat keinginan yang kuat untuk meraih hasil belajar. Tetapi, apabila motivasi belajar seorang anak hanya menginginkan penghargaan (hadiah, ganjaran) dan takut kena sangsi, maka motivasi anak dapat dikatakan kurang murni.

Dengan pembelajaran seperti tersebut di atas, maka orangtua atau guru memperoleh jalan untuk menumbuhkembangkan motivasi belajar pada anak-anak.

Referensi :

  • H.C. Witherington (diterjemahkan oleh M. Buchori), Psikologi Pendidikan-3, Penerbit Jemmers, Cetakan Keempat, Bandung, 1982.
  • M. Huasaini B.A dan M.Noor Hs, Psikologi-Himpunan Istilah, Penerbit Mutiara, Cetakan Kedua, Jakarta, 1981.
  • Oemar Humalik, Psikologi Belajar dan Mengajar, Penerbit Sinar Baru Algensindo, Cetakan kelima, Bandung, 2007.
  • Ria Hilmiati Drajat, Tanya Jawab Psikologi Sosial, penerbit Armico, cetakan Pertama, Bandung, 1982.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Mengajak Anak Bercerita Inovasi Energi Alternatif


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: