Mengenal Kreativitas Anak dalam Cerpen Anak

27 Agustus, 2016 at 10:20 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

 

Sering kita mendengar atau membaca di media cetak atau media elektronik bahwa ada anak-anak yang mampu menunjukkan kreativitasnya. Akibat berita tersebut, tentu kita menjadi senang dan bangga kepada anak-anak yang kreatif tersebut.

Nah, apa yang dimaksud dengan kreatif dan kreativitas ?
Ditulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan kreatif, adalah memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan; bersifat (mengandung) daya cipta. Lalu kreativitas, adalah kemampuan untuk mencipta; daya cipta; perihal berkreasi; kekreatifan.

Menurut David Campbell (1986:11), kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya :

  1. Baru :inovatif, belum ada sebelumnya, segar, menarik, aneh, mengejutkan.
  2. Berguna : lebih enak, lebih praktis, mempermudah, memperlancar, mendorong, mengembangkan, mendidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil lebihj baik/banyak.

Membaca pengertian kreativitas tersebut di atas, saya teringat dengan cerpen-cerpen yang dimuat di majalah anak-anak “Bobo”. Cerpen-cerpen ini mengungkapkan tentang anak-anak yang ternyata mempunyai kreativitas yang cukup tinggi.

Adapun cerpen-cerpen yang saya ambil dari majalah anak-anak “Bobo”, adalah :

  1. Cerpen “Pengusaha Barang Bekas”, karya Rauhiyatul Jannah (majalah “Bobo”, Tahun XLIII, 25 Juni 2015, hal.26-27).
  2. Cerpen “Taman Sepatu”, karya Fransisca Emilia (majalah “Bobo”, Tahun XLIII, 10 september 2015, hal.12-13).
  3. Cerpen “Tempat Pensil”, karya Andriani (majalah “Bobo”, Tahun XLIII, 22 Oktober 2015, hal.28-29).
  4. Cerpen “Kue Lempeng”, karya Hairi Yanti (majalah “Bobo”, Tahun XLIII, 26 November 2015, hal.48-49).

Berikut, saya ingin menyampaikan gambaran tentang anak-anak yang menunjukkan kreativitas.

1.Cerpen “Pengusaha Barang Bekas”
Rauhiyatul Jannah, sebagai penulis cerpen ini, membuka ceritanya dengan adanya kegiatan lomba-lomba tujuh belas agustusan. Begitu selesai acaranya, banyak sampah yang berserakan. Melihat hal tersebut ibu guru, Bu Niar, dan Kepala Sekolah, kurang berkenan.
“Wah, budaya buang sampah pada tempatnya masih kurang, nih!” Pak Kepala Sekolah menghampiri (hal.27).

Lalu semua anak begerak untuk membersihkan sampah, dan dimasukkan ke kantong besar. Sehingga halaman sekolah kembali bersih dan asri. Masalah berikutnya timbul, mau diapakan sampah-sampah itu ? Jikalau ada pemulung, pasti akan dimanfaatkan. Pemulung itu akan membawanya ke pemulung, kemudian ditimbang dan mendapat uang. Tiba-tiba, Toni berseru di hadapan teman-temannya dan Bu Niar, demikian :

“Aku ada ide. Sampah gelas plastik ini kita buat keranjang sampah dan tas saja! Seru Tomi mengagetkan. Bu Niar sampai tersentak. Bu Nira spontan mencubit gemas pipi Tomi.
“Aku pernah melihat cara membuatnya di televisi!” Tomi mengelus pipinya sambil menyengir.
“Betul, betul! Ibu bisa carikan videonya. Sebentar, ya!” bu Nira segera masuk ke ruang guru dan keluar menenteng laptopnya. Bu Niar memutar video yang di-download dari youtube. Cara membuat prakarya dari gelas bekas. Anak-anak berkerumun ikut menonton.

Kerumunan pun bubar, mereka bergegas mengambil kembali sampah gelas air mineral yang menumpuk. Mereke bekerjasama mengguntingi gelas-gelas tersebut.

Sementara, Bu Niar mengelap satu persatu gelas itu, dan menyatukannya dengan lem. Persis seperti video tutorial yang mereka tonton tadi. Jadi juga keranjang sampah besar yang bagus. mereka semua puas sekali.

Sebagai penutup cerpen, penulis mengungkapkan bahwa percikan ide Tomi disambut oleh teman-temannya dan gurunya, dan ketika ide itu dituangkan dalam suatu bentuk atau wujud, maka hasilnya bisa dimanfaatkan.

“Wah hebat! Sampahnya jadi berguna. Ini semua berkat Tomi. Tomi, kamu memang hebat! Usulmu selalu membuat kita jadi kreatif!” Bu Niar memeluk Tomi bangga. Teman-temannya ikut bangga.
“Tuh, kan, bener! Kamu adalah teman kami yang berharga. Kamu kreatif dan punya segudang ide!” Hilda merangkum sahabatnya (hal.27)

2.Cerpen “Taman Sepatu”
Cerpen ini menceritakan tentang kegiatan lomba membuat taman. Taman yang dilombakan ini, diadakann setiap tahun. Fransisca Emilia membuka cerita sepatu milik Zefa yang sudah berlubang di bagian depan sepatunya. Kemudian dilanjutkan dengan kegelisahan ibu guru, Bu Rosa, demikian :
“Waktunya tinggal satu minggu, lo! Kalau begitu, hari ini kita belajar sebentar saja. Sisa waktunya kalian manfaatkan untuk diskusi. Siang nanti, ketua kelas laporkan hasilnya pada Ibu, ya!” (hal.12)
Setelah Bu Rosa meninggalkan kelas, Zefa keluar mengambil sepatunya. Tak bisa dipakai lagi, pikirnya. Trerpaksa ia bertelanjang kaki dan menenteng sepatunya ke dalam kelas.
“Zefa, itu sepatu atau pot?” goda Dinda saat melihat daun mangga yang terselip di sepatu. Seisi kelas tertawa.

Zefa tertegun. Setelah terdiam beberapa saat, ia tersenyum dan berseru,”Dinda, idemu brilian!”
“Ide apa ?” tanya Dinda kebingungan.
“Teman-teman, kalian punya sepatu yang rusak dan tidak terpakai, kan?” tanya Zefa (hal.13)
Ide yang bermula dari celetukan Dinda, ditangkap oleh Zefa, dan kemudian disampaikan kepada teman-temannya dengan antusias. Kesibukan pun terjadi, seperti berikut :

Beberapa anak mengiyakan. Zefa membeberkan rencananya. Semua setuju. Mereka pun membagi tugas. Ada yang bertugas mendesain dan membuat rak, mengumpulkan sepatu-sepatu bekas, menyiapkan tanaman, pupuk, dan peralatan bertanam (hal.13).

Pada saat penilaian tiba, Kepala Sekolah dan tim penilai tersenyum, karena membaca papan nama bertuliskan “Taman Sepatu”. Mereka menyebut demikian, karena :
Taman mungil di depan kelas 5-C tampak bagai etalase toko sepatu. Berbagai macam sepatu dengan beragaman ukuran ditata pada rak-rak yang terbuat dari bahan kering. Ada sepatu bayi, sepatu olahraga, sepatu balet, sepatu hak tinggi, sepatu bola, sepatu bot, dan banyak lagi…. setiap sepatu ditanami bunga-bunga cantik yang serasi dengan sepatunya (hal.13).

Sebagai penutup cerpen, penulis memberi efek kejut kepada anak-anak kelas 5-C, yang sempat merasa gagal untuk meraih kemenangan dalam lomba membuat taman antar kelas. Karena ada tiga kategori yang dilombakan, yaitu taman paling indah, paling menarik, dan paling segar, tidak satupun diraih.
“Dan tahun ini, sekolah kita punya taman yang amat istimewa. Taman yang menyulap barang tak terpakai menjadi indah, menarik, dan segar. Selamat untuk kelas 5-C, memenangkan kategori Taman Kreatif,” kata Kepala Sekolah.
“Horeeee!” (hal.13)

3.Cerpen “Tempat Pensil”
Andriani sebagai penulis cerpen dengan judul “Tempat Pensil”, mengawali cerpen dengan kebingunan si “aku”, bagaimana cara membuat tempat pensil.

PR hari ini adalah membuat prakarya tempat pendil dari kertas karton. Hasilnya harus dikumpulkan besopk. Aku bingung karena tidak tahu bagaimana cara membuatnya (hal.28).
Ketika si”aku” mulai tergerak untuk mencoba membuat prakarya, ia bertanya dalam diri, siapa yang bisa membantuku ? Ada beberapa hambatan, yang dialami oleh si”aku” dalam rangka mencari orang-orang yang bisa membatunya, antara lain :

-Ayah dan ibu sedang menengok Nenek yang sedang sakit.
-Aku akhirnya pergi ke rumah Rika yang tak jauh dari rumah. Sayangnya, kata pembantunya, Rika dan ibunya pergi ke mall.
-Tiba-tiba, matanya tertuju pada majalah remaja milik Kak Sita di bawah meja. Aku mengambil majalah itu dan membuka halaman demi halaman. Siapa tahu, ada cara pembuatan tempat pensil di dalamnya (hal.28).

Diceritakan berikutnya, si “aku” masuk ke kamar Kak Sita, dan menemukan artikel tentang cara membuat tempat pensil. Namun demikina, masih saja si “aku” menemui hambatan untuk membuat tempat pencil. Hambatan itu, adalah :

-Kepala jadi pusing, karena sulit dan membingungkan membaca artikel itu, tapi bertekad tetap membuat tempat pensil (hal.28).
Oleh karena prakarya itu harus dikumpulkan besok, maka si “aku” dengan penuh kesadaran terus mengerjakan pembuatan tempat pensil. Tetapi, masih saja si “aku” menemui hambatan, seperti :
-Jam dinding telah menunjukkan pukul delapan malam. Hmmm, saatnya aku nonton film kartun kesayanganku. Namun, kalau aku nonton, pekerjaanku tidak akan selesai. Fuiiih, terpaksa kutahan keinginanku itu!
-Namun beberapa saat kemudian … aduh, kenapa perutku terasa sakit? Astagaaaa… aku baru ingat. Aku belum makan malam!
-Usai makan malam, tenagaku kini pulih kembali. Sayangnya, mataku jadi mulai mengantuk. Namun, aku harus melanjutkan pekerjaanku (hal.28)
Setelah melampaui hambatan-hambatan itu, si “aku” akhirnya bisa menyelesaikan prakaryanya. Berikut wujud tempat pensil yang digarap oleh si “aku” :
-Akhirnya, selesai sudah prakaryaku. Hasilnya lumayan memuaskan. Tempat pensil kertas karton itu menjadi cantik dengan berbagai hiasan gambar bunga dan kupu-kupu yang kupotong dari majalah Kak Sita (hal.29).

Meskipun prakaryanya sudah selesai dengan tuntas, ternyata si “aku” yang kemudian oleh penulisnya dibuka dengan menyebut nama “Retno”, masih menghadapi hambatan lagi. Hambatan itu mucul, ketika Retno bertemu dengan temannya, Putri dan Rika. Retno mulai terusik perasaannya, demikian.

-Putri berbisik di telingaku sambil senyum-senyum,”Prakaryaku dibuatkan Kakak tadi malam!” Aku hanya membalas senyumnya.
-Rika juga cerita padaku kalau tempat pensilnya dibuatkan tantenya. Aku jadi agak jengkel, karena mereka tidak mau susah payah membuat sendiri (hal.29).

Hasil prakarya anak-anak diperhatikan oleh Bu Guru. Kemudian diceritakan, Bu Guru bertanya kepada Retno, penyebab matanya merah. Retno menjawab bahwa dia mengerjakan prakarya tempat pensil itu sampai jam dua belas malam. Bu Guru kaget mendengarnya.
-“Saya semalaman membuat tempat pensil itu, Bu. Ayah, Ibu, dan Kakak sedang pergi, jadi tidak ada yang membantu saya,” jelasku lagi (hal.29).

Penulis menutup cerpen, dengan mengungkapkan bahwa Bu Guru akhirnya meletakkan tempat pensil buatan Retno di mejanya. Akibatnya Retno mendapat sambutan tepuk tangan dan ucapan selamat. Retno mengungkapkan perasaannya, demikian :
-Aku senang dan bangga. Aku tak mengira, Bu Guru menghargai kerja kerasku, walau tempat pensilku tidak secantik tempat pensil Putri dan Rika (hal.29).

4.Cerpen “Kue Lempeng Nenek”
Hairi Yanti, penulis cerpen “Kue Lempeng Nenek”, menceritakan tentang upaya Alina dan sepupunya Rahma, menikmati liburan sekolah ke rumah Neneknya, di Banjarmasin. Alina sangat senang ketika dia dibuatkan kue oleh Neneknya, namanya kue lempeng.
-“Apa Alina mau belajar membuat kue lempeng? Tanya Nenek pada Alina (hal.48).
Aline dan Rahma mau diajari oleh Neneknya untuk membuat kue lempeng. Mereka melihat proses membuat kue lempeng. Akhirnya kue lempeng siap disantap.
-“Kamau mencatatnya?” Alina baru sadar kalau Rahma memegang buku dan pulpen.
-“Iya, Alina, Aku menulis langkah-langkah buat bikin kue lempeng. Takut lupa,” jawab Rahma sambil memandang buku catatan.
-“Lupa?” Rahma mengangguk. Alina tergelak.

Pada saat kembali ke Jakarta lagi, Alina diajak oleh ibunya untuk membuat kue lempeng. Setelah semua bahan-bahan siap, Alina dengan penuh semangat ingin mengolahnya sehingga menjadi kue lempeng.
-“Bagaimana caranya, Alina?” tanya Mama ketika mereka sudah di dapur. Alina menggaruk kepalanya.
-“Alina lupa, Ma,” kata Alina malu. (hal.49).
Penulis menceritakan berikutnya, bahwa Alina ingat Rahma. Alina ingin meminta catatan tentang cara membuat kue lempeng. Lalu Rahma memberi saran agar Alina melihat di blognya Rahma. Di blog itulah, Rahma menulis resep kue lempeng.

Sebagai penutup cerpen, penulis menyampaikan pesan kepada pembaca, lewat ungkapan Rahma, demikian :
-“Iya, Alina. Kata orang, ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Itu yang kulakukan.”
-Alina setuju dengan apa yang dikatakan Rahma. Mulai sekarang, ia akan rajin menulis (hal.49).
Melalui pengertian kreativitas dan mempelajari cerpen-cerpen di atas, maka dapat disimpulkan :

  1. Ide positip yang muncul dalam diri anak, alangkah indahnya jika segera difasilitasi. Jangan didiamkan, disembunyikan, atau disimpan terus. Segera tuangkan ide itu dengan cara memproses sampai kelihatan wujudnya atau bentuknya.
  2. Untuk menjadi anak yang kreatif, tentu akan menghadapi bermacam-macam hambatan, tetapi dengan ketekunan, maka hambatan-hambatan itu akan teratasi.
  3. Apabila hasil kreativitas sudah ada wujudnya atau bentuknya, pasti kebanggaan akan menyertai diri anak. Mereka butuh kebanggaan. Orangtua atau guru yang memfasilitasinya.
  4. Melalui tulisan yang berjudul “Sastra dan Politisi” ( dalam majalah sastra “Kanal”, Edisi III, Februari 2016), Heru Mugiarso, mengatakan bahwa sastra mampu membentuk kepribadian seseorang, melalui penghalusan adab dan budi, kreativitas, perasaan, kepekaan, dan sensivitas kemanusiaan sehingga terhindar dari tindkaan-tindakan destruktif, sempit, kerdil, dan picik (hal.3).

Referensi :

  • Buletin dan budaya “Sastra dan Budaya “Kanal”, Edisi III, Februari 2016.
  • David Campbell, PhD., Mengembangkan Kreativitas (disadur oleh A.M. Mangunhardjana), Penerbit Kanisius, Yogyakarta, Cetakan ke-19, 1986.
  • Kamus Besar Bahasa Indonesia.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Mengikis Sikap Egois Meningkatkan Daya Ingat


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: