Mengajak Anak Bercerita

1 September, 2016 at 10:12 am

RosmilarsihOleh Roosmilarsih SIPust
Pengelola Perpustakaan SD Negeri 01 Wringin Agung, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, Jateng.

 

Sulitnya mengajak anak bercerita karena tingkat penguasaan bahasa dan pengetahuannya yang masih terbatas, sedangkan orang dewasa yang telah menjalani kehidupan sekian puluh tahun saja masih banyak yang kesulitan ketika ingin menyampaikan sesuatu. Maka tak jarang orang yang begitu banyak ngomong ternyata kesulitan ketika harus menyampaikan sesuatu kepada orang lain apalagi di depan umum. Belajar dari hal tersebut sangat penting menanamkan cinta bercerita sejak dini. Harus dimulai dari usia anak sedini mungkin bahkan sejak masih dalam kandungan, tentunya dengan cara-cara yang diajarkan oleh profesional yang sesuai dengan usianya. Berbeda usia berbeda pula langkah dan penanganannya, serta harus diperhatikan tingkat materi yang disampaikan. Harapan kita supaya anak dapat menerima dan suatu hari kelak anak mampu menyampaikan kembali secara runtut dengan bahasa yang baik dan benar.

Memulai mengajak anak bercerita bukan berarti menyuruh anak bercerita sendiri dan berdiri di depan teman-temannya dan berharap anak bercerita panjang lebar dan lancar seperti yang kita harapkan. Untuk anak usia SD saja kita masih kesulitan untuk menerapkan hal yang demikian. Maka kita dapat memulai dengan mengajaknya bercerita dengan memberinya sesuatu benda sebagai salah satu perangsang agar muncul gambaran dalam benak si anak tentang benda tersebut dan anak mulai mendeskripsikan benda sesuai dengan kemampuannya. Memang sangat sulit membimbing anak atau memunculkan ide kepada anak agar bisa mendeskripsikan sesuatu hal.

Menjadikan suatu objek untuk menarik minat anak bercerita adalah salah satu cara ampuh untuk mengajak anak ke arah tersebut. Biasanya bagi anak yang cukup berbakat setelah melihat suatu objek ia akan dengan sendirinya mudah menceritakan benda tersebut kepada orang lain, mulai dari bagaimana, apa, dan seperti apa benda tersebut.
Kita bisa mengajak anak mulai bercerita dengan menanyakan sedikit demi sedikit, meskipun jawabannya hanya sepotong-sepotong, itulah kemampuan anak yang harus terus menerus kita kembangkan. Sebagai contoh ketika suatu hari anak mendapatkan sebuah mobil-mobilan, kita dapat mendekatinya saat ia sedang bermain mobil-mobilan dan kita membaur ikut dalam permainan. Sedikit demi sedikit kita mulai mengajak ia bercerita.

“Adik mobilnya bagus ya?”
“Ia ma.”
“Coba mama pinjam.”
“Tidak boleh.” Anak terkesan cuek dan asyik bermain, kita harus sabar menunggu sampai anak cukup puas bermain dan mulai minta sesuatu seperti minum atau yang lainnya.
“Ma, adek minta susu.” Pintanya manja sambil merangkul kita, dan kita mulai bisa memanfaatkan situasi tersebut untuk mulai mengajak anak bercerita.
“Ade dapat mobilnya dari siapa ya, kan mama gak beliin?”
“Kakek yang beliin ma, katanya karena adek sudah pintar menjawab pertanyaan dari kakek.”
“O… memang kakek tanya apa sama ade?”
“Gini ma, kakek tanya ade kelas berapa, nama panjang adek, tempat sekolah, emmm, masih banyak lagi ma.”
“O gitu, wah ade sudah pintar menjawab donk, sekarang giliran mama yang mau nanya-nanya ya.”
“Ok siap ma.”
“Ade sudah punya mobil-mobilan berapa, kan sering dibeliin mama, papa juga?”
“Ini yang ke 10 ma, jawabnya sambil menunjukan semua jari tangannya.
“Pintar, nah sekarang mama pingin tahu mengapa ade suka mobil?”
“Asyik ma, bisa buat balapan sama Tio, dia mobilnya banyak lho ma.”
“O ya, sekarang coba rodanya ada berapa, warnanya apa dek?”
“ Kecil ma,, rodanya ada empat, mobilku warnanya kuning, beres kan ma?”

Cuplikan pembicaraan diatas adalah salah satu contoh langkah awal saat mulai kita mengajarkan anak untuk menceritakan sesuatu benda yang dimilikinya. Semakin bertambah usia tentunya pendekatan yang kita lakukan akan berbeda, semakin luas dan kompleks pertanyaan yang kita ajukan. Dari sudut spikologis anak pada usia PAUD (4-6 tahun) mempunyai ketertarikan terhadap berbagai mainan, hal tersebut dapat kita jadikan untuk mendekatkan anak dengan dunia bercerita karena sesuatu yang disukai akan membuat anak aktif dan mudah menceritakan sesuai yang dilihat dan dimilikinya. Pada usia tersebut anak berada pada masa pertumbuhan emas (golden age) yang berarti apapun yang mulai kita tanamkan dan kita ajarkan akan terekam dengan baik dan menjadi awal yang baik bagi pertumbuhan selanjutnya.

Tidak harus berupa rangkaian kata dan kalimat yang panjang lebar hasil cerita anak dalam mendeskripsikan sesuatu yang diketahuinya, tetapi berupa jawaban dari pertanyaan yang kita ajukan adalah sebuah cerita sesuai usia belia anak dengan tingkat pengetahuan yang masih minim. Memang baru sebatas itu kemampuan anak dalam bercerita hanya sebatas apa yang dilihat karena anak belum mampu berimajinasi untuk sedikit atau banyak memberi tambahan situasi untuk menambah, memperbaiki, memberi kesan tertentu pada objek yang dilihat tersebut, melainkan hanya sebuah jawaban singkat terdiri dari satu atau dua kata yang berupa kata kebanggaan atas apa yang dimilikinya. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan darimana, dari siapa, atau bagaimana, bahkan seringkali hanya berupa anggukan, menggelengkan, senyuman, sering juga anak hanya menunjukan mimik muka cemberut, atau diam pasif tak memberi jawaban apapun.

Memang tak banyak yang dapat kita urai dari anak dalam usia belia, namun hal tersebut merupakan bibit yang harus kita pupuk terus menerus, bertahap, dan dengan latihan yang rutin agar bibit yang telah ada tersebut dapat berkembang semakin baik. Kitalah orangtua yang harus pandai-pandai mengartikan apa yang menjadi jawaban dari kemauan anak kemudian menafsirkannya sebagai bagian jawaban dari tugas kita mengajak anak bercerita. Peran dari orangtua adalah faktor penentu dari perkembangan kemampuan anak dalam bercerita, mengingat anak belum mengetahui atau mencari, dapat memilih atau menentukan tujuan atau tempat dalam menentukan tempat belajar bercerita baik berupa lembaga kursus, perorangan.

Guru di sekolah merupakan salah satu faktor penentu munculnya baktat-bakat dari anak-anak dalam bercerita, karena gurulah yang menggali selama dalam pembelajaran, maupun pada saat diluar jam pembelajaran melalui ekstrakurikuler ataupun pertemuan-pertemuan lainnya. Dari berbagai pertemuan tersebut guru mengetahui dan berusaha memunculkan bakat yang sudah terdapat secara alamiah dalam diri anak, serta terus memupuk dan membangkitkan minat dan kemauan yang keras dari masing-masing siswa yang mau berusaha dengan sekuat tenaga karena menyukai dan memiliki minat yang besar terhadap dunia bercerita sehingga anak-anak yang demikian ini bisa menjadi berhasil dengan baik seperti anak-anak yang mempunyai bakat sejak lahir.

Maka tak jarang guru lebih dulu yang menemukan bakat pada sang anak, dikarenakan setiap hari bergabung dengan anak dalam pembelajaran sedangkan orangtua belum tentu memiliki waktu untuk belajar bersama anak, baik dikarenakan oleh faktor kesibukan sehingga tidak sempat mengajari anak atau memang tidak bisa mengajari si anak karena pendidikan orangtua lebih rendah, bahkan beberapa persen orangtua tidak mempunyai kepedulian terhadap belajar anak baik dikarenakan orangtua tersebut terlalu pusing memikirkan keperluan sehari-hari untuk makan, serta sebagian kecil lainnya memang mempunyai sikap masa bodoh terhadap anak dalam belajar. Mari kita tinggalkan kebiasaan buruk kita yang sering memberi mainan atau benda apapun kepada anak, lalu meninggalkan anak sendirian untuk kesibukan kita, sehingga anak kita hanya bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri, dan mengadu kepada benda yang dimainkannya menceritakan orangtuanya yang tidak peduli serta tidak pernah mengajaknya berbicara atau bercerita.

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Dasar (SD). Tags: , .

Mengenal Macam PR dalam Cerpen Anak Menumbuhkembangkan Motivasi Belajar


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: