Mengikis Sikap Egois

25 Agustus, 2016 at 10:00 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

Ketika jam istirahat sekolah tiba, anak-anak bermain di halaman sekolah. tiba-tiba Amri dan Supri adu mulut. Amri mengatakan bahwa Supri adalah anak yang egois, dan tidak mau mengalah dalam permainan. Supri balas mengatakan bahwa justru Amri adalah anak yang egois, karena selalu minta pengakuan bahwa dialah yang seharusnya menang dalam permainan.

Peristiwa lain, meskipun guru sudah membuat tata tertib berpindah tempat duduk, yaitu dengan cara bergilir seminggu sekali, masih saja ada anak yang berebut. Hal itu terjadi dalam diri Tantri dan Vitra. Tantri mengatakan bahwa Vitra adalah anak yang egois, karena dia tidak mau berpindah tempat, dan sudah merasa nyaman di tempat duduknya. Vitra juga mengatakan bahwa Tantri termasuk anak yang egois, karena mau pindah kalau disuruh oleh guru. Jika guru menyuruh Tantri pindah, dia akan pindah. Sebaliknya, kalau guru tidak menyuruh Tantri pindah, dia tidak akan pindah.
Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan egois ?

Egois adalah rasa keakuan yang menonjol, yang terdapat pada seseorang. Egoisme yaitu rasa keakuan yang terlampau menonjol pada seseorang, sehingga segala tindakannya hanya untuk kepentingan diri sendiri. Egosentris yaitu suatu sikap yang terpusat pada diri sendiri (M.Huasaini B.A dan M.Noor Hs, 1981).

Masih tentang egois, dalam buku Ensiklopedi Populer Untuk Orang Tua (1978), dijelaskan bahwa egoisme adalah sikap, tindakan, dan perbuatan manusia yang hanya mengejar keuntungan dan kepentingannya sendiri.

Selanjutnya, Elizabeth B. Hurlock, lewat bukunya Perkembangan Anak-Jilid 2, menegaskan bahwa egosentrisme berarti perhatian kepada diri sendiri melebihi perhatian kepada orang lain. Bentuk egosentrisme ada yang berdasarkan pada perasaan superioritas dan inferioritas.

Egosentrisme yang didasarkanb atas perasaan superioritas pada anak ditandai, antara lain : meminta perhatian terhadap diri sebagai seseorang yang superior; mengharapkan orang lain untuk melayani; mengagumi tiap tindakannya; suka mengatur; mementingkan diri; tidak mau bekerjasama; cenderung membual tentang diri (prestasi dan milik); mengomentari prestasi dan milik orang lain dengan nada menghina.

Egosentrisme yang didasarkan atas perasaan inferioritas pada anak ditandai, antara lain : anak melihat dirinya tidak mempunyai sesuatu yang berharga; mudah dipengaruhi; mudah terbawa orang lain; suka merendah terhadap orang lain.

Bagaimana cara orangtua atau guru mengikis sikap anak yang punya kecenderungan egois ?

1.Orangtua atau guru mendampingi anak dengan pembelajaran untuk saling berbagi satu sama lain. Dengan belajar berbagi, anak-anak belajar juga merasakan situasi dan kondisi orang lain, baik dalam suka maupun duka.

2.Orangtua atau guru kadang perlu juga berani untuk menunda atau menolak permintaan anak yang seketika harus ada di tangannya. Dengan cara ini anak-anak belajar juga untuk tidak memaksakan kehendaknya. Tentu, orangtua atau guru menyampaikannya dengan cara yang baik.

3.Orangtua atau guru mengajak anak untuk belajar tidak mudah iri, cemburu, curiga, dan terlalu berbelaskasihan dengan diri sendiri.

Referensi:

  • M. Huasaini B.A dan M.Noor Hs, Psikologi-Himpunan Istilah, Penerbit Mutiara, Cetakan Kedua, Jakarta, 1981.
  • Ensiklopedi Populer Untuk Orangtua, Penerbit Yayasan Cipta Loka Caraka dan Yayasan Kanisus, Yogyakarta, Cetakan Kedua, 1978.
  • Elizabeth B.Hurlock, Perkembangan Anak-Jilid 2, Penerbit Erlangga, Edisi Keenam, Jakarta.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Iklan

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Mengenal Kecemasan Anak dalam Cerpen Anak Mengenal Kreativitas Anak dalam Cerpen Anak


ISSN 2085-059X

  • 879,876

Komentar Terbaru

Roos Asih di Surat Pembaca
rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: