Menghadapi Anak yang Merasa Gagal

23 Agustus, 2016 at 12:00 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

 

Siang itu, sebelum anak-anak pulang, guru memanggil setiap anak untuk maju ke depan kelas, dan sekaligus guru memberi hasil ulangan harian. Pada saat Andika maju, guru tidak segera memberi hasil ulangan hariannya. Guru menegur Andika bahwa hasil ulangan hariannya jelek, padahal sudah beberapa kali ia mengulang. Pada saat itu juga Andika merasa gagal.

Sampai di rumah Andika tidak menampakkan wajah yang ceria. Orangtuanya langsung menegur, dan memastikan bahwa Andika mendapat nilai ulangan harian yang jelek. Perasaan gagal semakin menumpuk di dalam diri Andika, karena guru dan orangtuanya sama-sama menyatakan bahwa dirinya gagal.

Dari ilustrasi tentang pengalaman Andi tersebut, memungkinkan guru dan orangtua terlalu dini atau tergesa-gesa untuk menyatakan Andika gagal.

Sebaiknya guru dan orangtua memahami lebih dahulu, apa yang dimaksud dengan gagal ? Kemudian, mencari penyebab, mengapa Andika gagal untuk mendapatkan nilai ulangan harian yang bagus ?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001), yang dimaksud dengan gagal, yaitu tidak berhasil, tidak tercapai, tidak jadi.

Ada beberapa sebab yang memungkinkan anak mengalami kegagalan dalam pencapaian target nilai ulangan harian, antara lain :

  1. Tuntutan dari guru dan orangtua yang terlalu tinggi, tanpa melihat kemampuan anak.
  2. Anak terlalu berambisi tanpa persiapan yang matang dalam menghadapi ulangan harian.
  3. Pada saat mengerjakan ulangan harian, anak telah berupaya keras untuk menjawab dengan baik, tetapi tetap saja tidak menemukan jawaban yang benar, atau memang anak tidak tahu cara (langkah-langkah) dalam menjawab.
  4. Anak diselimuti oleh perasaan bahwa “aku pasti gagal”, yang sering didengungkan oleh guru atau orangtua.
  5. Anak tidak konsentrasi pada waktu mengerjakan ulangan harian.
    Bagaimana cara menghadapi perasaan gagal pada anak, agar anak tidak terkurung dalam perasaan gagal ?

Berikut, ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh guru atau orangtua, agar anak pulih kembali semangatnya dalam belajar, dan kemudian mampu meraih nilai yang baik dalam ulangan harian, antara lain :

  1. Beri pemahaman tentang makna kegagalan.
    Mengalami kegagalan adalah hal yang lumrah. Cobalah tidak stres, karena semua hal bisa diselesaikan. Seperti roda, kadang kita berada di atas, kadang berada di bawah. Kalau suatu kali kita berada di bawah, kita harus punya daya juang untuk memanjat lagi ke atas. Ini menuntut keuletan tersendiri. Harus disadari, dalam hidup ini selalu ada kesempatan, peluang, dan alternatif lain (Catatan Seorang Pendidik “Fikir-Suster Fransesco Marianti OSU”). Untuk itu, guru atau orangtua perlu memberi kesempatan, peluang, dan alternatif kepada anak-anak untuk meraih kembali nilai yang bagus dalam ulangan hariannya.
  2. Ajak untuk bergairah lagi.
    Gairah adalah suatu suatu keinginan yang sangat kuat (M. Huasaini B.A dan M. Noor Hs, 1981). Untuk itu, ketika anak gagal meraih nilai yang bagus dalam ulangan harian, guru atau orangtua perlu mengajak anak-anak untuk tetap bergairah dalam belajar.
  3. Beri dukungan untuk selalu optimis.
    Sifat optimis atau pesimis termasuk inti kepribadian. Orang optimis mempunyai kepribadian yang terbuka. Hari depan yang cemerlang memanggil dan menjadi tantangan yang dapat dikuasai. Segala hal yang baik masih akan dialami dan kepercayaan disertai keinginan hidup dan harapan. Orang optmis ruang alamnya sangat luas (M.A.W. Beower, 1979). Untuk itu, ajaklah anak-anak untuk selalu optimis, kegagalan untuk meraih nilai bagus dalam ulangan harian bisa diperbaiki lagi, sehingga menjadi kesuksesan.
  4. Ajak refleksi.
    Guru atau orangtua perlu mengajak anak-anak untuk merefleksikan pengalaman belajar mereka. Apa yang telah dipelajari ? Bagaimana cara belajar ? Apa makna belajar ? (Colin Rose dan Malcolm I. Nicholi, 2006).

Sebagai penutup, ada pesan yang bagus untuk dipahami bersama (guru dan orangtua), dari Galileo (via Colin Rose dan Malcolm I. Nicholi, 2006), yaitu anda tidak bisa mengajari orang sesuatu. Anda hanya bisa membantu untuk menemukan sesuatu itu dalam diri mereka.

Referensi :

  • Catatan Seorang Pendidik “Fikir-Suster Fransesco Marianti OSU”.
  • Colin Rose dan Malcolm I. Nicholi, Accelerated Learning For The 21st Century-Cara Belajar Cepat Abad XXI, Penerbit Nuansa, Bandung, Cetakan Keenam, 2006.
  • Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Penerbit Balai Pustaka, Jakarta, 2001.
  • M.A.W. Beower, Kepribadian dan Perubahannya, Penerbit Gramedia, Jakarta, 1979
  • M. Huasaini B.A dan M. Noor Hs, Psiklogi-Himpunan Istilah, penerbit Mutiara, cetakan Kedua, Jakarta, 198.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Mengenal Hubungan Interpersonal yang Positif dalam Cerpen Anak Mengenal Kecemasan Anak dalam Cerpen Anak


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: