Mengenal Kecemasan Anak dalam Cerpen Anak

24 Agustus, 2016 at 12:00 am

Oleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

Dalam kehidupan sehari-hari, pasti kita pernah mengalami yang namanya cemas, khawatir, gelisah, takut, bingung, dan merasa bersalah. Menurut konsep Sigmund Freud (via Albertine Minderop, 2013: 23), pengalaman tersebut adalah bagian dari dinamika kepribadian.

Masih menurut konsep Sigmund Freud (via E. Koeswara, 1991:44), dinamika-dinamika kepribadian diatur oleh keperluan memuaskan atau menyenangkan kebutuhan-kebutuhan di mana lingkungan ikut berperan. Peranan lingkungan terhadap kepribadian, di samping bisa menyenangkan, bisa juga tidak menyenangkan, bahkan mengancam atau membahayakan individu. Terhadap stimulus yang mengancam atau membahayakan, individu biasanya menunjukkan reaksi ketakutan. Dan, apabila stimulus-stimulus itu terus-menerus menghantui, maka individu ini akan mengalami kecemasan (anxiety).

Selanjutnya, masih berdasarkan Sigmund Freud (via E. Koeswara, 1991:45), ada tiga jenis kecemasan, yakni kecemasan riel, kecemasan neurotik, dan kecemasan moral. Dalam bukunya, Psikologi Sastra, Albertine Minderop (2013:28), menyebut kecemasan riel itu kecemasan obyektif. Sementara Sumadi Suryabrata (2015:139), menulis kecemasan riel itu kecemasan realistis. Kecemasan neurotik itu kecemasan neurotis. Kecemasan moral itu kecemasan kata hati.

Dari pengertian tersebut di atas, saya teringat ada beberapa cerpen di majalah anak-anak “Bobo”, yang menggambarkan kecemasan-kecemasan yang dialami oleh anak-anak. Cerpen-cerpen yang saya ambil sebagai contoh, adalah :

  1. Cerpen “Gara-gara Ramalan Bintang”, karya Impian Napitasari, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 27 Agustus 2015, hal.18-19.
  2. Cerpen “Surat untuk Jaya”, karya Gik Sugiyanto HP, dimuat di majalah “Bobo”, tahun XLIII, 1 Juni 2015, hal.26-27.
  3. Cerpen “Bau Harum”, karya Faya Azjka, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 3 September 2015, hal.48-49.
  4. Cerpen “Saat Dani Diare”, karya Novia Erwida, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 17 September 2015, hal.22-23.
  5. Cerpen “Tempat Pensil”, karya Andriani, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 22 Oktober 2015, hal.28-29.
  6. Cerpen “Patung Kayu Buaya”, karya Ruri Irawati, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 3 Desember 2015, hal.46-47.
  7. Cerpen “Rahasia Arum”, karya Ruri Irawati, dimuat di majalah anak-anak “Bobo”, Tahun XLIII, 10 Desember 2015, hal. 46-47.

Berikut ini, saya mau mencoba menggambarkan bentuk kecemasan-kecemasan yang dialami oleh anak-anak, yang terdapat dalam cerpen-cerpen di majalah anak-anak “Bobo”. Adapun bentuk kecemasan yang akan saya gambarkan ada tiga macam bentuk kecemasan, yaitu : kecemasan riel/realitas/obyektif, kecemasan neurotik/neurotis, dan kecemasan moral/kata hati.

1.Kecemasan riel/realitas/obyektif
Sigmund Freud (via Koeswara, 1991:45), mendefinisikan kecemasan riel/realitas adalah kecemasan terhadap bahaya-bahaya nyata yang berasal dari dunia luar. Kecemasan riel, diungkap dalam cerpen “Gara-gara Ramalan Bintang”, seperti berikut :Cepat-cepat Aya ke kamar mandi, lalu ganti baju. Karena waktu sudah mepet, ia tidak sempat sarapan. Bergegas ia mengambil sepedanya.“Aya berangkat, Ma,”teriak Aya sambil memancal sepedanya.Di jalan, tiba-tiba ban sepeda Aya bocor. Mungkin kena paku. Ia mencari tukang tambal ban, namun belum ada yang buka. Akhirnya, Aya menuntun sepeda hingga ke sekolah.Setiba di sekolah, gerbang sudah ditutup. Aya telat masuk ke sekolah. Guru piket memanggil Aya. Aya bergabung dengan siswa lainnya yang terlambat datang.Karena telat berangkat ke sekolah, Aya pun telat masuk kelas. Di kelas, Pak gayuh sedang meminta siswa-siswa membuka PR Matematika untuk didiskusikan.“Aya, coba kamu kerjakan nomer 1,” perintah Pak gayuh.Aya bingung. Karena tadi terburu-buru, ia lupa tidak membawa buku Matematika (hal.18).

2. Kecemasan neurotik /neurotis Sigmund Freud (via Koeswara, 1991:45), mendefinisikan kecemasan neurotik, adalah kecemasan yang bersumber dari dalam diri. Cerpen “Surat untuk Jaya” mengungkapkan tentang kekahwatiran yang dialami Runi. Kekhawatirannya ditulis demikian : Tepat pukul sepuluh, serombongan anak laki-laki dan perempuan memasuki halaman sekolah. Hati Runi agak khawatir. Jangan-jangan mereka berkomplot. Seorang anak perempuan tomboy, menghampiri Pak Kartim. Yang lain langsung menuju ke ruang prakarya. “Pak Kartim, kalau ada lelaki kelas tiga bernama Borman, yang ingin ketemu Jaya, kami tunggu di Ruang Prakarya, ya!” ujar anak perempuan centikl bertubuh mungil itu. Deg! Runi kaget. Jadi, ia harus berhadapan dengan Jaya dan rombongan itu?

Tiba-tiba hatinya ciut (hal.27). Cerpen berikutnya, adalah cerpen yang menggambarkan tentang kegelisahan. Cerpen itu berjudul “Bau Harum di Kamar Nesa”. Kegelisahannya diungkap demikian : Belum sempat mematikan lampu kamarnya, Nesa mencium bau harum di kamarnya.

“Bau apa ini? Harum sekali,” gumam Nesa. Di saat itu juga, ia teringat kata-kata Tasya tadi,”Kalau tercium bau harum di malam hari, itu artinya ada hantu lewat!” Nesa bergidik … Jangan-jangan …. Nesa langsung melompat ke tempat tidur dan menarik selimut merah mudanya sampai ke kepalanya. Terdengar bunyi bersuit. Sssst… sssst…. Lalu tercium bau wangi lagi. Nesa semakin panik (Hal.48).

Tentang kecemasan diungkap juga di dalam cerpen yang berjudul “Saat Dani Diare”. Kecemasan itu muncul dari Dani, demikian : Sejak pagi, dani sudah terbirit-birit ke kamar mandi. Sampai sore ini, sudah berkali-kali ia keluar masuk kamar mandi. Bunda jadi curiga. “Dani sakit perut, ya?” kata Bunda. “Iya, Bun. Dani diare.” “Lo, kenapa enggak bilang dari tadi? Ayo, ke dokter!” Bunda cemas. Diare bukan penyakit ringan. Tubuh bisa kekurangan cairan dan lemas tak bertenaga. Pantas saja Dani terlihat lesu dan pucat. “Dani enggak mau ke dokter! Dani menggeleng kuat-kuat. Lalu terbirit-birit lagi ke kamar mandi. Dani sangat trauma pada rumah sakit.

Sebulan lalu, Dani sakit tipes dan harus dirawat di rumah sakit. Sakit sekali rasanya diinfus. Kalau banyak bergerak, darah bisa naik ke slang infus. Perawat akan membuka slang itu untuk mebersihkan darah. Lalu dirapatkan lagi dengan sedikit tekanan di tangan. Sakit sekali (hal.22). Masalah kebingungan, ada dalam cerpen “Tempat Pensil”. Kebingungan ditunjukkan oleh Retno, demikian : PR hari ini adalah membuat prakarya tempat pensil dari kertas karton. Hasilnya harus dikumpulkan besok. Aku bingung karena tidak tahu bagaimana cara membuatnya.

Ayah dan ibu sedang menengok Nenek yang sedang sakit. Siapa yang bisa membantuku? Aku akhirnya pergi ke rumah Rika yang tak jauh dari rumah. sayangnya, kata pembantunya, Rika dan ibunya pergi ke mall. Aku menunggu Rika di teras rumahnya. Namun, karena lama tak juga muncul, aku pun pamit dan pergi ke rumah Putri. Sayangnya, Putri juga ternyata sedang pergi ke pesta ulang tahun sepupunya.

Kenapa semua temanku tak ada di rumah? (hal.28). Dalam cerpen “Patung Kayu Buaya”, penulis menceritakan tentang ketakutan Didit, seperti berikut : Klotek! Klotek! Didit membuka matanya.

Dilihatnya jam dinding menunjukkan angka satu. Telinganya ia tajamkan untuk menangkap bunyi yang samar-samar baru saja membangunkan tidurnya. Didit menarik selimutnya sampai di bawah dagu.

Hatinya diliputi rasa takut. Sepertinya itu berasal dari ruang depan! Bunyi apa? Tanya Didit dalam hati. Ia berharap Ayah dan Ibu ikut terbangun mendengarnya. Lama Didit menunggu. Klotek! Klotek! Klotek! Blugh! Aaah… bunyi itu datang lagi! Kali ini semakin keras! Aku harus mengetahuinya, pikir Didit. Antara takut dan penasaran, Didit membuka kamarnya dan mencari asal bunyi. Sesampainya di ruang depan, Didit tertegun. Patung kayu buaya menghilang! Belum sempat Didit berpikir panjang, terlihat kotak kayu itu bergoyang keras! Kain beludru penutup kayupun sudah terjatuh di lantai. Masih penasaran, didekatinya kotak yang bergereak-gerak itu. Didit mengintip dari celah sambungan papan. Ih… seperti ekor binatang melata sedang dikibas-kibaskan ke dinding kotak! “Hiii… ekor buaya!!! Jerit Didit. “Huaaaa, patung buayanya hiduuup! Ada di dalam kotaaak!” Teriak Didit ketakutan sambil berlari ke pintu kamar Ayah Ibu. “Ayah … Ibu… cepat bangun… Buaya itu hidup!” teriak Didit. Tangannya gemetar menggedor kamar. Tangisnya tak terbendung saking takutnya (hal.46-47).

3.  Kecemasan moral/kata hati
Sigmund Freud (via Koeswara, 1991:45), mendefinisikan kecemasan moral adalah kecemasan yang dinyatakan oleh individu dalam bentuk rasa berasalah atau perasaan berdosa.
Rasa bersalah terungkap dalam cerpen “Rahasia Arumi”, lewat tokoh Farah. Gambaran tentang rasa bersalahnya, seperti ini :

Sudah dua hari ini, Farah bingung sekali. Sejak ia memberikan kado ulang tahun untuk Arumi, sahabat barunya, sikap Arumi jadi berubah. Arum seakan sengaja menghindarinya. Farah tak tahu apa salahnya. Hmmm… apakah mungkin karena kado celengan ayam itu, ya, pikir Farah.

“Arum, kamu marah, ya, karena aku memberimu kado celengan ayam yang murah itu?” Farah mendekati Arumi dan bertanya pelan. Hari ini, Farah memutuskan untuk berbicara dengan Arumi. Ia tak tahan dijauhi sahabatanya tanpa tahu alasan.
“Bukan Far, bukan karena kado yang murah. Tapi karena ada sesuatu yang belum bisa aku ceritakan padamu,” jawab Arumi membuat Farah heran (Hal.46).

Kiranya perlu diperhatikan masukan dari Agustine Dwiputri, dalam tulisannya di Kompas (23 Juli 2016) tentang “Mengatasi Kekhawatiran”. Ada beberapa cara praktis untuk mengurangi rasa khawatir, yaitu :

1.Berfokus pada jangka pendek : disarankan untuk menghindari bayangan yang panjang ke masa depan ketika Anda berhadapan dengan hal-hal yang mengkhawatirkan dan lebih baik berfokus pada hari ini atau saat ini saja.

2.Mempersiapkan : daripada khawatir, lebih baik mempersiapkan. Penangkal dari rasa khawatir adalah persiapan secara berhati-hati untuk berbagai situasi yang membuat seseorang merasa cemas.

3.Penerimaan : penerimaan adalah penangkal khawatir. Penerimaan sebagai salah satu solusi untuk masalah rasa khawatir. Tetaplah tenang. Jadilah seorang yang santai, terima kehidupan seperti apa adanya. Hidup ini singkat, kita harus berpikiran terbuka. Belajar menerima, bukannya mengkhawatirkan. Maka, kita akan baik-baik saja.

Setelah memperhatikan pengertian tentang kecemasan, dan contoh praktis yang terungkap dalam cerpen, disimpulkan :

1.Dengan pendekatan psikologi sastra, maka hasil karya sastra lewat tokoh-tokohnya dapat diketahui dinamika kepribadiannya, termasuk di dalamnya adalah kecemasan.

2.Mempelajari karya sastra secara psikoanalitik, maka kita diajak untuk mengetahui lebih dalam tentang perilaku, perkataan, dan kondisi psikologis para tokohnya (Riris K. Toha-Sarumpeat, 2010:45).

3.Saran dari psikolog, bahwa kecemasan bisa diatasi, dapat dijadikan bahan pembelajaran. Untuk itu perlu mempelajari cara praktis untuk mengatasinya.

Referensi :

  • Koeswara, E., Teori-Teori Kepribadian, Penerbit PT Eresco, Bandung, Cetakan Ke-2, 1991.
  • Minderop, Albertine., Psikologi Sastra : Karya Sastra, Metode, Teori, dan Contoh Kasus, Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta, Cetakan Ke-3, 2013.
  • Sarumpaet, Riris K. Toha., Pedoman Penelitian Sastra Anak, Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta, 2010.
  • Suryabrata, Sumadi., Psikologi Kepribadian, Penerbit PT RajaGrafindo, Jakarta, Cetakan Ke-22, 2015.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Menghadapi Anak yang Merasa Gagal Mengikis Sikap Egois


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: