Mengenal Hubungan Interpersonal yang Positif dalam Cerpen Anak

21 Agustus, 2016 at 8:17 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

 

Orang-orang yang memiliki hubungan interpersonal yang positif, cenderung lebih sering berpikir yang terbaik mengenai seseorang. Dengan sikap saling mendukung satu sama lain, justru akan benar-benar memperkuat ikatan hubungan. Apabila Anda, dapat mendukung orang lain ketika dia membutuhkan, nilai Anda sebagai seorang teman akan menjulang tinggi. Ketika Anda mendengar ada teman yang membutuihkan pertolongan, coba pikirkan bagaimana cara terbaik untuk membantunya. Tentukan berapa banyak waktu yang dapat Anda luangkan, dan sesuaikan kemampuan Anda dengan kebutuhan mereka.

Tak jadi masalah jika Anda melakukan sesuatu yang sederhana bagi mereka, seperti memasakkan makanan untuk teman yang tengah sakit, menawarkan untuk menjaga anak kecil mereka, mengantar buah tangan kesukaan tetangga agar dia merasa diperhatikan oleh Anda, dan sebagainya (Kompas, 13 Agustus 2016).

Memperhatikan pengertian tentang hubungan interpersonal yang positif, seperti tersebut di atas, saya teringat cerpen yang ada di majalah “Bobo”. Cerpen-cerpen yang saya maksud, sebagai contoh, adalah :

  1. Cerpen “Badru Si Pengantar Susu”, karya Rosi Meilani, dimuat di majalah “Bobo”, Tahun XLIII, 21 Mei 2016, hal.24-25.
  2. Cerpen “Asep Anak Kampung”, karya Bambang Irwanto, dimuat di majalah “Bobo”, Tahun XLIII, 16 Juli 2015, hal.46-47.
  3. Cerpen “Sahabat Selamanya”, karya Dian Sukma Kuswardhani, dimuat di majalah “Bobo”, Tahun XLIII, 17 September 2015, hal.14-15.
  4. Cerpen “Bunga-bunga untuk Kakek”, karya Widowati Wahono, dimuat di majalah “Bobo”, Tahun XLIII, 29 Oktober 2015, hal.48-49.

Berikut ungkapan tentang hubungan interpersonal yang positif, yang tertulis dalam cerpen-cerpen di atas :

1.Cerpen “Badru Si Pengantar Susu”
Rosi Meilani, dalam cerpen “Badru Si Pengantar Susu”, menceritakan hubungan yang baik antara Badru dan Salwa. Karena Salwa ditolong oleh Badru pada saat ban sepedanya bocor. Bahkan Salwa juga dipinjami uang untuk bayar ongkos tambal ban. Ketika sampai di rumah, Salwa bercerita kepada ayahnya, Pak Kemal. Badru memanggil ayah Salwa dengan sebutan “Om”. Badru sendiri, selain bersekolah, ia juga menjadi pengantar susu. Hubungan interpersonal yang positif antara Salwa dan Badru, juga terwujud dalam diri Pak Kemal dan Badru. Karena Pak Kemal tahu kebutuhan Badru berkaitan dengan sarana jualan susu. Demikian gambarannya :

Setibanya di rumah, Salwa menceritakan kejadian tadi pada ayahnya. Om, Kemal, ayah Salwa, mengucapkan terima kasih, seraya memberikan uang Rp 20.000 kepada Badru.Badru merogoh saku dalam-dalam.

“Kembaliannya untuk kamu saja, Ru,” lanjut Om Kemal.
“Wah, makasih banget, Om,” ucap Badru. Matanya tertuju pada setumpuk botol kosong berbagai ukuran di sudut ruang. “Om, beli botol ini di mana?”
“Dari pabriknya. Kenapa, kamu perlu?” tanya Om Kemal. “Buat apa?”
“Satu botolnya berapa, ya, Om? Saya perlu botol satu literan, tiga botol saja.”
“Buat wadah susu, ya?” tanya Salwa. Baderu mengangguk.
“Wadah susu?” Om Kemal heran, Badru mengangguk lalu menceritakan semuanya.
“Oh, ya sudah. Ambil saja botol-botol itu, kalau mau. Selama ini, kamu mengemas susu pakai apa?”
“Pakai plastik biasa saja, Om. Satu bungkusnya seperempat liter,” terang Badru (hal.25).

2.Cerpen “Asep Anak Kampung”
Cerpen ini mengungkapkan hubungan interpersonal yang positif, yang ditulis oleh Bambang Irwanto, dengan menggambarkan perjuangan Asep agar diterima oleh Benhar. Semula Benhar tidak peduli dengan Asep, yang berlatar dari kampung. Akhirnya Benhar bisa menerima Asep, karena Asep mengetahui bahwa Benhar butuh pertolongan, yaitu keselamatan nyawa. Hal ini terjadi ketika hampir saja Benhar tenggelam di kolam renang yang berada di rumah Tomi. Demikian gambaran yang muncul :
Habis makan rambutan, Benhar ingin berenang saja. Byur… Ia langsung nyebur ke kolam renang.
“Tolong-tolong….”

Rupanya Benhar tidak tahu, kolam renang Tomi baru diperbaiki. Kedalamannya ditambah. Benhar panik. Tiba-tiba Asep melompat masuk kolam juga. Dengan cepat Asep berenang menghampiri Benhar. Asep lalu membawa Benhar ke tepi kolam.
Mama Tomi dan Tomi segera menghampiri. Benhar diberi handuk, lalu dibawa masuk ke dalam rumah.

“Kamu harus berterima kasih pada Asep, Ben!” Tomi mengingatkan.
“Iya, Tom,” jawab Benhar.
Sehabis mandi, Benhar menghampiri Asep. “Sep, terima kasih sudah menolongku. Maafkan sikap kasarku, ya!” ucap Benhar.
“sama-sama, Ben!” jawab Asep tersenyum bersahabat (hal.47).

3.Cerpen “Sahabat Selamanya”
Dalam cerpen “Sahabat Selamanya”, karya Dian Sukma Kuswardhani, diceritakan tentang hubungan interpersonal yang positif. Digambarkan oleh penulis bahwa hubungan Disti dan Nita yang semula dihiasi dengan saling curiga dan saling mendiamkan itu, karena hadirnya Chika. Disti mengira hubungannya dengan Nita memburuk, karena Nita dekat-dekat dengan Chika. Sebaliknya Nita mengira hubungannya dengan Disti merenggang, karena Disti dekat-dekat dengan Chika.

Tetapi, kemudian hubungan Disti dan Nita pulih menjadi persahabatan. Hal ini terjadi karena Disti dan Nita, ternyata sama-sama membutuhkan untuk diperhatikan. Lebih-lebih, didukung dengan kenyataan dengan kepergian Chika. Berikut gambaran yang ditulis oleh Dian Sukma Kuswardhani :
“Kamu mau pindah, Nit? Kok, tidak bilang-bilang dulu?” tanya Disti. “Aku minta maaf, ya, Nit. Aku kira kamu enggak peduli padaku lagi karena sudah ada Chika.”

Disti lalu meraih bahu Nita, lalu memeluknya. Rasanya ia masih belum rela kalau Nita pindah jauh.
“Aku tidak bermaksud begitu, Dis. Di sekolah, kamu selalu menghindariku. Kupikir kamu marah. Aku juga minta maaf, ya.” Nita membalas pelukan Disti.
“Kamu mau pindah kemana?” tanya Disti.
“Pindah?”
“Iya. Mobil itu mengangkut barang-barangmu, kan?”

Nita malah tertawa. Disti jadi keheranan melihatnya.
“Bukan aku yang pindah. Itu barang-barang Chika. Dia mau pindah ke rumahnya sendiri. Sebulan kemarin, keluarganya mengontrak rumah itu karena rumahnya sedang direnovasi,” jelas Nita.
Disti jadi malu sudah terburu-buru menyimpulkan.

“Jadi, kita masih bersahabat, kan, Dis?” tanya Nita.
“Tentu saja. Selamanya,” jawab Disti gembira (hal.15).

4.Cerpen “Bunga-bunga untuk Kakek”
“Bunga-bunga untuk Kakek’ adalah cerpen yang ditulis oleh Widowati Wahono. Dia menunjukkan bahwa lewat bunga, hubungan interpersonal yang positif bisa terwujud. Dia memaparkan, semula rasa curiga dalam diri Erin sangat tinggi. Hal ini disebabkan tanaman bunga yang dia rawat selalu saja hilang. Bahkan dia ingin mengincar, menangkap, dan kemudian menghajar pencuri bunga-bunga mawarnya itu. Namun, yang dilihat oleh Erin diluar dugaannya. Berikut keterkejutannya :

Benar saja. Beberapa menit kemudian, sebuah tangan berkeriput terjulur menuju bunga itu. Hatiku melonjak namun kakiku tidak bergerak dari tempat. Aku bagaikan membeku saat kulihat wajah pemilik tangan keriput itu. seorang kakek yang setua kakekku. Semangatku hendak menghajar pencuri, langsung menguap.

Aku sangat penasaran. Ketika kakek itu pergi sambil menggegam mawarku, aku mengikutinya.
Aku bergegas pulang dan melapor pada ibu. “Kasihan, kita harus membantunya,” kata Ibu.
Sore itu, aku dan ibu berkunjung ke rumah kakek itu sambil membawa makanan. Di depan pintu, aku mendengar suara yang telah aku kenal.
“Erin! Sapa Veny ceria saat melihatku masuk.

Di dalam rumah itu, tampak si kakek duduk di tepi ranjang, di sebelah nenek yang berbaring.
“Dulu, kami berdua pencinta bunga. Kakek menanam, Nenek merangkai. Tapi, sejak Nenek kena stroke, dia tidak bisa merangkai bunga lagi. hanya bunga-bunga yang kubawa ini yang bisa menghiburnya. Kakek tidak punya uang untuk membeli bunga. Jadi kadang, Kakek memetik dari halaman rumah orang. Maafkan Kakek, sudah memetik mawarmu, Nak.”
Ah, iba aku mendengar cerita Kek Budi.(hal.49).

Cerita berikutnya, masih lewat bunga, Veny memberi contoh kepada Erni agar hubungan dengan Kek Budi dan Nek Melda tetap terjaga dengan baik :

Setengah berbisik, Veny bercerita padaku,”Beberapa minggu lalu, Kek Budi juga diam-diam memetik bunga di halaman rumahku. Setelah tahu bunga itu untuk diberikan pada istrinya, aku bahkan selalu memberi bungaku pada Kek Budi. Tidak masalah. Bungaku banyak. Setiap hari, selalu ada bunga baru yang mekar.” (hal.49).

Hubungan Erin dan Veny baik, karena mereka mengerti kebutuhan masing-masing tentang kegemaran menanam bunga. Erni yang semula emosional ulah Kek Budi yang mengambil bunganya, akhirnya berubah menjadi bisa menerima keadaan Kek Budi. Begitu juga Veny, yang awalnya bunganya diambil Kek Budi, malah setiap hari memberi bunga kepada Kek Budi. Hubungan yang baik antara Kek Budi dan Nek Melda tetap terjaga, karena Kek Budi tahu kebutuhan Nek Melda ingin bunga.

Pengalaman tentang hubungan interpersonal yang diwujudkan oleh cerpen-cerpen, dapat disimpulkan :

  1. Jika kita mampu mengetahui kebutuhan orang lain, dan kita juga mampu memberi, menolong, atau memenuhi kebutuhan orang itu sesederhana apapun bentuknya, kita akan merasa bahagia. Jadi untuk membangun relasi yang positif dan membuat diri kita bahagia, tidak perlu jauh-jauh jaraknya, tidak perlu waktu berlama-lama, dan juga tidak perlu bentuknya besar-besar, tetapi membutuhkan hati terbuka untuk mau mengadakan relasi dengan orang lain secara positif.
  2. Riris K. Toha- Sarumpaet, (2010:1), menulis anggapannya tentang sastra, yaitu kita menjadi lebih manusia kerana karya sastra : mengenal diri, sesama, lingkungan, dan berbagai permasalahan kehidupan.

Referensi :

  • Agustine Dwiputri, dalam tulisan “Bahagia dengan Menjalin Relasi Sosial”, dimuat di Kompas, 13 Agustus 2015.
  • Sarumpaet, Riris K. Toha, Pedoman Peneltian Sastra Anak, Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Cetekan Ke-2, 2010.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Iklan

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Membangun Mental Anak Berani Bicara Menghadapi Anak yang Merasa Gagal


ISSN 2085-059X

  • 879,867

Komentar Terbaru

Roos Asih di Surat Pembaca
rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: