Menghadapi Anak Gagap, Gugup, dan Gemetar

20 Agustus, 2016 at 12:00 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah
Setelah membaca, Rahman mendapat pujian dari guru, karena dia membaca dengan lancar (tidak gagap, tidak gugup, dan tidak juga gemetar). Sedangkan, Rami merasa “mengkeret” atau ciut hatinya, karena dia tidak lancar membaca. Ketika membaca, ia kelihatan gagap, gugup, dan gemetar. Rahmi semakin tampak sedih, ketika teman-temannya tertawa sambil menirukan cara dia membaca.

Tentang gagap, M.Huasaini B.A dan M.Noor Hs (1981) mengatakan bahaw gagap adalah perkataan yang dikeluarkan oleh seseorang dengan terputus-putus atau tersentak-sentak. Gagap bukan karena cacat pada alat suara, tetapi oleh sebab psikis. Misalnya, karena penekanan tak sadar dari pengalaman-pengalaman yang pedih dan tak enak.

Penyebab gagap, menurut Majalah Psikologi Populer-Anda (No.52, Maret 1981), adalah anak merasa takut bersalah terhadap lingkungan dan tekanan dari luar yang mengakibatkan jalan pernafasan anak tersumbat. Dengan demikian udara yang dikeluarkannya tidak dapat teratur. Hal ini sangat berpengaruh pada saat anak-anak mengeluarkan kata-kata atau kalimat yang dibacanya menjadi tidak beraturan atau putus-putus.

Cara mengatasi agar anak berkurang gagapnya, antara lain :

1.Anak mengambil nafas dalam-dalam, panjang-panjang, dan mengeluarkannya secara beraturan, perlahan-lahan. Semua dilakukan sedikit demi sedikit, dan berulang kali dalam waktu yang cukup lama. Apabila jalannnya pernafasan sudah teratur, cobalah membaca kata atau kalimat sederhana, sambil mengeluarkan nafas melalui hidung secara perlahan-lahan.

2.Agar tidak terasa berat dan menjemukan dalam kerangka latihan mengatur pernafasan, bisa juga diselingi dengan latihan berenang.
Tentang gugup, Ensiklopedi Populer Untuk Orang Tua (1978) memberi uraian tanda-tanda anak yang gugup, antara lain : gerakan tak tenang; tidak mampu memusatkan perhatian; tidur tertanggu; kelelahan yang sangat; mudah sakit perut; konsentrasi kurang; prestasi kurang di sekolah; kehidupan tak teratur; rasa takut terhadap tugas yang terlalu berat; tertekan jiawanya sehingga lekas tersinggung dan terkaget-kaget.

Lalu, cara mengatasi agar anak tidak gugup, antara lain :

1.Ajak anak untuk masuk ke dalam ketenangan.
2.Beri anak tugas yang sepadan, sehingga anak tidak akan terkejut menghadapi kesulitan.
3.Anak jangan diberi tugas yang tumpang-tindih. Artinya, diselesaikan satu-persatu atau tahap demi tahap.
4.Beri anak cukup waktu untuk bermain.
5.Ajarkan anak untuk tertib dan teratur dalam mnenjalankan hidup sehari-hari.

Tentang gemetaran, Majalah Psikologi Populer-Anda (No.60, November 1981), menunjukkan penyebab anak gemetaran, antara lain :

1.Anak kurang ditanamkan rasa percaya diri, sehingga anak menganggap dirinya tidak bisa bertanggung jawab.
2.Anak selalu dipersalahkan, ketika mengalami kekeliruan. Padahal kekeliruan tersebut masih bisa diperbaiki.
3.Anak kurang memiliki kebebasan untuk berbicara atau bertanya. Belum bicara atau bertanya sudah kena marah.
4.Anak kurang dilatih berbicara di muka orang banyak.
5.Anak selalu ditakuti dengan hal-hal yang tidak masuk akal.

Selanjutnya, cara mengatasi agar anak berkurang gemetarannya, antara lain :

1.Berilah kepercayaan kepada anak, sehingga dirinya merasa diperhatikan.

2.Ajaklah anak untuk sering berkumpul dengan orang banyak atau berbicara di muka umum, sehingga    ketika berbicara anak menjadi terbiasa dan tidak canggung.
3.Sedikit demi sedikit tanamkan rasa tanggung jawab.
Berdasarkan pengalaman tersebut di atas, diharapkan orangtua atau guru semakin memahami situasi dan kondisi anak bahwa setiap anak mempunyai permasalahan sendiri-sendiri. Dengan memahami permasalahan yang bersifat mempribadi itu, orangtua atau guru tahu cara menanganinya. Dengan tahu cara menanganinya, orangtua atau guru bisa tenang, dan anak-anak juga menjadi tenang.

Apabila permasalahan tentang gagap, gugup, dan gemetar yang terjadi dalam diri anak tampak semakin sering muncul, tentu orangtua atau guru segera mengambil tidakan, agar anak dapat ditangani secara bijak dan profesional. Misal, konsul dengan psikolog.

Referensi:

  • M. Huasaini B.A dan M.Noor Hs, Psikologi-Himpunan Istilah, Penerbit Mutiara, Cetakan Kedua, Jakarta, 1981.
  • Ensiklopedi Populer Untuk Orangtua, Penerbit Yayasan Cipta Loka Caraka dan Yayasan Kanisus, Yogyakarta, Cetakan Kedua, 1978.
  • Majalah Psikologi Populer-Anda, No.52, Maret 1981.
  • Majalah Psikologi Populer-Anda, No.60, November 1981.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Mengenal Gerakan Membaca dalam Cerpen Anak Membangun Mental Anak Berani Bicara


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: