Mengenal Macam PR dalam Cerpen Anak

1 September, 2016 at 9:59 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

Pagi itu, seperti biasanya, saya bersalaman dengan anak-anak yang akan berangkat ke sekolah. Dengan bersalaman, saya tahu anak-anak yang berangkat ke sekolah. Saya melihat ada anak yang jalannya tergopog-gopoh. Sambil bersalaman, mereka berkata :

“Waduh, tadi malam saya lupa mengerjakan PR ! Untung, PR-nya sedikit ! Pagi-pagi tadi, saya baru buat!”

“Kalau saya sih sudah beres, tugas dari guruku!”

Ada dua istilah yang saya tangkap dari ungkapan anak-anak itu, yaitu istilah “PR” dan “tugas dari guru”. Jika disimak kedua istilah itu artinya sama, yaitu pekerjaan yang diberikan guru kepada murid atau siswa, agar dikerjakan di rumah.

Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan pekerjaan atau tugas ?

Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001), pekerjaan adalah barang apa yang dilakukan, tugas kewajiban, hasil bekerja, perbuatan. Tugas adalah yang wajib dikerjakan atau ditentukan untuk dilakukan, pekerjaan yang menjadi tanggung jawab seseorang, pekerjaan yang dibebankan; suruhan (perintah) untuk melakukan sesuatu.

Jadi, dapat dikatakan “PR” atau “tugas dari guru” merupakan sesuatu yang diberikan oleh guru kepada murid atau siswa, dan mereka wajib mengerjakannya.

Berangkat dari pengertian tersebut di atas, saya ingin memaparkan bahwa cerpen-cerpen yang dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, juga menyinggung masalah “PR” atau “tugas dari guru” yang harus wajib dikerjakan oleh anak-anak sebagai siswa atau murid. Adapun cerpen-cerpen, saya maksud, adalah :

1.Cerpen “Surat untuk Jaya”, karya Gik Sugiyanto HP, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 11 Juni 2015, hal.26-27.

2.Cerpen “Gara-gara Ramalan Bintang”, karya Impian Nopitasari, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 27 Agustus 2015, hal.18-19.

3.Cerpen “Percakapan di Gubuk Kayu”, karya Widowati Wahono, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 15 Oktober 2015, hal.48-49.

4.Cerpen “Tempat Pensil”, karya Andriani, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 22 Oktober 2015, hal.28-29.

5.Cerpen “Bunga-bunga untuk Kakek”, karya Widowati Wahono, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 29 Oktober 2015, hal.48-49.

Gambaran  tentang “PR” atau “tugas sekolah” dalam cerpen-cerpen di atas, dapat dilihat dalam kutipan-kutian berikut ini :

1.Cerpen “Surat untuk Jaya”

Tentang tugas membuat majalah dinding, ditulis oleh Gik Sugiyanto HP, seperti kutipan berikut :

-“Kami kelas lima berencana membuat majalah dinding sekolah. Minggu depan akan pertama kali dipajang di dinding. Itulah kenapa nagku kita selalu kotor dengan guntingan kertas dan corat-coret,” ujar Jayanti sambil mengulurkan tangan, lalu merangkul Runi.

-“Aku enggak marah, kok, kamu bilang aku si jorok. Kulihat tulisan di surat kecilmu bagus dan rapi sekali. Kamu cocok menjadi redaktur membantyu kami!”

-Runi tersenyum dan tidak menolak ketika diajak Jayanti ke Ruang Prakarya. Di sana, beberapa anak sedang sibuk menyiapkan majalah dinding sekolah! (hal.27).

 

2.Cerpen “Gara-gara Ramalan Bintang”

Impian Nopitasari menulis cerpen “Gara-gara Ramalan Bintang”, ingin menunjukkan bahwa sejak anak masih kecil perlu dididik tentang tanggung jawab. Hal ini digambarkan pada sikap Pak Gayuh pada Aya. Lihat kutipan berikut :

Karena telat berangkat ke sekolah, Aya pun telat masuk kelas. Di kelas, Pak Gayuh sedang meminta siswa-siswa membuka PR matematika untuk didiskusikan.

-“Aya, coba kamu kerjakan nomer 1,” perintah Pak Gayuh.

-Aya bingung. Karena tadi terburu-buru, ia lupa tidak membawa buku matematika (hal.18).

-Aya tidak bisa mengerjakan soal matematika itu. Karena kesalahan Aya, Pak Gayuh memberinya tugas tambahan (hal.19)

3.Cerpen “Percakapan di Gubuk Kayu”

Cerpen “Percakapan di Gubuk Kayu”, karya Widowati Wahono, ingin menyampaikan bahwa pembelajaran tentang belajar dan bekerja bisa dilatih sejak usia anak, dan bisa dilakukan mulai dari rumah atau keluarga. Meskipun ada permasalahan antara belajar dan bekerja yang akan dihadapi oleh anak-anak, peranan orang tua atau orang yang dewasa sangat dibutuhkan untuk memberi pencerahan kepada mereka. Pengalaman menjadi orang yang sukses (konkrit), akan membangkitkan semangat anak-anak. Berikut kutipannya :

-Biasanya, warung masih ramai hingga malam tiba. Kedua orangtua Rahma tentu sangat senang. Namun, bagi Rahma, itu artinya waktu buat ia mengerjakan PR dan belajar sangatlah sedikit.

-Aku harus mengerjkakan pe-er sekarang, pikir Rahma. Ia tahu, pesanan nasi kotak itu akan membuat mereka sibuk hingga larut malam. Tetapi, baru saja ia membuka buku Matematika, terdengar teriakan Ibu. Sepiring ayam goreng, sambel, lalapan, dan nasi panas haru segera disajikan kepada pembeli.

-Selesai melayani pembeli, Rahma buru-buru kembali membuka buku PR-nya. Sayangnya, tiap beberapa menit, teriakan Ibu terdengar lagi. Buyar sudah jawaban di kepalanya.

-Ketika Ibu berteriak lagi, Rahma yang sedang berpikir keras menyelsaikan PR Matematika, kesal bukan main. “Aku capek, Bu. Aku tidak mau lagi membawa nampan ke sana kemari !”

-Sayup-sayup, Rahma mendengar Ibu memanggilnya lagi. Namun, ia sudah melesat keminggalkan warung. Ke mana lagi kalau bukan ke gubuk reyot di tepi sungai. Ituilah tempat ia sembunyi di saat hatinya sedang sedih (hal.48).

Pentingnya belajar bekerja sejak dari kecil atau muda disampaikan oleh Tante Ning ketika bertemu dengan Rahma di gubuk kayu. Sambil bercerita tentang pengalaman pada waktu masih kecil dan muda, Tante Ning memberi nasehat kepada Rahma, demikian :

-“Kau punya pengalaman yang sama berharganya dengan pengalaman Tante di waktu kecil. Kalau tiap hari membantu memasak, kamu pasti tahu rahasia kelezatannya.”

Setelah mendengar pengalaman Tante Ning, dan nasehat dari Tante Ning, Rahma ingat tentang pengalamannya sendiri di sekolah, demikian :

-Iya, juga. Kemarin saat pelajaran keterampilan memasak, aku satu-satunya yang bsia menggoreng ayam dengan matang yang sempurna. Dan sambal buatanku membuat Bu Guru tak henti-henti memujiku. Batin Rahma (hal.49).

 

4.Cerpen “Tempat Pensil”

Lewat cerpen ini, Andriani ingin menunjukkan bahwa hambatan apapun dalam meraih suatu keberhasilan akan didapatkan, asal ada kemauan untuk memecahkan hambatan itu. Hal tersebut diwujudkan oleh Retno ketika dia harus menyelesaikan prakarya tempat  pensil dari kertas karton, yang dibatasi waktu hanya semalam. Kutipannya berbunyi demikian :

-PR hari ini adalah membuat prakarya tempat pensil dari kertas karton. Hasilnya harus dikumpulkan besok. Aku bingung karena tidak tahu bagaimana cara membuatnya (hal.28).

Diceritakan berikutnya, si “aku” yang bingung itu ternyata bernama Retno, menemukan sebuah majalah di kamar kakaknya, bernama Sita. Dari majalah itu, Retno mempelajari cara membuat tempat pensil, dan berhasil. Dia mengungkapkan demikian :

-Aku kembali mengamati setiap gambar petunjuk di majalah. Walau mengantuk, aku berusaha bekerja hati-hati dan teliti.

-Akhirnya, selesai sudah prakaryaku. Hasilnya lumayan memuaskan. Tempat pensil kertas karton itu menjadi cantik dengan berbagai hiasan gambar bunga dan kupu-kupu yang kupotong dari majalah lama Kak Sita (hal.29).

 

5.Cerpen “Bunga-bunga untuk Kakek”, karya Widowati Wahono, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 29 Oktober 2015, hal.48-49.

Cerpen yang ditulis oleh Widowati Wahono, diawali dengan permasalahan pribadi antara Erin dan Veny. Erin yang begitu curiga dan iri pada Veny. Akhirnya permasalahan pribadi bisa dilebur, dan mereka bisa bersahabat dengan baik. Hal ini diwujudkan dengan mengerjakan soal matematika bersam-sama, dapat dilihat di kutipan berikut :

-Esoknya, hampir seluruh teman di kelasku kaget waktu melihatku bercakap dengan Veny. Kami sedang mencoba memecahkan soal matematika yang sangat sulit. Kami begitu asyik. Yah, Veny memang teman yang menyenangkan (hal.49).

Melalui cerpen-cerpen seperti di atas, maka dapat dikemukakan, yaitu :

1.Istilah “PR” atau “tugas dari guru” yang biasa kita dengarkan, menjadi semakin bermakna.

2.”PR” atau “tugas dari guru” menjadi bermakna, ketika ditangkap tidak hanya semata-mata untuk mencari nilai (dalam arti angka), tetapi juga menjadi pembelajaran kelak ketika anak-anak benar-benar terjun di dunia kerja, mereka siap bertanggungjawab atas pekerjaan yang dibebankan kepada mereka.

3.Cerpen adalah bagian dari ragam sastra anak. Sastra anak adalah karya sastra yang dikerjakan oleh orang dewasa untuk anak-anak. Orang dewasalah yang membimbing anak dalam memilih dan mengusahakan bacaan yang baik bagi anak (Riris K. Toha-Sarumpaet, 2010:100).

Referensi :

  • Kamus Besar Bahasa Indonesia, Penerbit Balai Pustaka, Jakarta, 2001.
  • Sarumpaet, Riris K. Toha, Pedoman Peneltian Sastra Anak, Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Cetekan Ke-2, 2010.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

 

 

 

Iklan

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Meningkatkan Daya Ingat Mengajak Anak Bercerita


ISSN 2085-059X

  • 914.232

Komentar Terbaru

Roos Asih pada Surat Pembaca
rumanti pada Surat Pembaca
ira pada Surat Pembaca
Alfian HSB pada Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati pada Surat Pembaca
Ida pada Surat Pembaca
Waluyo pada Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: