Meningkatkan Daya Ingat

29 Agustus, 2016 at 9:33 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

Umi dipesan oleh ayahnya untuk menulis pengalaman ketika mengikuti pelajaran di sekolah, mulai dari pagi sampai siang. Setelah beberapa saat ayahnya meminta hasil tulisan Umi. Ternyata, Umi menjawab bahwa ia lupa. Langsung ayahnya mengatakan bahwa Umi adalah anak pelupa.

Sepulang dari sekolah, Evata menampakkan wajah murung. Setelah ditanya oleh ibunya, Evata mengungkapkan bahwa ia sempat disebut oleh gurunya sebagai anak pelupa. Karena ia tidak hafal puisi yang harus disampaikan di depan kelas.

Dari pengalaman Umi dan Evata, sebaiknya orangtua atau guru tidak boleh begitu saja menyebut anak sebagai anak yang pelupa. Karena kedua sebutan tersebut menyakitkan hati bagi anak-anak.

Lalu, apa yang menyebabkan anak mudah lupa ?

Anak mudah lupa, termasuk kita sebagai orangtua atau guru juga mudah lupa, menurut Colin Rose dan Malcolm I. Nicholi (2006) adalah karena tidak benar-benar memusatkan perhatian. Penelitian menunjukkan bahwa 70% dari apa yang dipelajari hari ini dapat terlupakan dalam jangka waktu 24 jam, apabila tidak melakukan upaya khusus untuk mengingatnya.

Menurut Majalah psikologi Populer-Anda (No.77, April 1983), ada beberapa faktor yang menyebabkan anak mudah lupa, antara lain : motivasi anak kurang kuat; minat dalam diri anak belum terbangun; anak bersikap masa bodoh atau tidak peduli dengan dirinya sendiri; cara belajar anak yang tidak efektif.

Bagaimana cara mengatasi agar anak tidak mudah lupa ?

Ada beberapa cara agar anak tidak mudah lupa, antara lain : anak hendaknya mempunyai motivasi yang kuat; anak melakukan kegiatan yang disenangi/mudah/ringan; melibatkan partisipasi anak dalam permasalahan yang dihadapinya dan cara memecahkannya; menggunakan cara belajar yang efektif.

Masih berhubungan dengan cara mengatasi agar anak tidak mudah lupa, Colin Rose dan Malcolm I. Nicholi (2006) menambahkan, yaitu dengan cara mencoba mengingat kembali pada apa yang terlupakan, peristiwa apa yang menyertai, dengan siapa waktu itu, kemana saja waktu itu, sedang memikirkan apa waktu itu, siapa saja yang di sekeliling waktu itu ?

Menyinggung masalah daya ingat, tentu kita ingin tahu, apa yang dimaksud dengan daya ingat ?

Sumadi Suryabrata (2007) mendefinisikan daya ingat sebagai kecakapan untuk menerima, menyimpan, dan mereproduksikan kesan-kesan. Masalah daya ingat pada anak-anak, biasanya dihubungkan dengan masalah belajar. Ketika anak belajar dengan cara menghafal, ada beberapa cara yang efektif, yaitu dengan membaca dan menyuarakan dengan berulang-ulang atau bertahap.

Tentang daya ingat, kita perlu juga mencerna pendapat dari M. Huasaini B.A dan M. Noor Hs (1981), yang mengatakan bahwa daya ingat adalah kemampuan jiwa seseorang dalam menghubungkan pengalaman yang telah lampau dengan pengalaman sekarang. Jadi pengalaman lampau yang telah melekat di dalam jiwa seseorang direproduksi dalam masa sekarang. Oleh karena itu daya ingat (yang positif) berperan dalam pembentukan kepribadian seseorang (Mintarsih A. Latitef., Psikolog, RCTI TV, 26-3-2010).

Y.B. Sudarmanto (1993), mengungkapkan bahwa daya ingat seseorang membutuhkan rangsangan (stimulus) dan isyarat tertentu agar dapat muncul di permukaan. Jadwal belajar dapat membantu mengingatkan tugas-tugas yang harus dikerjakan dan buku catatan membantu mengingat kembali apa yang harus dipelajari atau bahan ujian mendatang. Agar apa yang dipelajari tetap dapat diingat maka membaca dan mengulangi terus-menerus merupakan syarat utama. Hasilnya, sering disebut dengan “hafal luar kepala”. Peranan minat, konsentrasi, dan ketertarikan itu juga sangat mempermudah untuk meningkatkan daya ingat.

Dari catatan seperti tersebut di atas, maka peranan orangtua atau guru sangat penting dalam kerangka meningkatkan daya ingat anak-anak, agar mereka tidak mudah lupa. Namun demikian, ketika anak lupa, alangkah baiknya orangtua atau guru membantu anak untuk mengingat kembali secara tahap demi tahap, dan dengan sikap yang tenang. Dengan cara demikian, diharapkan mereka akan mudah dan cepat teringat kembali tentang permasalahan yang sempat terlupakan.

Referensi:

  • Colin Rose dan Malcolm I. Nicholi, Accelerated Learning For The 21st Century-Cara Belajar Cepat Abad XXI, Penerbit Nuansa, Bandung, Cetakan Keenam, 2006.
  • M. Huasaini B.A dan M.Noor Hs, Psikologi-Himpunan Istilah, Penerbit Mutiara, Cetakan Kedua, Jakarta, 1981.
  • Majalah Psikologi Populer-Anda, No.77, April 1983.
  • Mintarsih A. Latitef., Psikolog, RCTI TV, 26-3-2010
  • Sumadi Suryabrata, Drs, B.a, M.A, ED.S, Ph.d, Psikologi Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, Edisi Kelima, Jakarta, 2007.
  • Sudarmanto, Y.B., Tuntunan Metodologi Belajar, Penerbit PT Grasindo, Cetakan Kedua, Jakarta, 1993.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Mengenal Kreativitas Anak dalam Cerpen Anak Mengenal Macam PR dalam Cerpen Anak


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: